Sabtu, 31 Mei 2025

KAMU RUMAH TERINDAHKU

 Kamu Rumah Terindahku

Karya : Pena_Lingga


Kutemukan dirimu, dan itu membuatku merasa utuh. Bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu hadir tanpa pura-pura. Kamu tidak mencoba menjadi sosok yang lain, kamu hanya menjadi dirimu sendiri. Dan itu cukup. Aku merasa tenang, seolah hidup yang tadinya penuh tanda tanya perlahan mulai menemukan jawabannya.


Kita bertemu tanpa rencana yang rumit. Tidak ada momen dramatis atau cerita besar yang bisa diceritakan ulang dengan kalimat berlebihan. Tapi sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah. Aku mulai ingin tahu kabarmu setiap hari. Aku mulai menunggu pesanmu, tanpa sadar. Aku mulai berharap bisa bertemu lagi, walau sebentar saja.


Kamu tidak datang membawa janji-janji indah. Kamu tidak berusaha menjanjikan masa depan yang sempurna. Tapi kamu hadir, dan kamu tetap tinggal. Kamu tidak pergi saat aku lelah, saat aku diam, atau saat aku tak tahu harus berkata apa. Dan dari situ, aku tahu bahwa kamu berbeda.


Ada banyak hal yang membuatku nyaman saat bersamamu. Cara kamu mendengarkan, bahkan ketika aku tidak pandai bicara. Cara kamu memahami, bahkan ketika aku sendiri tidak mengerti diriku. Kamu tidak mencoba memberi solusi pada semua hal, tapi kamu membuat aku merasa tidak sendiri. Itu yang paling berarti.


Sejak mengenalmu, aku mulai percaya bahwa hubungan yang sehat itu tidak rumit. Kita tidak harus selalu bicara panjang lebar, tapi tetap merasa dekat. Kita tidak harus selalu setuju, tapi tetap saling menghargai. Kita tidak harus selalu bersama, tapi tetap saling percaya. Kamu hadir dan membuktikan itu semua.


Bersamamu, aku merasa cukup. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena semuanya terasa layak dijalani. Kita bisa saling menguatkan tanpa harus mengubah satu sama lain. Aku bisa menjadi diriku sendiri, dan kamu pun begitu. Dan itu membuat hubungan ini terasa ringan, tapi kuat.


Aku tidak tahu bagaimana nanti ke depannya. Hidup selalu punya cara untuk berubah. Tapi sejauh ini, aku ingin terus memilihmu. Setiap hari, dengan cara yang sederhana. Aku ingin tetap ada untukmu, bukan karena harus, tapi karena ingin. Karena kamu sudah menjadi bagian dari hidupku yang tak ingin kulepaskan.


Tidak semua hari akan mudah, aku tahu itu. Akan ada saatnya kita lelah, kita diam, kita tidak sepaham. Tapi selama kita saling jujur dan tidak saling meninggalkan, aku percaya kita bisa melewati semuanya. Aku tidak butuh hubungan yang sempurna, aku hanya butuh hubungan yang nyata. Seperti yang sedang kita jalani.


Terima kasih sudah hadir dan bertahan. Terima kasih sudah sabar dengan segala kekuranganku. Terima kasih sudah menunjukkan bahwa cinta bisa sederhana, tapi tetap berarti. Aku tidak akan pernah anggap remeh kehadiranmu. Karena sejak kamu datang, hidupku jadi lebih tenang, lebih hangat, lebih utuh.


Kutemukan dirimu, dan itu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Bukan karena kamu menyelamatkanku, tapi karena kamu berjalan bersamaku. Tidak mendahului, tidak meninggalkan. Hanya berjalan di sisi. Dan di dunia yang sering terasa terlalu cepat dan penuh tuntutan, itu lebih dari cukup.


Kamarku, 1 Juni 2025

Senin, 26 Mei 2025

NAMAMU MASIH TINGGAL DI HATIKU

 Namamu Masih Tinggal di Hatiku

Karya : Pena_Lingga


Aku tidak tahu pasti sejak kapan kamu mulai tumbuh sebagai bayang-bayang yang menetap di pikiranku. Kamu seperti nama yang muncul tanpa undangan di setiap percakapan dengan diriku sendiri. Semakin aku mencoba menjauh, semakin kamu menempel di sela-sela kesunyian yang kuciptakan. Dan sejak saat itu, setiap kali aku menyebut namamu, ada sesuatu yang ikut retak di dalam dada—entah itu kenangan, harapan, atau hanya sekadar ego yang belum juga ikhlas.


Kehadiranmu tidak pernah biasa. Kamu datang perlahan, tidak mengganggu, tapi juga tidak pernah benar-benar pergi. Kamu membuat diriku merasa dihargai, lalu perlahan menjauh dan meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Aku tidak tahu kenapa aku membiarkanmu menetap selama itu. Mungkin karena aku terlalu bodoh. Atau mungkin karena aku terlalu terbiasa dengan luka yang kamu beri, hingga nyerinya terasa seperti bagian dari hidup yang harus kuterima.


Aku mencoba melanjutkan hidup seperti biasa. Menyapu lantai, menyeduh kopi, membaca buku, menulis hal-hal ringan—hal-hal kecil yang dulu menyenangkan sebelum kamu datang. Tapi tetap saja, semua itu terasa seperti sandiwara. Ada aroma yang hilang, ada tawa yang tidak bisa lagi kuucapkan dengan lepas. Seperti pagi ini, kopi yang kuseduh terasa tawar, mungkin karena aku terlalu terbiasa menikmatinya sambil mengingat tawamu yang dulu membuat pagi jadi lebih ringan.


Aku menyadari bahwa namamu sudah menjadi bagian dari doaku. Bukan karena aku ingin kamu kembali, tapi karena aku belum siap kehilanganmu sepenuhnya. Setiap sujud yang kuselesaikan, ada bayanganmu yang duduk diam di sela-sela permohonan. Aku menyebut namamu bukan karena berharap, tapi karena aku tidak tahu cara lain untuk melupakanmu selain dengan menyerahkan segalanya pada Tuhan.


Mereka bilang aku harus merelakan. Tapi bagaimana caranya? Kamu tidak sekadar menjadi bagian dari hidupku. Kamu semacam lagu yang tidak bisa kuhentikan di kepala. Kamu semacam rumah yang hangat, yang meski sekarang sudah rusak dan tak berpenghuni, tetap terasa paling nyaman diingat. Aku lelah mencoba berpura-pura kuat, tapi siapa yang peduli? Luka tidak pernah butuh penonton.


Kadang aku duduk lama di depan jendela saat hujan turun. Melihat rintiknya seperti membaca surat yang tidak pernah kamu kirim. Hujan menjadi saksi dari rindu yang tidak pernah tuntas. Aku iri padanya, karena hujan tahu kapan harus turun dan tahu kapan harus reda. Sedangkan aku, bahkan setelah sekian lama, masih belum tahu kapan perasaanku padamu akan berhenti menggigil.


Aku tidak pernah membencimu, dan itu mungkin kesalahanku yang paling besar. Karena dengan tidak membencimu, aku justru terus menyimpannya dalam diriku. Kamu tidak lagi hadir secara fisik, tapi kenangan tentangmu begitu riuh, seolah kamu tinggal di lorong-lorong ingatan yang tak pernah bisa kusapu bersih. Dan aku hanya bisa duduk diam, membiarkan kenangan itu menyelimutiku seperti kabut yang enggan menghilang.


Namamu terlanjur tumbuh bersama detak jantungku. Bahkan jika nanti aku jatuh cinta pada orang lain, aku tidak yakin bisa sepenuhnya membebaskan diriku dari bayanganmu. Kamu terlalu mengakar, dan yang tumbuh terlalu dalam selalu menyakitkan untuk dicabut. Tapi aku tahu, suatu saat aku harus belajar menanam harapan baru di tanah yang sama, meski bekasmu belum sepenuhnya sembuh.


Andai kamu tahu, aku sedang berusaha. Bukan untuk melupakanmu, tapi untuk hidup dengan damai meski tanpamu. Aku sedang belajar menertawakan hari-hari yang dulu kita jalani bersama. Belajar bahwa tidak semua yang membuat kita bahagia harus kita miliki selamanya. Aku sedang belajar menjadi orang yang tidak menggantungkan bahagianya pada seseorang yang bahkan mungkin tidak pernah menganggapku sebagai rumah.


Dan jika suatu hari kita bertemu lagi—mungkin di trotoar yang asing, di kota yang sama-sama tak kita rencanakan, dalam waktu yang sudah dewasa dan hati yang sudah tenang—aku hanya ingin menatapmu sekali saja, dengan tersenyum. Bukan karena aku sudah lupa, tapi karena akhirnya aku bisa hidup meski tanpa kamu. Karena kamu pernah jadi rumah, dan meski kini aku hanya menjadi tamu dalam ingatanmu, aku bersyukur pernah merasakan hangatnya.



Kamarku, 26 Mei 2025

Sabtu, 24 Mei 2025

SUJUDKU UNTUK-Nya ( Religi )

 Sujudku Untuk-Nya

Karya : Pena_Lingga


Di pelataran malam kutanggalkan segala nama,

Menanggalkan dunia seperti kain yang tiada makna.

Kupijak sepi dengan langkah pelan dan pasrah,

Menemui-Nya—di ujung sunyi yang tak berlimbah.

Sujudku: awal dari perjalanan tanpa arah.


Langit membuka selendangnya dengan lembut,

Angin mengaji di sela dedaun yang tunduk.

Aku menggigil bukan karena dingin,

Namun karena cinta-Nya membakar dari dalam.

Nyala-Nya menjilati dosa yang diam.


Duh Gusti, yang bersemayam di pelupuk cahaya,

Kubentangkan rindu layaknya sajadah semesta.

Tak ada harum dupa, tak ada lentera emas,

Hanya hati yang telanjang dan jiwa yang lepas.

Sujudku: adalah peluk paling luas.


Tubuhku rubuh dalam hening tak bernama,

Seolah waktu pun ikut berhenti bersama.

Aku, bayang yang mencari cahaya pemiliknya,

Mengiba pada-Mu, wahai cahaya segala cahaya.

Dalam sujud, kuhapus segala dusta.


Kupeluk bumi dengan wajah penuh luka,

Sebab hanya di tanah Engkau terasa nyata.

Tak kupinta surga, tak kuharap pahala,

Hanya ingin Engkau, dalam diam yang menyala.

Sujudku: adalah doa yang tak bersuara.


Tuhan, aku bukan siapa-siapa,

Hanya debu yang beterbangan dalam kata.

Namun Engkau membacaku bahkan sebelum aku lahir,

Menyebut namaku dalam sunyi paling mahir.

Sujudku: adalah jawaban bagi takdir.


Bait-bait malam kupintal jadi wirid,

Dengan benang rahasia yang tak pernah terucap lidah.

Jalan menuju-Mu adalah labirin air mata,

Namun di dalamnya kutemukan Nirwana.

Sujudku: adalah peta menuju cahaya.


Aku menghapus dunia dari pelupuk mata,

Mengganti hasrat dengan pasrah yang nyata.

Tak ada lagi aku, tak ada lagi ingin,

Yang tersisa hanya Engkau dalam detak yang hening.

Sujudku: fana yang paling abadi.


Bersamaku malaikat pun enggan bicara,

Mereka tahu: sujud ini lebih dalam dari kata.

Adalah cinta, adalah nestapa,

Adalah pengakuan bahwa tanpa-Mu aku tak ada.

Sujudku: adalah wujud dari segalanya.


Dan kelak, bila nafasku tinggal satu,

Biar sujud ini menjadi bekalku yang syahdu.

Tak kubawa emas, tak kubawa kitab,

Hanya cinta yang kugenggam dalam harap.

Sujudku untuk-Mu: sempurna dalam lenyap.


Kamarku' 25 Mei 2025

Jumat, 23 Mei 2025

JATUH CINTA VIRTUAL ITU RUMIT, TAPI SERU

 Jatuh Cinta Virtual Itu Rumit, Tapi Seru

Karya : Pena_Lingga


Jatuh cinta dengan orang virtual itu rumit sekali. Aku merasa sudah dekat dengan dia, tapi di suatu waktu, aku mendadak sadar kalau aku tidak banyak mengenal tentang dia, dan kalau dia tiba-tiba hilang, aku gak akan bisa mencarinya kemanapun, karena hubungannya, hanya ada di dalam pesan suara atau kolom chat saja.


Setiap malam, aku menunggu notifikasi dari namanya. Bahkan hanya dengan satu pesan singkat, rasanya cukup untuk membuat hatiku tenang. Lucu ya, bagaimana seseorang yang bahkan belum pernah kulihat secara langsung bisa mengisi ruang hatiku sedalam ini. Ia hadir dalam kata-kata, dalam tawa yang terdengar lewat pesan suara, dan dalam diam yang anehnya tetap terasa hangat.


Kami berbicara banyak hal. Tentang cuaca, tentang mimpi-mimpi, tentang ketakutan yang tak pernah bisa kuungkapkan ke siapa-siapa. Tapi sekaligus, kami tidak membicarakan banyak hal juga. Aku tidak tahu bagaimana bentuk matanya saat tertawa, apakah dia lebih suka kopi atau teh, atau apakah dia pernah menyebut namaku dengan suara yang benar-benar tulus.


Ada saat-saat di mana aku merasa hubungan ini begitu nyata. Seakan kami hanya dipisahkan oleh waktu dan jarak, dan suatu hari nanti semua ini akan menjadi kisah manis yang bisa kami ceritakan ulang. Tapi lalu aku terdiam, menyadari bahwa dia bisa saja tak lebih dari bayangan yang kubentuk sendiri, dari potongan-potongan pesan yang kukumpulkan dengan harapan.


Aku pernah coba mencari tahu lebih dalam. Ingin tahu latar belakangnya, kehidupannya di luar layar. Tapi setiap kali aku mulai bertanya lebih dari yang biasanya, dia menghilang sejenak, seperti ingin menjauh tanpa benar-benar pergi. Lalu muncul lagi dengan senyum virtual yang membuatku berpikir, mungkin memang aku yang terlalu berharap.


Rasa cemburu bahkan sempat hadir. Bukan karena ada orang ketiga, tapi karena aku tahu betapa sedikitnya aku tahu tentang kehidupannya yang sebenarnya. Mungkin dia juga punya teman lain yang membuatnya tertawa, atau seseorang lain yang lebih nyata, lebih dekat. Dan aku hanya bagian dari ruang digitalnya yang sesekali dia kunjungi saat bosan.


Aku mencoba untuk realistis, tapi perasaan itu tidak pernah bisa diatur dengan logika. Setiap kalimat yang dia kirimkan, terasa seperti pelukan yang tidak bisa kusentuh. Aku ingin percaya bahwa ada perasaan di balik kata-kata itu, tapi bagaimana cara memastikan sesuatu yang bahkan tidak bisa kulihat dengan mata?


Dan di antara semua itu, aku sadar, kalau dia memutuskan untuk pergi hari ini juga, tidak akan ada jejak yang bisa kuikuti. Tidak ada tempat untuk kutanyakan, tidak ada orang yang bisa kutemui untuk mencari tahu kabarnya. Hubungan kami tidak memiliki alamat rumah, hanya ruang kosong di ponsel dan kenangan yang tidak bisa diarsipkan.


Tapi aku tetap di sini, menulis ini dengan perasaan yang campur aduk. Entah mengapa, walau aku tahu semua ini rapuh dan tidak pasti, aku masih memilih untuk tinggal. Karena dalam kerumitannya, aku menemukan kenyamanan. Dan mungkin, meski hanya sebentar, aku ingin percaya bahwa rasa ini nyata, walaupun bentuknya tidak bisa kupeluk.


Kamar Ternyaman, 24 Mei 2025

AKU YANG SENGAJA BISU

 Aku Yang Sengaja Bisu

Karya : Pena_Lingga


Aku diam bukan karena takut bersuara. Suaraku masih ada, tapi untuk apa disuarakan, jika tak ada yang benar-benar mendengar? Kadang, diam adalah bahasa paling jujur yang bisa kupilih saat luka terlalu ramai di dalam dada.


Luka ini tak berbentuk, tapi terasa mencengkeram. Terlalu dalam untuk dieja, terlalu rumit untuk dijelaskan. Setiap kata hanyalah permukaan, sedang yang kutanggung jauh lebih dalam dari sekadar kalimat.


Aku pernah mencoba bicara, menyusun cerita dari serpihan rasa. Tapi tidak semua orang siap mendengarkan, apalagi memahami. Kata-kata itu justru kembali padaku, hampa, tak membawa kelegaan, malah menambah beban.


Lebih baik kusimpan semuanya. Rapat. Hingga tak seorang pun bisa menyentuhnya. Karena kadang, bercerita hanya membuat luka terasa lebih nyata. Dan aku belum siap untuk menatap kenyataan itu terlalu lama.


Bukan aku tak ingin berbagi. Tapi tidak semua kisah layak dibagi, bukan? Beberapa tangis tak seharusnya dipertontonkan. Sebab yang menyaksikan bisa salah mengartikan, lalu menilai tanpa mengerti.


Sepi, bagiku, bukan musuh. Ia teman yang tak menuntut penjelasan. Ia tidak bertanya, tidak menyela, hanya duduk diam menemani. Dan dalam sepi itulah aku belajar berdamai dengan luka, meski seringkali gagal.


Orang-orang bilang mereka peduli. Tapi tidak semua kepedulian bisa menembus dinding rasa yang kubangun. Karena ada sakit yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang mengalaminya, bukan yang mengamati dari luar.


Aku tidak menolak pelukan. Tapi bagaimana mungkin pelukan menghangatkan hati, jika hati itu sendiri sudah membeku? Ada rasa kehilangan di dalam diriku yang bahkan tidak bisa dijelaskan—karena aku pun tak tahu, kehilangan apa sebenarnya yang kurasa.


Maka biarkan aku begini. Dengan diam yang penuh cerita, dengan senyum yang menyimpan luka. Jangan paksa aku bicara, karena kadang menjadi kuat justru berarti bertahan tanpa satu pun tahu bahwa aku sedang berjuang untuk tidak runtuh.


Dan jika suatu hari kau tak lagi melihatku di tempatku biasa berdiri, mungkin itu bukan karena aku pergi. Tapi karena akhirnya aku kalah—oleh luka yang selama ini kupeluk sendiri, dalam diam yang tak pernah benar-benar dipahami.



Kamar Hening, 23 Mei 2025

Rabu, 21 Mei 2025

ANAK DARI SENYAP

 Anak dari Senyap

Karya : Pena_Lingga


Ibunya meninggal saat melahirkanmu.

Aku berdiri di ambang ruang operasi,

mendengar dua tangis bersahut:

yang satu lahir,

yang satu lenyap.


Kau datang dengan luka,

bahkan sebelum sempat disambut peluk.

Aku menyambutmu dengan tangan yang dingin,

karena hatiku belum tahu

bagaimana cara hidup tanpa dia.


Kupelajari cara mengikat kain lampin

dari video murahan,

cara menenangkanmu dari malam yang bisu,

dan cara menelan tangis

tanpa suara.


“Ayah, kenapa ibuku tidak pernah datang?”

“Kau tak perlu menunggunya,” kataku pelan,

tapi matamu terus menatap pintu,

seolah kau percaya,

ia akan kembali dari kepergian

yang bahkan tak meninggalkan jejak.


Kau tumbuh,

tapi aku layu.


Aku menua dalam diam

yang setiap malam merambat

di kursi kosong sebelah ranjangmu.


Sekolah menulis nama ibumu: “Tidak diketahui.”

Padahal aku tahu namanya,

hanya saja aku tak sanggup

menuliskannya

tanpa gemetar.


Suatu malam kau pulang dari rumah temanmu.

Wajahmu merah,

matamu sembab.

“Temanku bilang aku anak yatim piatu,” katamu,

“karena ayah hanya tubuh,

bukan rumah.”


Malam itu aku tak tidur.

Aku menulis surat untukmu,

karena aku tahu,

aku takkan sempat membacanya langsung.


Beberapa hari kemudian,

aku terjatuh di dapur—

dan tak pernah bangun.


Kau menemukanku

dengan surat yang belum sempat kuselipkan

di dalam kotak bekalmu.


Surat itu hanya satu kalimat:

“Maafkan aku, karena mencintaimu tidak pernah cukup untuk menyelamatkanmu dari kesepian.”


Dan sejak hari itu,

tak ada lagi suara di rumah itu—

hanya suara kenangan

yang kau simpan dalam foto kusam

dan bau kopi basi

di pagi yang tak lagi punya arti.


Kamar Hening, 22 Mei 2025

JANGAN DATANG DAN SINGGAH LAGI

 Jangan Datang Dan Singgah Lagi

Karya : Pena_Lingga


Besok-besok, tak usah singgah lagi. Kehadiranmu tak ubahnya angin yang hanya menyapu sesaat lalu lenyap tanpa pamit. Setiap kali langkahmu menyentuh ambang hatiku, yang tertinggal hanyalah sepi yang tak bisa kutawar.


Kamu hadir seperti senja yang indahnya semu. Meninggalkan rona di langit, tapi tak pernah betah menetap. Aku pun hanya menjadi langit yang menanti, lalu kecewa saat cahayamu tenggelam terlalu cepat.


Cukup sudah menjadi persinggahan. Aku tak ingin lagi meminjamkan bahu untuk pelarian yang tak pernah kembali. Hatiku bukan halte untuk jiwa-jiwa yang gamang. Aku lelah menjadi tempat tinggal sementara.


Setiap tatapmu menyimpan teka-teki yang tak pernah mampu kupecahkan. Kau datang membawa tawa, lalu pergi meninggalkan luka yang tak bisa kujelaskan. Setiap kehadiranmu seperti hujan di musim panas: tak terduga, menyegarkan, tapi hanya sesaat.


Biarkan aku belajar mencintai keheningan tanpa perlu berharap ada suara langkahmu di ambang pintu. Biarkan detak ini berdamai tanpa harus berpura-pura kuat saat kepergianmu kembali menyapa.


Aku sudah terlalu sering menyambutmu dengan segenggam harap yang kau patahkan dengan dingin. Kali ini, biarlah pintu ini tetap tertutup. Tak semua yang datang harus disambut. Tak semua yang manis harus dicicip.


Singgahanmu hanya menciptakan ruang hampa di balik senyumku. Dan aku mulai jenuh menjadi seseorang yang hanya dihampiri ketika dunia membuatmu lelah. Aku ingin menjadi tujuan, bukan persinggahan.


Biarlah langkahmu melaju ke tempat lain, tempat yang memang kau tuju sepenuh hati. Aku tak ingin terus berdiri di peron, menanti kereta yang tak pernah benar-benar menurunkanku sebagai penumpang tetap.


Kini, aku memilih diam. Bukan karena tak peduli, tapi karena aku tahu batas untuk bertahan. Ada waktunya seseorang perlu berhenti membuka pintu bagi yang hanya ingin lewat.


Bila suatu hari kau ingin kembali, cukup kenang aku sebagai seseorang yang pernah menunggumu dengan seluruh musim dalam dada—dan memilih berhenti saat tahu, tak semua hadir patut diharap menetap.


Kamar hening, 22 Mei 2025


PERGI SAJA JIKA ITU KEINGINANMU

 Pergi Saja Jika Itu Keinginanmu

Karya : Pena_Lingga


Pergi saja jika itu yang kamu inginkan. Aku tak akan menahanmu, meskipun di dalam dada ini, ada badai yang terus menggulung tak henti. Hatiku mungkin akan remuk seperti kaca jatuh dari langit, tapi aku tahu, memaksamu tinggal hanya akan membuat luka semakin dalam.


Setiap langkahmu menjauh serasa dentuman petir yang membelah langit malam. Suaramu yang dulu jadi nyanyian paling merdu, kini hanya gema yang memantul dalam kehampaan. Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya seperti melukis pelangi di tengah hujan abu.


Aku pernah percaya bahwa kita adalah dua bintang yang ditakdirkan bersinar berdampingan. Namun kenyataannya, kau hanya meteor yang singgah sebentar, membakar langitku lalu hilang tak bersisa. Dan aku, dibiarkan terbakar perlahan dalam dinginnya kehilangan.


Pergi saja, bawa semua mimpi yang pernah kita rajut bersama. Biarkan aku memeluk bayanganmu yang semakin memudar, seperti pasir yang hilang ditiup angin. Tidak ada yang bisa kupegang lagi, selain kenangan yang menggigit seperti angin malam.


Aku sudah kehabisan kata untuk menahanmu, bahkan air mata pun lelah mengalir. Biarlah sungai luka ini mengalir sendiri menuju laut kesunyian. Jangan menoleh, karena aku pun tak tahu apakah sanggup tersenyum lagi jika melihat wajahmu.


Cintaku padamu mungkin tak akan mati, tapi kini biarlah ia jadi fosil yang membatu di dasar hati. Kau pernah menjadi musim semi dalam hidupku, tapi kini hanya musim gugur yang tersisa, di mana semua harapan berguguran tanpa suara.


Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku tak akan merintih lagi, cukup luka ini kusembunyikan di balik senyum palsu yang kubentuk setiap pagi. Dunia mungkin tak tahu aku rapuh, tapi itu tak penting. Kau pun sudah tak peduli, bukan?


Dalam diam, aku berteriak. Dalam tenang, aku karam. Tak ada lagi peluk yang bisa menenangkan malam-malam yang kini dingin dan sunyi. Bahkan bulan pun enggan menyinariku, seolah tahu bahwa sinarnya hanya akan membuatku semakin rindu padamu.


Kau pernah jadi alasan aku percaya pada cinta, tapi juga alasan aku kehilangan kepercayaan itu. Sekarang, aku hanya ingin belajar berjalan lagi, meski tertatih, meski tanpa arah. Karena setelah kepergianmu, semua peta di hatiku terbakar habis.


Pergi saja, tak usah ragu. Tinggalkan aku bersama puing-puing yang tak bisa kuperbaiki. Mungkin ini bukan akhir yang kuinginkan, tapi mungkin ini yang terbaik untukmu. Dan aku, akan belajar mencintai diriku sendiri di reruntuhan ini.


Kamar sunyi, 22 Mei 2025

Minggu, 18 Mei 2025

JANJI YANG MENJADI DEBU

 Janji Yang Menjadi Debu

Karya : Pena_Lingga


Aku masih ingat cara namamu pernah terdengar begitu merdu dalam setiap doaku. Seperti melodi pelan yang mendamaikan malam, kau adalah sunyi yang tak membuat sepi terasa menyakitkan. Tapi lihatlah kini, bahkan senyap pun terasa berisik, sebab tak ada lagi bayangmu yang menetap di sudut ingatanku.


Kita pernah menjadi rumah bagi satu sama lain, tempat di mana lelah bisa pulang dan luka bisa beristirahat. Tapi rumah itu kini tinggal reruntuhan, berdinding rindu yang lapuk, beratap harapan yang bocor. Aku berdiri di puing-puingnya, memungut sisa-sisa cinta yang tak sempat utuh.


Aku mencoba menuliskanmu dalam puisi, tapi setiap bait justru melukai. Kata-kata tak lagi cukup menampung gemuruh di dada, dan malam terlalu panjang untuk kuhabiskan bersama bayangan yang tak lagi ingin menetap. Kau menjauh bukan karena tak tahu arah, tapi karena tak ingin kembali.


Hujan tak pernah benar-benar membawa kesegaran sejak kepergianmu. Ia hanya menjadi selimut dingin yang membalut rindu dalam diam. Aku mencarimu dalam tetesnya, berharap ada satu yang jatuh membawa pesan: bahwa kau pun sebenarnya masih mengingat.


Tapi barangkali cinta memang bukan untuk dipaksa bertahan. Ia seperti burung yang harus dilepas agar bisa tahu ke mana sayapnya ingin pulang. Dan aku telah melepaskanmu, bukan karena berhenti mencinta, tapi karena tak ingin mengurungmu dalam sangkar bernama kenangan.


Waktu telah mengajari aku cara mencintai tanpa memiliki, merelakan tanpa dendam, dan mendoakan tanpa berharap kembali. Kau adalah salah satu hal indah yang pernah singgah, meski akhirnya hanya jadi bagian dari sejarah.


Ada luka yang tak perlu disembuhkan, cukup dibiarkan tumbuh menjadi bagian dari siapa diri ini. Dan kau, adalah luka itu—yang membuatku mengerti arti kehilangan yang tak bisa disesali.


Aku tak ingin lagi menuliskan cerita baru dengan nama yang sama. Biarlah kisah kita tetap abadi sebagai dongeng malam yang pernah membuat hati berdebar. Tanpamu, aku belajar bahwa patah tak selalu berarti hancur.


Kini aku berjalan dengan langkah yang lebih ringan, sebab tak lagi membawa beban tentang “kita.” Aku telah memaafkan, bukan hanya kamu, tapi juga diriku sendiri yang terlalu lama menunggu sesuatu yang tak ingin kembali.


Dan jika suatu hari kita bertemu di tikungan takdir, aku akan menatapmu dengan senyum, tanpa sisa tanya. Sebab aku telah selesai mencintaimu, dengan cara yang paling tenang: mengikhlaskanmu.


Kamar Hening, 19 Mei 2025

USAI SAJA

 Usai Saja

Karya : Pena_Lingga


Benar ya, aku baru paham sekarang. Paham bahwa mencintai dengan sepenuh hati tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan. Bahwa memberi segalanya tidak selalu bisa menahan yang memang ingin pergi. Aku terlalu lama mengira bahwa semua akan baik-baik saja selama aku terus berjuang. Tapi nyatanya, perjuangan sepihak hanya membuatku lelah tanpa arah.


Aku mulai menyadari, kita tidak lagi berjalan beriringan. Aku melangkah perlahan, menengok ke belakang, berharap kamu masih di sana. Tapi nyatanya, kamu sudah terlalu jauh, bahkan mungkin sudah memilih jalan berbeda. Aku masih mencoba, masih bertanya, masih berusaha menyambung yang renggang. Tapi kamu justru sibuk mencari alasan untuk menyudahi semuanya.


Setiap kali kita berbeda pandang, aku yang lebih dulu meminta maaf. Aku yang lebih dulu mengalah, meski luka itu harus kutelan sendiri. Aku percaya, cinta adalah tentang bertahan dan saling memahami. Namun kamu justru menjadikannya ladang untuk pergi, setiap kali badai kecil datang menghampiri.


Rasanya menyakitkan ketika hanya satu hati yang terus memupuk harapan, sementara yang lain perlahan mencabut akar yang telah ditanam bersama. Aku tidak bodoh, hanya terlalu berharap bahwa kamu masih punya keinginan untuk bertahan. Aku tidak buta, hanya terlalu percaya bahwa kamu masih peduli seperti dulu.


Tapi kini aku melihat semuanya dengan lebih terang. Kamu tidak lagi menatapku dengan cara yang sama. Tidak ada lagi debar ketika kita bicara. Tidak ada lagi tanya tentang hariku, tentang bagaimana aku bertahan. Semuanya kini terasa dingin, seperti ruang yang kehilangan cahaya.


Aku tahu, ini bukan salah satu dari kita saja. Tapi aku juga tahu, aku sudah mencoba lebih dari cukup. Aku sudah menahan tangis, menyembunyikan kecewa, menyelipkan harapan di balik doa. Tapi sampai kapan harus begini, jika kamu bahkan tak lagi mau menggenggam tanganku?


Kamu bilang ingin bahagia, dan aku percaya itu hal yang wajar. Tapi kenapa kebahagiaanmu seakan harus dibayar dengan kepergianku? Kenapa cintamu harus berarti aku tersingkir? Jika aku bukan lagi rumah yang nyaman bagimu, kamu tak perlu tinggal dalam keterpaksaan.


Mungkin memang begini akhirnya. Kita adalah cerita yang ditulis dengan tergesa, tanpa rencana bagaimana menutupnya dengan baik. Kita pernah indah, tapi tak cukup kuat untuk terus bersama. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa, karena cinta memang tak selalu harus dimiliki.


Kini aku belajar satu hal penting: mencintai juga berarti tahu kapan harus melepaskan. Dan aku memilih berhenti di sini. Bukan karena aku tak cinta lagi, tapi karena aku menghargai diriku sendiri. Aku berhak bahagia, sama seperti kamu yang ingin bebas.


Jadi, lebih baik kita usai saja. Sebelum luka ini semakin dalam. Sebelum cinta yang tersisa berubah jadi dendam. Aku pamit dari cerita kita, dengan hati yang ikhlas meski masih perih. Semoga langkahmu ringan, dan jalanku tenang setelah ini.


Kamar hening, 18 Mei 2025

Sabtu, 17 Mei 2025

KUDA MENBAWA KURSI

 Kuda Membawa Kursi

Karya : Pena_Lingga


Dia berteriak asu-asu hingga menjadi isu-isu

Ketidakpahaman menjadikan pikirannya beku

Lalu membisu dan kini haus akan susu

Kan L.U.C.U!


Tapi biarkan saja seperti itu

Aku ya tetap aku

Kamu ya tetap jadi Palsu

Sampai nanti mati jadi hantu


Biar sedikit kuberi kaji

Agar kau tahu aku memiliki Taji

Bukan sebatas janji

Apalagi gila menggilai puja dan puji


Tolong cermati apa yang kuberi

Agar otakmu tidak dipenuhi iri dengki

Ini hanya sebatas teka-teki

Kuda berlari membawa kursi


Apa kau paham apa yang tersaji?

Jika tidak, silakan kau pergi

Sebab kau tak layak ada di sini

Bersama kami yang jauh telah terbang tinggi


Tak perlu kau tangisi arti mimpi

Jika langkahmu masih ragu sendiri

Bicara besar tak ubahnya debu di jari

Yang hilang saat angin pun bersuara lirih


Kau bilang kami terlalu tinggi

Padahal kau sendiri yang tak berani mendaki

Tak semua cahaya butuh lilin mati

Kadang gelap justru tempat kami berdiri


Jangan sibuk mematut bayangan

Sedang jiwamu hanyalah titipan angan

Kami tumbuh dari luka dan ancaman

Bukan dari panggung kosong penuh umpan


Kata-katamu tak lebih dari serpih

Terselip di sela amarah yang letih

Kami menari bukan untuk dipuji bersih

Tapi sebab hidup ini terlalu getir untuk dipilih


Jika kau masih membaca dengan hati basi

Maka berhenti, sebab makna ini takkan kau mengerti

Kami bukan sekadar pelarian dari sunyi

Kami badai yang lahir dari sunyi itu sendiri


Kamar merdeka, 17 Mei 2025

Jumat, 16 Mei 2025

TANGIS RINTIH ANAK NEGERI

 TANGIS RINTIH ANAK NEGERI

Karya : Pena_lingga

( Puisi esai )


Di pagi yang dibalut kabut pegunungan Arfak,

seorang anak muda berdiri di tepi jalan,

melihat truk tambang berlalu dengan muatan penuh—

bukan emas yang ia cari,

melainkan pekerjaan.


Ia pernah bermimpi jadi mekanik,

memperbaiki mobil rusak, membangun bengkel kecil,

di kampung yang tak banyak suara,

tapi penuh semangat untuk hidup.

Namun mimpi itu kini seperti jalan berlubang

yang tak pernah diperbaiki,

karena dana desa lebih sering jadi bisik-bisik

di warung kopi,

ketimbang bukti di lapangan.


Di tanah yang kaya akan nikel, tembaga, dan gas,

perut bumi Papua disayat demi dunia yang tak pernah datang melihat

mata anak-anak yang kehilangan harapan,

karena pabrik berdiri tapi tak menerima tangan mereka,

karena investor datang tanpa menyisakan meja untuk rakyatnya.


Mereka berkata,

"Ini kemajuan."

Tapi kemajuan macam apa

yang membuat anak negeri jadi penonton

di panggung milik leluhurnya sendiri?


Aku berjalan di sepanjang jalan trans Papua,

bukan mencari petualangan,

tapi jawaban:

mengapa lulusan SMK otomotif harus kembali ke kebun,

menanam keladi,

sementara suara mesin hanya untuk orang-orang luar?


Ekonomi tumbuh, kata televisi di kota.

Tapi siapa yang memanen pertumbuhan itu?

Orang-orang Papua masih menjual pinang di pinggir jalan,

sambil berkata pelan,

"Kami tidak malas, hanya tak diberi kesempatan."


Seorang ibu di Yahukimo bercerita,

anaknya lulus kuliah tiga tahun lalu,

tapi kini membantu di ladang karena tak ada kantor

yang membuka pintu bagi kulit gelap dan logat timur.

Bukan karena ia tak bisa kerja,

tapi karena sistem tak mengenal namanya.


Di Wamena, Jayapura, Sorong,

harga barang melambung melebihi doa.

Satu sak semen bisa semahal tiket pesawat,

dan listrik yang mati lebih sering dari gaji yang datang.

Bagaimana mau maju,

jika malam lebih gelap dari masa depan?


Anak-anak muda bergelar sarjana

kembali ke honai dengan rasa malu,

karena ijazah mereka tak sanggup membuka satu pintu pun

di gedung-gedung yang punya AC.

Dan mereka mulai bertanya dalam hati:

untuk apa sekolah tinggi,

jika akhirnya tanah sendiri

tak memberi tempat untuk berdiri?


Lalu siapa yang bisa disalahkan?

Apakah Jakarta yang terlalu jauh?

Apakah pemerintah daerah yang kehilangan arah?

Ataukah sistem yang terlalu sibuk membangun gedung

dan lupa membangun manusia?


Kami tidak minta kasihan,

tidak juga ingin dilabeli "daerah tertinggal."

Kami hanya ingin punya ruang:

untuk bekerja,

untuk belajar,

untuk menjadi tuan di negeri sendiri.


Papua bukan sekadar sumber daya,

tapi sumber cita dan daya juang.

Kami punya laut, hutan, gunung,

dan lebih dari itu: kami punya semangat.

Tapi selama ekonomi tak berpihak,

selama lapangan kerja tetap jadi mimpi,

maka pembangunan hanya akan jadi kabar

yang tak pernah benar-benar kami alami.


Dan setiap malam,

ketika lampu padam dan radio tua menyala,

kami mendengar suara-suara dari Jakarta:

tentang keberhasilan, pertumbuhan, dan masa depan cerah.

Tapi di sini,

masa depan itu masih tertutup kabut.

Dan anak-anak muda tetap berdiri di tepi jalan,

menunggu kesempatan

yang tak kunjung datang.


Sorong, 17 Mei 2025

Selasa, 13 Mei 2025

KUAT SENDIRI

 Kuat Sendiri

Karya : Pena_Lingga


Saat semua orang pergi dan hanya diam yang tinggal, aku baru benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi asing di tengah keramaian. Tidak ada lagi suara yang menanyakan kabar, tak ada tangan yang menggenggam saat langkahku goyah. Aku belajar berdamai dengan sunyi yang lama-lama berubah menjadi teman akrab, mengajarkanku untuk tidak terlalu berharap pada siapa pun selain diriku sendiri.


Kecewa itu pelan-pelan menyusup, bukan dengan teriakan, tapi dengan keheningan. Saat aku menoleh dan tak ada siapa-siapa di belakang, aku tahu: aku hanya punya diriku. Mungkin mereka lelah, mungkin aku terlalu diam, atau mungkin memang tidak ada yang benar-benar ingin tinggal. Aku hanya salah mengira kebersamaan sebagai bentuk kasih, padahal itu cuma jeda dari kesepian mereka.


Ada masa di mana aku berusaha mengerti semua orang, mendengarkan tanpa diminta, hadir tanpa ditunggu. Tapi saat aku butuh ruang sekecil genggaman, dunia justru sibuk dengan urusannya sendiri. Aku tidak marah. Aku hanya terlalu sering menahan agar tidak menangis, sampai akhirnya air mata pun jadi barang mewah yang tidak berani keluar.


Mereka bilang aku kuat karena bisa menahan semuanya sendirian. Tapi siapa yang benar-benar ingin kuat dengan cara seperti ini? Menjadi kuat karena tak punya pilihan lain bukanlah kekuatan, itu keputusasaan yang disulap menjadi ketabahan. Aku hanya ingin sekali saja, ada yang berkata, “Kamu tak harus menanggung semuanya sendiri.”


Diamku bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, tapi karena aku lelah menjelaskan rasa yang tak pernah dipahami. Aku pernah membuka luka di hadapan orang yang kupikir bisa menyembuhkan, tapi malah mereka pergi karena takut melihatku hancur. Sejak itu aku memilih untuk menyembuhkan sendiri, meski tak benar-benar sembuh.


Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, tapi malam lebih bisa memelukku dari siapa pun yang pernah berjanji akan tinggal. Jadi aku tenang sendiri, bukan karena aku tak butuh siapa-siapa, tapi karena aku sudah terlalu sering dikecewakan oleh harapan yang kupelihara sendiri.


Aku berdiri di antara kebisingan dunia, tapi rasanya seperti tenggelam dalam ruang hampa. Satu-satunya suara yang kudengar hanya gema dari pikiranku sendiri, yang terus bertanya: apa aku tidak cukup layak untuk diperjuangkan? Atau memang aku yang terlalu sering berpura-pura tidak apa-apa?


Tak ada lagi pesan menenangkan, tak ada lagi pelukan menyejukkan. Semua kembali ke awal: hanya aku dan diriku sendiri yang mencoba mengerti perasaan yang kusimpan dalam-dalam. Dan seperti biasa, aku kembali menjadi pendengar bagi diriku sendiri, karena tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya menjadi aku.


Malam ini pun, seperti malam-malam sebelumnya, aku berbaring sambil menatap langit-langit yang diam. Tenang dalam sepi, dingin dalam kecewa, dan tetap tersenyum di luar meski di dalam sudah hancur berkali-kali. Mungkin ini takdirku: belajar mencintai diriku sendiri, karena dunia terlalu sibuk untuk sekadar bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”


Kamarku, 13 Mei 2025

Jumat, 09 Mei 2025

SENI MENYEMBUHKAN LUKA SENDIRI

 Seni Menyembuhkan Luka Sendiri 

Karya : Pena_Lingga


Ada luka yang tak kunjung sembuh meski waktu telah melewati banyak musim. Ia seperti duri yang tertanam dalam dada, tak terlihat, tapi menusuk setiap kali kita menarik napas terlalu dalam. Malam menjadi pelukis sunyi, melukis kenangan di dinding kepala dengan warna-warna sendu. Di saat semua lampu mati dan dunia terlelap, luka itu bangkit dari tidur panjangnya dan menatap kita dengan mata yang basah.


Beberapa luka lahir bukan dari badai, tapi dari gerimis yang pelan—terus menetes tanpa henti hingga membanjiri jiwa. Sepatah kata yang tak pernah sampai, sepasang mata yang tak lagi menoleh, dan waktu yang berjalan menjauh tanpa menunggu. Kita menumpuk semua itu dalam dada seperti menimbun abu dalam guci, berharap suatu hari bisa kita buang ke laut. Tapi laut pun kini terlalu jauh untuk dijangkau.


Rasa yang hancur menjelma reruntuhan di hati, mengubur harapan yang dulu tumbuh seperti bunga liar. Kita melangkah di antara puing-puing kenangan, telapak kaki berdarah tapi tetap maju. Setiap senyum yang kita berikan hanyalah topeng—rapuh dan nyaris retak. Dan saat malam kembali datang, kita menyesap kesedihan seperti secangkir kopi dingin: pahit, tapi harus ditelan.


Yang paling menyakitkan bukan hanya ditinggalkan, tapi dilupakan seolah-olah kita hanya sekadar angin lalu. Kita pernah menjadi rumah, tapi tak lagi diingat alamatnya. Kita memberi segalanya—jiwa, waktu, bahkan nama kita sendiri—namun ditinggal begitu saja, tanpa salam, tanpa pamit. Hanya sunyi yang tinggal dan mengisi setiap sudut hari.


Luka menjadikan kita pejalan sunyi dalam hidup yang bising. Kita belajar diam di tengah riuh, menyembunyikan tangis di balik tawa yang dipaksakan. Diri kita yang dulu bercahaya, kini redup seperti lampu tua di sudut kamar. Dan setiap kali mencoba bicara, kata-kata patah di tenggorokan seperti ranting yang tak kuat menahan beban angin.


Malam-malam panjang menjelma seperti lorong tanpa ujung, dan di dalamnya, kita menggenggam perih dengan tangan yang mulai gemetar. Kita bicara pada langit yang tak pernah menjawab, pada bulan yang hanya bisa menyinari tapi tak bisa memeluk. Dan dalam doa yang lirih, kita bertanya, "Masih bisakah aku disembuhkan?"


Seni menyembuhkan luka sendiri bukan tentang menjadi pahlawan. Ia adalah puisi yang ditulis dalam tangis, langkah-langkah pelan yang menapak di jalan penuh duri. Kita belajar berdiri saat tubuh ingin rebah, belajar tertawa saat hati ingin menyerah. Karena hidup menolak berhenti, meski kita merasa tak punya tenaga lagi.


Di antara gelap, kita mencari setitik cahaya—bukan untuk menerangi jalan, tapi sekadar mengingat bahwa kita belum sepenuhnya hilang. Luka-luka itu tetap menyapa, tapi kita mulai bisa menjawab dengan senyuman kecil. Kita tahu, mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, tapi setidaknya kita belajar berdamai.


Dan di ujung segala pedih, kita menemui diri sendiri—sosok yang telah lama terabaikan. Ia masih ada, meski penuh tambalan. Ia masih hidup, meski pernah ingin mati. Dari sanalah kita sadar, bahwa luka adalah guru paling jujur, dan kesepian adalah cermin yang memperlihatkan betapa kuatnya kita bertahan.


Akhirnya, pagi datang membawa seberkas hangat. Luka masih di sana, tapi ia tak lagi bicara sekeras dulu. Ia duduk diam di sudut, membiarkan kita berjalan tanpa rasa bersalah. Dan dari reruntuhan itu, kita membangun rumah—rumah kecil bernama penerimaan, tempat hati bisa pulang tanpa takut diusir.


Bumi hening, 9 Mei 2025


Rabu, 07 Mei 2025

DINAS TOPENG BERTINTA ( SATIRE )

 Dinas Topeng Bertinta

Karya : Pena_Lingga


Ia datang membawa pena dan stetoskop,

Katanya perawat, juga penyair yang top.

Bicaranya lembut, mengaku penuh empati,

Padahal mulutnya tajam, menusuk sunyi.


Mengutip kata, menjual luka pura-pura,

Katanya menulis demi jiwa yang luka.

Padahal tiap aksara cuma umpan belaka,

Agar simpati jatuh, seperti hujan di dada.


Katanya perawat, tapi tak tahu rasa,

Menjiplak emosi lalu mengemasnya.

Buku-buku orang dijadikan batu loncatan,

Sambil tersenyum, seolah Tuhan mengutus peran.


Ia sibuk mengurus karyaku seperti editor bayangan,

Padahal cuma ingin tahu arah langkah dan tujuan.

Diam-diam mencatat, setiap detak gerakku,

Bukan kagum—tapi ingin mengaku itu miliknya dulu.


Topengnya gagah, fotonya berdinas dan bersahaja,

Padahal hanya kuli yang haus puja.

Menjual kisah tanpa jiwa,

Menempel pada siapa pun yang punya cahaya.


Tiap pujian untukku, disimpan dalam bara,

Lalu ditiru, disusun jadi mahakarya palsu.

Ia bukan perawat, hanya pemeran latar,

Yang ingin mencari panggung—meski tak tahu naskah yang benar.


Mata-matanya ada di tiap komentar,

Mengintip karya seolah pendeta sastra.

Tapi tiap kalimat yang ia cipta,

Tak lebih dari bayang tanpa raga.


Mengaku penulis, padahal cuma pemahat,

Mencuri bentuk, mengukir ulang dengan niat jahat.

Katanya menulis untuk penyembuh,

Padahal untuk membungkam—agar tak ada yang mencium busuknya.


Kini ia gemar bicara tentang integritas,

Padahal semua topengnya sudah nyaris lepas.

Tapi tenang, biarlah ia tenggelam dalam pujiannya,

Sebab kebenaran tak butuh sorak sorai dunia.


Aku tetap menulis, dengan kisah yang nyata,

Tanpa perlu seragam atau gelar yang megah.

Biarlah ia terus mengintai,

Karena bayangan tak pernah mendahului cahaya.

Dan aku adalah cahaya itu, yang selalu dia tiru.


Kota bajingan, 7 Mei 2025

Jumat, 02 Mei 2025

BERHENTI TANPA TAPI

 Berhenti Tanpa Tapi 

Karya : Pena_Lingga


Berhenti tanpa tapi adalah luka yang tidak memilih waktu untuk sembuh. Ia datang seperti angin yang tiba-tiba hening, membawa sepi yang terlalu berat untuk dijelaskan. Kau dan aku pernah berjalan sejajar, dalam langkah yang barangkali tak selalu sama, tapi selalu saling menunggu. Namun kini, langkah itu berhenti. Bukan karena tidak cinta, tapi karena lelah memperjuangkan yang terus melukai.


Aku tak pernah membayangkan kita akan selesai seperti ini. Tanpa peringatan, tanpa alasan yang bisa kupegang. Hanya diam, lalu kau pergi. Dan aku masih berdiri di tempat yang sama, menggenggam harapan yang perlahan berubah menjadi debu. Rasanya seperti menelan pil pahit setiap kali mengingat caramu berhenti mencintaiku tanpa kata perpisahan.


Aku tahu cinta tidak selalu tentang bertahan, tapi aku berharap, setidaknya ada kata maaf, ada peluk perpisahan, atau mungkin hanya tatapan terakhir yang bisa kuingat. Tapi tidak, kau memilih pergi dengan sunyi, membiarkanku menebak-nebak kesalahan yang bahkan tidak pernah kau bicarakan.


Aku duduk di pojok kenangan, memutar ulang setiap detik yang pernah kita habiskan. Suaramu masih menggema di kepalaku, senyummu masih lekat di mataku. Tapi kini semua itu hanya ilusi. Kenangan yang tak lagi bisa diulang. Cinta yang tak lagi bisa diperbaiki.


Berhenti tanpa tapi adalah kekejaman yang dibungkus seolah-olah demi kebaikan. Tapi kebaikan untuk siapa? Karena yang kutahu, aku yang ditinggal adalah aku yang harus berdamai dengan segala luka tanpa tahu bagaimana caranya.


Malam-malam menjadi lebih panjang sejak kepergianmu. Aku berbicara pada bantal yang basah, pada langit-langit kamar yang tak pernah menjawab. Aku mencoba mengerti, mencoba tegar, tapi hatiku menolak untuk percaya bahwa cinta seindah itu bisa berakhir tanpa sebab.


Kadang aku berharap kau akan kembali, mengetuk pintu dan berkata bahwa ini hanya salah paham. Tapi harapan itu seperti lilin kecil di tengah badai. Ia menyala sesaat, lalu padam tanpa ampun. Dan aku harus kembali merangkak dalam gelap, mencari alasan untuk tetap hidup tanpamu.


Aku tidak membencimu, sungguh tidak. Tapi aku kecewa pada caramu menyerah. Pada caramu membiarkan semua yang kita bangun runtuh tanpa usaha terakhir. Kau mengajariku bahwa cinta tidak selalu cukup, dan bahwa kadang, orang pergi bukan karena tidak mencinta, tapi karena tidak tahu bagaimana mencintai dengan benar.


Kini aku berdiri sendiri, menatap masa depan yang tak lagi kau isi. Aku belajar berjalan tanpa bayangmu, belajar tertawa tanpa suaramu. Perlahan, aku belajar bahwa berhenti tanpa tapi memang menyakitkan, tapi aku tetap harus melanjutkan hidup.


Dan jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah, aku pernah mencintaimu sebaik-baiknya. Tapi aku juga tahu, mencintai diriku sendiri adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku dari kepergianmu. Jadi aku juga berhenti—tanpa tapi.


Bumi Duka, 3 Mei 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...