Anak dari Senyap
Karya : Pena_Lingga
Ibunya meninggal saat melahirkanmu.
Aku berdiri di ambang ruang operasi,
mendengar dua tangis bersahut:
yang satu lahir,
yang satu lenyap.
Kau datang dengan luka,
bahkan sebelum sempat disambut peluk.
Aku menyambutmu dengan tangan yang dingin,
karena hatiku belum tahu
bagaimana cara hidup tanpa dia.
Kupelajari cara mengikat kain lampin
dari video murahan,
cara menenangkanmu dari malam yang bisu,
dan cara menelan tangis
tanpa suara.
“Ayah, kenapa ibuku tidak pernah datang?”
“Kau tak perlu menunggunya,” kataku pelan,
tapi matamu terus menatap pintu,
seolah kau percaya,
ia akan kembali dari kepergian
yang bahkan tak meninggalkan jejak.
Kau tumbuh,
tapi aku layu.
Aku menua dalam diam
yang setiap malam merambat
di kursi kosong sebelah ranjangmu.
Sekolah menulis nama ibumu: “Tidak diketahui.”
Padahal aku tahu namanya,
hanya saja aku tak sanggup
menuliskannya
tanpa gemetar.
Suatu malam kau pulang dari rumah temanmu.
Wajahmu merah,
matamu sembab.
“Temanku bilang aku anak yatim piatu,” katamu,
“karena ayah hanya tubuh,
bukan rumah.”
Malam itu aku tak tidur.
Aku menulis surat untukmu,
karena aku tahu,
aku takkan sempat membacanya langsung.
Beberapa hari kemudian,
aku terjatuh di dapur—
dan tak pernah bangun.
Kau menemukanku
dengan surat yang belum sempat kuselipkan
di dalam kotak bekalmu.
Surat itu hanya satu kalimat:
“Maafkan aku, karena mencintaimu tidak pernah cukup untuk menyelamatkanmu dari kesepian.”
Dan sejak hari itu,
tak ada lagi suara di rumah itu—
hanya suara kenangan
yang kau simpan dalam foto kusam
dan bau kopi basi
di pagi yang tak lagi punya arti.
Kamar Hening, 22 Mei 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar