Rabu, 21 Mei 2025

ANAK DARI SENYAP

 Anak dari Senyap

Karya : Pena_Lingga


Ibunya meninggal saat melahirkanmu.

Aku berdiri di ambang ruang operasi,

mendengar dua tangis bersahut:

yang satu lahir,

yang satu lenyap.


Kau datang dengan luka,

bahkan sebelum sempat disambut peluk.

Aku menyambutmu dengan tangan yang dingin,

karena hatiku belum tahu

bagaimana cara hidup tanpa dia.


Kupelajari cara mengikat kain lampin

dari video murahan,

cara menenangkanmu dari malam yang bisu,

dan cara menelan tangis

tanpa suara.


“Ayah, kenapa ibuku tidak pernah datang?”

“Kau tak perlu menunggunya,” kataku pelan,

tapi matamu terus menatap pintu,

seolah kau percaya,

ia akan kembali dari kepergian

yang bahkan tak meninggalkan jejak.


Kau tumbuh,

tapi aku layu.


Aku menua dalam diam

yang setiap malam merambat

di kursi kosong sebelah ranjangmu.


Sekolah menulis nama ibumu: “Tidak diketahui.”

Padahal aku tahu namanya,

hanya saja aku tak sanggup

menuliskannya

tanpa gemetar.


Suatu malam kau pulang dari rumah temanmu.

Wajahmu merah,

matamu sembab.

“Temanku bilang aku anak yatim piatu,” katamu,

“karena ayah hanya tubuh,

bukan rumah.”


Malam itu aku tak tidur.

Aku menulis surat untukmu,

karena aku tahu,

aku takkan sempat membacanya langsung.


Beberapa hari kemudian,

aku terjatuh di dapur—

dan tak pernah bangun.


Kau menemukanku

dengan surat yang belum sempat kuselipkan

di dalam kotak bekalmu.


Surat itu hanya satu kalimat:

“Maafkan aku, karena mencintaimu tidak pernah cukup untuk menyelamatkanmu dari kesepian.”


Dan sejak hari itu,

tak ada lagi suara di rumah itu—

hanya suara kenangan

yang kau simpan dalam foto kusam

dan bau kopi basi

di pagi yang tak lagi punya arti.


Kamar Hening, 22 Mei 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...