Fase Sembuh dari Luka
Karya : Pena_Lingga
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berhenti berusaha melupakan. Mungkin ketika aku sadar, melupakan bukan tentang menghapus sesuatu dari kepala, melainkan tentang mengizinkan hati berdamai dengan yang pernah membuatnya remuk. Ada luka yang tak bisa ditinggalkan, hanya bisa diajak hidup berdampingan.
Pernah ada hari di mana aku bangun dan merasa semuanya baik-baik saja. Tapi siangnya, sepotong kenangan datang tanpa permisi, dan segalanya kembali runtuh. Begitulah prosesnya—kadang aku merasa sudah sembuh, padahal hanya sedang berhenti berdarah. Malam-malam tetap sepi, hanya sedikit lebih tenang daripada dulu.
Ada waktu-waktu di mana aku mencoba tertawa, padahal suaranya terdengar seperti retakan gelas di dalam dada. Aku berpura-pura baik agar dunia tidak melihat betapa hancurnya aku di dalam. Sementara di sisi lain, aku sendiri pun tak tahu bagaimana caranya menjadi baik-baik saja lagi.
Aku mulai menerima bahwa tidak semua yang hilang harus diganti. Beberapa kehilangan memang ditakdirkan untuk dibiarkan kosong, agar kita belajar berjalan tanpa pegangan, belajar menatap hari tanpa seseorang yang dulu membuatnya terasa berarti.
Fase sembuh bukan tentang bahagia, tapi tentang berhenti marah pada diri sendiri. Tentang memaafkan keputusan yang pernah salah, cinta yang pernah buta, dan hati yang terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pernah pasti. Aku mulai mengerti, bahwa mungkin aku tidak akan pernah benar-benar sama lagi—dan itu tidak apa-apa.
Terkadang aku masih menoleh ke belakang, sekadar memastikan bahwa aku pernah benar-benar mencintai, meski akhirnya disakiti. Aku ingin percaya bahwa luka pun punya arti, bahwa ia tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk mengajarkan cara merangkai ulang diri dari kepingan yang berserakan.
Aku pernah mengira, sembuh berarti melupakan semuanya. Nyatanya, sembuh adalah ketika kenangan itu datang lagi, dan aku bisa tersenyum tanpa merasa sesak. Ketika aku bisa menatap tempat yang dulu menyakitkan tanpa ingin lari.
Ada hari-hari di mana aku masih menangis tanpa alasan yang jelas. Tapi kini aku tahu, menangis bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa aku masih punya hati yang bisa merasa, meski sudah lelah. Air mata kini tidak lagi pahit—ia hanya sisa dari rasa yang perlahan belajar reda.
Kini, aku tidak lagi mencari siapa yang harus disalahkan. Aku hanya ingin tenang, ingin bisa tidur tanpa dihantui bayangan yang sama. Mungkin di sanalah arti dari sembuh—bukan ketika luka hilang, tapi ketika aku sudah tidak lagi menolak keberadaannya.
Dan di antara semua kehilangan, aku akhirnya menemukan sesuatu yang berharga: diriku sendiri. Mungkin itu hadiah dari segala sakit yang pernah kualami—kesadaran bahwa aku bisa hidup tanpanya, bisa bertahan dengan caraku sendiri, meski dulu sempat hancur sampai tak mengenali siapa aku sebenarnya.
Bilik Sunyi, 7 November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar