Selasa, 11 November 2025

Luka yang Tak Pernah Usai

Luka yang Tak Pernah Usai

Karya: Pena_Lingga

Tuhan, masih pantaskah aku sujud padamu untuk tidak lelahnya meminta kesabaran? Aku tahu, Engkau tidak pernah meninggalkan siapa pun, tapi rasanya dunia terlalu pandai membuatku percaya bahwa aku berjalan sendirian. Ada banyak hal yang sudah kupasrahkan, tapi tak ada satu pun yang benar-benar hilang dari dadaku. Semuanya menetap, seperti luka yang memilih tinggal meski aku sudah berkali-kali memohon agar ia pergi.

Aku tidak lagi tahu bagaimana cara menenangkan hati. Dulu aku percaya, waktu akan menyembuhkan apa pun yang hancur. Tapi sekarang, waktu hanya membuatku terbiasa dengan sakit yang sama. Aku tidak sembuh, hanya belajar menutupi perih dengan senyum yang tidak benar-benar jujur. Mungkin beginilah caranya Tuhan menempaku—agar aku mengerti bahwa tidak semua doa akan dijawab dengan “iya”, dan tidak semua tangis perlu disembuhkan segera.

Setiap malam, aku memejamkan mata dengan rasa yang sama: sepi, sesak, dan pertanyaan yang tak kunjung punya jawaban. Aku berbicara pada langit, pada kesunyian yang menggema di dalam dada. Aku berkata, “Tuhan, aku lelah, tapi aku takut berhenti berharap.” Dan dari situ aku sadar, kadang keikhlasan bukan tentang berhenti berharap, tapi tetap percaya meski tahu hasilnya mungkin tidak seperti yang diinginkan.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada-Mu, tapi aku tidak tahu dari mana harus memulai. Aku ingin mengadu tentang hati yang terus disakiti, tentang hidup yang tidak juga memihak, tentang diri yang semakin kehilangan arah. Tapi setiap kali aku membuka mulut, air mata lebih dulu menjawab. Mungkin itu tandanya, aku masih hidup. Masih bisa merasa. Masih bisa meneteskan sesuatu dari sisa kekuatan yang tersisa.

Tuhan, aku tidak ingin mengeluh. Hanya saja, aku sering tak tahu bagaimana harus kuat. Semua orang bilang, sabar itu indah. Tapi tidak ada yang memberi tahu betapa sabar bisa menjadi beban paling berat bagi seseorang yang sudah hampir menyerah. Aku menatap diriku di cermin, dan yang kulihat hanyalah mata yang kehilangan cahaya—tanda bahwa aku sudah terlalu lama berpura-pura baik-baik saja.

Aku sering iri pada mereka yang bisa tertawa tanpa beban. Yang tidak perlu pura-pura tegar saat hati mereka nyaris hancur. Aku ingin seperti itu, Tuhan. Aku ingin tertawa tanpa ada perih yang sembunyi di baliknya. Tapi setiap kali aku mencoba, ada bayangan masa lalu yang menarikku kembali. Seakan luka-luka itu tahu caranya menghancurkan di waktu yang paling tenang.

Aku belajar mencintai kehilangan. Karena dari sanalah aku mengenal arti ketulusan yang sebenarnya. Tapi sungguh, Tuhan, mencintai sesuatu yang tidak bisa kugenggam rasanya seperti memeluk angin—menghangatkan sebentar, lalu hilang tanpa jejak. Aku hanya bisa menatap sisa-sisa harapan yang perlahan menjadi abu. Dan dari abu itulah, aku mencoba menulis lagi, berharap ada makna yang tersisa dari semua yang hancur.

Terkadang aku merasa Engkau terlalu diam. Tapi mungkin aku yang terlalu sibuk mendengarkan luka, hingga lupa bahwa Kau berbicara lewat hal-hal kecil. Lewat matahari yang tetap terbit meski malam tak pernah sopan pergi, lewat angin yang menyapu wajahku dengan lembut, seolah berkata, “Aku masih di sini, anak-Ku.” Dan saat itu, aku tahu: aku tidak sepenuhnya sendiri.

Namun, jujur Tuhan, aku masih takut. Takut jika suatu hari aku benar-benar berhenti percaya. Karena terlalu sering kecewa, terlalu sering gagal memahami maksud-Mu. Aku ingin tetap berdoa, meski dengan suara yang hampir tak terdengar. Aku ingin tetap bersujud, meski dengan lutut yang nyaris tak sanggup menopang beban diri. Karena di atas segalanya, aku hanya ingin Kau tahu: aku masih mencoba bertahan.

Dan bila suatu hari aku tak lagi kuat, tolong jangan marahi aku, Tuhan. Peluk saja aku dengan cara-Mu yang lembut itu. Biarkan aku menangis di hadapan-Mu tanpa rasa malu. Karena sesungguhnya, aku hanya seorang hamba yang ingin sembuh, tapi terlalu sering jatuh dalam luka yang sama. Jika hari ini aku masih bisa bernafas, itu bukan karena aku bahagia—melainkan karena aku percaya, Engkau masih menungguku untuk kembali pulang.

Bilik Sunyi, 11 November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...