Rabu, 31 Desember 2025

Dialog Daeng dan Tenri

Daeng ,Tenri 

Karya : Pena_Lingga


L : Assalamualaikum Tenri

P : Wa'alaikum salam Daeng


L : Saya tiba saat ini untuk memenuhi ucapan janji saya yang dulu sempat kau ragukan, tiga tahun sudah saya merantau ke negeri orang mencari lembar demi lembar uang yang menjadi mahar permintaan ayah handamu Tenri. Kini permintaan itu telah saya siapkan untuk melamar engkau.


P : saya sungguh senang daeng, engkau telah berhasil memenuhi permintaan ayah Handa saya, tetapi daeng....

Hendaklah kiranya kau menerima permintaan maaf saya terlebih dahulu, sebelum kau membenci saya bahkan mungkin setelah mendengar berita ini, kau tidak Sudi lagi melihat diri saya yang hina ini.


L : apa maksud kalimat , Maafmu, dan hina itu Tenri ?

Engkau tidak pernah membuat saya kecewa sebab kau, adalah wanita yang paling saya cintai Tenri.


P : Terimakasih daeng atas kecintaanmu itu pada saya.

Tetapi,,,, bagaimana jika kebesaran cintamu itu ternyata telah saya khianati deang. Apa kah engkau masih Sudi memaafkan dan menerima saya lagi ?


L : Hhhaaaa.... Jangan mengucapkan kata lelucon Tenri,

Saya sangat percaya pada dirimu yang menjaga cinta kita, 

Bukankah dahulu sebelum saya pergi ke rantau, engkau telah berjanji untuk selalu menunggu kedatanganku dan akan selamanya menjaga hati untuk diriku ? Lantas, alasan apalagi yang bisa membuat saya untuk membencimu Tenri.

Sudahlah, esok ketika embun mulai lenyap dan mentari mulai bersinar, saya akan menemui ayah handamu.


P : Jangan terlalu terburu-buru daeng, kau harus mendengar penjelasan saya, agar kau bisa menimbang kembali langkahmu itu daeng. Saya siap jika harus kau benci dan menganggap saya perempuan hina. Asal engkau bisa memberi saya maaf.

Daeng, sejujurnya saya sudah menodai hubungan kita, kesucian saya yang telah kau jaga, telah di rampas lelaki lain yang tidak lebih adalah sahabat dekat kau sendiri,Daeng. Sungguh saat itu saya di buatkan oleh nafsu yang telah lama mendiami hasrat saya.


L : Tenri... apa yang baru saja engkau ucapkan?

Katakanlah sekali lagi, agar telinga saya benar-benar yakin bahwa tidak salah mendengar.

Apakah engkau sedang berolok-olok, atau inikah kenyataan pahit yang harus saya telan setelah beribu hari saya berkelana di negeri orang demi cinta yang kita titipkan pada langit?


P : Ampunilah saya Daeng...

Seandainya waktu dapat saya putar kembali, nescaya saya memilih tetap setia pada janji saya dahulu, menunggu engkau tanpa goyah barang sedikit pun. Namun saya telah tewas oleh kelemahan hati saya sendiri.

Beberapa bulan setelah engkau pergi, rasa sunyi mulai merajai batin saya. Saya rindu pada perhatian engkau, rindu pada suara engkau, rindu pada sosok engkau yang selalu menenangkan.

Dan di saat itulah, lelaki itu, sahabat kau sendiri hadir menghampiri saya dengan kata-kata manis yang menipu rasa. Saya terlena, saya terjatuh, saya alpa dari janji suci yang pernah saya ukirkan di hadapanmu.


L : Tenri...

Apakah engkau sadar siapa lelaki yang engkau sebut itu ? Lelaki yang selama ini saya panggil, saudara, yang saya bela di hadapan orang lain. Yang saya simpan sebagai sahabat paling saya kasihi ?

Dan kini engkau mengatakan bahwa dialah perampas kesucian hubungan kita ?

Tiga tahun saya berjuang menahan lapar dan dahaga di tanah perantauan.

Tiga tahun saya memeras keringat, memanggul rindu, dan memeluk sepi demi memuliakan cintamu.

Namun ketika saya kembali dengan hati penuh harapan, engkau justru menyambut saya dengan pengkhianatan paling tajam dari segala luka di dunia ini.


P : Daeng... Saya tidak menaifkan kesalahan saya.

Diri saya memang layak engkau benci, layak engkau hina, layak engkau tinggalkan tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Tetapi sebelum engkau menghakimi diri saya, izinkanlah saya berkata dengan jujur, walaupun kata itu sesakit belati di dada engkau.

Saya...kini telah sedang mengandung Daeng...

Anak itu adalah benih dari sahabat dekat engkau yang pernah engkau percayai sepenuh hati.


L : ( Terdiam lama, napas gugup, suara bergetar )

Tenri... Bagaimana mungkin engkau sanggup menjatuhkan diri saya sedalam ini ?

Apakah begitu murahnya cinta yang dahulu kita bina ?

Apakah janji  yang dahulu engkau tuturkan di bawah cahaya rembulan hanya sekedar kata-kata tanpa jiwa ?

Saya menahan lapar demi engkau, saya menahan godaan demi engkau, saya menahan segala keinginan demi menjaga kehormatan hubungan kita...

Namun engkau... engkau justru menyerahkan segalanya kepada lelaki lain dan lebih malang lagi, dia adalah sahabat saya sendiri.


P : Janganlah engkau menyiksa dirimu sendiri dengan kemarahan Daeng.

Letakkan segala kebencian itu pada saya seorang.

Biarkan saya menanggung seluruh derita, karena memang saya lah puncak segala malapetaka ini.

Saat itu saya bukan lagi Tenri yang engkau cintai.

Saya hanyalah perempuan lemah yang kalah melawan gelora dalam dirinya sendiri, saya adalah perempuan hina itu....

Saya tahu, tidak ada alasan di dunia ini yang mampu membela perbuatan saya.

Namun sebelum engkau beranjak pergi, berikanlah saya satu hal : "maafmu..." walau hanya separuh napas.


L : Maaf ?

Bagaimana mungkin saya memaafkan sesuatu yang telah merobohkan seluruh mimpi yang saya bangun demi engkau ?

Selama saya di sana, setiap malam saya berbicara pada diri saya sendiri, meyakinkan hati saya bahwa Tenri akan tetap setia menunggu saya.

Saya menolak banyak wanita, menepis banyak godaan, karena di dalam hati saya hanya ada satu nama, nama engkau Tenri...

Tetapi kini, engkau memaksa saya menerima kenyataan bahwa wanita yang paling saya cintai adalah orang yang paling mengkhianati saya.


P : Saya tidak meminta engkau menerima saya kembali, Daeng. 

Saya sadar, diri saya tidak lagi layak berada di sisimu.

Saya hanya memohon agar engkau tidak membawa kebencian ini hingga ke liang hatimu.

Jika engkau ingin pergi dan melupakan diri saya, lakukanlah...

Biarlah saya memikul aib ini seorang diri, bersama anak yang akan lahir dari dosa saya.


L : Tidak, Tenri...

Engkau tidak hanya menghancurkan dirimu sendiri, engkau juga telah menghancurkan persahabatan, kepercayaan, dan masa depan saya.

Bagaimana saya akan memandang sahabat saya itu selepas ini ? 

Setiap kali saya menatap wajahnya, saya akan melihat pengkhianatan yang paling busuk di antara sesama lelaki.

Engkau berdua merampas sesuatu yang tidak bisa diganti dengan apa pun : harga diri saya sebagai seorang lelaki Bugis yang setia menunggu, kini telah engkau nodai.


P: Jika engkau ingin membenci saya sepanjang hayatmu, saya rela, Daeng.

Jika engkau ingin mencemuh Saya di hadapan dunia, saya pun rela.

Karena memang demikianlah hukuman yang pantas saya terima.

Namun ketahuilah, kasihku padamu tidak pernah mati, hanya saja diri saya terlalu lemah untuk menjaga amanah cinta, dan kesetiaan.


L : Cinta ?

Jangan lagi engkau mencemarkan kata itu, Tenri.

Cinta tidak pernah menyuruh seseorang berkhianat.

Cinta tidak pernah menyuruh seseorang menikam dari belakang lelaki yang telah mempertaruhkan segalanya demi masa depan bersama pujaannya.

Mulai saat ini, biarlah namamu tinggal sebagai luka, dalam sejarah hidup saya.

Saya akan pergi, bukan karena saya tidak mencintai engkau lagi, tetapi karena cinta saya sudah tidak memiliki rumah untuk pulang.


P : Daeng...

Sekalipun engkau pergi tanpa menoleh, ketahuilah, doa saya akan selalu menyertai engkau.

Dan semoga luka ini...suatu hari dapat sembuh, walau perlahan dan menyakitkan.


Makassar, 1 Juli 2025

Minggu, 28 Desember 2025

Untuk Perempuan Teduhku

Untuk Perempuan Teduhku

Karya : Pena_Lingga



Untuk perempuan sederhana yang suaranya bisa menenangkan aku — aku selalu merasa dunia berhenti berisik ketika kamu bicara pelan. Seolah seluruh hujan yang lama menggantung di dadaku tiba-tiba menemukan jalan pulang ke tanah. Tidak ada kata-kata besar darimu, tidak ada nasihat yang dipaksakan. Hanya jeda, hanya diam yang hangat, hanya keberadaanmu yang terasa seperti rumah yang akhirnya berani kupijak kembali.


Aku tidak pernah tahu bagaimana cara kerja ketenanganmu. Kamu tidak memaksaku kuat, tidak pula menuntutku tegar. Kamu hanya mendengarkan, membiarkan luka bercerita tanpa takut disalahkan. Di hadapanmu, aku tidak perlu menjadi versi paling baik dari diriku. Aku boleh lelah, boleh hancur, boleh runtuh — dan kamu tetap menyebutku “baik-baik saja”.


Ada hari-hari di mana dunia terasa berat seperti malam yang tidak kunjung selesai. Di saat itu, suaramu hadir seperti lampu kecil di sudut lorong. Tidak terang, tidak gemilang, tapi cukup untuk membuatku terus melangkah. Kamu tidak pernah berjanji akan menyembuhkan semuanya. Namun entah bagaimana, kehadiranmu membuat luka tidak lagi menakutkan.


Aku mengingat setiap percakapan kita seperti doa yang berbisik di ruang dada. Kamu berbicara tanpa meninggikan nada, tapi justru di situlah aku menemukan keberanian yang lama hilang. Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang pelukan, tidak selalu tentang kepemilikan — kadang hanya tentang seseorang yang bertahan di sebelahmu ketika dunia mengguncang.


Perempuan sederhana, aku belajar banyak darimu: tentang menerima rasa sakit tanpa memaki takdir, tentang menunggu tanpa mengeluh, tentang mencintai tanpa harus memiliki. Kamu tidak tampil megah, tidak berdiri di panggung sorotan. Namun justru kesederhanaanmu membuatmu terasa begitu besar di dalam diriku.


Ada kalimat-kalimat kecil yang kamu ucapkan, seringkali tanpa kamu sadari, namun tinggal lama di kepalaku. Kalimat yang tidak dibuat untuk menghibur, tapi lahir dari ketulusan yang tidak pernah kamu pamerkan. Dari situ aku tahu — kamu tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa, kamu hanya menjadi dirimu sendiri, dan dari sanalah ketenangan itu berasal.


Aku pernah merasa dunia terlalu keras kepadaku, terlalu cepat, terlalu bising. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku teringat pada caramu tersenyum — sederhana, tidak berlebihan — seolah hidup tidak selalu harus dimenangkan, cukup dijalani dengan hati yang pelan-pelan belajar pulih.


Dan jika suatu hari jarak memisahkan kita, aku ingin kamu tahu: suara yang pernah kamu berikan padaku tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia akan tinggal sebagai gema di dalam dadaku, sebagai pengingat bahwa pernah ada seseorang yang tidak datang untuk menyelamatkan, tetapi hadir untuk menemani.


Terima kasih — bukan karena kamu menyembuhkan seluruh lukaku, tapi karena kamu tidak pernah memaksanya sembuh lebih cepat dari waktunya. Terima kasih karena kamu tidak menanyakan kenapa aku rapuh. Kamu hanya duduk di sana, membiarkanku jadi manusia.


Untuk perempuan sederhana yang suaranya menenangkan: semoga kebahagiaan selalu menemukanmu, dengan cara yang tenang seperti caramu menemukan aku. Jika suatu saat kita bukan lagi siapa-siapa, izinkan aku tetap menyebutmu sebagai salah satu hal terbaik yang pernah singgah dalam hidupku.


Bilik nyamanku, 28 Desember 2025

Sabtu, 27 Desember 2025

Mimbar Kita Sama, Tempat Yang Berbeda

Mimbar Kita Sama, Tempat Yang Berbeda

Karya: Pena_Lingga


Pada suatu masa yang tidak sengaja datang, kita duduk di bangku yang sama dan memandang ke arah yang berbeda. Aku tidak tahu kapan perasaan itu tumbuh—ia tidak hadir dengan dentang besar, melainkan seperti embun yang mengendap diam-diam di sudut pagi. Kau tersenyum pelan, dan sejak saat itu, aku tahu: ada sesuatu yang bergerak di dalam diriku, yang tak pernah kuminta, tapi juga tak bisa kutolak.


Kita berbicara tentang hal-hal sederhana. Tentang cuaca, tentang kesibukan, tentang kehidupan yang terasa berat namun tetap harus dijalani. Tidak ada pengakuan cinta di antara kita, hanya tatapan yang terlalu lama untuk disebut biasa. Di balik semua itu, kita sadar: cinta ini tidak sedang mencari tempat untuk tumbuh—ia hanya mencari alasan untuk bertahan.


Kita dibesarkan di jalan yang berbeda. Kau belajar menyebut nama Tuhan dengan cara yang tidak sama denganku. Di rumahmu, doa diucapkan dengan nada yang lain. Di rumahku, langit punya warna yang berbeda. Namun pada pertemuan di antara dua perbedaan itu, kita menemukan sesuatu yang sama: rasa yang pelan-pelan membentuk jarak yang tidak mungkin kita langkahi.


Ada hari-hari ketika kita berusaha menyangkalnya. Kita mencoba menyebut hubungan ini sebagai pertemanan, sebagai kebetulan, sebagai sesuatu yang tidak perlu diberi makna. Namun perasaan, seperti air di celah bebatuan, tetap menemukan jalan untuk mengalir. Bukan untuk menyatukan, melainkan untuk mengingatkan bahwa hati manusia kadang memilih arah yang tidak pernah diminta.


Kita berdiri di mimbar yang sama—tempat orang-orang berbicara tentang kasih, tentang kebaikan, tentang jalan menuju kebahagiaan. Tetapi di dalam diri kita, ada ruang yang tidak pernah bisa dipertemukan. Cinta kita tidak retak karena kurang yakin; ia retak karena keyakinan itu sendiri terlalu kokoh untuk kita geser.


Kau pernah berkata, “Mungkin yang salah bukan perasaannya, tapi tempat ia bertumbuh.” Aku diam, karena kalimat itu terasa seperti kebenaran yang terlalu jujur. Kita mencinta tanpa berani meminta, kita merindukan tanpa pernah benar-benar memanggil. Seolah-olah dunia memberi kita cinta, tapi menarik kembali takdirnya.


Pada suatu senja yang panjang, kita akhirnya berhenti. Tidak ada perpisahan dramatis, tidak ada air mata yang meluap. Hanya keheningan yang berdiri di antara kita—hening yang mengerti bahwa bertahan berarti melukai terlalu banyak hal, dan pergi adalah satu-satunya cara untuk tetap menjaga apa yang kita yakini.


Kita memilih jalan masing-masing. Kau kembali pada duniamu yang tenang, aku kembali pada jalanku yang tidak selalu pasti. Namun di sudut hati, kita menyisakan ruang kecil yang tidak ingin kita sentuh. Bukan sebagai luka, bukan pula sebagai harapan—melainkan sebagai ingatan yang kita jaga agar tidak tumbuh, tetapi juga tidak hilang.


Kadang, di malam yang sunyi, aku masih mengingat caramu menatap dunia: tenang, penuh keyakinan. Dan di saat-saat itu, aku sadar bahwa cinta tidak selalu harus menemukan rumahnya. Ada cinta yang cukup dengan menjadi persinggahan—singkat, sunyi, namun meninggalkan jejak yang tidak bisa sepenuhnya hilang.


Kini kita tetap berada di mimbar yang sama—tempat manusia belajar mencintai dengan cara yang paling manusiawi, termasuk melepaskan. Hanya saja, kita berdiri di tempat yang berbeda. Dan mungkin, di situlah cinta ini berakhir: bukan sebagai kisah yang bersatu, melainkan sebagai doa yang tidak pernah diucapkan… tapi tetap mengalir di dalam hati.


Atap langit teduh, 28 Desember 2025

Jumat, 26 Desember 2025

Ayah, Perahuku Terlalu Kecil

Ayah, Perahuku Terlalu Kecil

Karya : Pena_Lingga

Ayah, bagaimana kabarmu di sana? Kadang-kadang aku berdiri lama di ambang pintu senja, hanya untuk membayangkan bayangmu duduk di kursi kayu tua, menatap jauh ke halaman yang kini telah menjadi sunyi. Ada angin yang datang membawa sesuatu, entah doa, entah ingatan yang tak pernah selesai, dan di dalamnya namamu selalu ikut pulang.

Sejak dulu aku tak pernah benar-benar mengerti mengapa langkahmu terasa berat ketika kembali dari perjalanan hidup yang panjang. Kini aku mulai memahami: dunia tidak hanya memikul bahu, tapi juga diam seseorang. Dan kesunyian itulah yang paling sering membuat manusia tampak tegar, padahal hatinya telah lama belajar menahan sakit tanpa suara.

Ayah, setiap hari aku berhadapan dengan riuh dunia yang terasa asing, seperti kota tanpa peta, jalanan tanpa petunjuk, dan langit yang kadang terlalu rendah untuk seorang anak yang masih belajar berdiri. Di sini aku mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya soal berjalan, melainkan belajar menerima luka yang datang tanpa permisi.

Perahu kecilku berlayar di tengah samudera yang luas. Tak ada nahkoda, tak ada dayung, hanya gelombang dan rasa takut yang diam-diam tumbuh bersama keberanian. Kadang aku ingin berhenti, tapi dunia terus mendorongku maju, seolah-olah tak ada tempat kembali selain ke depan, sejauh apa pun jaraknya dari rumah yang pernah kita jaga bersama.

Aku sering memikirkan punggungmu, ayah. Punggung yang dulu kulihat sebagai tembok paling kokoh di hidupku. Kini aku sadar: tembok itu pun pernah rapuh, hanya saja kau tidak pernah membiarkan kami melihat retaknya. Kau menutupinya dengan tawa, dengan sabar, dengan diam yang hangat dan tak pernah meminta balasan.

Ada saat-saat ketika aku ingin menangis, tapi tidak tahu harus menangis kepada siapa. Dunia terlalu sibuk untuk mendengarkan, sementara langit hanya menjadi tempat singgah doa. Pada waktu-waktu seperti itu, aku berharap ayah masih ada, hanya untuk duduk di sampingku, tanpa kata apa pun, sebab kehadiranmu dulu selalu lebih kuat daripada semua nasihat.

Kini aku paham, lelah itu bukan hanya tentang tubuh yang bekerja, melainkan tentang hati yang tetap bertahan meski sering kalah. Kau mengajarkanku untuk tetap berjalan walau jalanan terasa licin, untuk tetap percaya meski dunia tak menjanjikan apa-apa. Dan pelajaran itu menjadi bekal paling sunyi yang kuterima darimu.

Ayah, jika suatu hari angin membawa kabar dari tempatmu berada, sampaikan bahwa aku masih belajar menjadi kuat. Bukan kuat seperti pahlawan dalam cerita, melainkan kuat dengan caraku sendiri — terjatuh, bangkit, lalu berjalan lagi, meski langkahku goyah dan mataku sering dipenuhi rindu.

Perahu kecil ini mungkin tak pernah menjadi kapal besar, tapi aku akan tetap berlayar. Sebab aku tahu, di setiap gelombang yang kuterjang, ada jejak keberanianmu yang tumbuh kembali di dadaku. Dan di setiap rasa takut yang kurasakan, ada bagian dari dirimu yang diam-diam ikut menjagaku.

Ayah, aku tidak lagi bertanya kapan aku bisa pulang. Sebab kini aku tahu: sebagian dari rumah itu telah lama menetap di dalam diriku — dalam kenangan, dalam doa, dan dalam setiap langkah yang kutempuh di dunia yang perlahan kupahami, meski tetap terasa berat dan sepi.

Ruang teduh, 26 Desember 2025

Kamis, 25 Desember 2025

Bu, Mengapa Dunia Sering Bercanda

Bu, Mengapa Dunia Sering Bercanda

Karya : Pena_Lingga

Bu, saya sering bertanya dalam hati, kenapa dunia sering mengajak saya bercanda di saat saya sedang serius, dan ketika saya bercanda dunia malah serius memberikan ujian yang begitu beratnya. Rasanya seperti hidup ini punya caranya sendiri untuk menertawakan setiap niat baik yang ingin saya perjuangkan. Seolah setiap langkah yang saya ambil selalu salah di mata waktu, dan saya hanya bisa diam, menanggung semua yang tak pernah saya mengerti.

Kadang, Bu, saya merasa seperti sedang berjalan sendirian di lorong panjang yang sunyi. Ada suara-suara dari masa lalu yang masih menggema di kepala, tentang harapan yang dulu pernah tumbuh namun kini layu perlahan. Saya mencoba kuat, saya mencoba tegar, tetapi di dalam diri saya ada bagian yang rapuh dan tak lagi punya tempat untuk bersandar.

Saya sering memandang langit malam hanya untuk mencari alasan agar tetap bertahan. Saya berharap ada jawaban terselip di antara bintang-bintang, namun yang saya temukan hanya keheningan yang menusuk dada. Di sana, saya menyadari bahwa tidak semua luka bisa diceritakan, dan tidak semua kesedihan punya tempat untuk pulang.

Bu, hidup ini seringkali terasa seperti panggung, di mana saya dipaksa tersenyum meski hati saya retak di dalam. Orang-orang melihat tawa saya, tetapi mereka tidak tahu berapa kali saya harus berpura-pura baik-baik saja. Mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi kuat ketika bahkan diri sendiri tidak lagi yakin mampu bertahan.

Ada hari-hari di mana saya merasa tidak lagi dikenal oleh diri saya sendiri. Saya berubah menjadi seseorang yang asing, yang hanya bisa berjalan mengikuti arah hidup tanpa berani bertanya ke mana tujuan sebenarnya. Hati saya lelah, Bu — bukan karena perjalanan yang panjang, tapi karena terlalu sering menahan rasa sakit sendirian.

Saya ingin sekali menangis tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Rasanya ingin mengakui bahwa saya lemah, saya rapuh, saya tidak sekuat yang mereka kira. Namun, dunia selalu meminta saya untuk berdiri tegak, bahkan ketika lutut saya sudah bergetar menahan segala beban.

Di dalam hati saya, ada rindu yang tidak pernah menemukan tempat kembali. Rindu pada diri saya yang dulu, yang masih percaya bahwa hidup selalu punya alasan untuk membuat seseorang bahagia. Sekarang, semua terasa jauh, seolah bahagia hanya lewat di depan mata, tanpa pernah singgah barang sebentar.

Bu, terkadang saya iri pada mereka yang bisa tertawa tanpa memikirkan apa-apa. Saya iri pada mereka yang hidupnya terasa ringan, tanpa harus bergumul dengan pertanyaan tentang makna kehilangan, kesunyian, dan ketidakpastian. Saya ingin seperti mereka, tetapi hidup tidak memberi saya kesempatan yang sama.

Namun, meski hati ini sering terasa hancur, saya tetap berjalan. Bukan karena saya kuat, tapi karena saya tidak punya pilihan lain selain melanjutkan langkah. Saya percaya, suatu hari nanti, semua luka ini akan menemukan tempatnya sendiri — entah menjadi doa yang tenang, atau kenangan yang akhirnya bisa saya lepaskan.

Dan jika suatu hari saya kembali bertanya pada dunia, saya hanya berharap dunia tidak lagi bercanda di atas kesedihan saya. Saya hanya ingin hidup yang sederhana, Bu — hidup di mana saya bisa bernapas tanpa merasa berat, dan bisa tersenyum tanpa harus menyembunyikan duka di baliknya.

Bilik Sepiku, 25 Desember 2025

Minggu, 21 Desember 2025

Untuk Seseorang

Untuk Seseorang

Karya : Pena_Lingga

Untuk seseorang yang pernah aku pilih menjadi pelabuhan hati, aku tidak benar-benar siap ketika kau memilih pergi. Tidak ada tanda, tidak ada peringatan, hanya jarak yang tiba-tiba menjadi terlalu nyata untuk kuterima. Kamu meninggalkan aku dalam keadaan masih percaya, masih berharap, masih mengira kebersamaan adalah sesuatu yang sedang kita rawat bersama. Kepergianmu terasa seperti kapal yang sengaja dilepaskan saat aku masih berdiri di dermaga, menggenggam keyakinan bahwa kau akan tinggal. Sejak saat itu, aku belajar bahwa ditinggalkan bukan hanya soal kepergian seseorang, tapi tentang bagaimana seseorang merobohkan masa depan yang diam-diam sudah kita bangun dalam kepala.

Kau pernah duduk di sampingku dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Kalimat itu masih hidup di kepalaku, berjalan mondar-mandir tanpa arah, mencari tempat untuk berlabuh. Aku menyimpannya bersama janji-janji lain yang kau ucapkan dengan nada tenang dan tatapan meyakinkan, namun tak pernah benar-benar kau jaga. Kini aku mengerti, tidak semua kata yang terdengar hangat lahir dari niat untuk menetap.

Aku mencoba mengingat kembali di bagian mana aku kurang, di kata mana aku terlalu berlebihan, di sikap apa aku seharusnya menahan diri. Aku mengulang kenangan seperti memeriksa luka lama, berharap menemukan kesalahan yang bisa kuperbaiki. Namun semakin kupikirkan, semakin aku lelah menyalahkan diriku sendiri. Sebab aku hadir sepenuh mungkin, mencintai dengan cara yang aku bisa, dan bertahan bahkan saat hatiku mulai retak. Jika itu masih belum cukup, mungkin memang aku tak pernah dimaksudkan untuk kau perjuangkan.

Kepergianmu mengubah banyak hal yang sebelumnya terasa biasa. Waktu berjalan lebih lambat, hari-hari terasa kosong, dan malam menjadi tempat berkumpulnya pikiran-pikiran yang tak kunjung tenang. Aku menjadi asing dengan diriku sendiri—tertawa seperlunya, berbicara sekadarnya, hidup sekadar menggugurkan hari. Tidak ada yang benar-benar salah, hanya ada sesuatu yang hilang dan tak pernah kembali ke tempatnya semula.

Aku sering bertanya, apakah kau pernah ragu saat melangkah pergi. Apakah namaku sempat singgah di kepalamu walau sebentar saja. Atau aku hanyalah persinggahan yang kau anggap selesai begitu tujuan lain terlihat lebih menjanjikan. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, sebab orang yang seharusnya menjelaskan justru memilih menghilang dan membiarkan aku berdamai sendirian dengan dugaan.

Aku tak membencimu. Aku hanya kecewa pada kenyataan bahwa aku percaya terlalu dalam. Aku menyerahkan rasa dengan harapan ia dijaga, bukan ditinggalkan di tengah jalan. Aku lupa bahwa tidak semua orang yang datang membawa hangat berniat tinggal hingga akhir. Ada yang hanya ingin singgah, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang, seolah kehadiranku tak pernah berarti lebih dari sekadar jeda.

Sekarang aku menata ulang hidupku dengan tangan yang sering gemetar. Mengumpulkan serpihan diriku yang runtuh setelah kau pergi, satu per satu, dengan sabar yang dipaksakan. Aku belajar berdiri tanpa sandaran, belajar diam tanpa pelukan, belajar kuat tanpa ditemani. Proses ini tidak indah, tapi jujur—dan mungkin itu yang membuatnya terasa begitu menyakitkan.

Sering kali aku tampak utuh di hadapan dunia, seolah kepergianmu tak meninggalkan bekas apa pun. Aku menjalani hari dengan wajah yang kupaksa tenang, menunaikan peran sebagai seseorang yang terlihat baik-baik saja. Namun di dalam diriku, ada ruang yang terus runtuh perlahan—tempat kenangan berputar tanpa henti, tempat namamu masih disebut dalam diam, dan tempat rindu tidak lagi menemukan arah pulang. Aku belajar menahan segalanya sendiri, sebab tidak semua luka perlu diketahui orang lain, cukup aku dan sunyi yang memahaminya.

Jika suatu hari kau mengingatku, ingatlah sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan sungguh. Seseorang yang memilih bertahan saat mudah untuk pergi, yang percaya pada kata-katamu tanpa menyiapkan perlindungan untuk dirinya sendiri. Aku tak meminta untuk dikenang, hanya ingin dipahami—meski mungkin pemahaman itu datang ketika segalanya sudah terlambat.

Kini aku berjalan sendiri, membawa luka sebagai pelajaran, bukan sebagai dendam. Aku tak lagi menunggumu kembali, sebab aku tahu, yang pergi dengan mudah jarang benar-benar ingin pulang. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, aku bisa mencintai lagi tanpa rasa takut ditinggalkan. Dan jika itu terjadi, semoga lukaku hari ini telah cukup mengajarkanku cara menjaga diri.

Bukit Kebar, 21 Desember 2025

Minggu, 14 Desember 2025

Bertahan Tanpa Tempat Pulang

Bertahan Tanpa Tempat Pulang

Karya : Pena_Lingga

Aku tidak pernah benar-benar memilih menjadi dewasa. Hiduplah yang menarik kerah bajuku, menyeretku keluar dari masa tenang, lalu menaruhku di tengah kerasnya dunia tanpa aba-aba. Setiap pagi aku bangun dengan mata berat dan dada kosong, bukan karena kurang tidur, tapi karena terlalu banyak hal yang harus kupikul sendirian. Dunia tak peduli apakah aku siap atau tidak, ia hanya menuntutku terus berjalan.

Kesunyian adalah teman paling setia dalam hidupku. Tidak ada orang tua tempatku mengadu, tidak ada keluarga yang bisa kupanggil saat semuanya terasa terlalu berat. Aku belajar menyimpan luka rapi-rapi di balik wajah yang tampak biasa saja. Aku tertawa seperlunya, berbicara seperlunya, lalu kembali diam karena aku tahu, tidak semua orang sanggup menampung ceritaku yang terlalu lelah.

Aku bekerja bukan dengan penuh semangat, melainkan dengan sisa tenaga. Tanganku bergerak karena harus, bukan karena ingin. Ada saat-saat ketika tubuhku berjalan ke tempat kerja, sementara jiwaku tertinggal di kamar sempit, duduk menatap dinding, bertanya mengapa hidup terasa begitu panjang dan melelahkan. Namun aku tetap berangkat, sebab tidak bekerja berarti tidak makan, dan tidak makan berarti menyerah.

Aku sering merasa hidup seperti medan perang yang sunyi. Tidak ada sorak, tidak ada kemenangan, hanya kelelahan yang terus berulang. Aku jatuh berkali-kali dalam diam, bangkit tanpa pernah benar-benar sembuh. Dunia tidak memberi waktu untuk merawat luka, ia hanya berkata, kuatlah, tanpa pernah peduli seberapa hancur aku di dalam.

Tabah adalah kata yang sering dipaksakan kepadaku. Seolah menjadi laki-laki berarti tidak boleh rapuh. Seolah menangis adalah aib, dan mengeluh adalah kelemahan. Maka aku belajar menelan segalanya sendiri, menumpuk kecewa di dada, sampai aku sendiri lupa bagaimana rasanya didengarkan tanpa dihakimi.

Rindu adalah luka yang tak pernah sembuh. Rindu pada pelukan orang tua yang hanya bisa kuingat, rindu pada rumah yang tak pernah benar-benar kumiliki. Setiap melihat orang lain pulang dengan wajah lega, hatiku seperti ditarik paksa ke masa yang tak pernah kumiliki. Aku pulang hanya membawa lelah dan harapan yang semakin menipis.

Di malam hari, ketika dunia akhirnya diam, aku duduk lama dalam gelap. Tidak melakukan apa-apa, hanya bernapas dan mencoba bertahan. Air mata sering jatuh tanpa suara, bukan karena aku ingin dikasihani, tapi karena aku sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri. Aku menangis sebentar, lalu menghapusnya, sebab esok aku harus kembali terlihat kuat.

Aku tidak mengejar mimpi besar, aku hanya berusaha bertahan hidup. Mimpiku sesederhana bisa tenang, bisa bernapas tanpa rasa takut, bisa tidur tanpa dihantui cemas. Namun bahkan mimpi sesederhana itu terasa mahal bagi laki-laki yang harus menghidupi dirinya sendiri tanpa sandaran.

Tidak semua perjuangan akan dihargai. Banyak yang melihatku biasa saja, tanpa tahu betapa sering aku hampir menyerah. Aku belajar bahwa menjadi dewasa berarti tidak diingat ketika lelah, tidak dicari ketika hilang, dan tidak dipeluk ketika hancur. Namun aku tetap bertahan, sebab menyerah bukan pilihan yang bisa kupilih.

Dan jika suatu hari aku terlihat dingin dan jauh, itu bukan karena aku tidak punya hati. Itu karena hatiku sudah terlalu sering patah dan kupaksa berdiri lagi. Aku adalah laki-laki dewasa yang hidup dari sisa harapan, berjalan dengan luka yang tak pernah sembuh, dan tetap bertahan meski dunia tidak pernah benar-benar ramah padaku.

Kebar, 14 Desember 2025

Senin, 08 Desember 2025

AKU YANG KALAH

AKU YANG KALAH

Karya : Pena_Lingga

Ternyata hati ini memang serapuh itu, seperti gelas tipis yang kusimpan di sudut meja, lalu jatuh bukan karena seseorang mendorongnya, tapi karena aku sendiri lengah menjaganya. Ada bunyi retak yang hanya bisa kudengar dari dalam dada, suara yang tak pernah bisa kudabik-dabik agar berhenti, karena retaknya bukan pada gelas itu, melainkan pada diriku sendiri yang terlalu sering mengabaikan luka kecil yang lama-lama menjadi jurang.

Dulu aku punya sayap yang tumbuh dari harapan. Aku tak tahu kapan tepatnya sayap-sayap itu melemah, mungkin sejak malam-malam ketika aku memaksakan diri untuk tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Padahal dalam diam, aku tahu arah pulang sudah tidak lagi sama; dunia kita perlahan kabur, rumah yang dulu kita janjikan berubah menjadi titik samar yang tak bisa kujangkau lagi.

Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun. Tidak diriku yang bodoh, tidak kamu yang pergi, dan tidak luka yang datang tanpa permisi. Semua yang terjadi rasanya tidak butuh nama ataupun alasan; ada hal-hal yang hanya bisa diterima tanpa harus dituntaskan. Aku hanya belajar bahwa rasa sakit kadang hadir bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk dirasakan sampai sembuhnya datang dengan sendirinya.

Aku sempat berpikir bahwa dunia terlalu kejam, bahwa semesta terlalu sering bercanda dengan hidupku, tapi pemahaman itu lambat laun berubah. Aku akhirnya tahu bahwa patahku bukan karena dunia menghancurkanku, melainkan karena aku mencintaimu dengan cara yang tidak menyisakan ruang untukku bernapas. Aku jatuh bukan karena kamu mendorongku, tapi karena aku sendiri menaruh seluruh berat hidupku padamu.

Aku mencintaimu terlalu dalam, terlalu polos, terlalu berharap, seolah cinta bisa memaksa seseorang untuk menetap hanya karena kita mencintainya sepenuh hati. Aku lupa bahwa cinta juga butuh keseimbangan, butuh jeda, butuh dua orang yang sama-sama ingin pulang ke tempat yang sama. Aku lupa bahwa aku bukan satu-satunya yang menentukan arah hubungan ini.

Lalu tibalah hari ketika kamu memilih pergi. Bukan dengan pertengkaran besar, bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan keputusan yang tajam dan dingin: kamu berpindah hati, berpindah pelukan, berpindah masa depan. Aku melihatmu menjauh bersama seseorang yang bukan aku, dan dunia pada saat itu tidak runtuh… hanya mengecil, sampai aku merasa tidak punya tempat di dalamnya.

Aku tetap berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, tidak mengejar, hanya mematung seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan separuh dirinya tanpa diberi waktu untuk bersiap. Ada perih yang tidak meledak, tetapi diam-diam menumpuk, seperti embun yang tidak jatuh tapi terus membasahi kaca sampai pandanganku berkabut oleh hal-hal yang tidak ingin kulihat.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semua ini hanya fase, bahwa aku hanya perlu menunggu hari ketika semuanya akan terasa ringan. Namun kenyataannya, semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin aku sadar bahwa yang hilang bukan hanya dirimu, tetapi juga keyakinanku pada masa depan yang pernah kita rangkai bersama. Kita yang dulu begitu yakin tentang “selamanya”, kini bahkan tidak mampu menuntaskan “hari ini”.

Pada akhirnya, aku harus menerima kenyataan yang paling sulit kutelan: aku kalah. Bukan karena kamu memilih orang lain, bukan karena aku tidak cukup baik, tapi karena aku mempertahankan hubungan yang sudah lebih dulu runtuh tanpa kusadari. Aku kalah karena terlalu percaya, terlalu berharap, dan terlalu lama bertahan di tempat yang sudah tidak lagi menjadi rumah.

Dan aku menuliskan semua ini di Kebar, pada tanggal delapan Desember, sambil mengumpulkan sisa-sisa diriku yang jatuh di sepanjang perjalanan. Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali berdiri tanpa gemetar, tanpa memikirkan siapa yang tinggal atau siapa yang pergi. Tapi hari ini, biarkan aku jujur pada diriku sendiri: aku yang kalah, dalam cinta yang pernah kukira akan berakhir dengan kata yang indah—kita untuk selamanya.

Kebar, 08 Desember 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...