Daeng ,Tenri
Karya : Pena_Lingga
L : Assalamualaikum Tenri
P : Wa'alaikum salam Daeng
L : Saya tiba saat ini untuk memenuhi ucapan janji saya yang dulu sempat kau ragukan, tiga tahun sudah saya merantau ke negeri orang mencari lembar demi lembar uang yang menjadi mahar permintaan ayah handamu Tenri. Kini permintaan itu telah saya siapkan untuk melamar engkau.
P : saya sungguh senang daeng, engkau telah berhasil memenuhi permintaan ayah Handa saya, tetapi daeng....
Hendaklah kiranya kau menerima permintaan maaf saya terlebih dahulu, sebelum kau membenci saya bahkan mungkin setelah mendengar berita ini, kau tidak Sudi lagi melihat diri saya yang hina ini.
L : apa maksud kalimat , Maafmu, dan hina itu Tenri ?
Engkau tidak pernah membuat saya kecewa sebab kau, adalah wanita yang paling saya cintai Tenri.
P : Terimakasih daeng atas kecintaanmu itu pada saya.
Tetapi,,,, bagaimana jika kebesaran cintamu itu ternyata telah saya khianati deang. Apa kah engkau masih Sudi memaafkan dan menerima saya lagi ?
L : Hhhaaaa.... Jangan mengucapkan kata lelucon Tenri,
Saya sangat percaya pada dirimu yang menjaga cinta kita,
Bukankah dahulu sebelum saya pergi ke rantau, engkau telah berjanji untuk selalu menunggu kedatanganku dan akan selamanya menjaga hati untuk diriku ? Lantas, alasan apalagi yang bisa membuat saya untuk membencimu Tenri.
Sudahlah, esok ketika embun mulai lenyap dan mentari mulai bersinar, saya akan menemui ayah handamu.
P : Jangan terlalu terburu-buru daeng, kau harus mendengar penjelasan saya, agar kau bisa menimbang kembali langkahmu itu daeng. Saya siap jika harus kau benci dan menganggap saya perempuan hina. Asal engkau bisa memberi saya maaf.
Daeng, sejujurnya saya sudah menodai hubungan kita, kesucian saya yang telah kau jaga, telah di rampas lelaki lain yang tidak lebih adalah sahabat dekat kau sendiri,Daeng. Sungguh saat itu saya di buatkan oleh nafsu yang telah lama mendiami hasrat saya.
L : Tenri... apa yang baru saja engkau ucapkan?
Katakanlah sekali lagi, agar telinga saya benar-benar yakin bahwa tidak salah mendengar.
Apakah engkau sedang berolok-olok, atau inikah kenyataan pahit yang harus saya telan setelah beribu hari saya berkelana di negeri orang demi cinta yang kita titipkan pada langit?
P : Ampunilah saya Daeng...
Seandainya waktu dapat saya putar kembali, nescaya saya memilih tetap setia pada janji saya dahulu, menunggu engkau tanpa goyah barang sedikit pun. Namun saya telah tewas oleh kelemahan hati saya sendiri.
Beberapa bulan setelah engkau pergi, rasa sunyi mulai merajai batin saya. Saya rindu pada perhatian engkau, rindu pada suara engkau, rindu pada sosok engkau yang selalu menenangkan.
Dan di saat itulah, lelaki itu, sahabat kau sendiri hadir menghampiri saya dengan kata-kata manis yang menipu rasa. Saya terlena, saya terjatuh, saya alpa dari janji suci yang pernah saya ukirkan di hadapanmu.
L : Tenri...
Apakah engkau sadar siapa lelaki yang engkau sebut itu ? Lelaki yang selama ini saya panggil, saudara, yang saya bela di hadapan orang lain. Yang saya simpan sebagai sahabat paling saya kasihi ?
Dan kini engkau mengatakan bahwa dialah perampas kesucian hubungan kita ?
Tiga tahun saya berjuang menahan lapar dan dahaga di tanah perantauan.
Tiga tahun saya memeras keringat, memanggul rindu, dan memeluk sepi demi memuliakan cintamu.
Namun ketika saya kembali dengan hati penuh harapan, engkau justru menyambut saya dengan pengkhianatan paling tajam dari segala luka di dunia ini.
P : Daeng... Saya tidak menaifkan kesalahan saya.
Diri saya memang layak engkau benci, layak engkau hina, layak engkau tinggalkan tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Tetapi sebelum engkau menghakimi diri saya, izinkanlah saya berkata dengan jujur, walaupun kata itu sesakit belati di dada engkau.
Saya...kini telah sedang mengandung Daeng...
Anak itu adalah benih dari sahabat dekat engkau yang pernah engkau percayai sepenuh hati.
L : ( Terdiam lama, napas gugup, suara bergetar )
Tenri... Bagaimana mungkin engkau sanggup menjatuhkan diri saya sedalam ini ?
Apakah begitu murahnya cinta yang dahulu kita bina ?
Apakah janji yang dahulu engkau tuturkan di bawah cahaya rembulan hanya sekedar kata-kata tanpa jiwa ?
Saya menahan lapar demi engkau, saya menahan godaan demi engkau, saya menahan segala keinginan demi menjaga kehormatan hubungan kita...
Namun engkau... engkau justru menyerahkan segalanya kepada lelaki lain dan lebih malang lagi, dia adalah sahabat saya sendiri.
P : Janganlah engkau menyiksa dirimu sendiri dengan kemarahan Daeng.
Letakkan segala kebencian itu pada saya seorang.
Biarkan saya menanggung seluruh derita, karena memang saya lah puncak segala malapetaka ini.
Saat itu saya bukan lagi Tenri yang engkau cintai.
Saya hanyalah perempuan lemah yang kalah melawan gelora dalam dirinya sendiri, saya adalah perempuan hina itu....
Saya tahu, tidak ada alasan di dunia ini yang mampu membela perbuatan saya.
Namun sebelum engkau beranjak pergi, berikanlah saya satu hal : "maafmu..." walau hanya separuh napas.
L : Maaf ?
Bagaimana mungkin saya memaafkan sesuatu yang telah merobohkan seluruh mimpi yang saya bangun demi engkau ?
Selama saya di sana, setiap malam saya berbicara pada diri saya sendiri, meyakinkan hati saya bahwa Tenri akan tetap setia menunggu saya.
Saya menolak banyak wanita, menepis banyak godaan, karena di dalam hati saya hanya ada satu nama, nama engkau Tenri...
Tetapi kini, engkau memaksa saya menerima kenyataan bahwa wanita yang paling saya cintai adalah orang yang paling mengkhianati saya.
P : Saya tidak meminta engkau menerima saya kembali, Daeng.
Saya sadar, diri saya tidak lagi layak berada di sisimu.
Saya hanya memohon agar engkau tidak membawa kebencian ini hingga ke liang hatimu.
Jika engkau ingin pergi dan melupakan diri saya, lakukanlah...
Biarlah saya memikul aib ini seorang diri, bersama anak yang akan lahir dari dosa saya.
L : Tidak, Tenri...
Engkau tidak hanya menghancurkan dirimu sendiri, engkau juga telah menghancurkan persahabatan, kepercayaan, dan masa depan saya.
Bagaimana saya akan memandang sahabat saya itu selepas ini ?
Setiap kali saya menatap wajahnya, saya akan melihat pengkhianatan yang paling busuk di antara sesama lelaki.
Engkau berdua merampas sesuatu yang tidak bisa diganti dengan apa pun : harga diri saya sebagai seorang lelaki Bugis yang setia menunggu, kini telah engkau nodai.
P: Jika engkau ingin membenci saya sepanjang hayatmu, saya rela, Daeng.
Jika engkau ingin mencemuh Saya di hadapan dunia, saya pun rela.
Karena memang demikianlah hukuman yang pantas saya terima.
Namun ketahuilah, kasihku padamu tidak pernah mati, hanya saja diri saya terlalu lemah untuk menjaga amanah cinta, dan kesetiaan.
L : Cinta ?
Jangan lagi engkau mencemarkan kata itu, Tenri.
Cinta tidak pernah menyuruh seseorang berkhianat.
Cinta tidak pernah menyuruh seseorang menikam dari belakang lelaki yang telah mempertaruhkan segalanya demi masa depan bersama pujaannya.
Mulai saat ini, biarlah namamu tinggal sebagai luka, dalam sejarah hidup saya.
Saya akan pergi, bukan karena saya tidak mencintai engkau lagi, tetapi karena cinta saya sudah tidak memiliki rumah untuk pulang.
P : Daeng...
Sekalipun engkau pergi tanpa menoleh, ketahuilah, doa saya akan selalu menyertai engkau.
Dan semoga luka ini...suatu hari dapat sembuh, walau perlahan dan menyakitkan.
Makassar, 1 Juli 2025