Sabtu, 23 Agustus 2025

Kapan Lukaku didengar

 


Kapan Lukaku didengar

Karya : Pena_Lingga


Hei, aku masih di sini, berdiri di antara kepingan yang hampir hancur, mencoba menahan segalanya meski dadaku terasa semakin sesak oleh beban yang tak kunjung reda. Rasanya setiap helaan nafas menjadi pertarungan panjang, seakan ada batu besar yang menekan dadaku tanpa henti, membuatku hanya bisa menggeliat dalam kelelahan yang tak pernah selesai. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku mampu bertahan, tapi entah mengapa langkah ini tetap menyeret diriku untuk terus berjalan, meskipun aku tahu bahwa sisa-sisa yang tersisa dari diriku hampir habis tak bersisa.


Aku berjalan di atas kepingan retak kehidupan, menapaki jalan yang setiap permukaannya penuh duri dan luka yang tak terlihat. Setiap langkah yang kuambil seperti menyeret sisa tubuh yang lemah dan jiwa yang nyaris hilang arah. Ada saat-saat aku merasa tubuhku hidup, namun jiwaku sudah lama mati. Aku seperti boneka tanpa kendali, bergerak hanya karena terbiasa bergerak, bukan karena masih punya alasan untuk melangkah. Dunia terasa begitu asing, dan aku pun menjadi asing di dalam tubuhku sendiri.


Malam datang membawa dingin, namun tidak pernah membawa bintang untuk menemaniku. Aku menatap langit hitam yang kosong, bertanya-tanya apakah cahaya sudah enggan pulang atau memang aku yang tidak lagi pantas merasakan kehangatannya. Gelap begitu setia menemaniku, melingkupi setiap inci tubuhku dengan kesunyian yang semakin menusuk. Aku ingin melihat setitik terang, sekecil apa pun, namun yang hadir hanyalah hampa yang semakin menghisap ke dalam. Seolah-olah aku ditakdirkan untuk terus berjalan tanpa cahaya, tanpa arah, dan tanpa harapan.


Aku merasa seperti bayangan, sesuatu yang ada tapi tak pernah dianggap nyata. Aku muncul hanya ketika gelap datang, lalu menghilang begitu saja saat cahaya merekah. Tidak ada yang benar-benar melihatku, tidak ada yang benar-benar menganggap aku ada. Aku ingin berarti, ingin dilihat, ingin direngkuh oleh seseorang yang mampu berkata bahwa aku nyata, tapi keberadaanku seakan tak pernah diperhitungkan. Hanya aku yang sadar bahwa aku masih di sini, sementara dunia sibuk dengan cahayanya sendiri.


Di dalam kelelahan yang tak berkesudahan ini, aku sering ingin berhenti. Sungguh, aku ingin menyerah. Namun setiap kali aku mencoba melepas semua beban itu, dunia seakan menertawakanku, seakan berkata bahwa aku terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan. Aku mendengar ejekan itu dalam sunyi, dalam suaraku sendiri yang mengutuk kelemahanku. Dan pada akhirnya aku terdiam, karena aku tahu ejekan itu benar adanya. Aku memang sudah lama rapuh, hanya saja aku pandai menutupinya.


Aku tersenyum di hadapan orang lain, namun senyum itu hanyalah rajutan palsu yang kupasang di wajah agar mereka tidak bertanya apa-apa. Padahal hatiku hanyalah jurang yang sunyi, jurang yang dalam dan dingin, yang tidak pernah dijenguk siapa pun. Hanya aku yang tahu betapa gelapnya di sana, betapa sunyinya ketika suara sendiri menggema tanpa henti. Kadang aku menunggu seseorang datang, sekadar untuk duduk dan menatapku tanpa perlu bicara, tapi yang hadir hanyalah kesepian yang semakin pekat.


Dalam keputusasaan yang semakin mendalam, aku bicara pada Tuhan dengan suara yang patah. Aku memohon, bertanya dengan lirih, apakah Kau masih mendengar bisikan rapuhku di antara jutaan doa yang lebih indah dan lantang dari mulut orang lain? Aku tidak tahu apakah doaku sampai, ataukah terhenti di udara yang dingin, tetapi aku tetap mencoba. Meski kata-kataku berantakan, meski tangisku lebih panjang dari doa yang kuucapkan, aku masih berharap ada satu waktu dimana Tuhan menoleh ke arahku dan berkata, “Aku mendengarmu.”


Aku hanya butuh satu alasan kecil untuk bertahan. Tidak perlu sesuatu yang besar, cukup secuil harapan, sekecil cahaya lilin yang nyaris padam. Aku ingin sekali menemukan alasan itu, entah dalam bentuk tanda, entah dalam bentuk pelukan, atau bahkan sekadar bisikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun nyawa ini sudah terlalu sering menolak diajak berdamai. Setiap kali aku mencoba menguat, tubuhku menyerah, dan setiap kali aku mencoba bertahan, pikiranku runtuh. Aku tidak tahu, sampai kapan aku mampu berdiri di atas jurang ini tanpa terjatuh.


Dan jika suatu hari aku hilang begitu saja, aku mohon jangan salahkan lelahku. Jangan menganggap aku pergi karena menyerah terlalu cepat, sebab aku sudah mencoba bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Aku telah berjalan jauh, melawan diriku sendiri lebih keras dari yang bisa dibayangkan orang lain. Aku telah menelan luka yang tak bisa sembuh, mencoba menyembunyikan perih agar tidak membebani siapa pun. Jika aku pergi, itu bukan karena aku tidak mencintai hidup, melainkan karena hidup sendiri sudah tidak lagi mencintaiku.


Makassar, 23 Agustus 2025


Aku telah berperang tanpa henti di medan yang tak terlihat oleh siapa pun. Pertarungan ini tidak pernah diketahui orang lain, karena hanya aku, luka, dan sunyi yang menjadi saksi. Aku berjuang di dalam kepalaku sendiri, menghadapi monster yang lahir dari rasa sakit dan keputusasaan yang menahun. Dan meski dunia tidak pernah tahu betapa kerasnya pertempuran itu, aku tahu aku sudah melakukannya sejauh yang aku mampu. Aku berdarah, aku runtuh, tapi aku juga pernah berdiri. Dan mungkin itu satu-satunya hal yang masih bisa kucatat sebagai bukti, bahwa aku pernah berjuang sekuat tenaga, meski akhirnya kalah.

Rabu, 20 Agustus 2025

Untuk Hatiku, Sabar Dulu Ya

 Untuk Hatiku, Sabar Dulu Ya

Karya : Pena_Lingga


Hatiku, sabar dulu ya. Aku tahu, tahun ini terasa begitu berat, seakan seluruh beban dunia sedang menimpa bahumu. Kadang kita berdiri tegak, tapi lebih sering terjatuh tanpa daya. Kadang kita tersenyum di depan orang lain, padahal di dalam dada ini hanya ada retakan-retakan yang nyaris runtuh. Aku tahu, ada banyak saat di mana kau ingin berhenti, menyerah pada jalan yang seolah tak kunjung memberi terang. Tapi kumohon, jangan menyerah sekarang. Karena jika kau menyerah, aku tak punya siapa-siapa lagi untuk kuandalkan.


Aku mendengar tangismu di dalam sepi, tangis yang tak pernah terdengar oleh orang lain. Air matamu jatuh diam-diam, seakan dunia tak pantas tahu betapa dalamnya luka yang kau sembunyikan. Seringkali aku ingin berteriak, ingin melepaskan semua yang terpendam, tapi hanya bisikan kecil yang keluar: “Bertahanlah, hatiku. Sabar dulu, ya.” Sebab kalau bukan kesabaran yang kita peluk, lalu apa lagi yang bisa kita jadikan pegangan di tengah gelap seperti ini?


Terkadang aku iri pada mereka yang mudah menemukan bahagia. Mereka tertawa begitu lepas, mereka berjalan dengan ringan, seolah hidup tidak pernah menaruh beban pada pundak mereka. Sedangkan kita? Kita harus menunduk setiap hari, menahan rasa sakit yang tak pernah mereka mengerti. Aku marah pada keadaan, marah pada nasib, bahkan marah pada diriku sendiri. Tapi setelah marah itu reda, aku hanya bisa menangis lagi, lalu merangkul diriku dengan kata: sabar dulu, jangan berhenti di sini.


Kita jalani saja semua ini, meski langkahnya terasa tertatih. Mungkin dunia sedang menguji seberapa kuat kita bertahan, atau mungkin Tuhan sedang menunda sesuatu yang indah untuk waktu yang tepat. Aku tahu kau sering lelah, bahkan sekadar untuk membuka mata di pagi hari sudah terasa begitu berat. Tapi hatiku, meski semua ini menyakitkan, percayalah, tidak ada luka yang benar-benar abadi. Kita harus terus melangkah, meski pelan, meski terhuyung, sebab berhenti hanya akan membuat luka ini semakin perih.


Aku tahu kau ingin menyerah. Aku tahu betapa seringnya kau bertanya: “Kenapa harus aku yang diuji? Kenapa bahagia begitu jauh dariku?” Pertanyaan itu terus bergema di kepalamu, dan aku tidak punya jawaban yang pasti. Tapi aku percaya, meski semua ini tampak kejam, ada sesuatu yang sedang disiapkan untuk kita. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan setelah kita bertahan melewati malam panjang ini. Jadi, mari kita simpan dulu pertanyaan itu, jangan biarkan ia menggerogoti keyakinan yang tersisa.


Hatiku, kita sudah terlalu sering jatuh, terlalu sering terluka, tapi lihatlah: sampai detik ini kita masih ada di sini. Itu artinya kita lebih kuat dari yang kita kira. Kau tidak pernah benar-benar hancur, meski sering merasa begitu. Kau masih berdiri, meski dengan tubuh yang penuh luka. Kau masih bernafas, meski dada sesak oleh tangis yang tak kunjung reda. Itu artinya, di dalam dirimu masih ada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh dunia.


Mungkin tahun ini bukan milik kita. Mungkin tahun ini hanya untuk air mata, hanya untuk kesabaran, hanya untuk belajar bertahan. Dan meski rasanya sangat melelahkan, kita tetap harus menjalaninya. Sebab siapa tahu, di balik semua ini, Tuhan sedang menyiapkan pelukan hangat, kebahagiaan yang tak pernah kita bayangkan, senyum yang akhirnya tidak lagi dipaksakan. Barangkali, di tahun depan, kita akan menemukan arti dari semua sabar yang kita simpan hari ini.


Aku ingin sekali berjanji padamu bahwa semua ini akan segera berakhir, bahwa sebentar lagi kita akan bahagia. Tapi aku tidak bisa berjanji seperti itu, sebab aku bukan siapa-siapa yang bisa menentukan waktu. Yang bisa kulakukan hanya meyakinkanmu bahwa badai ini tidak akan selamanya. Hujan deras pada akhirnya juga akan berhenti. Malam panjang pada akhirnya juga akan menyerahkan tempatnya pada pagi. Dan aku percaya, luka ini pada akhirnya juga akan menemukan obatnya.


Hatiku, izinkan aku terus bicara padamu, meski suaraku mungkin sudah terlalu lemah. Izinkan aku menjadi penghiburmu yang paling sederhana, meski aku sendiri penuh dengan retakan. Kita boleh rapuh, boleh menangis setiap hari, boleh merasa tidak sanggup lagi. Tapi jangan pernah benar-benar melepaskan harapan itu. Karena kalau kau berhenti, kalau kau menyerah, maka segalanya akan benar-benar berakhir.


Dan bila suatu hari nanti kebahagiaan akhirnya benar-benar datang, aku ingin kau tahu bahwa semua sabar yang kau simpan hari ini tidak sia-sia. Semua sakit yang kita telan, semua luka yang kita biarkan sembuh sendiri, akan berganti dengan senyum yang tulus. Kita akan tertawa, mungkin dengan air mata juga, tapi kali ini air mata bahagia. Jadi, tolong bertahan dulu, ya. Mari kita jalani semua ini, meski sakit, meski berat, karena mungkin tahun depan, akhirnya kita akan benar-benar menemukan bahagia itu.


Makassar, 20 Agustus 2025

Minggu, 17 Agustus 2025

Kepada diri sendiri " Kita akan sembuh "

 Kepada diri sendiri " Kita akan sembuh "

Karya : Pena_Lingga


Kita akan sembuh, begitu bisikanku yang lirih pada dada yang retak. Aku mengulanginya berkali-kali, meski kadang suaranya hanya bergema di dalam kepala, meski seringkali terasa hampa, namun aku tetap mengatakannya. Sebab tanpa kalimat itu, aku mungkin sudah runtuh, sudah menyerah, sudah hilang arah. Kata sederhana itu memang tak bisa langsung menyembuhkan, tak bisa langsung menghapus rasa sakit, tapi setidaknya ia mampu menjadi pegangan tipis di saat dunia di sekelilingku terasa runtuh. Aku tidak ingin berhenti, aku tidak ingin patah, aku hanya ingin percaya bahwa akan ada hari di mana luka ini berhenti berdarah.


Aku terbiasa menanggung kecewa sendirian, menelannya pelan-pelan sampai rasanya memenuhi rongga dadaku. Aku menyimpannya rapat-rapat, tak seorang pun tahu, bahkan ketika senyum terpaksa kuangkat di wajahku. Segala hal pahit, pengkhianatan, ucapan kasar, tatapan merendahkan, semuanya kusembunyikan, kubiarkan tinggal dalam tubuhku yang lelah. Kadang aku ingin sekali berteriak, ingin menceritakan semuanya, ingin membiarkan orang lain melihat betapa sakitnya hatiku, tapi aku tahu tidak semua orang mau mendengar. Maka aku memilih diam, memilih melawan sepi dengan caraku, memilih berbincang dengan diriku sendiri, meski seringkali membuatku semakin pilu.


Namun meskipun semua ini melelahkan, meskipun ada hari-hari di mana aku hampir menyerah, aku masih mencoba bertahan. Ada saat-saat ketika tubuhku terasa tak sanggup lagi, ada detik-detik di mana pikiranku membisikkan bahwa tidak ada gunanya melanjutkan langkah, bahwa semuanya sia-sia. Tapi aku menutup telingaku dari bisikan itu. Aku menatap jauh ke depan, ke arah sebuah cahaya kecil yang samar, sebuah impian yang masih memanggilku. Mungkin jaraknya terlalu jauh, mungkin langkahku terlalu pelan, namun aku percaya selagi aku terus melangkah, aku masih punya kesempatan untuk sampai.


Aku ingin suatu hari mereka bisa berkata bangga, dengan mata yang berbinar, dengan suara yang hangat, “Itu anakku, lihatlah bagaimana ia bertahan, lihatlah bagaimana ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, lihatlah betapa ia berguna untuk dirinya dan untuk orang lain.” Kalimat sederhana itu, meski singkat, adalah doa yang paling aku rindukan. Aku ingin menjadi alasan kebanggaan, bukan hanya sekadar anak yang ada lalu hilang tanpa arti. Dan aku percaya, tidak ada satu pun anak di dunia ini yang tidak menginginkan hal itu. Kita semua, di balik luka yang berbeda, tetap memiliki kerinduan yang sama: ingin diakui, ingin dianggap ada.


Namun aku tahu tidak semua anak mendapatkan itu. Ada yang sejak kecil sudah mengenal dinginnya kehilangan, ada yang tumbuh dengan caci maki, ada yang terbiasa diabaikan. Aku pun salah satunya. Tapi justru karena itu aku masih bertahan, masih berusaha melangkah, meski seringkali terhuyung. Aku ingin membuktikan bahwa luka bukan akhir, bahwa meski sejak awal aku dipaksa hidup dengan rasa sakit, aku masih bisa tumbuh, masih bisa menatap dunia, masih bisa berharap. Dan harapan itulah yang membuatku terus bernapas.


Aku tidak peduli jika orang lain menganggapku aneh, tidak peduli jika mereka berkata aku gila hanya karena aku berbincang dengan diriku sendiri. Biarlah mereka berkata apa, sebab mereka tidak tahu rasanya memeluk kesepian setiap malam, mereka tidak tahu bagaimana perihnya menahan tangis di dalam dada yang sesak. Bukankah setiap orang punya caranya masing-masing untuk bertahan? Ada yang menuliskannya, ada yang berdoa, ada yang berteriak, ada yang menyanyikannya, dan aku—aku memilih berbisik pada diriku sendiri. Dan itu sudah cukup bagiku untuk tetap bertahan.


Aku akan terus menguatkan diriku, meskipun caranya sederhana. Aku merawat luka dengan doa-doa kecil, menyulam robekan dengan kata-kata lembut, menutupinya dengan keyakinan bahwa semua ini akan berakhir. Aku menyalakan pelita kecil dalam kegelapan agar mataku masih bisa melihat jalan meski samar. Aku percaya, setiap usaha sekecil apapun untuk menghibur diri adalah tanda bahwa aku belum kalah. Mungkin aku belum pulih sepenuhnya, tapi aku tahu aku sedang bergerak menuju pulih.


Kita akan sembuh, aku percaya itu. Bukan hanya aku, tapi juga kalian yang membaca ini, kalian yang diam-diam terluka, kalian yang berusaha keras tersenyum meski hati kalian runtuh. Aku tahu bagaimana rasanya, sebab aku pun salah satunya. Jadi jangan takut jika hari ini masih terasa sakit, jangan menyerah hanya karena air mata terus jatuh, sebab suatu saat nanti luka itu akan berubah menjadi cerita. Dan ketika itu tiba, kita akan mengucapkan kalimat yang sama: kita berhasil melewatinya.


Jangan pernah takut berbicara dengan jiwa sendiri. Peluklah kesepian, biarkan ia duduk di sampingmu, biarkan ia mengajarkanmu arti bertahan. Kadang yang kita butuhkan bukanlah keramaian, bukan juga pelarian, melainkan keberanian untuk menatap luka kita sendiri. Dan keberanian itu, meski kecil, akan tumbuh menjadi kekuatan untuk terus berjalan. Maka jangan takut pada kesepian, karena di dalamnya ada keteguhan yang tak semua orang mampu miliki.


Aku tahu jalan ini panjang, penuh duri, penuh kabut yang menutupi pandangan. Ada saat-saat aku mungkin kembali terjatuh, ada hari-hari aku mungkin kembali menangis. Namun aku percaya akan ada hari di mana aku bisa menoleh ke belakang dan berkata lirih pada diriku sendiri: “Aku berhasil melewatinya.” Saat itu tiba, aku tidak hanya akan tersenyum untuk diriku, tapi juga untuk semua orang yang pernah meragukan. Kita akan sembuh, meski perlahan, meski tak sempurna, sebab setiap luka yang dijahit dengan kesabaran pada akhirnya akan berubah menjadi kisah yang pantas kita ceritakan dengan bangga.


Makassar, 18 Agustus 2025

Minggu, 10 Agustus 2025

Teruntukmu, yang menyimpan luka

 Teruntukmu, yang menyimpan luka

Karya : Pena_Lingga


Teruntukmu yang pernah kucinta, terima kasih atas luka yang kau tinggalkan. Luka itu terlalu dalam, terlalu pekat, hingga setiap kali aku mencoba menutupnya, justru makin terasa perihnya. Aku tidak pernah menyangka, perpisahan denganmu akan menjadi beban yang seberat ini. Hingga hari ini, rasanya aku masih tersesat di dalam labirin kenangan yang kita buat bersama.


Aku tidak tahu kapan aku akan benar-benar pulih. Hari-hari terasa begitu panjang, malam-malam terlalu sunyi, dan setiap detik yang berlalu hanyalah pengingat bahwa aku pernah kehilangan sesuatu yang begitu berarti. Pulih bukan lagi tentang waktu, melainkan tentang hatiku yang tidak tahu cara berhenti mencintaimu, meski kau telah pergi.


Melupakanmu bukan perkara mudah. Aku pernah mencoba membohongi diri sendiri, berpura-pura tidak peduli, dan menutup mataku rapat-rapat agar bayanganmu menghilang. Tapi semua itu percuma. Namamu masih berbisik di sela-sela pikiranku, dan suaramu masih memanggilku di dalam mimpi.


Setiap kali aku mencoba menghapus kenangan itu, aku harus membayar harganya dengan air mata. Kadang aku merasa bodoh, karena membiarkan diriku tersiksa oleh sesuatu yang tak akan pernah kembali. Namun, entah mengapa, aku tetap merindukan semua yang pernah kita jalani, meski aku tahu itu salah.


Ada malam-malam di mana aku terbangun dengan dada sesak. Aku memeluk diriku sendiri, berharap rasa sakit itu berkurang. Tapi justru semakin dalam aku mengingat, semakin perih pula hatiku menjerit. Seakan semua janji yang pernah kau ucapkan berubah menjadi belati yang menusuk tanpa ampun.


Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah kau merasakan hal yang sama? Ataukah aku hanya satu-satunya yang masih terjebak di antara masa lalu dan kenyataan? Jika jawabannya adalah aku seorang diri, maka aku harus mengakui bahwa aku kalah dalam segala hal—termasuk dalam melupakan.


Rasanya seperti aku sedang berjalan di tepi jurang, setiap langkah rapuh dan mudah runtuh. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku mencoba terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain. Senyumku palsu, tawaku kosong, dan hatiku hancur berkeping-keping di baliknya.


Aku ingin marah padamu, tapi bagaimana bisa? Aku pernah begitu mencintaimu, dan rasa itu terlalu besar untuk berubah menjadi benci. Yang tersisa hanyalah rindu yang membusuk, yang tidak lagi manis, hanya pahit dan menyakitkan.


Kadang aku berharap, andai saja aku tidak pernah mengenalmu. Namun di sisi lain, aku juga tahu bahwa aku tidak akan pernah menjadi diriku yang sekarang tanpa semua luka ini. Dan itu justru membuatku semakin bingung, karena aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih padamu atau membencimu.


Hingga saat ini, aku masih di sini. Masih berusaha, meski jalannya penuh air mata. Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu bertahan. Yang aku tahu, aku masih memanggil namamu dalam doa, meski kau tak lagi mendengar. Dan mungkin, itulah bentuk cinta terakhir yang bisa aku berikan untukmu—cinta yang diam-diam tetap hidup, meski aku sendiri ingin membunuhnya.


Makassar, 10 Agustus 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...