Kapan Lukaku didengar
Karya : Pena_Lingga
Hei, aku masih di sini, berdiri di antara kepingan yang hampir hancur, mencoba menahan segalanya meski dadaku terasa semakin sesak oleh beban yang tak kunjung reda. Rasanya setiap helaan nafas menjadi pertarungan panjang, seakan ada batu besar yang menekan dadaku tanpa henti, membuatku hanya bisa menggeliat dalam kelelahan yang tak pernah selesai. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku mampu bertahan, tapi entah mengapa langkah ini tetap menyeret diriku untuk terus berjalan, meskipun aku tahu bahwa sisa-sisa yang tersisa dari diriku hampir habis tak bersisa.
Aku berjalan di atas kepingan retak kehidupan, menapaki jalan yang setiap permukaannya penuh duri dan luka yang tak terlihat. Setiap langkah yang kuambil seperti menyeret sisa tubuh yang lemah dan jiwa yang nyaris hilang arah. Ada saat-saat aku merasa tubuhku hidup, namun jiwaku sudah lama mati. Aku seperti boneka tanpa kendali, bergerak hanya karena terbiasa bergerak, bukan karena masih punya alasan untuk melangkah. Dunia terasa begitu asing, dan aku pun menjadi asing di dalam tubuhku sendiri.
Malam datang membawa dingin, namun tidak pernah membawa bintang untuk menemaniku. Aku menatap langit hitam yang kosong, bertanya-tanya apakah cahaya sudah enggan pulang atau memang aku yang tidak lagi pantas merasakan kehangatannya. Gelap begitu setia menemaniku, melingkupi setiap inci tubuhku dengan kesunyian yang semakin menusuk. Aku ingin melihat setitik terang, sekecil apa pun, namun yang hadir hanyalah hampa yang semakin menghisap ke dalam. Seolah-olah aku ditakdirkan untuk terus berjalan tanpa cahaya, tanpa arah, dan tanpa harapan.
Aku merasa seperti bayangan, sesuatu yang ada tapi tak pernah dianggap nyata. Aku muncul hanya ketika gelap datang, lalu menghilang begitu saja saat cahaya merekah. Tidak ada yang benar-benar melihatku, tidak ada yang benar-benar menganggap aku ada. Aku ingin berarti, ingin dilihat, ingin direngkuh oleh seseorang yang mampu berkata bahwa aku nyata, tapi keberadaanku seakan tak pernah diperhitungkan. Hanya aku yang sadar bahwa aku masih di sini, sementara dunia sibuk dengan cahayanya sendiri.
Di dalam kelelahan yang tak berkesudahan ini, aku sering ingin berhenti. Sungguh, aku ingin menyerah. Namun setiap kali aku mencoba melepas semua beban itu, dunia seakan menertawakanku, seakan berkata bahwa aku terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan. Aku mendengar ejekan itu dalam sunyi, dalam suaraku sendiri yang mengutuk kelemahanku. Dan pada akhirnya aku terdiam, karena aku tahu ejekan itu benar adanya. Aku memang sudah lama rapuh, hanya saja aku pandai menutupinya.
Aku tersenyum di hadapan orang lain, namun senyum itu hanyalah rajutan palsu yang kupasang di wajah agar mereka tidak bertanya apa-apa. Padahal hatiku hanyalah jurang yang sunyi, jurang yang dalam dan dingin, yang tidak pernah dijenguk siapa pun. Hanya aku yang tahu betapa gelapnya di sana, betapa sunyinya ketika suara sendiri menggema tanpa henti. Kadang aku menunggu seseorang datang, sekadar untuk duduk dan menatapku tanpa perlu bicara, tapi yang hadir hanyalah kesepian yang semakin pekat.
Dalam keputusasaan yang semakin mendalam, aku bicara pada Tuhan dengan suara yang patah. Aku memohon, bertanya dengan lirih, apakah Kau masih mendengar bisikan rapuhku di antara jutaan doa yang lebih indah dan lantang dari mulut orang lain? Aku tidak tahu apakah doaku sampai, ataukah terhenti di udara yang dingin, tetapi aku tetap mencoba. Meski kata-kataku berantakan, meski tangisku lebih panjang dari doa yang kuucapkan, aku masih berharap ada satu waktu dimana Tuhan menoleh ke arahku dan berkata, “Aku mendengarmu.”
Aku hanya butuh satu alasan kecil untuk bertahan. Tidak perlu sesuatu yang besar, cukup secuil harapan, sekecil cahaya lilin yang nyaris padam. Aku ingin sekali menemukan alasan itu, entah dalam bentuk tanda, entah dalam bentuk pelukan, atau bahkan sekadar bisikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun nyawa ini sudah terlalu sering menolak diajak berdamai. Setiap kali aku mencoba menguat, tubuhku menyerah, dan setiap kali aku mencoba bertahan, pikiranku runtuh. Aku tidak tahu, sampai kapan aku mampu berdiri di atas jurang ini tanpa terjatuh.
Dan jika suatu hari aku hilang begitu saja, aku mohon jangan salahkan lelahku. Jangan menganggap aku pergi karena menyerah terlalu cepat, sebab aku sudah mencoba bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Aku telah berjalan jauh, melawan diriku sendiri lebih keras dari yang bisa dibayangkan orang lain. Aku telah menelan luka yang tak bisa sembuh, mencoba menyembunyikan perih agar tidak membebani siapa pun. Jika aku pergi, itu bukan karena aku tidak mencintai hidup, melainkan karena hidup sendiri sudah tidak lagi mencintaiku.
Makassar, 23 Agustus 2025
Aku telah berperang tanpa henti di medan yang tak terlihat oleh siapa pun. Pertarungan ini tidak pernah diketahui orang lain, karena hanya aku, luka, dan sunyi yang menjadi saksi. Aku berjuang di dalam kepalaku sendiri, menghadapi monster yang lahir dari rasa sakit dan keputusasaan yang menahun. Dan meski dunia tidak pernah tahu betapa kerasnya pertempuran itu, aku tahu aku sudah melakukannya sejauh yang aku mampu. Aku berdarah, aku runtuh, tapi aku juga pernah berdiri. Dan mungkin itu satu-satunya hal yang masih bisa kucatat sebagai bukti, bahwa aku pernah berjuang sekuat tenaga, meski akhirnya kalah.