Rabu, 20 Agustus 2025

Untuk Hatiku, Sabar Dulu Ya

 Untuk Hatiku, Sabar Dulu Ya

Karya : Pena_Lingga


Hatiku, sabar dulu ya. Aku tahu, tahun ini terasa begitu berat, seakan seluruh beban dunia sedang menimpa bahumu. Kadang kita berdiri tegak, tapi lebih sering terjatuh tanpa daya. Kadang kita tersenyum di depan orang lain, padahal di dalam dada ini hanya ada retakan-retakan yang nyaris runtuh. Aku tahu, ada banyak saat di mana kau ingin berhenti, menyerah pada jalan yang seolah tak kunjung memberi terang. Tapi kumohon, jangan menyerah sekarang. Karena jika kau menyerah, aku tak punya siapa-siapa lagi untuk kuandalkan.


Aku mendengar tangismu di dalam sepi, tangis yang tak pernah terdengar oleh orang lain. Air matamu jatuh diam-diam, seakan dunia tak pantas tahu betapa dalamnya luka yang kau sembunyikan. Seringkali aku ingin berteriak, ingin melepaskan semua yang terpendam, tapi hanya bisikan kecil yang keluar: “Bertahanlah, hatiku. Sabar dulu, ya.” Sebab kalau bukan kesabaran yang kita peluk, lalu apa lagi yang bisa kita jadikan pegangan di tengah gelap seperti ini?


Terkadang aku iri pada mereka yang mudah menemukan bahagia. Mereka tertawa begitu lepas, mereka berjalan dengan ringan, seolah hidup tidak pernah menaruh beban pada pundak mereka. Sedangkan kita? Kita harus menunduk setiap hari, menahan rasa sakit yang tak pernah mereka mengerti. Aku marah pada keadaan, marah pada nasib, bahkan marah pada diriku sendiri. Tapi setelah marah itu reda, aku hanya bisa menangis lagi, lalu merangkul diriku dengan kata: sabar dulu, jangan berhenti di sini.


Kita jalani saja semua ini, meski langkahnya terasa tertatih. Mungkin dunia sedang menguji seberapa kuat kita bertahan, atau mungkin Tuhan sedang menunda sesuatu yang indah untuk waktu yang tepat. Aku tahu kau sering lelah, bahkan sekadar untuk membuka mata di pagi hari sudah terasa begitu berat. Tapi hatiku, meski semua ini menyakitkan, percayalah, tidak ada luka yang benar-benar abadi. Kita harus terus melangkah, meski pelan, meski terhuyung, sebab berhenti hanya akan membuat luka ini semakin perih.


Aku tahu kau ingin menyerah. Aku tahu betapa seringnya kau bertanya: “Kenapa harus aku yang diuji? Kenapa bahagia begitu jauh dariku?” Pertanyaan itu terus bergema di kepalamu, dan aku tidak punya jawaban yang pasti. Tapi aku percaya, meski semua ini tampak kejam, ada sesuatu yang sedang disiapkan untuk kita. Sesuatu yang hanya bisa ditemukan setelah kita bertahan melewati malam panjang ini. Jadi, mari kita simpan dulu pertanyaan itu, jangan biarkan ia menggerogoti keyakinan yang tersisa.


Hatiku, kita sudah terlalu sering jatuh, terlalu sering terluka, tapi lihatlah: sampai detik ini kita masih ada di sini. Itu artinya kita lebih kuat dari yang kita kira. Kau tidak pernah benar-benar hancur, meski sering merasa begitu. Kau masih berdiri, meski dengan tubuh yang penuh luka. Kau masih bernafas, meski dada sesak oleh tangis yang tak kunjung reda. Itu artinya, di dalam dirimu masih ada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh dunia.


Mungkin tahun ini bukan milik kita. Mungkin tahun ini hanya untuk air mata, hanya untuk kesabaran, hanya untuk belajar bertahan. Dan meski rasanya sangat melelahkan, kita tetap harus menjalaninya. Sebab siapa tahu, di balik semua ini, Tuhan sedang menyiapkan pelukan hangat, kebahagiaan yang tak pernah kita bayangkan, senyum yang akhirnya tidak lagi dipaksakan. Barangkali, di tahun depan, kita akan menemukan arti dari semua sabar yang kita simpan hari ini.


Aku ingin sekali berjanji padamu bahwa semua ini akan segera berakhir, bahwa sebentar lagi kita akan bahagia. Tapi aku tidak bisa berjanji seperti itu, sebab aku bukan siapa-siapa yang bisa menentukan waktu. Yang bisa kulakukan hanya meyakinkanmu bahwa badai ini tidak akan selamanya. Hujan deras pada akhirnya juga akan berhenti. Malam panjang pada akhirnya juga akan menyerahkan tempatnya pada pagi. Dan aku percaya, luka ini pada akhirnya juga akan menemukan obatnya.


Hatiku, izinkan aku terus bicara padamu, meski suaraku mungkin sudah terlalu lemah. Izinkan aku menjadi penghiburmu yang paling sederhana, meski aku sendiri penuh dengan retakan. Kita boleh rapuh, boleh menangis setiap hari, boleh merasa tidak sanggup lagi. Tapi jangan pernah benar-benar melepaskan harapan itu. Karena kalau kau berhenti, kalau kau menyerah, maka segalanya akan benar-benar berakhir.


Dan bila suatu hari nanti kebahagiaan akhirnya benar-benar datang, aku ingin kau tahu bahwa semua sabar yang kau simpan hari ini tidak sia-sia. Semua sakit yang kita telan, semua luka yang kita biarkan sembuh sendiri, akan berganti dengan senyum yang tulus. Kita akan tertawa, mungkin dengan air mata juga, tapi kali ini air mata bahagia. Jadi, tolong bertahan dulu, ya. Mari kita jalani semua ini, meski sakit, meski berat, karena mungkin tahun depan, akhirnya kita akan benar-benar menemukan bahagia itu.


Makassar, 20 Agustus 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...