Sabtu, 22 November 2025

Sunyi di Antara Topeng-Topeng Mereka

Sunyi di Antara Topeng-Topeng Mereka

Penulis: Pena_Lingga

Kesunyian itu selalu menempel di langkahku setiap kali aku berada di tengah keramaian. Ada begitu banyak suara, begitu banyak tawa, begitu banyak obrolan yang saling bersahutan, tapi tidak satu pun dari itu terasa benar-benar menyentuhku. Aku berjalan di antara mereka seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya merasa hadir. Dunia tampak begitu hidup, namun aku justru merasa semakin tidak terlihat. Di balik bising yang terus berputar, aku hanya merasakan kekosongan yang tidak memilih waktu untuk datang. Dan semakin aku mencoba memahami ke mana perasaan ini ingin membawaku, semakin jauh aku tersesat di dalam diriku sendiri.

Orang-orang di sekelilingku memakai topeng yang mungkin sudah begitu sering mereka pakai sampai lupa bentuk wajah asli mereka sendiri. Mereka tersenyum lebar, mengangguk ramah, dan berusaha menunjukkan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Tapi mataku menangkap sesuatu yang lain—kebohongan yang halus, lelah yang mereka tekan dalam-dalam, dan luka yang disembunyikan seolah jika diperlihatkan akan membuat mereka kehilangan sesuatu. Melihat itu semua membuatku berpikir bahwa mungkin aku bukan satu-satunya yang hancur. Namun anehnya, meski tahu semua orang sedang pura-pura, tetap saja aku merasa paling sendirian.

Kadang aku duduk di keramaian dan berharap ada satu suara yang bisa benar-benar aku dengar tanpa harus menerjemahkan apa maksudnya. Tapi nyatanya, semakin ramai tempat itu, semakin sunyi rasanya. Seperti ada tembok tipis namun kokoh yang memisahkanku dari dunia yang seharusnya bisa kutempati. Aku ingin berbicara, ingin bercerita, ingin menjelaskan bahwa beberapa hari terasa begitu berat sampai napas pun seperti enggan keluar. Tapi kata-kata itu tidak pernah menemukan jalan. Mereka berhenti di tenggorokan, menggumpal seperti sesuatu yang tidak bisa aku ludahkan maupun telan.

Ada masa ketika aku memandang orang-orang bergegas, seolah mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Sedangkan aku hanya mengikuti langkah kakiku tanpa benar-benar tahu ke mana tujuan akhir. Aku merasa kecil di antara orang-orang yang tampak yakin akan hidupnya. Rasa tidak berguna itu muncul begitu saja, membesar setiap kali aku mencoba membandingkan diriku dengan mereka. Dan ketika rasa itu semakin kuat, aku bertanya-tanya apakah aku memang bagian dari dunia ini atau sekadar seseorang yang tersesat di tempat yang salah.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada dunia, tapi aku tahu dunia tidak punya waktu untuk mendengarkan. Semua orang sedang bertarung dengan hidupnya masing-masing. Mereka memaksa diri tersenyum meski mungkin hatinya remuk. Dan aku tidak ingin menjadi beban tambahan dalam hidup yang sudah mereka paksakan berjalan. Jadi aku memilih menyimpan semua rasa sakit itu sendiri, meski kadang tubuhku terasa tidak cukup luas untuk menampung semuanya. Ada hari ketika aku merasa penuh, namun penuh oleh hal-hal yang tidak pernah memberi kelegaan.

Kesunyian yang menemaniku ini bukan hanya tidak ada suara—ia adalah perasaan bahwa aku tidak punya tempat untuk pulang, bahkan ketika aku berada di rumah sendiri. Ia seperti ruang kosong yang kupaksa untuk kutinggali, meski aku tahu tidak ada kehangatan yang bisa kudapatkan di sana. Dan yang paling menyakitkan adalah: lama-lama aku mulai terbiasa dengan dinginnya. Ada bagian dari diriku yang pasrah, yang merasa bahwa kesunyian ini mungkin satu-satunya hal yang tidak akan meninggalkanku meski semuanya pergi.

Sering kali aku ingin jujur, ingin mengatakan bahwa aku lelah menjalani semua ini sendirian. Aku ingin mengaku bahwa bahkan bangun dari tidur pun terasa seperti tugas berat. Tapi aku belajar bahwa tidak semua orang punya kapasitas untuk memahami. Dunia kita terlalu cepat, terlalu ramai, terlalu sibuk untuk mengurus kesedihan satu manusia. Jadi aku merawat lukaku sendiri, merapikannya sebisaku, meski kadang justru makin berdarah karena aku tidak tahu bagaimana caranya sembuh.

Di tengah kerumunan, aku melihat banyak wajah yang tampak kuat. Mereka berjalan tegap, berbicara dengan lantang, seolah tidak pernah gentar terhadap apa pun. Tapi aku tahu mereka menyimpan sesuatu, sama seperti aku. Bedanya, mereka hebat dalam menyembunyikannya. Sedangkan aku, meski diam, sering merasa retak dalam cara yang bahkan tidak bisa kujelaskan. Ada rasa iri di sana—iri pada mereka yang setidaknya bisa berpura-pura tanpa terganggu oleh kecanggungan yang sering menyeretku ke ruang hampa.

Ada hari ketika aku berharap seseorang datang, hanya untuk berkata bahwa aku tidak harus menanggung semuanya seorang diri. Seseorang yang duduk di sampingku tanpa bertanya terlalu banyak, tetapi cukup tahu bahwa aku sedang berusaha keras untuk tetap bertahan. Tapi harapan seperti itu terasa jauh, mungkin terlalu jauh. Di dunia ini, semua orang sedang memperbaiki topengnya masing-masing, hingga tidak ada yang benar-benar sempat melihat wajah asli orang lain. Kadang aku merasa tidak ada yang benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi di balik mataku yang tampak biasa saja.

Akhirnya aku belajar bahwa menjadi sunyi di tengah keramaian bukan sesuatu yang bisa kuhindari. Dunia tidak akan berhenti hanya karena aku sedang kehilangan arah. Jadi aku berjalan pelan, membawa kesunyian yang tidak pernah benar-benar pergi. Dan meski rasanya berat, aku tahu satu hal: aku masih bertahan. Meski dengan banyak luka, meski dengan banyak takut, meski dengan banyak hal yang tak pernah selesai. Mungkin itu sudah cukup—meski untuk saat ini, itu hanya terasa seperti cara lain untuk tetap hidup tanpa benar-benar merasa hidup.

Desa Embun, 23 November 2025

Selasa, 11 November 2025

Luka yang Tak Pernah Usai

Luka yang Tak Pernah Usai

Karya: Pena_Lingga

Tuhan, masih pantaskah aku sujud padamu untuk tidak lelahnya meminta kesabaran? Aku tahu, Engkau tidak pernah meninggalkan siapa pun, tapi rasanya dunia terlalu pandai membuatku percaya bahwa aku berjalan sendirian. Ada banyak hal yang sudah kupasrahkan, tapi tak ada satu pun yang benar-benar hilang dari dadaku. Semuanya menetap, seperti luka yang memilih tinggal meski aku sudah berkali-kali memohon agar ia pergi.

Aku tidak lagi tahu bagaimana cara menenangkan hati. Dulu aku percaya, waktu akan menyembuhkan apa pun yang hancur. Tapi sekarang, waktu hanya membuatku terbiasa dengan sakit yang sama. Aku tidak sembuh, hanya belajar menutupi perih dengan senyum yang tidak benar-benar jujur. Mungkin beginilah caranya Tuhan menempaku—agar aku mengerti bahwa tidak semua doa akan dijawab dengan “iya”, dan tidak semua tangis perlu disembuhkan segera.

Setiap malam, aku memejamkan mata dengan rasa yang sama: sepi, sesak, dan pertanyaan yang tak kunjung punya jawaban. Aku berbicara pada langit, pada kesunyian yang menggema di dalam dada. Aku berkata, “Tuhan, aku lelah, tapi aku takut berhenti berharap.” Dan dari situ aku sadar, kadang keikhlasan bukan tentang berhenti berharap, tapi tetap percaya meski tahu hasilnya mungkin tidak seperti yang diinginkan.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada-Mu, tapi aku tidak tahu dari mana harus memulai. Aku ingin mengadu tentang hati yang terus disakiti, tentang hidup yang tidak juga memihak, tentang diri yang semakin kehilangan arah. Tapi setiap kali aku membuka mulut, air mata lebih dulu menjawab. Mungkin itu tandanya, aku masih hidup. Masih bisa merasa. Masih bisa meneteskan sesuatu dari sisa kekuatan yang tersisa.

Tuhan, aku tidak ingin mengeluh. Hanya saja, aku sering tak tahu bagaimana harus kuat. Semua orang bilang, sabar itu indah. Tapi tidak ada yang memberi tahu betapa sabar bisa menjadi beban paling berat bagi seseorang yang sudah hampir menyerah. Aku menatap diriku di cermin, dan yang kulihat hanyalah mata yang kehilangan cahaya—tanda bahwa aku sudah terlalu lama berpura-pura baik-baik saja.

Aku sering iri pada mereka yang bisa tertawa tanpa beban. Yang tidak perlu pura-pura tegar saat hati mereka nyaris hancur. Aku ingin seperti itu, Tuhan. Aku ingin tertawa tanpa ada perih yang sembunyi di baliknya. Tapi setiap kali aku mencoba, ada bayangan masa lalu yang menarikku kembali. Seakan luka-luka itu tahu caranya menghancurkan di waktu yang paling tenang.

Aku belajar mencintai kehilangan. Karena dari sanalah aku mengenal arti ketulusan yang sebenarnya. Tapi sungguh, Tuhan, mencintai sesuatu yang tidak bisa kugenggam rasanya seperti memeluk angin—menghangatkan sebentar, lalu hilang tanpa jejak. Aku hanya bisa menatap sisa-sisa harapan yang perlahan menjadi abu. Dan dari abu itulah, aku mencoba menulis lagi, berharap ada makna yang tersisa dari semua yang hancur.

Terkadang aku merasa Engkau terlalu diam. Tapi mungkin aku yang terlalu sibuk mendengarkan luka, hingga lupa bahwa Kau berbicara lewat hal-hal kecil. Lewat matahari yang tetap terbit meski malam tak pernah sopan pergi, lewat angin yang menyapu wajahku dengan lembut, seolah berkata, “Aku masih di sini, anak-Ku.” Dan saat itu, aku tahu: aku tidak sepenuhnya sendiri.

Namun, jujur Tuhan, aku masih takut. Takut jika suatu hari aku benar-benar berhenti percaya. Karena terlalu sering kecewa, terlalu sering gagal memahami maksud-Mu. Aku ingin tetap berdoa, meski dengan suara yang hampir tak terdengar. Aku ingin tetap bersujud, meski dengan lutut yang nyaris tak sanggup menopang beban diri. Karena di atas segalanya, aku hanya ingin Kau tahu: aku masih mencoba bertahan.

Dan bila suatu hari aku tak lagi kuat, tolong jangan marahi aku, Tuhan. Peluk saja aku dengan cara-Mu yang lembut itu. Biarkan aku menangis di hadapan-Mu tanpa rasa malu. Karena sesungguhnya, aku hanya seorang hamba yang ingin sembuh, tapi terlalu sering jatuh dalam luka yang sama. Jika hari ini aku masih bisa bernafas, itu bukan karena aku bahagia—melainkan karena aku percaya, Engkau masih menungguku untuk kembali pulang.

Bilik Sunyi, 11 November 2025

Jumat, 07 November 2025

Fase Sembuh dari Luka

Fase Sembuh dari Luka

Karya : Pena_Lingga

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berhenti berusaha melupakan. Mungkin ketika aku sadar, melupakan bukan tentang menghapus sesuatu dari kepala, melainkan tentang mengizinkan hati berdamai dengan yang pernah membuatnya remuk. Ada luka yang tak bisa ditinggalkan, hanya bisa diajak hidup berdampingan.

Pernah ada hari di mana aku bangun dan merasa semuanya baik-baik saja. Tapi siangnya, sepotong kenangan datang tanpa permisi, dan segalanya kembali runtuh. Begitulah prosesnya—kadang aku merasa sudah sembuh, padahal hanya sedang berhenti berdarah. Malam-malam tetap sepi, hanya sedikit lebih tenang daripada dulu.

Ada waktu-waktu di mana aku mencoba tertawa, padahal suaranya terdengar seperti retakan gelas di dalam dada. Aku berpura-pura baik agar dunia tidak melihat betapa hancurnya aku di dalam. Sementara di sisi lain, aku sendiri pun tak tahu bagaimana caranya menjadi baik-baik saja lagi.

Aku mulai menerima bahwa tidak semua yang hilang harus diganti. Beberapa kehilangan memang ditakdirkan untuk dibiarkan kosong, agar kita belajar berjalan tanpa pegangan, belajar menatap hari tanpa seseorang yang dulu membuatnya terasa berarti.

Fase sembuh bukan tentang bahagia, tapi tentang berhenti marah pada diri sendiri. Tentang memaafkan keputusan yang pernah salah, cinta yang pernah buta, dan hati yang terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pernah pasti. Aku mulai mengerti, bahwa mungkin aku tidak akan pernah benar-benar sama lagi—dan itu tidak apa-apa.

Terkadang aku masih menoleh ke belakang, sekadar memastikan bahwa aku pernah benar-benar mencintai, meski akhirnya disakiti. Aku ingin percaya bahwa luka pun punya arti, bahwa ia tidak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk mengajarkan cara merangkai ulang diri dari kepingan yang berserakan.

Aku pernah mengira, sembuh berarti melupakan semuanya. Nyatanya, sembuh adalah ketika kenangan itu datang lagi, dan aku bisa tersenyum tanpa merasa sesak. Ketika aku bisa menatap tempat yang dulu menyakitkan tanpa ingin lari.

Ada hari-hari di mana aku masih menangis tanpa alasan yang jelas. Tapi kini aku tahu, menangis bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa aku masih punya hati yang bisa merasa, meski sudah lelah. Air mata kini tidak lagi pahit—ia hanya sisa dari rasa yang perlahan belajar reda.

Kini, aku tidak lagi mencari siapa yang harus disalahkan. Aku hanya ingin tenang, ingin bisa tidur tanpa dihantui bayangan yang sama. Mungkin di sanalah arti dari sembuh—bukan ketika luka hilang, tapi ketika aku sudah tidak lagi menolak keberadaannya.

Dan di antara semua kehilangan, aku akhirnya menemukan sesuatu yang berharga: diriku sendiri. Mungkin itu hadiah dari segala sakit yang pernah kualami—kesadaran bahwa aku bisa hidup tanpanya, bisa bertahan dengan caraku sendiri, meski dulu sempat hancur sampai tak mengenali siapa aku sebenarnya.

Bilik Sunyi, 7 November 2025

Sabtu, 01 November 2025

Rahasia di Balik Lengkung Cahaya

Rahasia di Balik Lengkung Cahaya

Karya: Pena_Lingga

Mungkin pelangi bukan tentang warna. Ia cuma cara langit bilang, “Aku sudah mencoba sembuh.” Karena setelah hujan yang panjang, tak semua luka kering, dan tak semua air mata berhenti di pipi. Ada yang terus mengalir di dalam dada, diam-diam, tanpa suara, tanpa jeda. Kadang aku berpikir, mungkin pelangi adalah cara Tuhan tersenyum getir — indah, tapi sebentar.

Aku pernah menunggu pelangi. Di antara gerimis dan dingin yang terlalu jujur untuk disebut tenang. Aku berdiri lama, berharap langit menepati janjinya. Tapi yang turun bukan warna, melainkan kesunyian yang jatuh satu per satu, seperti daun yang lelah menggantung. Dan dari sana aku belajar, tidak semua penantian diberi hadiah. Kadang yang kita dapat cuma rasa sabar yang belum selesai tumbuh.

Orang-orang bilang, pelangi itu tanda bahagia. Tapi bahagia yang mana? Bahagia versi siapa? Karena di mataku, warna itu tak lebih dari luka yang dipoles cahaya. Ia indah, tapi rapuh. Seperti seseorang yang tersenyum agar tak ketahuan sedang menahan sesak. Mungkin, bahagia memang tak pernah benar-benar utuh. Ia datang bersama sisa sedih yang menempel di ujung napas.

Aku ingin tahu, bagaimana rasanya dicintai tanpa harus takut kehilangan. Dicintai tanpa harus menahan diri agar tidak terlalu jatuh. Tapi setiap kali seseorang datang, aku justru ingin pergi. Aku takut cinta hanya singgah untuk mengingatkan, bahwa aku masih bisa terluka. Bahwa setiap pelukan, bisa saja menjadi perpisahan yang sedang menyamar manis.

Ada hari-hari di mana aku tidak mencari pelangi. Aku hanya ingin duduk diam, menatap langit yang abu-abu, dan membiarkan waktu lewat tanpa perlawanan. Aku mulai menyukai warna itu — abu-abu. Ia jujur, tidak berjanji apa-apa. Tidak seperti biru yang menjanjikan tenang, tapi sering berakhir dengan hujan. Di warna itulah aku menemukan diriku: tak terang, tapi belum gelap sepenuhnya.

Pelangi, mungkin, adalah doa langit yang disampaikan dengan cara lembut. Ia muncul setelah tangis, lalu pergi sebelum sempat kita miliki. Seperti seseorang yang datang untuk mengajarkan arti kehilangan. Aku tidak ingin lagi menuntut kebahagiaan sempurna. Aku hanya ingin sedikit tenang, cukup untuk tidak gemetar saat mengingat hal-hal yang pernah patah.

Aku belajar, bahwa ada keindahan di dalam luka yang tidak disembunyikan. Seperti pelangi, yang tidak malu lahir dari air mata langit. Mungkin aku juga begitu — sedang belajar menjadi warna dari diriku sendiri. Meski belum lengkap, meski masih pudar, aku tahu, suatu hari aku akan memantulkan cahaya juga, entah dengan cara apa.

Jika hujan turun lagi, aku tidak akan meminta pelangi. Aku hanya akan membuka tangan, membiarkan setiap tetesnya jatuh di kulitku. Karena kini aku tahu, hujan pun bisa jadi doa yang jatuh pelan-pelan. Tak semua yang membuat kita basah harus kita hindari. Kadang, basah itu adalah tanda kita masih hidup.

Dan kalau pelangi benar-benar datang suatu hari nanti, aku tidak akan menatapnya terlalu lama. Aku takut jatuh cinta pada sesuatu yang tidak bisa kugenggam. Aku hanya akan tersenyum, lalu menunduk perlahan. Karena mungkin, pelangi bukan untuk dimiliki — ia hanya untuk diingat, bahwa bahkan langit pun bisa sembuh setelah menangis.

Sebab kini aku mengerti, sembuh tak selalu berwarna. Kadang, ia hanya sesederhana menerima langit apa adanya — dengan hujan yang jatuh tanpa alasan, dan cahaya yang datang tanpa janji. Dan mungkin, di sanalah keindahan sebenarnya: bukan di pelanginya, tapi di hati yang akhirnya berani berhenti menunggu.

Bilik Sunyi, 2 November 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...