Sunyi di Antara Topeng-Topeng Mereka
Penulis: Pena_Lingga
Kesunyian itu selalu menempel di langkahku setiap kali aku berada di tengah keramaian. Ada begitu banyak suara, begitu banyak tawa, begitu banyak obrolan yang saling bersahutan, tapi tidak satu pun dari itu terasa benar-benar menyentuhku. Aku berjalan di antara mereka seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya merasa hadir. Dunia tampak begitu hidup, namun aku justru merasa semakin tidak terlihat. Di balik bising yang terus berputar, aku hanya merasakan kekosongan yang tidak memilih waktu untuk datang. Dan semakin aku mencoba memahami ke mana perasaan ini ingin membawaku, semakin jauh aku tersesat di dalam diriku sendiri.
Orang-orang di sekelilingku memakai topeng yang mungkin sudah begitu sering mereka pakai sampai lupa bentuk wajah asli mereka sendiri. Mereka tersenyum lebar, mengangguk ramah, dan berusaha menunjukkan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Tapi mataku menangkap sesuatu yang lain—kebohongan yang halus, lelah yang mereka tekan dalam-dalam, dan luka yang disembunyikan seolah jika diperlihatkan akan membuat mereka kehilangan sesuatu. Melihat itu semua membuatku berpikir bahwa mungkin aku bukan satu-satunya yang hancur. Namun anehnya, meski tahu semua orang sedang pura-pura, tetap saja aku merasa paling sendirian.
Kadang aku duduk di keramaian dan berharap ada satu suara yang bisa benar-benar aku dengar tanpa harus menerjemahkan apa maksudnya. Tapi nyatanya, semakin ramai tempat itu, semakin sunyi rasanya. Seperti ada tembok tipis namun kokoh yang memisahkanku dari dunia yang seharusnya bisa kutempati. Aku ingin berbicara, ingin bercerita, ingin menjelaskan bahwa beberapa hari terasa begitu berat sampai napas pun seperti enggan keluar. Tapi kata-kata itu tidak pernah menemukan jalan. Mereka berhenti di tenggorokan, menggumpal seperti sesuatu yang tidak bisa aku ludahkan maupun telan.
Ada masa ketika aku memandang orang-orang bergegas, seolah mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Sedangkan aku hanya mengikuti langkah kakiku tanpa benar-benar tahu ke mana tujuan akhir. Aku merasa kecil di antara orang-orang yang tampak yakin akan hidupnya. Rasa tidak berguna itu muncul begitu saja, membesar setiap kali aku mencoba membandingkan diriku dengan mereka. Dan ketika rasa itu semakin kuat, aku bertanya-tanya apakah aku memang bagian dari dunia ini atau sekadar seseorang yang tersesat di tempat yang salah.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada dunia, tapi aku tahu dunia tidak punya waktu untuk mendengarkan. Semua orang sedang bertarung dengan hidupnya masing-masing. Mereka memaksa diri tersenyum meski mungkin hatinya remuk. Dan aku tidak ingin menjadi beban tambahan dalam hidup yang sudah mereka paksakan berjalan. Jadi aku memilih menyimpan semua rasa sakit itu sendiri, meski kadang tubuhku terasa tidak cukup luas untuk menampung semuanya. Ada hari ketika aku merasa penuh, namun penuh oleh hal-hal yang tidak pernah memberi kelegaan.
Kesunyian yang menemaniku ini bukan hanya tidak ada suara—ia adalah perasaan bahwa aku tidak punya tempat untuk pulang, bahkan ketika aku berada di rumah sendiri. Ia seperti ruang kosong yang kupaksa untuk kutinggali, meski aku tahu tidak ada kehangatan yang bisa kudapatkan di sana. Dan yang paling menyakitkan adalah: lama-lama aku mulai terbiasa dengan dinginnya. Ada bagian dari diriku yang pasrah, yang merasa bahwa kesunyian ini mungkin satu-satunya hal yang tidak akan meninggalkanku meski semuanya pergi.
Sering kali aku ingin jujur, ingin mengatakan bahwa aku lelah menjalani semua ini sendirian. Aku ingin mengaku bahwa bahkan bangun dari tidur pun terasa seperti tugas berat. Tapi aku belajar bahwa tidak semua orang punya kapasitas untuk memahami. Dunia kita terlalu cepat, terlalu ramai, terlalu sibuk untuk mengurus kesedihan satu manusia. Jadi aku merawat lukaku sendiri, merapikannya sebisaku, meski kadang justru makin berdarah karena aku tidak tahu bagaimana caranya sembuh.
Di tengah kerumunan, aku melihat banyak wajah yang tampak kuat. Mereka berjalan tegap, berbicara dengan lantang, seolah tidak pernah gentar terhadap apa pun. Tapi aku tahu mereka menyimpan sesuatu, sama seperti aku. Bedanya, mereka hebat dalam menyembunyikannya. Sedangkan aku, meski diam, sering merasa retak dalam cara yang bahkan tidak bisa kujelaskan. Ada rasa iri di sana—iri pada mereka yang setidaknya bisa berpura-pura tanpa terganggu oleh kecanggungan yang sering menyeretku ke ruang hampa.
Ada hari ketika aku berharap seseorang datang, hanya untuk berkata bahwa aku tidak harus menanggung semuanya seorang diri. Seseorang yang duduk di sampingku tanpa bertanya terlalu banyak, tetapi cukup tahu bahwa aku sedang berusaha keras untuk tetap bertahan. Tapi harapan seperti itu terasa jauh, mungkin terlalu jauh. Di dunia ini, semua orang sedang memperbaiki topengnya masing-masing, hingga tidak ada yang benar-benar sempat melihat wajah asli orang lain. Kadang aku merasa tidak ada yang benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi di balik mataku yang tampak biasa saja.
Akhirnya aku belajar bahwa menjadi sunyi di tengah keramaian bukan sesuatu yang bisa kuhindari. Dunia tidak akan berhenti hanya karena aku sedang kehilangan arah. Jadi aku berjalan pelan, membawa kesunyian yang tidak pernah benar-benar pergi. Dan meski rasanya berat, aku tahu satu hal: aku masih bertahan. Meski dengan banyak luka, meski dengan banyak takut, meski dengan banyak hal yang tak pernah selesai. Mungkin itu sudah cukup—meski untuk saat ini, itu hanya terasa seperti cara lain untuk tetap hidup tanpa benar-benar merasa hidup.
Desa Embun, 23 November 2025