( DIALOG )
Sumpahnya Kedua Badik Sulawesi Selatan
Ditulis oleh: Andi Irwan (Pena_Lingga)
SULTAN HASANUDDIN :
Arung Palakka… ingatkah engkau pada masa ketika kita berdiri sejajar di tanah Sulawesi ini, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara sejiwa? Kita sama-sama lahir dari siri’, darah bangsawan yang meneteskan sumpah untuk menjaga leluhur. Di tanah inilah kita bermain, bertumbuh, dan berjanji bahwa tanah ini tak boleh disentuh oleh tangan asing. Tapi kini, mataku melihatmu di sisi lain, Palakka… kau bukan lagi saudaraku, melainkan seorang raja Bone yang memilih bersandar pada Belanda, menjual darahmu sendiri demi sebuah kebebasan yang semu. Tidakkah engkau tahu betapa perihnya hati saya, melihat saudara seperjuangan kini justru menjadi tombak yang menikam dada Gowa? Saya berdiri di sini dengan luka yang menganga, karena engkau, yang dulu saya sebut saudara, kini menjadi lawan yang membuka pintu bagi penjajah untuk menodai tanah kita.
ARUNG PALAKKA :
Hasanuddin! Jangan kau goreskan kata “pengkhianat” itu ke dada saya, sebab dada saya telah penuh dengan luka yang lebih dalam daripada tuduhanmu. Saya tidak mencintai Belanda, saya tidak pernah menganggap mereka sebagai saudara—tapi Bone, tanah kelahiran saya, telah lama ditindas, diinjak, dan dipaksa tunduk dalam genggaman Gowa. Siri’ bangsa saya terinjak, martabat saya sebagai raja Bone dicabik-cabik. Apakah saya harus diam? Tidak, Hasanuddin. Siri’ Bugis tak mengenal diam. Maka saya bersumpah, taro ada taro gau—kata adalah darah, janji adalah nyawa. Jika saya telah bersumpah membebaskan Bone, maka seluruh jiwa raga saya menjadi taruhan. Belanda hanyalah jalan, bukan tujuan. Tujuan saya adalah kebebasan rakyat saya, meski harus berlumur darah sendiri.
SULTAN HASANUDDIN :
Siri’na pacce bukan sekadar kata, Palakka, tapi napas orang Makassar, darah yang mengalir di setiap nadi kami. Demi siri’ itu, saya memilih berperang melawan Belanda meski tubuh ini harus hancur berkeping-keping. Bagi saya, lebih baik mati di medan perang dengan panji siri’ yang berkibar, daripada hidup menyaksikan tanah leluhur diinjak kaki penjajah. Tapi engkau… engkau yang dulu bersama saya, kini memilih jalan yang berbeda. Engkau menusuk saya dari belakang, membuka jalan bagi musuh yang seharusnya kita lawan bersama. Apa artinya kebebasan Bone jika engkau meraihnya dengan mengorbankan seluruh Sulawesi ke tangan Belanda? Kau berbicara tentang siri’, tapi apakah siri’ masih layak disebut jika dicapai dengan tangan berlumuran pengkhianatan?
ARUNG PALAKKA :
Hasanuddin, jangan kau balikkan makna siri’ hanya untuk kepentinganmu sendiri. Saya memang pernah berdiri di sisimu, saya pernah menyerahkan jiwa dan raga saya untuk Makassar, tapi apa balasannya? Bone tetap saja terhimpit, rakyat saya tetap menangis, siri’ Bugis kau remehkan. Saya dipaksa tunduk, bangsa saya dipaksa mengangguk, dan setiap kali saya menoleh ke tanah saya, saya melihat luka. Maka saya bersumpah: jika badik saya telah keluar dari sarungnya, ia tidak akan kembali sebelum meminum darah. Darah siapa? Darahmu, Hasanuddin! Bukan karena saya benci padamu sebagai manusia, tapi karena sebagai raja saya harus menebus siri’ bangsa saya dengan taruhanku sendiri.
SULTAN HASANUDDIN :
Kalau itu jalan yang kau pilih, Palakka, maka badik saya pula yang akan melawanmu. Saya tidak pernah gentar, karena siri’ Makassar mengajarkan saya: lebih baik tubuh ini terpotong-potong daripada menyerahkan tanah ini ke tangan Belanda. Kau bicara kebebasan, tapi saya melihat hanya seorang raja yang menukar harga diri bangsanya dengan rantai emas penjajah. Kau berdiri di atas penderitaan rakyat Makassar, dan engkau menyebutnya kehormatan? Tidak, Palakka. Saya bersumpah, siri’ saya tidak akan saya biarkan diinjak, olehmu ataupun siapa pun, meski harus saya tebus dengan darah dan nyawa saya sendiri.
ARUNG PALAKKA :
Hasanuddin! Kau buta oleh kebanggaanmu. Kau hanya melihat tanahmu, tapi tidak melihat tangisan rakyat saya. Kau hanya mendengar suara Makassar, tapi tidak pernah mendengar jeritan Bone. Anak-anak Bugis yang kelaparan, perempuan yang dipaksa tunduk pada bayangan kuasamu. Saya lahir untuk menjaga mereka, bukan untuk memuaskan harga dirimu. Maka saya bersumpah di hadapan leluhur saya: siri’ yang terluka harus ditebus, meski dengan perang, meski dengan darah, meski dengan luka di dada. Saya tahu pedangmu tajam, saya tahu engkau gagah, tapi sumpah saya jauh lebih tajam daripada besi mana pun.
SULTAN HASANUDDIN :
Palakka, butakah engkau melihat siapa musuh yang sebenarnya? Belanda-lah yang memecah belah kita, menjadikan darah Makassar dan Bugis sekadar mainan di meja perundingan mereka. Mereka tertawa di atas penderitaan kita, sementara engkau menari di pangkuan mereka dengan alasan kebebasan. Apakah ini yang kau sebut taro ada taro gau? Apa artinya satu kata jika dibangun di atas dusta penjajah? Apakah engkau buta, bahwa semua janji Belanda hanyalah tali yang akan menjerat leher Bone suatu hari nanti?
ARUNG PALAKKA :
Tidak, Hasanuddin! Belanda bukan akar luka saya. Lukaku adalah engkau. Kau, dengan segala kebesaran Gowa-mu, yang membuat Bone hanya menjadi bayang-bayang. Siri’ Bugis terinjak, dan saya tidak akan tinggal diam. Kau boleh menyebut saya budak Belanda, tapi saya tahu siapa diri saya. Saya adalah raja Bone, dan taro ada taro gau adalah jantung saya. Satu kata adalah satu jiwa, dan kata itu adalah kebebasan Bone. Jika itu harus saya lakukan dengan melawanmu, maka biarlah begitu adanya.
SULTAN HASANUDDIN :
Kalau begitu, engkau telah memilih jalan yang gelap, Palakka. Saya berjuang bukan hanya untuk Makassar, tapi untuk seluruh Sulawesi. Siri’ saya tidak membiarkan satu jengkal pun tanah ini jatuh ke tangan Belanda. Jika engkau masih memilih melawan, maka biarlah darah kita yang menjadi tinta sejarah. Saya tidak akan mundur, meski harus berhadapan denganmu, meski saya tahu darah ini akan tumpah.
ARUNG PALAKKA :
Saya tidak gentar pada sejarah, Hasanuddin. Sejarah hanyalah catatan, tapi sumpah saya adalah hidup saya. Saya hanya takut jika kata-kata saya tidak saya tepati. Saya lahir dengan janji Bugis yang keras: lebih baik mati di ujung badik daripada hidup mengingkari kata. Maka saya berdiri di sini, bukan sebagai saudara, bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh yang menantangmu. Jika hari ini harus menjadi akhir dari hidup saya, maka biarlah saya mati dengan sumpah saya di dada.
SULTAN HASANUDDIN :
Sumpahmu hanyalah bayang-bayang, Palakka, jika dilakukan dengan darah saudara sendiri. Siri’na pacce menuntunku, mengajarkanku arti hidup dan mati. Saya rela tubuh saya hancur, saya rela Makassar terbakar, asalkan rakyat saya tidak menyerah pada Belanda. Saya tidak akan pernah memilih jalan yang menukar kehormatan dengan kepalsuan. Siri’ adalah kehidupan, bukan sekadar gengsi seorang raja.
ARUNG PALAKKA :
Dan saya pun rela menjadi musuhmu, Hasanuddin, jika itu satu-satunya jalan untuk mengembalikan martabat Bone. Siri’ kami telah lama dipermalukan, dan saya tidak akan membiarkan itu berlangsung lebih lama lagi. Saya tahu Belanda bukan sahabat, tapi saya menggunakannya sebagai batu loncatan. Setelah Bone bebas, biarlah saya menanggung segala kutukan, segala caci. Yang penting siri’ rakyat saya kembali terangkat.
SULTAN HASANUDDIN :
Palakka, engkau terlalu percaya pada racun kata-kata Belanda. Mereka hanya akan menjadikanmu alat, dan setelah selesai, engkau akan dibuang seperti sisa makanan. Bone akan tetap menderita, sama seperti kerajaan lain yang mereka kuasai. Tapi saya, meski mungkin tak lagi hidup, akan mati dengan siri’ yang utuh di dada saya, bukan dengan pengkhianatan yang menodai tangan saya.
ARUNG PALAKKA :
Kalau itu jalanmu, maka silakan engkau mati dengan kebanggaanmu. Saya pun akan mati dengan sumpah saya. Taro ada taro gau, Hasanuddin. Saya tidak pernah mundur dari kata-kata saya. Saya tidak pernah menjilat ludah saya sendiri. Jika hari ini badik saya haus darah, maka darahmu yang akan menenangkannya.
SULTAN HASANUDDIN :
Kalau begitu, mari kita buktikan di medan perang, Palakka. Biarlah pedang dan badik menjadi saksi, bahwa siri’ bukan sekadar kata-kata indah, melainkan darah yang harus ditebus. Saya tidak akan mundur, meski itu berarti nyawa saya harus menjadi taruhan terakhir.
ARUNG PALAKKA :
Dan darah itu akan saya tagih darimu, Hasanuddin. Badik saya tidak akan kembali ke sarungnya sebelum meminum darahmu. Siri’ saya adalah pedang saya, sumpah saya adalah badik saya. Kau dan saya, hanya ada satu yang akan tetap berdiri.
SULTAN HASANUDDIN :
Jika itu niatmu, maka saya pun tidak gentar. Lebih baik mati di tanganmu, Palakka, daripada hidup menyaksikan tanah saya dipijak Belanda dengan restu mu. Siri’ saya lebih berharga daripada napas yang masih bertahan.
ARUNG PALAKKA :
Lebih baik saya berdosa padamu, Hasanuddin, daripada berdosa pada rakyat Bone. Saya lahir bukan untuk mengabdi pada Gowa, melainkan untuk menjaga siri’ rakyat saya. Jika hari ini saya harus menghunus badik padamu, itu bukan karena saya benci padamu sebagai manusia, melainkan karena saya harus menepati sumpah saya sebagai raja.
SULTAN HASANUDDIN :
Maka biarlah darah kita menulis sejarah, Palakka. Biarlah bumi Sulawesi menjadi saksi bahwa dua saudara bertemu sebagai musuh, bukan karena saling benci, tapi karena saling mempertahankan siri’ dengan jalannya masing-masing. Saya tidak akan pernah mundur.
ARUNG PALAKKA :
Dan saya pun tidak akan mundur, Hasanuddin. Karena taro ada taro gau bukan sekadar kata, tapi nyawa saya sendiri. Jika harus saya tutup mata hari ini, saya akan menutupnya dengan badik di tangan, bukan dengan sumpah yang diingkari.
📜 Kamis, 2 Oktober 2025
@---------------PENJELASAN PENULIS--------------@
Naskah ini terinspirasi dari kisah nyata kedua tokoh raja di tanah Sulawesi selatan ( Makassar dan Bugis ). Namun dialeg ini merupakan fiksi yang saya buat, bertujuan untuk menghidupkan jiwa dan roh kedua legenda tersebut.