Kamis, 30 Oktober 2025

Aku dan Ayah

Aku dan Ayah

Karya : Pena_Lingga


"Aku dan ayah meninggal di hari yang sama, tapi hanya ayahku yang dimakamkan."


Apa kamu tahu apa yang ingin kusampaikan pada sebait puisiku itu? Aku dan ayahku memang meninggal di hari yang sama. Tapi hanya ayahku yang dimakamkan, sedangkan aku masih hidup—meski tidak dengan hatiku. Sejak hari itu, aku berjalan tanpa arah, membawa tubuh yang masih bernapas tapi tanpa jiwa, menanggung rindu yang bahkan tak tahu harus kemana pulang. Kini aku menjalani hidup sendiri, tanpa pundak ayah untuk bersandar, tanpa suara yang dulu menenangkan setiap gundah.


Aku sering memandangi langit sore, berharap menemukan siluetmu di antara cahaya yang perlahan menua. Tapi tak ada apa pun di sana selain kosong yang menggantung di udara. Hari itu masih jelas dalam ingatanku; semua orang menangis di atas makammu, sementara aku berdiri kaku. Tidak ada yang tahu bahwa di detik yang sama, separuh jiwaku ikut terkubur bersama tanah yang memelukmu. Aku tersenyum kecil waktu itu—bukan karena kuat, tapi karena kehilangan terlalu dalam hingga air mataku berhenti di ujung lelah.


Sejak saat itu, hidup terasa seperti napas yang dipaksakan. Aku berjalan, makan, tertawa, tapi semuanya hanya kebiasaan tanpa rasa. Tak ada lagi suara beratmu memanggil namaku, tak ada tangan kasar tapi hangat yang menepuk bahuku. Aku hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Mungkin beginilah rasanya mati perlahan—tubuh masih ada, tapi jiwanya sudah lama pergi bersamamu.


Kadang aku ingin menulis surat untukmu, Ayah. Surat yang tahu diri bahwa ia tak akan pernah sampai. Kutulis tentang makan malam yang kini sepi, tentang kursi kosong di ruang tamu yang dulu menjadi singgasana candamu. Aku tahu waktu tak akan pernah memutarkan hari itu kembali. Tapi setiap kali aku menutup mata, aku masih bisa merasakan genggaman tanganmu yang terakhir—dingin, tapi penuh kasih yang tak sempat berpamitan.


Mereka bilang aku kuat karena masih bisa berdiri, tapi mereka tak tahu kalau kekuatan ini hanyalah bentuk dari ketidakberdayaan. Aku tak punya tempat lagi untuk runtuh. Dunia menuntutku melangkah, sementara hatiku ingin rebah di sampingmu. Andai mereka tahu, setiap malam aku berbicara dengan langit, memohon agar Tuhan memberiku sedikit waktu—sekadar untuk memelukmu, walau hanya dalam mimpi.


Hari-hari yang terlalu tenang selalu membuatku takut. Dalam diam, langkahmu masih terasa di lorong rumah. Dalam sepi, suaramu masih memanggil pelan. Aku takut tidur, sebab dalam mimpi, engkau selalu datang. Dan setiap kali aku terbangun, rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya.


Kini aku paham, mengapa ada orang yang begitu ingin menyusul mereka yang pergi. Bukan karena ingin mati, tapi karena hidup tanpa mereka terasa seperti hukuman yang panjang. Aku tak ingin mati, tapi aku juga tak tahu bagaimana cara hidup tanpamu. Aku hanya berjalan, menua bersama rinduku yang tak pernah selesai.


Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan sengaja membiarkanku tetap hidup agar aku tahu rasanya kehilangan dari jarak paling menyakitkan—bukan antara dua dunia, tapi antara satu tubuh dan satu hati yang tak lagi sejiwa. Aku hidup di sini, tapi perasaanku tertinggal di liang tempat mereka menidurkanmu.


Ayah, dunia setelah kepergianmu begitu asing. Tak ada tempat yang terasa seperti rumah. Bahkan cermin pun kini memantulkan wajah yang tak kukenali. Karena sebagian besar diriku sudah ikut bersamamu, tertidur dalam tanah yang kau jaga dengan tenang.


Aku sering bertanya pada malam: apakah engkau bahagia di sana? Apakah kau juga mencariku di antara doa orang-orang yang masih hidup? Jika iya, mungkin suatu hari nanti aku akan sampai—bukan untuk dimakamkan, tapi untuk benar-benar pulang.


Karena kebenarannya, Ayah—aku dan engkau memang meninggal di hari yang sama. Bedanya, kau dimakamkan di bumi, sedangkan aku dikubur di dalam tubuhku sendiri. Dan tak seorang pun datang menabur bunga di hati yang sudah lama berhenti hidup.



Bilik Sunyi, 31 Oktober 2025

Rabu, 29 Oktober 2025

Kita Ini Sebenarnya Sedang Terluka

Kita Ini Sebenarnya Sedang Terluka

Karya : Pena_Lingga


Kita ini sebenarnya sedang terluka, bukan?

Tapi entah mengapa setiap pagi aku masih berusaha tersenyum di depan cermin, memaksa bibir ini melengkung seolah semua baik-baik saja. Padahal mataku sudah lama kehilangan cahaya. Ada gurat lelah yang tak bisa disembunyikan, meski sudah berkali-kali kubasuh dengan air dingin. Aku tahu, di balik pantulan itu, aku sedang memandang seseorang yang tidak lagi utuh—seseorang yang belajar menelan kecewa, tapi gagal menyembuhkan diri. Mungkin yang perlahan hilang itu bukan sekadar bahagiaku, tapi jiwaku sendiri yang tak lagi tahu bagaimana caranya merasa hidup.


Kadang aku berpura-pura tidak apa-apa. Pura-pura kuat. Pura-pura tidak peduli. Aku melatih diriku untuk tertawa di tengah sesak, menutup luka dengan canda yang kering dan tawa yang dipaksakan. Tapi begitu malam tiba, semua topeng itu jatuh satu per satu. Tak ada lagi ruang untuk berpura-pura ketika kesunyian datang dan memelukku erat. Malam seolah tahu segalanya—tentang tangis yang kutahan, tentang kata-kata yang tak pernah sempat kusampaikan, tentang cinta yang kupendam hingga membusuk di dada. Di situlah aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya: rapuh, sepi, dan kehilangan arah.


Lucu, ya. Betapa mudahnya aku menenangkan orang lain dengan kalimat-kalimat bijak, tapi begitu sulit untuk menenangkan diriku sendiri. Aku sering berbohong kepada hati sendiri dengan berkata, “semua akan baik-baik saja.” Padahal jauh di dalam dada, aku tahu segalanya tidak akan pernah sama lagi. Kata-kata itu hanya menjadi obat bius yang menunda rasa sakit, bukan menyembuhkannya. Aku seperti perawat yang menambal luka pasien lain, sementara lukaku sendiri dibiarkan terbuka—menganga, bernanah, dan menolak kering.


Cinta mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara kehilangan tanpa harus membenci. Tapi keluarga mengajariku hal yang lebih menyakitkan: bahwa cinta kadang tak selalu berarti diterima. Aku pernah berpikir rumah adalah tempat pulang, tapi ternyata rumah juga bisa jadi tempat paling dingin untuk berteduh. Kata-kata yang seharusnya menenangkan berubah jadi pisau yang perlahan menorehkan luka. Aku tak tahu bagaimana bisa tetap tersenyum di meja makan ketika hati terasa dipenjara. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa menelan perih dalam diam.


Aku lelah menjadi kuat setiap waktu. Lelah membuktikan pada semua orang bahwa aku baik-baik saja padahal tidak. Lelah menahan air mata agar tidak dianggap lemah. Mereka bilang aku tangguh, tapi sebenarnya aku hanya pandai menyembunyikan luka. Mereka melihatku berdiri tegak, tanpa tahu berapa kali aku nyaris roboh setiap malam. Tidak ada yang tahu betapa berat rasanya bertahan di dunia yang menuntutku selalu terlihat bahagia, padahal di dalam diriku, badai tidak pernah reda.


Ada hari-hari di mana aku ingin menyerah. Ingin berhenti berlari dari semuanya—dari cinta yang tak berpihak, dari rumah yang kehilangan kehangatannya, dari hidup yang terasa seperti beban yang terlalu berat dipikul sendiri. Aku pernah berdiri di tepi kesabaran, nyaris melompat, nyaris membiarkan segalanya berakhir. Tapi entah kenapa, selalu ada suara kecil di dalam kepalaku yang berkata, “Bertahanlah, hanya sedikit lagi.” Suara yang membuatku tetap bernapas, meski terkadang aku sendiri tidak tahu untuk apa aku masih bertahan.


Aku tidak tahu sampai kapan harus berpura-pura bahagia di depan mereka—orang-orang yang selalu tertawa keras tanpa tahu ada yang sedang menahan tangis di tengah mereka. Aku belajar menertawakan diriku sendiri agar tak terlihat menyedihkan. Belajar menatap mata orang lain tanpa menampakkan luka di mataku. Tapi setiap kali mereka berbalik, aku hancur lagi, perlahan-lahan, dalam diam. Aku menumpuk semua perih seperti reruntuhan yang menunggu waktu untuk roboh sepenuhnya.


Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa menangis tanpa alasan. Mereka yang bisa membiarkan air matanya jatuh begitu saja, tanpa peduli apa kata dunia. Sementara aku, selalu menahan semuanya sampai kepalaku berdenyut, sampai dada terasa sesak. Aku takut kalau aku mulai menangis, aku tak akan berhenti lagi. Tapi malam ini aku biarkan saja air mata itu jatuh. Tidak untuk siapa-siapa, hanya untuk diriku sendiri—untuk seseorang yang sudah terlalu lama menanggung semua rasa sakit tanpa pernah benar-benar sembuh.


Aku tahu, besok pagi aku akan kembali tersenyum di depan mereka. Kembali mengenakan topeng bahagia yang sudah lusuh. Kembali berperan sebagai seseorang yang kuat. Tapi di dalam diriku, aku hanya ingin dipeluk—sekali saja—oleh seseorang yang tidak menuntut penjelasan, tidak bertanya kenapa aku menangis, cukup diam dan biarkan aku hancur di pelukannya. Tapi dunia ini terlalu bising untuk itu. Tak ada pelukan yang benar-benar hangat, hanya tatapan kosong dan tanya yang tak perlu dijawab.


Dan malam ini, aku akhirnya mengerti: yang paling menyakitkan bukan cinta yang pergi, bukan keluarga yang tak mengerti, tapi diriku sendiri—yang perlahan mati dalam topeng yang kubuat. Aku kehilangan segalanya tanpa sempat berpamitan. Aku kehilangan diriku sendiri dalam proses berpura-pura kuat. Kini yang tersisa hanyalah tubuh yang masih bernapas tanpa arah, hati yang kosong, dan harapan yang sudah lama dikubur di bawah tumpukan kecewa. Mungkin besok aku masih hidup… tapi bukan lagi dengan hati yang sama. Yang tersisa hanyalah aku—yang patah, yang gagal sembuh, dan yang tak tahu apakah masih pantas berharap akan bahagia lagi.



Bilik Sunyi, 30 Oktober 2025

Jumat, 17 Oktober 2025

Langit Senja yang Tak Lagi Sama

Langit Senja yang Tak Lagi Sama

Karya: Pena_Lingga

Senja sore ini terasa berat. Langitnya seperti tidak tahu mau jadi apa—antara jingga dan kelabu, antara hangat dan dingin. Aku menatap lama, tapi rasanya kosong saja. Biasanya warna langit bisa menenangkan, tapi entah kenapa kali ini justru menambah sesak. Aku duduk di tempat yang sama seperti kemarin, hanya saja hatiku tidak sama lagi. Ada yang berubah, tapi aku tidak tahu apa. Mungkin karena terlalu banyak hal yang menumpuk di kepala, dan aku sudah kehabisan tenaga untuk pura-pura baik-baik saja.

Aku benci ketika semua terasa abu-abu seperti ini. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi juga tidak ada yang membuatku benar-benar tenang. Semua terasa samar, seperti hidup yang berjalan tanpa arah. Kadang aku berpikir, apa mungkin aku terlalu sering pura-pura kuat sampai lupa bagaimana rasanya jujur pada diri sendiri. Aku capek, tapi tidak tahu cara berhenti. Aku ingin istirahat, tapi bahkan tidur pun tidak benar-benar membuat tenang.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kuceritakan, tapi rasanya percuma. Tidak semua orang mau mendengarkan tanpa menilai. Kadang aku hanya butuh didengarkan, bukan diberi nasihat. Tapi orang-orang selalu ingin jadi pahlawan, seolah mereka tahu semua jawabannya. Padahal tidak ada jawaban untuk hal-hal seperti ini. Hati yang berantakan tidak bisa dibereskan hanya dengan kata “sabar”.

Langit mulai berubah warna. Cahaya jingga yang tersisa seperti enggan pergi, tapi akhirnya hilang juga. Aku menatap sisa cahaya itu sambil berpikir, mungkin begitulah hidup: tidak ada yang bisa benar-benar bertahan. Semuanya akan berubah, entah pelan atau cepat. Mungkin itu sebabnya aku sering merasa kehilangan, bahkan untuk hal-hal yang masih ada. Karena di dalam diriku, selalu ada rasa takut bahwa semua ini bisa hilang kapan saja.

Sore selalu punya cara aneh untuk membuatku jujur pada diri sendiri. Kadang aku menertawakan hal-hal kecil, lalu tiba-tiba saja ingin menangis tanpa alasan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku cari. Cuma tahu bahwa ada ruang kosong di dalam diri yang tidak bisa kuisi dengan apa pun. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi kenapa sampai sekarang masih terasa sakit ya?

Aku ingat seseorang pernah bilang, “Kalau capek, berhenti dulu.” Tapi tidak semudah itu. Ada hal-hal yang tetap harus dijalani walau badan dan hati sama-sama lelah. Hidup tidak berhenti hanya karena aku ingin istirahat. Dan mungkin itu yang paling menyakitkan — ketika kau tahu kau harus tetap berjalan meski dalam dirimu sudah tidak kuat lagi.

Sekarang langit sudah gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Orang-orang pulang, membawa lelahnya masing-masing. Aku masih di sini, memandangi langit yang kosong. Tidak ada yang spesial, tapi entah kenapa aku tetap ingin menatapnya. Mungkin karena di langit itu, aku bisa jujur bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.

Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi orang yang sering diam. Dulu aku suka bicara, suka bercanda, suka tertawa keras-keras tanpa peduli siapa yang mendengar. Sekarang, semua terasa berat. Bahkan untuk sekadar tertawa pun rasanya canggung. Aku hanya ingin hari-hari ini cepat berlalu, tapi setiap kali matahari terbenam, aku sadar bahwa besok pun belum tentu lebih baik.

Ada hal yang aneh tentang kesedihan: semakin kau mencoba menyingkirkannya, semakin kuat ia bertahan. Aku sudah mencoba menulis, berjalan, bahkan tertawa, tapi perasaan ini tetap di sini. Menempel seperti bayangan. Kadang aku berpura-pura sudah lupa, tapi malam datang dan semuanya kembali lagi. Tidak bisa kabur dari pikiran sendiri memang menyebalkan.

Dan aku tahu, tidak semua orang akan mengerti perasaan ini. Mereka akan bilang aku terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir, terlalu larut. Tapi mereka tidak tahu rasanya hidup dengan kepala yang terus berisik dan hati yang sulit dijelaskan. Jadi malam ini aku biarkan saja semua mengendap. Tidak perlu diselesaikan, tidak perlu dihapus. Cukup diakui: bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak apa-apa.

Bilik Sunyi, 17 Oktober 2025

Selasa, 14 Oktober 2025

Rumah Yang Tak Pernah Jadi Tempat Pulang

 Rumah yang Tak Pernah Jadi Tempat Pulang


Oleh : Pena_Lingga


Gak tahu lagi harus aku mulai cerita ini dari halaman berapa. Mungkin dari awal lagi, mungkin dari tengah, atau dari titik di mana aku sudah tidak sanggup menulis apa pun. Ini sudah entah yang keberapa kalinya aku menulis dengan tangan bergetar dan mata yang basah. Setiap kalimat terasa seperti luka yang dibuka kembali, setiap kata seperti air mata yang jatuh tanpa izin. Aku hanya tahu satu hal—aku sedang kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.


Dulu aku percaya, setiap pertemuan adalah takdir yang indah. Aku pikir, ketika seseorang datang membawa senyum, ia datang untuk menetap. Tapi aku salah. Tidak semua rumah yang terlihat hangat benar-benar bisa kita tinggali. Ada beberapa yang hanya membuka pintu sementara, sekadar untuk beristirahat, sebelum akhirnya meninggalkan kita sendirian di depan ambang pintu, dengan segenggam kenangan yang terlalu berat untuk digenggam lama-lama.


Aku pernah yakin bahwa cinta saja cukup. Tapi kenyataannya, cinta tidak pernah cukup. Cinta bisa tumbuh di tempat yang salah, bisa hidup di dada yang tak siap menampungnya. Kadang kita memaksa menetap di hati yang belum sembuh dari masa lalunya, berharap waktu akan memperbaiki segalanya. Padahal, yang rusak bukan waktu—kitalah yang memaksakan diri tinggal di tempat yang sudah retak sejak awal.


Ada hari-hari ketika aku menatap bayangan sendiri di cermin dan bertanya, “Salahku di mana?” Setiap kali aku berpikir bahwa ini akan jadi kisah terakhir, justru di sanalah aku kembali jatuh paling dalam. Entah ini kutukan, atau sekadar takdir yang tidak berpihak. Aku hanya tahu, aku terlalu sering mencintai orang yang datang bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajarkan cara kehilangan.


Aku masih ingat malam itu—malam ketika aku menunggu seseorang yang berjanji akan datang, tapi tak pernah tiba. Aku duduk di depan pintu, membawa segelas kopi yang kini dingin, menatap hujan yang jatuh tanpa henti. Rasanya seperti menunggu keajaiban dari langit yang sudah lama berhenti mendengar doaku. Aku ingin marah, tapi yang keluar hanya sesak. Aku ingin melupakan, tapi setiap kali aku mencoba, justru wajahnya yang paling jelas muncul di kepalaku.


Kadang aku iri pada mereka yang bisa pergi tanpa menoleh. Aku iri pada mereka yang bisa berkata “sudah cukup” tanpa harus menulis berlembar-lembar alasan untuk tetap bertahan. Aku selalu ingin seperti itu—tegas, tenang, tidak mudah rapuh. Tapi ternyata aku terlalu manusia untuk pura-pura kuat. Aku masih menangis di tengah malam, masih menulis nama yang sama di catatan yang berbeda, masih berdoa untuk seseorang yang mungkin sudah lama berhenti menyebut namaku dalam doanya.


Mungkin ini salahku—terlalu ingin menetap di hati yang sibuk membuka pintu untuk orang lain. Terlalu lama memperbaiki rumah yang bahkan bukan milikku. Aku terus menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar ingin tinggal. Aku terus meyakinkan diri bahwa cinta bisa mengubah segalanya, padahal cinta tidak selalu bisa menyelamatkan apa pun. Kadang, cinta justru yang membuat kita kehilangan diri sendiri.


Kini aku hanya ingin diam. Tidak ingin menyalahkan siapa pun, tidak ingin menyebut nama siapa pun. Aku hanya ingin jujur bahwa aku lelah—lelah berharap, lelah menunggu, lelah memperbaiki sesuatu yang tak ingin diperbaiki. Aku ingin berhenti mencari rumah di dada orang lain. Aku ingin membangun rumahku sendiri, meski kecil, meski sepi—asal tidak lagi membuatku menangis setiap malam.


Lucunya, di balik semua ini, aku masih percaya bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan seseorang yang benar-benar menetap. Bukan karena aku takut sendirian, tapi karena aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa harus kehilangan diriku sendiri. Tapi untuk saat ini, biarlah aku istirahat dulu. Biarlah aku sembuh dari reruntuhan rumah yang pernah aku bangun dengan seluruh cinta yang kupunya.


Dan jika suatu hari nanti seseorang membaca tulisan ini, semoga mereka tahu betapa keras perjuangan seseorang yang pernah mencintai dengan cara paling dalam, tapi tak pernah benar-benar dimengerti. Aku tidak ingin dikasihani. Aku hanya ingin diingat sebagai seseorang yang pernah mencoba—meski gagal, meski hancur, tapi tetap percaya bahwa cinta, sekacau apa pun bentuknya, pernah membuatku hidup lebih dari sekadar bernapas.


Bilik Sunyi, 14 Oktober 2025

Jumat, 10 Oktober 2025

Pamit, Untuk Sembuh

Pamit, Untuk Sembuh

Oleh: Pena_Lingga


Aku menulis ini dengan tangan yang gemetar. Mungkin bukan karena dingin, tapi karena beratnya menahan perasaan yang sudah lama tidak bisa diucapkan. Ada sesuatu dalam diriku yang patah perlahan, tanpa suara, tanpa tanda, hanya terasa sesak di dada. Aku tidak ingin pergi dengan kebencian, tapi juga tidak ingin tinggal dengan luka yang terus bertambah. Hari ini, aku memilih untuk tidak lagi berjuang demi seseorang yang bahkan tidak ingin aku bertahan.


Aku pernah percaya bahwa kamu adalah rumah. Tempat di mana aku bisa kembali setelah segala badai. Tapi aku keliru—aku hanya menumpang di hatimu yang tak pernah benar-benar memberiku ruang. Setiap kali aku mencoba mengetuk, kamu menutup pintu dengan senyum palsu yang kini terasa menyesakkan. Aku tetap berdiri di depanmu, berharap kamu menoleh, tapi kamu selalu sibuk mencintai yang lain.


Aku pernah menunggu, berhari-hari, berbulan-bulan, dengan keyakinan bodoh bahwa kamu akan sadar. Bahwa aku juga lelah. Bahwa aku juga ingin disembuhkan. Tapi kamu terlalu tenang dalam diam, seolah tidak pernah kehilangan apa pun. Sementara aku—berjuang dengan perasaan yang perlahan membunuhku dari dalam. Aku berteriak dalam hati, tapi kamu tak mendengar apa-apa.


Rasanya aneh, menyadari bahwa seseorang yang dulu kau cintai kini tak lagi menoleh saat namamu terucap. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu berjalan searah. Kadang, yang satu masih berlari mengejar, sementara yang lain sudah lama berhenti peduli. Dan aku benci menjadi yang tertinggal, tapi lebih menyakitkan lagi menyadari bahwa aku yang terus memaksa tinggal.


Malam-malamku kini penuh dengan percakapan yang tak pernah sampai. Aku berbicara padamu dalam doa, dalam diam, dalam setiap bait yang kutulis di antara tangisan yang kutahan. Kau mungkin sedang tertawa dengan orang lain, sementara aku masih sibuk menenangkan hatiku sendiri agar tidak hancur lagi malam ini. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya merasa cukup untuk seseorang yang tidak pernah melihat perjuanganku.


Ada banyak hal yang tidak akan aku ceritakan lagi padamu. Tentang hari-hari yang aku lewati dengan air mata, tentang seberapa keras aku berusaha mengerti meski tak pernah dimengerti. Aku menulis surat-surat panjang yang tak pernah terkirim, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiranmu. Tapi semua berakhir di tumpukan kertas yang kini kusimpan di bawah bantal—tempat segala hal yang tidak pernah selesai.


Aku menyesal pernah mencintaimu dengan sedalam ini. Menyesal karena telah menjadikanmu pusat dari segala hal yang membuatku hidup. Aku lupa bahwa diriku juga butuh diselamatkan. Dan sekarang, yang tersisa hanyalah reruntuhan rasa—aku berdiri di tengahnya, menatap semua yang pernah kita bangun, lalu membiarkannya hancur dengan air mata yang tidak lagi bisa kutahan.


Jika kamu tahu seberapa dalam kecewaku, mungkin kamu akan mengerti mengapa aku harus pergi. Aku tidak pergi karena ingin melupakan, tapi karena aku tahu, bertahan hanya akan membuatku mati perlahan. Kamu tidak kehilangan apa pun dengan kepergianku, tapi aku kehilangan diriku sendiri setiap kali memaksa tetap di sisimu. Itulah sebabnya aku harus berhenti.


Aku tidak tahu apakah aku bisa benar-benar sembuh. Tapi aku ingin mencobanya, meski harus menanggung sepi yang dulu selalu kamu isi. Aku akan belajar tertawa lagi, meski tanpa alasannya. Akan belajar tidur tanpa mengingat wajahmu. Aku akan sembuh, pelan-pelan, walau setiap detiknya terasa seperti menelan pisau kenangan yang belum juga tumpul.


Dan malam ini, aku menulis namamu untuk terakhir kali. Bukan untuk dipanggil, bukan untuk diingat, tapi untuk diikhlaskan. Aku tahu tidak ada kata yang cukup untuk menutup luka ini, tapi aku ingin mencoba melangkah, walau dengan kaki yang masih gemetar. Jika kelak kamu membaca ini, ketahuilah—aku pernah mencintaimu dengan seluruh hidupku, dan kepergianku bukan karena aku ingin hilang, melainkan karena aku ingin hidup lagi.


Kamar Sunyiku, 10 Oktober 2025

Rabu, 08 Oktober 2025

Dan Puisiku Menjadi Sepi

Dan Puisiku Menjadi Sepi

Oleh : Pena_Lingga



Aku pernah menulis puisi tentangmu. Di antara sunyi yang tumbuh dari rindu yang tak sempat pulang, aku mencoba menyusun diksi bagai merangkai doa yang tak lagi kudengar jawabannya. Aku menaburkan kata manis di setiap bait, berharap cinta bisa bersembunyi di baliknya. Tapi ternyata cinta tidak bisa disimpan di dalam kata, sebab setiap huruf hanya mengulang luka yang sama, luka yang kau tinggalkan ketika memilih pergi tanpa menoleh sedikit pun.


Malam menjadi saksi saat aku menulisnya. Tanganku bergetar, mataku buram oleh air yang tak sempat jatuh. Aku menyerahkan puisiku pada langit, meminta agar ia menjaga kenangan yang tersisa. Namun langit pun diam, bagai enggan menerima sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk hancur. Sejak saat itu aku tahu, bahkan malam pun tak sanggup menampung kisah yang tak selesai.


Kata-kata yang dulu terasa hidup kini hanya menjadi abu di dalam dada. Setiap majas yang kucipta hanya menjadi selimut bagi rahasia yang tak lagi hangat. Aku menyembunyikan namamu di antara metafora, berharap Tuhan tak sempat membacanya. Tapi luka selalu menemukan cara untuk menampakkan diri, bahkan dalam doa yang paling sunyi bagai kabut yang enggan sirna.


Aku menulis bukan karena ingin dikenang, tapi karena tak tahu bagaimana caranya berhenti. Setiap bait yang lahir bagai percakapan antara aku dan sepi. Aku berbicara, sepi menjawab dengan diam. Aku menulis, tinta menua bersamaan dengan waktuku yang perlahan kehilangan makna.


Kertas yang dulu putih kini penuh dengan sisa nama yang tak sempat kuhapus. Aku menulis ulang, berusaha mengganti kata “kita” menjadi “aku”, tapi hasilnya selalu sama: masih ada kamu di antara jeda kalimat. Bagai bayangan yang menolak pergi dari ingatan, meski di dunia nyata kau sudah berjalan di sisi yang lain.


Ada saat-saat di mana aku hampir membakar semua puisiku, tapi aku urung. Mungkin karena di sana masih tersisa sebagian diriku yang dulu bahagia. Atau mungkin karena aku takut, jika api itu benar-benar membakar, aku tak punya lagi alasan untuk mengingat.


Aku mulai memahami, bahwa tidak semua yang kita tulis akan menjadi milik kita selamanya. Beberapa tulisan hanya hadir untuk mengajarkan kehilangan. Beberapa nama hanya singgah di antara tanda baca, lalu menghilang bagai angin yang berhenti di tengah musim. Dan kau—adalah kalimat yang tak pernah selesai.


Kini, setiap rima kehilangan arti. Setiap kata yang dulu hidup kini hanya gema yang menggantung di kepala. Aku membaca ulang puisiku dengan mata yang tak lagi basah, tapi dada masih terasa sesak. Mungkin karena di dalam setiap barisnya, masih tersimpan versi diriku yang belum bisa menerima kenyataan.


Aku tak lagi menulis tentang cinta yang ingin pulang. Aku hanya menulis tentang cinta yang telah pergi. Tentang seseorang yang dulu kusebut rumah, tapi kini bahkan tak lagi tahu jalan menuju hatinya sendiri.


Dan ketika akhirnya aku berhenti di satu titik, aku sadar: bukan puisinya yang kehilangan makna, tapi aku yang kehilangan diriku sendiri. Sebab setiap kata yang kutulis ternyata bukan tentangmu, melainkan tentang betapa dalamnya aku tenggelam bagai batu yang jatuh ke dasar kehilangan itu.


Bilik Sunyiku, 8 Oktober 2025

Selasa, 07 Oktober 2025

Layu

 Layu

Oleh : Pena_Lingga



Ada hari-hari di mana segalanya kehilangan napas. Bunga yang dulu mekar kini menunduk dalam diam, menanti reda yang tak kunjung datang. Aku pun kehilangan cahayaku sendiri. Tak ada yang benar-benar salah, hanya sesuatu yang perlahan pudar, warna yang ditelan waktu tanpa perlawanan. Aku tidak marah, tidak pula kecewa. Aku hanya menua dalam perasaan yang mulai menyerah.


Dulu aku percaya cinta dapat menumbuhkan segalanya. Aku menanammu di dalam hatiku dengan keyakinan paling tulus, berharap kamu akan bertahan di sana selamanya. Namun, tidak semua yang dirawat akan hidup. Air mata tak selalu menjelma hujan, dan doa tak selalu menghadirkan musim yang baru. Kini yang tersisa hanya kelopak kering, tanah yang kehilangan daya untuk menumbuhkan apa pun.


Aku mulai belajar bahwa layu bukan akhir. Ia hanya bentuk perpisahan yang diterima oleh alam dengan tenang. Daun yang jatuh tidak menyesali rantingnya, ia hanya tahu bahwa waktunya telah tiba. Begitu pun aku, yang akhirnya mengerti bahwa beberapa hal memang harus berhenti di tengah jalan agar jiwa bisa menemukan jalan lain untuk pulang.


Sunyi merambat di antara malam-malamku dengan lembut. Ia tidak mengganggu, hanya menemani dengan caranya sendiri. Aku duduk di bawah cahaya lampu kamar, menatap bayangan di dinding yang perlahan memanjang. Dalam diam itu, aku berbicara dengan diriku sendiri, mencoba memaafkan segala yang gagal kuselamatkan.


Cinta yang dulu kupeluk erat kini menjadi bentuk samar yang tak memiliki arah. Ia masih ada, namun tak berwujud. Kadang muncul dalam potongan ingatan, dalam suara yang tiba-tiba hadir di telinga, dalam aroma kopi yang menuntun langkah menuju masa lalu. Setelah itu, semuanya kembali tenang — laut menelan batu tanpa suara.


Aku tidak menulis tentangmu lagi. Bukan karena luka telah sembuh, melainkan karena aku ingin memberi jeda agar luka bisa beristirahat. Ada hal-hal yang sebaiknya dibiarkan mati dengan damai, tanpa harus terus disirami kata. Kini aku ingin berhenti menulis tentang kehilangan, dan mulai menulis tentang keberanian untuk tetap hidup setelah kehilangan itu sendiri.


Layu mengajariku bahwa keindahan tidak selalu lahir dari yang mekar. Ada keindahan juga dalam yang pudar, dalam yang menyerah tanpa perlawanan. Dalam keikhlasan itu, cinta menemukan bentuk paling tenangnya — bukan lagi api yang membakar, melainkan abu yang menjaga hangat dengan cara yang lembut.


Aku ingin percaya bahwa di balik kelayuan ini, masih ada kehidupan yang menunggu. Mungkin bukan cinta yang sama, bukan kisah yang serupa, tapi sesuatu yang lebih jujur, lebih ringan, dan lebih tenang. Sesuatu yang tumbuh tanpa keinginan untuk dimiliki, tumbuh karena akhirnya aku paham cara mencintai tanpa rasa takut kehilangan.


Malam ini aku tidak ingin berdoa untukmu lagi. Aku hanya ingin berdoa agar bunga-bunga di dalam dadaku bisa beristirahat. Agar kelayuanku menjadi tanah yang subur bagi sesuatu yang baru — entah kebahagiaan, ketenangan, atau sekadar keberanian untuk melangkah lagi.


Dan bila suatu hari aku tumbuh kembali, biarlah aku mekar tanpa nama siapa pun di kelopakku. Biarlah aku berdiri sendiri, ditiup angin tanpa rasa takut. Sebab kini aku tahu, yang layu pun masih memiliki kehidupan, asal ia rela menjadi tanah bagi dirinya sendiri.



Bilik Paling Sunyi, 7 Oktober 2025

Senin, 06 Oktober 2025

Prolog Dan Epilog Dalam Cerita Kita

 Prolog dan Epilog Dalam Cerita Kita

Oleh : Pena_Lingga


Kita pernah memulai segalanya dengan cara yang manis. Seperti dua penulis yang begitu yakin bahwa setiap kalimat akan berujung bahagia. Kita menulis prolog dengan tinta yang lembut, seolah dunia pun ikut tersenyum menyaksikan betapa mudahnya kita jatuh cinta. Kala itu, aku benar-benar percaya bahwa selamanya adalah kata yang bisa kita perjuangkan bersama.


Namun semakin jauh kita menulis, semakin banyak tanda baca yang melukai. Setiap jeda menjadi ruang bagi prasangka, setiap koma menjadi tempat untuk menunda kejujuran. Kita mulai ragu pada diksi yang dulu kita anggap suci. Kau berubah menjadi kata yang sulit kupahami, dan aku perlahan kehilangan arah dalam paragraf yang seharusnya kutulis dengan penuh cinta.


Aku masih ingat, bagaimana dulu kita menertawakan segala hal kecil. Bahkan hujan pun terasa seperti musik. Tapi entah sejak kapan, tawa kita berubah menjadi debat kecil yang melelahkan. Kau sibuk menebak isi hatiku, sementara aku sibuk menenangkan egoku sendiri. Kita sama-sama lupa bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih mengerti, melainkan siapa yang lebih mau memahami.


Di antara kalimat-kalimat yang retak, aku belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki. Ada kalanya kita harus membiarkan cerita berhenti agar tak semakin menyakiti. Mungkin memang begitulah takdirnya: beberapa kisah tak ditakdirkan untuk berakhir dengan bahagia, tapi untuk mengajarkan bahwa kebahagiaan pun bisa lahir dari kehilangan.


Kita menulis dengan begitu banyak “rasa.” Rasa curiga, rasa takut, rasa kecewa, dan rasa yang tak sempat kita namai. Semuanya bercampur menjadi tinta yang kelam di atas kertas hubungan kita. Aku ingin menghapusnya, tapi jejaknya terlalu dalam. Mungkin karena aku menulis dengan hati, bukan sekadar tangan.


Ada saat-saat di mana aku ingin kembali ke halaman awal. Mengulang bagian di mana kau masih memanggilku dengan nada lembut, di mana senyumku masih menjadi alasanmu bertahan. Tapi aku tahu, waktu tak bisa diputar, dan cerita yang sudah ditulis tak bisa dihapus tanpa meninggalkan bekas luka.


Malam ini aku membuka kembali kisah kita, bukan untuk mengenang, tapi untuk berdamai. Aku membaca setiap kata dengan hati yang lebih tenang. Tidak lagi marah, tidak lagi berharap. Aku hanya ingin tahu di mana sebenarnya kita mulai kehilangan arah, dan mengapa cinta sebesar itu bisa perlahan pudar begitu saja.


Mungkin kesalahan kita adalah terlalu sibuk memperbaiki kalimat yang rusak, tapi lupa memperbaiki makna di dalamnya. Kita menambal kata, tapi membiarkan perasaan hancur di antara jeda. Kita takut kehilangan cerita, padahal yang seharusnya kita perjuangkan adalah rasa yang membuat cerita itu hidup.


Kini epilog kita sudah tertulis. Tidak megah, tidak juga dramatis. Hanya sebaris kalimat sederhana: “Kita berpisah karena sudah sama-sama letih.” Tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan ratusan halaman kenangan yang tak akan pernah kusesali. Sebab aku tahu, pernah ada kamu yang kutulis dengan sungguh-sungguh.


Dan bila suatu hari kau membaca kembali kisah ini, aku ingin kau tahu — aku tak menyesal pernah menulis tentang kita. Meski akhirnya berpisah, aku bersyukur pernah mencintai sedalam itu. Karena dari semua bab yang kita lalui, aku belajar satu hal penting: beberapa kisah memang tidak untuk selamanya, tapi cukup untuk diingat dengan hati yang tenang.



Bilik sunyiku, 6 Oktober 2025

Minggu, 05 Oktober 2025

Jangan Lupa Sembuh, Ya

 Jangan Lupa Sembuh, Ya

Oleh : Pena_Lingga


Kadang, luka tidak selalu berdarah. Ia hanya berdiam di ruang paling sepi dalam diri kita, di tempat yang bahkan suara doa pun enggan singgah. Kita sering pura-pura baik-baik saja, berpura-pura lupa pada sesuatu yang justru diam-diam tumbuh di balik senyum. Malam datang membawa kenangan, lalu memeluk kita dengan dingin yang tak bisa ditolak. Di sanalah kita sadar, ternyata waktu tidak benar-benar menyembuhkan—ia hanya mengajarkan cara untuk hidup berdampingan dengan luka. Tidak apa-apa, kamu pernah berjuang, kamu pernah jatuh, dan itu cukup untuk disebut manusia.


Jangan lupa sembuh, ya. Aku tahu kamu lelah. Lelah berpura-pura kuat di hadapan orang-orang yang tak pernah benar-benar peduli, lelah menenangkan diri sendiri setiap kali dunia terasa tidak berpihak. Kadang kamu ingin menyerah, ingin berhenti saja karena semuanya tampak sia-sia. Tapi dengarlah, kamu akan tiba juga di hari di mana tangismu berhenti bukan karena sudah tak sanggup menangis lagi, melainkan karena kamu akhirnya mampu menerima bahwa tidak semua hal harus dimiliki untuk bisa dicintai.


Sembuh itu tidak berarti melupakan semuanya. Ada nama-nama yang tetap akan bergema di kepalamu, ada wajah yang masih muncul di sela-sela tidurmu. Tapi seiring waktu, semuanya akan perlahan kehilangan rasanya. Kamu akan menatap masa lalu tanpa lagi bergetar, kamu akan tersenyum pada kenangan tanpa harus menangis setelahnya. Dan di hari itu, kamu akan paham bahwa sembuh bukan berarti lupa, melainkan berdamai dengan apa yang pernah menyakitimu begitu dalam.


Dunia tidak selalu berpihak pada hati yang lembut sepertimu. Kadang kamu hanya ingin didengar, tapi malah disalahpahami. Kamu hanya ingin dipeluk, tapi malah dijauhkan. Orang-orang tidak tahu bagaimana beratnya menjadi kamu, menanggung ribuan pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Tapi meski begitu, kamu masih bertahan, kamu masih berjalan di antara serpihan yang kamu pungut satu per satu dari lantai hidupmu yang berserakan. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang bahkan tak semua orang sanggup punya.


Jangan lupa sembuh, ya. Aku tahu kamu sedang berusaha sebaik mungkin, meski dunia tak pernah memberimu jeda. Tidak apa-apa kalau hari ini kamu masih menangis. Tidak apa-apa kalau kamu belum sanggup tersenyum. Sembuh itu tidak datang dalam sehari. Kadang waktu butuh waktu untuk bekerja. Yang penting, kamu tidak berhenti mencoba, tidak berhenti membuka diri pada kemungkinan untuk merasa baik-baik saja lagi, meski pelan, meski tertatih.


Kamu tidak harus terlihat kuat setiap saat. Kekuatan bukan tentang tak pernah menangis, tapi tentang berani mengakui bahwa kamu sedang rapuh dan tetap memilih bangun esok pagi. Kamu berhak diam, berhak menjauh dari keramaian, berhak menenangkan hatimu yang penuh luka. Tapi setelah itu, tolong, bangun lagi. Tidak untuk siapa pun, hanya untuk dirimu sendiri yang sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk pulih.


Sembuh itu seperti fajar—selalu datang setelah malam yang terlalu lama. Ia tak tergesa, tapi pasti. Kamu mungkin merasa dunia terlalu gelap sekarang, tapi percayalah, cahaya sedang berjalan ke arahmu. Ia tidak datang dengan kilau yang besar, tapi lewat hal-hal kecil: udara pagi yang dingin, tawa sahabatmu, atau bahkan tangisanmu sendiri yang mulai terdengar lebih ringan. Semua itu tanda bahwa kamu sedang bergerak menuju sembuh.


Kadang kamu harus kehilangan segalanya agar tahu siapa dirimu sebenarnya. Harus patah agar bisa tumbuh. Harus hancur agar bisa belajar mencintai diri sendiri tanpa perlu pembuktian dari siapa pun. Sakit itu nyata, tapi begitu pula dengan sembuh. Dan mungkin, selama ini semesta hanya ingin kamu berhenti mencari cinta di luar dirimu, dan mulai menanamnya di dalam dada sendiri.


Kalau suatu hari nanti kamu bisa tertawa tanpa alasan, tolong jangan lupakan masa-masa kamu menangis tanpa sebab. Karena dari sanalah kamu belajar, bahwa air mata bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kamu masih punya hati yang hidup, meski berkali-kali disakiti. Luka itu tidak mematikanmu—ia hanya membuatmu lebih peka, lebih dalam, dan lebih mengerti apa artinya kehilangan.


Jadi, jangan lupa sembuh, ya. Dunia masih menunggumu dengan caranya yang sunyi. Masih ada senja yang belum kamu lihat, lagu yang belum kamu dengar, orang baik yang belum kamu temui. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari nanti, kamu akan bangun dan merasa lebih ringan. Dan saat itu terjadi, kamu akan tersenyum kecil dan berkata pada dirimu sendiri, “Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”


Bilik Sunyi, 6 Oktober 2025

Tenang Saja, Aku Tidak Marah

 Tenang Saja, Aku Tidak Marah


Karya : Pena_Lingga


Tenang saja, aku tidak marah. Aku hanya sedang menenangkan riuh di dalam dada—suara yang dulu memanggil namamu kini perlahan hilang, tenggelam bersama waktu yang enggan berhenti. Aku belajar berdamai dengan kehilangan yang tidak meminta izin, dengan kenyataan bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan berakhir di pelukan yang sama. Dulu aku mengira, pertemuan kita adalah rumah bagi dua hati yang tersesat. Nyatanya, itu hanya persimpangan yang kupaksa tampak seperti tempat pulang. Kamu datang membawa hangat, lalu pergi meninggalkan dingin yang tak bisa kuterjemahkan. Dan di antara senyap itu, aku mengerti: tidak semua yang membuat kita bahagia pantas kita perjuangkan selamanya.


Aku pernah berpikir, mungkinkah cinta bisa rusak hanya karena waktu? Dulu segalanya sederhana—kita hanya dua manusia yang saling ingin tanpa alasan besar. Tapi perlahan, segalanya berubah menjadi sunyi yang panjang. Genggaman tanganmu tidak lagi menenangkan, pelukanmu kehilangan makna, dan tawa kita hanyalah gema samar yang berputar di lorong kenangan. Aku berdiri di sana, menatapmu, sambil menahan napas agar tidak terdengar betapa hancurnya aku melihatmu memudar tanpa pamit.


Setiap kali kamu menatap ponselmu lebih lama dari mataku, ada bagian kecil dari diriku yang ikut mati. Aku menunggumu menatapku—sekadar satu pandang untuk memastikan bahwa aku masih berarti. Tapi kamu tidak melakukannya. Aku tahu, hatimu sudah berpindah arah. Mungkin pada seseorang, mungkin pada sesuatu, mungkin pada ketenangan yang tidak kutemukan dalam diriku.


Lucunya, aku tidak marah. Aku hanya diam. Karena aku tahu, marah pun tidak akan membuatmu kembali menjadi orang yang dulu. Aku membaca ulang semua yang pernah kita lalui, mencoba mencari di mana letak salahnya, tapi yang kutemukan hanyalah diriku sendiri—terlalu berharap, terlalu berusaha, terlalu percaya pada janji yang tidak pernah benar-benar kamu ucapkan.


Kamu tahu, diamku bukan tentang kuat. Aku hanya lelah menjelaskan hal-hal yang seharusnya kamu mengerti. Aku sudah terlalu sering menjadi rumah bagi badai yang tidak pernah kamu peringatkan. Aku sudah terlalu sering menenangkan hati yang kamu lukai, terlalu sering berpura-pura paham padahal aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Tapi semua ketenangan itu palsu; ia tumbuh dari luka yang kian dalam.


Aku tidak lagi butuh alasan kenapa kita berubah. Aku hanya ingin tahu, apakah aku pernah benar-benar kamu sayangi, atau aku hanyalah pelarian sementara dari sepi yang menjemukan. Jika memang begitu, biarlah aku berhenti di sini—di titik di mana aku masih bisa mengingatmu tanpa dendam. Aku tidak ingin memaksa sesuatu yang sudah mati untuk tetap bernapas. Cinta tanpa jiwa hanya akan menjadi sisa nyeri yang lambat membunuh.


Aku iri pada diriku yang dulu, yang masih percaya bahwa cinta adalah alasan untuk bertahan. Sekarang aku tahu, cinta kadang datang untuk mengajarkan cara melepaskan tanpa menyalahkan siapa pun. Bahwa kehilangan pun punya caranya sendiri untuk menyembuhkan kita—pelan, tapi pasti. Aku belajar mencintai diriku kembali, dengan luka-luka yang kamu tinggalkan sebagai pengingat bahwa aku pernah berjuang terlalu keras untuk sesuatu yang memang ditakdirkan pergi.


Kini aku mengerti, yang salah bukan kamu, bukan aku, tapi cara kita mencintai yang terlalu ingin mengikat, padahal cinta seharusnya membebaskan. Kita berdua hanya manusia yang sama-sama takut kehilangan, hingga lupa bahwa rasa yang dipaksakan hanyalah penjara. Jadi biarlah kita berhenti di sini, sebelum kenangan berubah menjadi racun yang tak lagi manis untuk dikenang.


Aku tidak dendam. Aku hanya belajar menerima. Bahwa beberapa orang memang hanya ditulis untuk menjadi singgah, bukan rumah. Kamu bagian dari ceritaku yang tidak akan kucoret, meski halaman akhirnya terasa getir. Karena dari kehilanganmu, aku belajar menemukan diriku yang sempat hilang saat mencintaimu terlalu dalam.


Jadi, tenang saja, aku tidak marah. Aku hanya sedang belajar melepaskanmu dengan cara yang paling lembut. Sebab mungkin, satu-satunya bentuk cinta yang tersisa adalah doa yang tidak lagi berharap. Biarlah kamu pergi, biarlah aku sembuh. Sebab beberapa perpisahan tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan dua hati yang sudah terlalu lelah memaksa tetap bersama.


Bilik Sunyi, 6 Oktober 2025

Jumat, 03 Oktober 2025

Anak Yang Tak Pernah di Peluk

 Anak Yang Tak Pernah di Peluk


Karya : Pena_Lingga



Aku tumbuh di dunia yang tidak pernah kupilih. Dunia yang kupijak ini dingin, berisik, penuh tawa palsu yang tak pernah menghangatkan. Sejak kecil aku belajar bahwa kehilangan adalah bahasa pertama yang harus kupahami. Aku kehilangan ibu sebelum aku sempat menghafal aroma tubuhnya, kehilangan ayah sebelum sempat belajar cara menggenggam tangan laki-laki dewasa dengan penuh rasa aman. Aku belajar berjalan di atas tanah tanpa ada yang menuntun. Aku belajar diam tanpa ada yang mendengar.


Orang-orang bilang aku harus tabah, mereka memuji aku karena kuat. Padahal aku ini hanya sebuah rumah kosong yang terus dipaksa berdiri di tengah badai. Aku ini hanya reruntuhan yang diberi nama manusia. Mereka tak pernah tahu berapa kali aku memukul dada sendiri agar sakitnya berhenti. Mereka tak pernah tahu aku belajar tersenyum hanya untuk menipu mataku sendiri di cermin.


Aku sering duduk di pojok malam, menatap langit yang tidak menjawab apa-apa. Aku memanggil Tuhan dengan suara paling lirih, takut kalau-kalau suaraku hanya akan memantul di dinding dadaku sendiri. Aku bertanya: mengapa aku yang harus menanggung ini semua? Mengapa aku harus jadi contoh dari keadilan yang tak pernah hadir? Dunia ini terlalu ramai untuk mendengar rengekanku, tapi terlalu sepi untuk merangkulku.


Setiap kali kulihat anak-anak lain digandeng ayahnya, dicium keningnya oleh ibunya, aku merasakan tubuhku seperti pecahan kaca yang diinjak. Aku sudah terbiasa dengan rasa itu: sakit yang tidak punya nama, luka yang tidak punya warna. Dunia ini bagiku seperti teater tua; lampunya padam, kursinya kosong, dan aku berdiri di panggung sendirian tanpa naskah, tanpa tepuk tangan.


Aku mencoba berdamai dengan semua ini, tapi damai itu cuma kata-kata di buku yang dibaca orang-orang yang punya rumah. Aku hanya punya jalan pulang yang panjang dan gelap. Aku hanya punya bayangan sendiri yang menemaniku berjalan. Aku hanya punya diriku yang bahkan sering kutinggalkan. Dunia ini tak pernah memberiku jeda untuk bernapas, ia hanya tahu cara mengingatkanku bahwa aku ini sendiri.


Aku sering merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Orang-orang menyebutku kuat, tabah, tangguh. Aku ingin tertawa mendengarnya, tapi yang keluar hanya suara patah. Kekuatan yang mereka puji itu hanyalah sisa-sisa keharusan, bukan pilihan. Aku hanya hidup karena aku tidak punya cara lain untuk mati.


Mungkin hidupku memang diciptakan untuk jadi cermin ketidakadilan dunia. Aku bukan tokoh utama yang akan menang di akhir cerita. Aku hanyalah figuran yang harus terluka agar orang lain belajar tentang luka. Dan jika benar begitu, aku sudah melakukannya, aku sudah menyaksikan semua ini sampai perihnya tak lagi punya ujung.


Aku hanya ingin sekali saja dunia ini memelukku tanpa syarat. Aku hanya ingin sekali saja merasa bahwa aku berharga bukan karena aku bertahan, tapi karena aku ada. Tapi sampai saat ini, yang kupunya hanya ruang kosong di dada dan suara kecil yang terus berbisik: "Aku lelah… aku sungguh lelah…"



Bilik Sunyi, 4 Oktober 2025

Rabu, 01 Oktober 2025

Sumpah Kedua Badik Sulawesi Selatan

 ( DIALOG )


Sumpahnya Kedua Badik Sulawesi Selatan


Ditulis oleh: Andi Irwan (Pena_Lingga)





SULTAN HASANUDDIN :


Arung Palakka… ingatkah engkau pada masa ketika kita berdiri sejajar di tanah Sulawesi ini, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara sejiwa? Kita sama-sama lahir dari siri’, darah bangsawan yang meneteskan sumpah untuk menjaga leluhur. Di tanah inilah kita bermain, bertumbuh, dan berjanji bahwa tanah ini tak boleh disentuh oleh tangan asing. Tapi kini, mataku melihatmu di sisi lain, Palakka… kau bukan lagi saudaraku, melainkan seorang raja Bone yang memilih bersandar pada Belanda, menjual darahmu sendiri demi sebuah kebebasan yang semu. Tidakkah engkau tahu betapa perihnya hati saya, melihat saudara seperjuangan kini justru menjadi tombak yang menikam dada Gowa? Saya berdiri di sini dengan luka yang menganga, karena engkau, yang dulu saya sebut saudara, kini menjadi lawan yang membuka pintu bagi penjajah untuk menodai tanah kita.





ARUNG PALAKKA :


Hasanuddin! Jangan kau goreskan kata “pengkhianat” itu ke dada saya, sebab dada saya telah penuh dengan luka yang lebih dalam daripada tuduhanmu. Saya tidak mencintai Belanda, saya tidak pernah menganggap mereka sebagai saudara—tapi Bone, tanah kelahiran saya, telah lama ditindas, diinjak, dan dipaksa tunduk dalam genggaman Gowa. Siri’ bangsa saya terinjak, martabat saya sebagai raja Bone dicabik-cabik. Apakah saya harus diam? Tidak, Hasanuddin. Siri’ Bugis tak mengenal diam. Maka saya bersumpah, taro ada taro gau—kata adalah darah, janji adalah nyawa. Jika saya telah bersumpah membebaskan Bone, maka seluruh jiwa raga saya menjadi taruhan. Belanda hanyalah jalan, bukan tujuan. Tujuan saya adalah kebebasan rakyat saya, meski harus berlumur darah sendiri.





SULTAN HASANUDDIN :


Siri’na pacce bukan sekadar kata, Palakka, tapi napas orang Makassar, darah yang mengalir di setiap nadi kami. Demi siri’ itu, saya memilih berperang melawan Belanda meski tubuh ini harus hancur berkeping-keping. Bagi saya, lebih baik mati di medan perang dengan panji siri’ yang berkibar, daripada hidup menyaksikan tanah leluhur diinjak kaki penjajah. Tapi engkau… engkau yang dulu bersama saya, kini memilih jalan yang berbeda. Engkau menusuk saya dari belakang, membuka jalan bagi musuh yang seharusnya kita lawan bersama. Apa artinya kebebasan Bone jika engkau meraihnya dengan mengorbankan seluruh Sulawesi ke tangan Belanda? Kau berbicara tentang siri’, tapi apakah siri’ masih layak disebut jika dicapai dengan tangan berlumuran pengkhianatan?





ARUNG PALAKKA :


Hasanuddin, jangan kau balikkan makna siri’ hanya untuk kepentinganmu sendiri. Saya memang pernah berdiri di sisimu, saya pernah menyerahkan jiwa dan raga saya untuk Makassar, tapi apa balasannya? Bone tetap saja terhimpit, rakyat saya tetap menangis, siri’ Bugis kau remehkan. Saya dipaksa tunduk, bangsa saya dipaksa mengangguk, dan setiap kali saya menoleh ke tanah saya, saya melihat luka. Maka saya bersumpah: jika badik saya telah keluar dari sarungnya, ia tidak akan kembali sebelum meminum darah. Darah siapa? Darahmu, Hasanuddin! Bukan karena saya benci padamu sebagai manusia, tapi karena sebagai raja saya harus menebus siri’ bangsa saya dengan taruhanku sendiri.





SULTAN HASANUDDIN :


Kalau itu jalan yang kau pilih, Palakka, maka badik saya pula yang akan melawanmu. Saya tidak pernah gentar, karena siri’ Makassar mengajarkan saya: lebih baik tubuh ini terpotong-potong daripada menyerahkan tanah ini ke tangan Belanda. Kau bicara kebebasan, tapi saya melihat hanya seorang raja yang menukar harga diri bangsanya dengan rantai emas penjajah. Kau berdiri di atas penderitaan rakyat Makassar, dan engkau menyebutnya kehormatan? Tidak, Palakka. Saya bersumpah, siri’ saya tidak akan saya biarkan diinjak, olehmu ataupun siapa pun, meski harus saya tebus dengan darah dan nyawa saya sendiri.





ARUNG PALAKKA :


Hasanuddin! Kau buta oleh kebanggaanmu. Kau hanya melihat tanahmu, tapi tidak melihat tangisan rakyat saya. Kau hanya mendengar suara Makassar, tapi tidak pernah mendengar jeritan Bone. Anak-anak Bugis yang kelaparan, perempuan yang dipaksa tunduk pada bayangan kuasamu. Saya lahir untuk menjaga mereka, bukan untuk memuaskan harga dirimu. Maka saya bersumpah di hadapan leluhur saya: siri’ yang terluka harus ditebus, meski dengan perang, meski dengan darah, meski dengan luka di dada. Saya tahu pedangmu tajam, saya tahu engkau gagah, tapi sumpah saya jauh lebih tajam daripada besi mana pun.





SULTAN HASANUDDIN :


Palakka, butakah engkau melihat siapa musuh yang sebenarnya? Belanda-lah yang memecah belah kita, menjadikan darah Makassar dan Bugis sekadar mainan di meja perundingan mereka. Mereka tertawa di atas penderitaan kita, sementara engkau menari di pangkuan mereka dengan alasan kebebasan. Apakah ini yang kau sebut taro ada taro gau? Apa artinya satu kata jika dibangun di atas dusta penjajah? Apakah engkau buta, bahwa semua janji Belanda hanyalah tali yang akan menjerat leher Bone suatu hari nanti?





ARUNG PALAKKA :


Tidak, Hasanuddin! Belanda bukan akar luka saya. Lukaku adalah engkau. Kau, dengan segala kebesaran Gowa-mu, yang membuat Bone hanya menjadi bayang-bayang. Siri’ Bugis terinjak, dan saya tidak akan tinggal diam. Kau boleh menyebut saya budak Belanda, tapi saya tahu siapa diri saya. Saya adalah raja Bone, dan taro ada taro gau adalah jantung saya. Satu kata adalah satu jiwa, dan kata itu adalah kebebasan Bone. Jika itu harus saya lakukan dengan melawanmu, maka biarlah begitu adanya.





SULTAN HASANUDDIN :


Kalau begitu, engkau telah memilih jalan yang gelap, Palakka. Saya berjuang bukan hanya untuk Makassar, tapi untuk seluruh Sulawesi. Siri’ saya tidak membiarkan satu jengkal pun tanah ini jatuh ke tangan Belanda. Jika engkau masih memilih melawan, maka biarlah darah kita yang menjadi tinta sejarah. Saya tidak akan mundur, meski harus berhadapan denganmu, meski saya tahu darah ini akan tumpah.





ARUNG PALAKKA :


Saya tidak gentar pada sejarah, Hasanuddin. Sejarah hanyalah catatan, tapi sumpah saya adalah hidup saya. Saya hanya takut jika kata-kata saya tidak saya tepati. Saya lahir dengan janji Bugis yang keras: lebih baik mati di ujung badik daripada hidup mengingkari kata. Maka saya berdiri di sini, bukan sebagai saudara, bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai musuh yang menantangmu. Jika hari ini harus menjadi akhir dari hidup saya, maka biarlah saya mati dengan sumpah saya di dada.





SULTAN HASANUDDIN :


Sumpahmu hanyalah bayang-bayang, Palakka, jika dilakukan dengan darah saudara sendiri. Siri’na pacce menuntunku, mengajarkanku arti hidup dan mati. Saya rela tubuh saya hancur, saya rela Makassar terbakar, asalkan rakyat saya tidak menyerah pada Belanda. Saya tidak akan pernah memilih jalan yang menukar kehormatan dengan kepalsuan. Siri’ adalah kehidupan, bukan sekadar gengsi seorang raja.





ARUNG PALAKKA :


Dan saya pun rela menjadi musuhmu, Hasanuddin, jika itu satu-satunya jalan untuk mengembalikan martabat Bone. Siri’ kami telah lama dipermalukan, dan saya tidak akan membiarkan itu berlangsung lebih lama lagi. Saya tahu Belanda bukan sahabat, tapi saya menggunakannya sebagai batu loncatan. Setelah Bone bebas, biarlah saya menanggung segala kutukan, segala caci. Yang penting siri’ rakyat saya kembali terangkat.





SULTAN HASANUDDIN :


Palakka, engkau terlalu percaya pada racun kata-kata Belanda. Mereka hanya akan menjadikanmu alat, dan setelah selesai, engkau akan dibuang seperti sisa makanan. Bone akan tetap menderita, sama seperti kerajaan lain yang mereka kuasai. Tapi saya, meski mungkin tak lagi hidup, akan mati dengan siri’ yang utuh di dada saya, bukan dengan pengkhianatan yang menodai tangan saya.





ARUNG PALAKKA :


Kalau itu jalanmu, maka silakan engkau mati dengan kebanggaanmu. Saya pun akan mati dengan sumpah saya. Taro ada taro gau, Hasanuddin. Saya tidak pernah mundur dari kata-kata saya. Saya tidak pernah menjilat ludah saya sendiri. Jika hari ini badik saya haus darah, maka darahmu yang akan menenangkannya.





SULTAN HASANUDDIN :


Kalau begitu, mari kita buktikan di medan perang, Palakka. Biarlah pedang dan badik menjadi saksi, bahwa siri’ bukan sekadar kata-kata indah, melainkan darah yang harus ditebus. Saya tidak akan mundur, meski itu berarti nyawa saya harus menjadi taruhan terakhir.





ARUNG PALAKKA :


Dan darah itu akan saya tagih darimu, Hasanuddin. Badik saya tidak akan kembali ke sarungnya sebelum meminum darahmu. Siri’ saya adalah pedang saya, sumpah saya adalah badik saya. Kau dan saya, hanya ada satu yang akan tetap berdiri.





SULTAN HASANUDDIN :


Jika itu niatmu, maka saya pun tidak gentar. Lebih baik mati di tanganmu, Palakka, daripada hidup menyaksikan tanah saya dipijak Belanda dengan restu mu. Siri’ saya lebih berharga daripada napas yang masih bertahan.





ARUNG PALAKKA :


Lebih baik saya berdosa padamu, Hasanuddin, daripada berdosa pada rakyat Bone. Saya lahir bukan untuk mengabdi pada Gowa, melainkan untuk menjaga siri’ rakyat saya. Jika hari ini saya harus menghunus badik padamu, itu bukan karena saya benci padamu sebagai manusia, melainkan karena saya harus menepati sumpah saya sebagai raja.





SULTAN HASANUDDIN :


Maka biarlah darah kita menulis sejarah, Palakka. Biarlah bumi Sulawesi menjadi saksi bahwa dua saudara bertemu sebagai musuh, bukan karena saling benci, tapi karena saling mempertahankan siri’ dengan jalannya masing-masing. Saya tidak akan pernah mundur.





ARUNG PALAKKA :


Dan saya pun tidak akan mundur, Hasanuddin. Karena taro ada taro gau bukan sekadar kata, tapi nyawa saya sendiri. Jika harus saya tutup mata hari ini, saya akan menutupnya dengan badik di tangan, bukan dengan sumpah yang diingkari.





📜 Kamis, 2 Oktober 2025


@---------------PENJELASAN PENULIS--------------@

Naskah ini terinspirasi dari kisah nyata kedua tokoh raja di tanah Sulawesi selatan ( Makassar dan Bugis ). Namun dialeg ini merupakan fiksi yang saya buat, bertujuan untuk menghidupkan jiwa dan roh kedua legenda tersebut.



Salah Paham Yang Paling Memalukan

Salah Paham yang Paling Memalukan

Karya : Pena_Lingga


Salah satu hal paling memalukan dalam hidup ini bukan terjatuh di hadapan banyak orang, bukan pula ketika lidah keliru menyebut nama. Yang benar-benar melukai adalah salah paham dalam dada: mengira diri dicintai, padahal kita hanyalah persinggahan singkat yang tidak pernah diingat setelahnya. Luka itu sunyi, tapi meninggalkan malu yang tak terampuni.


Ada tatapan yang kita sangka rindu, padahal hanyalah kebetulan mata bertemu. Ada senyum yang kita kira tanda kasih, padahal hanya sekadar basa-basi. Ada sapa yang kita rawat dalam ingatan, padahal bagi mereka itu hanyalah rutinitas. Betapa rapuh hati yang sedang mencari cinta, mudah sekali tertipu oleh hal-hal kecil yang tidak pernah dimaksudkan.


Kita menulis doa dengan nama yang tidak pernah menuliskan kita di dalam doanya. Kita menunggu pesan yang bagi mereka tidak lebih dari percakapan hampa. Kita berdebar menanti balasan, padahal bagi mereka, hadir atau tidaknya tidak membawa arti. Dan ketika kesadaran itu datang, malu menghantam lebih keras daripada kecewa.


Salah paham itu tumbuh dalam dada yang terlalu subur. Kita yang menyiram dengan perhatian, kita yang menanam harapan, lalu kita pula yang merasakan layu. Yang mekar hanyalah kekecewaan, baunya getir, warnanya kelam. Tidak ada yang benar-benar menipu kita, kecuali diri sendiri yang terlalu rajin merawat ilusi.


Cinta yang kita kira nyata hanyalah gema dari keinginan yang terlalu nyaring. Kita membacakan puisi pada bayangan, mengartikan senyum yang tidak pernah berarti, merasa dibutuhkan padahal hanya numpang lewat. Dan akhirnya, kita tersungkur di tanah harapan yang gersang, menyesali rasa yang tumbuh tanpa persetujuan siapa pun.


Rasa tertipu itu menusuk lebih dalam ketika kita sadar tidak ada janji yang pernah terucap. Tidak ada kata cinta yang pernah dijanjikan, tidak ada rumah yang pernah ditawarkan. Semua yang tumbuh hanyalah ciptaan pikiran, mimpi yang kita yakini sendiri hingga pecah menjadi malu.


Mengapa hati ini begitu mudah terjerat hanya oleh sedikit kebaikan? Mengapa kita cepat percaya bahwa cahaya kecil adalah rumah yang menunggu untuk disinggahi? Tidak semua cahaya memberi jalan, sebagian hanya kilatan yang padam dalam sekejap, meninggalkan kita dalam gelap lebih pekat.


Betapa memalukan menaruh harapan di pintu yang tidak pernah terbuka. Kita mengetuk berkali-kali, menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Kita berdiri terlalu lama di depan rumah kosong, hingga akhirnya sadar bahwa sejak awal memang tidak ada siapa pun di dalam. Malu itu menusuk, menelanjangi kelemahan hati yang terlalu berharap.


Pelajaran yang tertinggal adalah jangan pernah memberi arti pada tanda-tanda kecil. Jangan anggap tatapan, senyum, atau kata sederhana sebagai cinta. Ada orang yang hanya lewat, memberi sedikit hangat, lalu menghilang tanpa niat tinggal. Kita harus belajar melepaskan, sebab tidak semua yang datang layak dipertahankan.


Dan pada akhirnya, yang paling memalukan bukan sekadar karena merasa dicintai. Yang paling memalukan adalah karena kita percaya pada kebohongan yang kita ciptakan sendiri. Kita mendirikan panggung, menyalakan cahaya, menulis naskah penuh harapan, lalu menangis ketika semua berakhir tanpa penonton. Hanya kita, berdiri sendirian, menatap reruntuhan cerita yang tak pernah benar-benar dimulai.


Bukit Raja Ampat, 3726 MDPL, 2 Oktober 2025.

Berlomba Untuk Apa ?

 


Berlomba untuk Apa?

Karya : Pena_Lingga


Kita ini sebenarnya tidak sedang berlomba menjadi manusia paling beruntung. Hidup tidak pernah meminta kita untuk menjadi yang paling sempurna, atau terlihat paling kuat. Hidup hanya menuntut kita bertahan, meski kadang tertatih. Tapi entah kenapa, banyak yang lupa akan hal itu. Mereka sibuk bersaing, saling menjatuhkan, seolah-olah dunia ini hanya akan memberi tempat bagi mereka yang berhasil menutupi semua kekurangannya.


Ada banyak orang yang tersenyum di depanmu, tapi diam-diam merasa puas jika melihatmu jatuh. Ada yang tampak peduli, tapi sebenarnya menunggu celah untuk membuatmu terlihat buruk. Rasanya melelahkan hidup di tengah orang-orang yang sibuk memakai topeng. Bukan karena mereka benar-benar baik, tapi karena mereka takut terlihat lemah.


Padahal, kita semua tahu hidup ini sudah cukup berat. Setiap orang punya beban yang tidak ringan. Ada yang berjuang melawan sepi, ada yang bergulat dengan kehilangan, ada yang menahan kecewa yang tak pernah selesai. Lalu, mengapa kita masih tega menambah luka satu sama lain? Untuk apa menjatuhkan orang lain, jika sebenarnya kita pun tidak lebih kuat?


Kadang aku bertanya dalam hati, apa gunanya terlihat sempurna? Apa gunanya tampil lebih baik dari orang lain, kalau ternyata di dalam hati kita tetap merasa kosong? Apa gunanya menutupi rapuh, kalau setiap malam kita tetap berhadapan dengan rasa hancur yang sama? Kesempurnaan itu semu, dan yang mengejarnya tidak pernah benar-benar merasa cukup.


Kita ini sama-sama manusia. Sama-sama pernah lelah, sama-sama pernah gagal, sama-sama pernah merasa tidak berharga. Mengapa kita tidak bisa lebih saling mengerti? Mengapa kita lebih sering saling meremehkan? Padahal, kita semua sedang berjuang dengan cara masing-masing. Kita semua sedang bertahan agar tidak runtuh, meski kadang hampir menyerah.


Aku sering merasa dunia ini semakin kehilangan pelukannya. Orang lebih suka membuat orang lain kalah daripada saling menopang. Mereka lebih senang terlihat menang meski harus melukai. Mereka lebih bangga terlihat bahagia, meski di dalam hatinya penuh retakan. Hidup jadi seperti panggung di mana semua orang berusaha menampilkan wajah terbaik, walau di baliknya penuh tangis yang disembunyikan.


Padahal tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sempurna. Setiap kita punya kekurangan, punya rahasia yang tidak ingin orang lain tahu. Setiap kita punya luka yang kita sembunyikan. Jadi, untuk apa saling menjatuhkan, kalau pada akhirnya kita sama-sama rapuh? Untuk apa menertawakan kelemahan orang lain, jika kelemahan kita sendiri hanya belum terlihat?


Aku ingin sekali dunia ini berbeda. Dunia di mana kita tidak lagi saling membandingkan, tapi justru saling menguatkan. Dunia di mana luka bukan alasan untuk menjauh, melainkan alasan untuk lebih dekat. Dunia di mana tidak ada yang takut terlihat lemah, karena semua orang tahu bahwa lemah itu wajar. Dunia yang membuat kita tidak perlu bersembunyi hanya untuk diterima.


Bukankah akan lebih indah jika kita bisa berjalan bersama tanpa saling mendorong? Bukankah lebih menenangkan jika kita bisa saling percaya, bahwa kita tidak akan ditinggalkan saat sedang jatuh? Hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan dengan iri hati dan kebencian. Kita terlalu rapuh untuk saling melukai. Yang kita butuhkan hanyalah sedikit pengertian, sedikit kesabaran, dan keberanian untuk melihat manusia lain sebagai teman seperjalanan, bukan musuh.


Mungkin pada akhirnya, yang membuat hidup terasa benar-benar berarti bukanlah kesempurnaan yang kita tunjukkan, melainkan kebaikan kecil yang kita bagikan. Bukan tentang siapa yang paling beruntung, tapi siapa yang tidak kehilangan hatinya meski dunia sering kali membuatnya hancur. Karena bertahan dengan hati yang masih tulus jauh lebih berharga daripada terlihat sempurna namun penuh kepalsuan.


Bilik Sunyi, 1 Oktober 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...