Pamit, Untuk Sembuh
Oleh: Pena_Lingga
Aku menulis ini dengan tangan yang gemetar. Mungkin bukan karena dingin, tapi karena beratnya menahan perasaan yang sudah lama tidak bisa diucapkan. Ada sesuatu dalam diriku yang patah perlahan, tanpa suara, tanpa tanda, hanya terasa sesak di dada. Aku tidak ingin pergi dengan kebencian, tapi juga tidak ingin tinggal dengan luka yang terus bertambah. Hari ini, aku memilih untuk tidak lagi berjuang demi seseorang yang bahkan tidak ingin aku bertahan.
Aku pernah percaya bahwa kamu adalah rumah. Tempat di mana aku bisa kembali setelah segala badai. Tapi aku keliru—aku hanya menumpang di hatimu yang tak pernah benar-benar memberiku ruang. Setiap kali aku mencoba mengetuk, kamu menutup pintu dengan senyum palsu yang kini terasa menyesakkan. Aku tetap berdiri di depanmu, berharap kamu menoleh, tapi kamu selalu sibuk mencintai yang lain.
Aku pernah menunggu, berhari-hari, berbulan-bulan, dengan keyakinan bodoh bahwa kamu akan sadar. Bahwa aku juga lelah. Bahwa aku juga ingin disembuhkan. Tapi kamu terlalu tenang dalam diam, seolah tidak pernah kehilangan apa pun. Sementara aku—berjuang dengan perasaan yang perlahan membunuhku dari dalam. Aku berteriak dalam hati, tapi kamu tak mendengar apa-apa.
Rasanya aneh, menyadari bahwa seseorang yang dulu kau cintai kini tak lagi menoleh saat namamu terucap. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu berjalan searah. Kadang, yang satu masih berlari mengejar, sementara yang lain sudah lama berhenti peduli. Dan aku benci menjadi yang tertinggal, tapi lebih menyakitkan lagi menyadari bahwa aku yang terus memaksa tinggal.
Malam-malamku kini penuh dengan percakapan yang tak pernah sampai. Aku berbicara padamu dalam doa, dalam diam, dalam setiap bait yang kutulis di antara tangisan yang kutahan. Kau mungkin sedang tertawa dengan orang lain, sementara aku masih sibuk menenangkan hatiku sendiri agar tidak hancur lagi malam ini. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya merasa cukup untuk seseorang yang tidak pernah melihat perjuanganku.
Ada banyak hal yang tidak akan aku ceritakan lagi padamu. Tentang hari-hari yang aku lewati dengan air mata, tentang seberapa keras aku berusaha mengerti meski tak pernah dimengerti. Aku menulis surat-surat panjang yang tak pernah terkirim, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiranmu. Tapi semua berakhir di tumpukan kertas yang kini kusimpan di bawah bantal—tempat segala hal yang tidak pernah selesai.
Aku menyesal pernah mencintaimu dengan sedalam ini. Menyesal karena telah menjadikanmu pusat dari segala hal yang membuatku hidup. Aku lupa bahwa diriku juga butuh diselamatkan. Dan sekarang, yang tersisa hanyalah reruntuhan rasa—aku berdiri di tengahnya, menatap semua yang pernah kita bangun, lalu membiarkannya hancur dengan air mata yang tidak lagi bisa kutahan.
Jika kamu tahu seberapa dalam kecewaku, mungkin kamu akan mengerti mengapa aku harus pergi. Aku tidak pergi karena ingin melupakan, tapi karena aku tahu, bertahan hanya akan membuatku mati perlahan. Kamu tidak kehilangan apa pun dengan kepergianku, tapi aku kehilangan diriku sendiri setiap kali memaksa tetap di sisimu. Itulah sebabnya aku harus berhenti.
Aku tidak tahu apakah aku bisa benar-benar sembuh. Tapi aku ingin mencobanya, meski harus menanggung sepi yang dulu selalu kamu isi. Aku akan belajar tertawa lagi, meski tanpa alasannya. Akan belajar tidur tanpa mengingat wajahmu. Aku akan sembuh, pelan-pelan, walau setiap detiknya terasa seperti menelan pisau kenangan yang belum juga tumpul.
Dan malam ini, aku menulis namamu untuk terakhir kali. Bukan untuk dipanggil, bukan untuk diingat, tapi untuk diikhlaskan. Aku tahu tidak ada kata yang cukup untuk menutup luka ini, tapi aku ingin mencoba melangkah, walau dengan kaki yang masih gemetar. Jika kelak kamu membaca ini, ketahuilah—aku pernah mencintaimu dengan seluruh hidupku, dan kepergianku bukan karena aku ingin hilang, melainkan karena aku ingin hidup lagi.
Kamar Sunyiku, 10 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar