Dan Puisiku Menjadi Sepi
Oleh : Pena_Lingga
Aku pernah menulis puisi tentangmu. Di antara sunyi yang tumbuh dari rindu yang tak sempat pulang, aku mencoba menyusun diksi bagai merangkai doa yang tak lagi kudengar jawabannya. Aku menaburkan kata manis di setiap bait, berharap cinta bisa bersembunyi di baliknya. Tapi ternyata cinta tidak bisa disimpan di dalam kata, sebab setiap huruf hanya mengulang luka yang sama, luka yang kau tinggalkan ketika memilih pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Malam menjadi saksi saat aku menulisnya. Tanganku bergetar, mataku buram oleh air yang tak sempat jatuh. Aku menyerahkan puisiku pada langit, meminta agar ia menjaga kenangan yang tersisa. Namun langit pun diam, bagai enggan menerima sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk hancur. Sejak saat itu aku tahu, bahkan malam pun tak sanggup menampung kisah yang tak selesai.
Kata-kata yang dulu terasa hidup kini hanya menjadi abu di dalam dada. Setiap majas yang kucipta hanya menjadi selimut bagi rahasia yang tak lagi hangat. Aku menyembunyikan namamu di antara metafora, berharap Tuhan tak sempat membacanya. Tapi luka selalu menemukan cara untuk menampakkan diri, bahkan dalam doa yang paling sunyi bagai kabut yang enggan sirna.
Aku menulis bukan karena ingin dikenang, tapi karena tak tahu bagaimana caranya berhenti. Setiap bait yang lahir bagai percakapan antara aku dan sepi. Aku berbicara, sepi menjawab dengan diam. Aku menulis, tinta menua bersamaan dengan waktuku yang perlahan kehilangan makna.
Kertas yang dulu putih kini penuh dengan sisa nama yang tak sempat kuhapus. Aku menulis ulang, berusaha mengganti kata “kita” menjadi “aku”, tapi hasilnya selalu sama: masih ada kamu di antara jeda kalimat. Bagai bayangan yang menolak pergi dari ingatan, meski di dunia nyata kau sudah berjalan di sisi yang lain.
Ada saat-saat di mana aku hampir membakar semua puisiku, tapi aku urung. Mungkin karena di sana masih tersisa sebagian diriku yang dulu bahagia. Atau mungkin karena aku takut, jika api itu benar-benar membakar, aku tak punya lagi alasan untuk mengingat.
Aku mulai memahami, bahwa tidak semua yang kita tulis akan menjadi milik kita selamanya. Beberapa tulisan hanya hadir untuk mengajarkan kehilangan. Beberapa nama hanya singgah di antara tanda baca, lalu menghilang bagai angin yang berhenti di tengah musim. Dan kau—adalah kalimat yang tak pernah selesai.
Kini, setiap rima kehilangan arti. Setiap kata yang dulu hidup kini hanya gema yang menggantung di kepala. Aku membaca ulang puisiku dengan mata yang tak lagi basah, tapi dada masih terasa sesak. Mungkin karena di dalam setiap barisnya, masih tersimpan versi diriku yang belum bisa menerima kenyataan.
Aku tak lagi menulis tentang cinta yang ingin pulang. Aku hanya menulis tentang cinta yang telah pergi. Tentang seseorang yang dulu kusebut rumah, tapi kini bahkan tak lagi tahu jalan menuju hatinya sendiri.
Dan ketika akhirnya aku berhenti di satu titik, aku sadar: bukan puisinya yang kehilangan makna, tapi aku yang kehilangan diriku sendiri. Sebab setiap kata yang kutulis ternyata bukan tentangmu, melainkan tentang betapa dalamnya aku tenggelam bagai batu yang jatuh ke dasar kehilangan itu.
Bilik Sunyiku, 8 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar