MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU?
Karya : Pena_Lingga
Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit,
dan malam menanak sunyi di periuk yang tak bernama,
masihkah tanganmu mengenal tubuh kecil
yang dahulu kau timang di antara doa dan air mata?
Mak, apabila embun telah pandai menyimpan rahsia,
dan fajar kehilangan alamat untuk pulang,
masihkah kudapati teduh pada lekuk lenganmu,
tatkala seluruh teduh telah menjadi bayang-bayang?
Mak, anakmu ini telah lama mengaji pada jalan,
menghafal bahasa duri, menafsir isyarat batu,
setiap tapak menyimpan aksara yang tak terbaca,
setiap diam menjelma kitab yang enggan bersuara.
Aku pernah mengetuk pintu langit dengan jemari doa,
namun yang turun hanya kabut dari halaman yang tua.
Lalu kurangkai segala resah menjadi tasbih malam,
satu demi satu kugulirkan, sampai makna kehilangan nama.
Semesta kadangkala seperti saudagar tua, Mak,
menjual mimpi dengan timbangan yang retak,
memberi sekerat cahaya lalu menagih seluruh malam,
seakan hidup ini hutang yang tak pernah lunas dibayar.
Aku pun belajar berbicara kepada bayang sendiri,
bertanya kepada cermin yang wajahnya semakin asing.
Ia menjawab dengan senyum yang tak mempunyai bibir,
lalu menyuruhku membaca apa yang sengaja dilupakan waktu.
Pada sepertiga malam yang lampunya hampir padam,
aku terjaga di antara tidur dan sebuah negeri yang asing.
Jasadku diam di bawah selimut kesunyian,
sedang fikiranku mengembara membawa lentera tanpa api.
Di lorong itu, Mak, aku melihat ribuan pintu,
setiap satunya menyimpan nama yang pernah kupanggil rumah.
Aku mengetuk satu persatu dengan sisa suara,
namun yang menjawab hanya gema yang mengenal kepulanganku.
Barangkali hidup sedang menulis namaku dengan dakwat malam,
agar aku belajar membaca sebelum halaman ditutup angin.
Barangkali segala luka hanyalah aksara yang belum selesai,
dan segala kehilangan cuma koma yang terlalu panjang
dalam sebuah kalimat yang belum sampai kepada noktah.
Lalu apabila langkahku kelak kembali ke halamanmu, Mak,
jangan tanyakan dari negeri mana mataku membawa mendung.
Bentangkan sahaja kedua lenganmu seperti dahulu,
biarkan anakmu duduk sebentar di bawah bayang kasihmu.
Kerana setelah jauh mengembara di dalam riuh dunia,
aku akhirnya mengerti—
ada rumah yang tak pernah berpintu,
namun selalu terbuka bagi seorang anak
yang terlalu lama mencari jalan untuk pulang.
Morowali, 7 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar