Rabu, 13 Mei 2026

Aku Tumbuh Tanpa Bahu Juga Rumah

 Aku Tumbuh Tanpa Bahu Juga Rumah

Oleh : Pena_Lingga


Aku pernah menjadi anak kecil

yang percaya semua luka akan sembuh

asal pulang dan dipeluk ibu.

Tapi hidup terlalu cepat mengajariku

bahwa tidak semua anak punya kesempatan

untuk tinggal lebih lama di dalam hangat keluarga.


Ayahku pergi saat aku masih terlalu kecil

untuk mengerti arti kehilangan.

Lalu ibu menyusul beberapa tahun setelahnya,

meninggalkan sunyi yang menetap

di setiap sudut hidupku.

Sejak hari itu, aku belajar

bahwa ada rindu yang tidak akan selesai

meski waktu berjalan sangat jauh.


Aku tumbuh bersama keadaan.

Belajar dewasa dari kerasnya kehidupan,

bukan dari nasihat siapa pun.

Tidak ada yang membangunkanku saat pagi,

tidak ada yang menungguku pulang,

dan tidak ada tempat bercerita

saat dunia terasa terlalu melelahkan.


Di usia ketika banyak orang masih bergantung

pada keluarganya,

aku sudah sibuk bertahan hidup.

Menghitung uang receh sebelum makan,

menahan lapar agar esok masih bisa berjalan,

dan berpura-pura kuat

di depan banyak manusia

yang bahkan tidak tahu

betapa lelahnya aku hidup.


Kadang aku iri.

Iri kepada mereka yang masih bisa mendengar

suara ibunya memanggil dari dapur,

atau nasihat ayah yang terdengar sederhana

tetapi diam-diam menenangkan hati.

Sedangkan aku,

bahkan mulai lupa

bagaimana rasanya memiliki rumah

yang benar-benar membuat tenang.


Aku pernah mencoba menjadi kuat.

Aku pernah meyakinkan diriku

bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi semakin besar aku tumbuh,

semakin aku sadar

bahwa dunia tidak selalu ramah

kepada seseorang yang berjalan sendirian.


Dan kini aku hanya seseorang

yang terus hidup dengan hati yang setengah kosong.

Tetap tertawa meski sering hancur.

Tetap berjalan meski tidak tahu

harus pulang ke mana.

Sebab pada akhirnya,

kehilangan terbesar dalam hidupku

bukan tentang kematian mereka—

tetapi tentang diriku

yang ikut hilang bersama kepergian itu.



Bilik Duka, 13 Mei 2026

Sabtu, 09 Mei 2026

Tentang Seseorang Yang Pernah Ingin Menetap

 

Tentang Seseorang Yang Pernah Ingin Menetap
Karya : Pena_Lingga

Untuk saat ini, aku kembali mengasingkan diri pada kalimat “setia”. Kata itu terlalu sering datang membawa janji, lalu pulang meninggalkan bunyi pintu yang tertutup perlahan. Aku sudah terlalu akrab dengan langkah-langkah yang memilih pergi ketika hatiku baru saja belajar menetap. Dan lagi-lagi, aku hanya menjadi pemeran figuran di cerita yang bahkan tidak memberiku ruang untuk tinggal lebih lama.

Barangkali semesta memang gemar mempertemukan aku dengan orang-orang yang pandai singgah, namun tidak pernah berniat menetap. Mereka datang membawa hangat, lalu mengubahnya menjadi dingin yang sulit dijelaskan. Sedangkan aku, masih berdiri di tempat yang sama, memungut sisa percakapan yang telah kehilangan suara.

Kamu tidak perlu khawatir prihal caraku sembuh. Aku sudah terlalu terbiasa menjahit huruf-huruf “A. K. U.  K. E. C. E. W. A.” agar kembali merapat tanpa jeda. Meski terkadang, ada beberapa huruf yang tetap memilih renggang dan membuat dadaku kembali terbata saat mengeja rasa kehilangan.

Kini hanya ada ruang yang dipenuhi gema langkah-langkah asing, serta percakapan yang terus terulang di dalam kepala tanpa pernah benar-benar selesai. Kesepian rupanya memang pandai duduk paling dekat dengan seseorang yang terlalu sungguh dalam mencintai. Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan air mata; terkadang ia hadir sebagai perasaan hampa yang perlahan menggerogoti isi hati, hingga seseorang lupa bagaimana caranya merasa utuh kembali.

Aku pernah percaya bahwa ketulusan mampu membuat seseorang bertahan lebih lama. Namun waktu memperlihatkan hal lain; bahwa hati manusia terkadang lebih mudah tergoda oleh sesuatu yang tidak perlu diperjuangkan. Dan aku, kembali kalah oleh hal-hal yang bahkan tidak lebih baik dariku.

Ada bagian dari diriku yang perlahan berubah menjadi sunyi. Bukan sebab aku tidak ingin berbicara, melainkan karena terlalu banyak kalimat yang akhirnya sia-sia. Maka aku memilih diam, lalu membiarkan luka tumbuh pelan di antara kata-kata yang tidak sempat menemukan jawaban.

Jika suatu hari nanti kamu menemuiku lagi, mungkin aku sudah berbeda. Tidak lagi mudah percaya pada ucapan manis, tidak lagi cepat luluh pada tatapan yang sementara. Aku akan menjadi seseorang yang lebih hati-hati dalam membuka pintu, sebab terlalu banyak orang datang hanya untuk memastikan bahwa luka lama belum benar-benar sembuh.

Lain kali, kepastian akan menemuimu pada episode halaman tertentu di buku yang menulis bahagiaku. Di sana ada satu kalimat sederhana yang sengaja kutinggalkan untukmu: “KAU AKAN MENANGIS.” Bukan sebagai kutukan, melainkan gema dari seseorang yang pernah kamu abaikan dengan begitu mudah.

Sebab pada akhirnya, kehilangan akan mengajarkanmu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang benar-benar sungguh ingin menetap. Dan ketika hari itu datang, mungkin kamu akan memahami mengapa seseorang bisa begitu hancur hanya karena diperlakukan setengah hati.

Sementara itu, biarkan aku kembali akrab dengan sunyi. Menyusun ulang hati yang pernah runtuh tanpa suara, lalu mengubur kecewa di tempat paling dalam agar tidak lagi terlihat siapa-siapa. Dan apabila suatu hari nanti kamu mendengar namaku disebut dengan nada paling tenang, percayalah… itu bukan karena lukaku telah sembuh. Aku hanya sudah terlalu lelah menjelaskan betapa hancurnya seseorang yang pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.
“SEBAB ORANG YANG PALING DALAM MENYAYANGI,
biasanya adalah orang yang paling lama belajar
membiasakan diri dengan kehilangan.”

Alas sorban, 9 Mei 2026

Jumat, 08 Mei 2026

Seni Paling Sulit Kupahami


Seni Paling Sulit Kupahami
Karya : Pena_Lingga

Sejauh ini, seni paling rumit yang pernah kutemui ialah duduk berdua dengan luka sendiri, tanpa suara siapa pun, tanpa bahu mana pun. Hanya ada dada yang sesak dan kenangan yang terus mengetuk dari arah paling sunyi. Aku mencoba mematikan ingatan, namun ia tumbuh di kepalaku dengan cara yang lebih tenang dan lebih kejam.

Beberapa kehilangan tidak datang untuk dipahami. Ia hanya tinggal, menetap, lalu mengubah seseorang menjadi lebih pendiam dari biasanya. Aku masih berjalan ke mana-mana, masih menyapa banyak orang, namun ada bagian dari diriku yang tertinggal pada hari ketika semua itu berakhir.

Malam hari selalu punya cara buruk untuk membuka kembali luka lama. Di jam-jam ketika semua orang terlelap, aku justru sibuk mengingat hal-hal kecil yang seharusnya sudah selesai. Cara seseorang memanggil namaku, tawa pendek di sela percakapan, juga janji-janji sederhana yang akhirnya gugur sebelum sempat tumbuh.

Aku pernah mencoba mengikhlaskan dengan cara diam. Tidak menghubungi, tidak mencari kabar, tidak mengetuk pintu yang sudah ditutup rapat. Namun diam ternyata tidak menyembuhkan apa-apa. Ia hanya membuat kesedihan berpindah tempat; dari mulut menuju kepala, dari tangis menuju dada.

Pernah di suatu sore yang biasa, langkahku tiba-tiba terasa berat hanya karena sebuah lagu terdengar dari kejauhan. Tidak ada yang benar-benar terjadi saat itu, namun kenangan datang tanpa permisi dan membuat hatiku kembali berantakan dengan cara yang paling sunyi.

Aku mulai mengerti bahwa patah hati bukan soal ditinggalkan. Patah hati ialah keadaan ketika seseorang masih hidup, namun kehilangan arah untuk pulang kepada dirinya sendiri. Semua terasa asing. Bahkan cermin pun tak lagi mampu memperkenalkan siapa diriku setelah kehilangan itu datang.

Dan lucunya, aku masih menyimpan harapan kecil yang bahkan tak berani kuucapkan keras-keras. Harapan yang bertahan di antara kecewa dan sadar diri. Harapan yang tetap hidup meski berkali-kali tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali.

Sejauh ini, aku belum menemukan cara yang benar untuk sembuh. Sebab ada luka yang tidak meminta obat, hanya meminta ruang untuk terus hidup di dalam seseorang. Dan mungkin, aku akan tetap menjadi rumah bagi kesedihan itu, sampai waktu benar-benar lupa cara membawa namamu kembali ke kepalaku.

Bilik Rindu, 9 Mei 2026

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...