Aku Tumbuh Tanpa Bahu Juga Rumah
Oleh : Pena_Lingga
Aku pernah menjadi anak kecil
yang percaya semua luka akan sembuh
asal pulang dan dipeluk ibu.
Tapi hidup terlalu cepat mengajariku
bahwa tidak semua anak punya kesempatan
untuk tinggal lebih lama di dalam hangat keluarga.
Ayahku pergi saat aku masih terlalu kecil
untuk mengerti arti kehilangan.
Lalu ibu menyusul beberapa tahun setelahnya,
meninggalkan sunyi yang menetap
di setiap sudut hidupku.
Sejak hari itu, aku belajar
bahwa ada rindu yang tidak akan selesai
meski waktu berjalan sangat jauh.
Aku tumbuh bersama keadaan.
Belajar dewasa dari kerasnya kehidupan,
bukan dari nasihat siapa pun.
Tidak ada yang membangunkanku saat pagi,
tidak ada yang menungguku pulang,
dan tidak ada tempat bercerita
saat dunia terasa terlalu melelahkan.
Di usia ketika banyak orang masih bergantung
pada keluarganya,
aku sudah sibuk bertahan hidup.
Menghitung uang receh sebelum makan,
menahan lapar agar esok masih bisa berjalan,
dan berpura-pura kuat
di depan banyak manusia
yang bahkan tidak tahu
betapa lelahnya aku hidup.
Kadang aku iri.
Iri kepada mereka yang masih bisa mendengar
suara ibunya memanggil dari dapur,
atau nasihat ayah yang terdengar sederhana
tetapi diam-diam menenangkan hati.
Sedangkan aku,
bahkan mulai lupa
bagaimana rasanya memiliki rumah
yang benar-benar membuat tenang.
Aku pernah mencoba menjadi kuat.
Aku pernah meyakinkan diriku
bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi semakin besar aku tumbuh,
semakin aku sadar
bahwa dunia tidak selalu ramah
kepada seseorang yang berjalan sendirian.
Dan kini aku hanya seseorang
yang terus hidup dengan hati yang setengah kosong.
Tetap tertawa meski sering hancur.
Tetap berjalan meski tidak tahu
harus pulang ke mana.
Sebab pada akhirnya,
kehilangan terbesar dalam hidupku
bukan tentang kematian mereka—
tetapi tentang diriku
yang ikut hilang bersama kepergian itu.
Bilik Duka, 13 Mei 2026