Jumat, 08 Mei 2026

Seni Paling Sulit Kupahami


Seni Paling Sulit Kupahami
Karya : Pena_Lingga

Sejauh ini, seni paling rumit yang pernah kutemui ialah duduk berdua dengan luka sendiri, tanpa suara siapa pun, tanpa bahu mana pun. Hanya ada dada yang sesak dan kenangan yang terus mengetuk dari arah paling sunyi. Aku mencoba mematikan ingatan, namun ia tumbuh di kepalaku dengan cara yang lebih tenang dan lebih kejam.

Beberapa kehilangan tidak datang untuk dipahami. Ia hanya tinggal, menetap, lalu mengubah seseorang menjadi lebih pendiam dari biasanya. Aku masih berjalan ke mana-mana, masih menyapa banyak orang, namun ada bagian dari diriku yang tertinggal pada hari ketika semua itu berakhir.

Malam hari selalu punya cara buruk untuk membuka kembali luka lama. Di jam-jam ketika semua orang terlelap, aku justru sibuk mengingat hal-hal kecil yang seharusnya sudah selesai. Cara seseorang memanggil namaku, tawa pendek di sela percakapan, juga janji-janji sederhana yang akhirnya gugur sebelum sempat tumbuh.

Aku pernah mencoba mengikhlaskan dengan cara diam. Tidak menghubungi, tidak mencari kabar, tidak mengetuk pintu yang sudah ditutup rapat. Namun diam ternyata tidak menyembuhkan apa-apa. Ia hanya membuat kesedihan berpindah tempat; dari mulut menuju kepala, dari tangis menuju dada.

Pernah di suatu sore yang biasa, langkahku tiba-tiba terasa berat hanya karena sebuah lagu terdengar dari kejauhan. Tidak ada yang benar-benar terjadi saat itu, namun kenangan datang tanpa permisi dan membuat hatiku kembali berantakan dengan cara yang paling sunyi.

Aku mulai mengerti bahwa patah hati bukan soal ditinggalkan. Patah hati ialah keadaan ketika seseorang masih hidup, namun kehilangan arah untuk pulang kepada dirinya sendiri. Semua terasa asing. Bahkan cermin pun tak lagi mampu memperkenalkan siapa diriku setelah kehilangan itu datang.

Dan lucunya, aku masih menyimpan harapan kecil yang bahkan tak berani kuucapkan keras-keras. Harapan yang bertahan di antara kecewa dan sadar diri. Harapan yang tetap hidup meski berkali-kali tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali.

Sejauh ini, aku belum menemukan cara yang benar untuk sembuh. Sebab ada luka yang tidak meminta obat, hanya meminta ruang untuk terus hidup di dalam seseorang. Dan mungkin, aku akan tetap menjadi rumah bagi kesedihan itu, sampai waktu benar-benar lupa cara membawa namamu kembali ke kepalaku.

Bilik Rindu, 9 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...