Tentang Seseorang Yang Pernah Ingin Menetap
Karya : Pena_Lingga
Untuk saat ini, aku kembali mengasingkan diri pada kalimat “setia”. Kata itu terlalu sering datang membawa janji, lalu pulang meninggalkan bunyi pintu yang tertutup perlahan. Aku sudah terlalu akrab dengan langkah-langkah yang memilih pergi ketika hatiku baru saja belajar menetap. Dan lagi-lagi, aku hanya menjadi pemeran figuran di cerita yang bahkan tidak memberiku ruang untuk tinggal lebih lama.
Barangkali semesta memang gemar mempertemukan aku dengan orang-orang yang pandai singgah, namun tidak pernah berniat menetap. Mereka datang membawa hangat, lalu mengubahnya menjadi dingin yang sulit dijelaskan. Sedangkan aku, masih berdiri di tempat yang sama, memungut sisa percakapan yang telah kehilangan suara.
Kamu tidak perlu khawatir prihal caraku sembuh. Aku sudah terlalu terbiasa menjahit huruf-huruf “A. K. U. K. E. C. E. W. A.” agar kembali merapat tanpa jeda. Meski terkadang, ada beberapa huruf yang tetap memilih renggang dan membuat dadaku kembali terbata saat mengeja rasa kehilangan.
Kini hanya ada ruang yang dipenuhi gema langkah-langkah asing, serta percakapan yang terus terulang di dalam kepala tanpa pernah benar-benar selesai. Kesepian rupanya memang pandai duduk paling dekat dengan seseorang yang terlalu sungguh dalam mencintai. Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan air mata; terkadang ia hadir sebagai perasaan hampa yang perlahan menggerogoti isi hati, hingga seseorang lupa bagaimana caranya merasa utuh kembali.
Aku pernah percaya bahwa ketulusan mampu membuat seseorang bertahan lebih lama. Namun waktu memperlihatkan hal lain; bahwa hati manusia terkadang lebih mudah tergoda oleh sesuatu yang tidak perlu diperjuangkan. Dan aku, kembali kalah oleh hal-hal yang bahkan tidak lebih baik dariku.
Ada bagian dari diriku yang perlahan berubah menjadi sunyi. Bukan sebab aku tidak ingin berbicara, melainkan karena terlalu banyak kalimat yang akhirnya sia-sia. Maka aku memilih diam, lalu membiarkan luka tumbuh pelan di antara kata-kata yang tidak sempat menemukan jawaban.
Jika suatu hari nanti kamu menemuiku lagi, mungkin aku sudah berbeda. Tidak lagi mudah percaya pada ucapan manis, tidak lagi cepat luluh pada tatapan yang sementara. Aku akan menjadi seseorang yang lebih hati-hati dalam membuka pintu, sebab terlalu banyak orang datang hanya untuk memastikan bahwa luka lama belum benar-benar sembuh.
Lain kali, kepastian akan menemuimu pada episode halaman tertentu di buku yang menulis bahagiaku. Di sana ada satu kalimat sederhana yang sengaja kutinggalkan untukmu: “KAU AKAN MENANGIS.” Bukan sebagai kutukan, melainkan gema dari seseorang yang pernah kamu abaikan dengan begitu mudah.
Sebab pada akhirnya, kehilangan akan mengajarkanmu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang benar-benar sungguh ingin menetap. Dan ketika hari itu datang, mungkin kamu akan memahami mengapa seseorang bisa begitu hancur hanya karena diperlakukan setengah hati.
Sementara itu, biarkan aku kembali akrab dengan sunyi. Menyusun ulang hati yang pernah runtuh tanpa suara, lalu mengubur kecewa di tempat paling dalam agar tidak lagi terlihat siapa-siapa. Dan apabila suatu hari nanti kamu mendengar namaku disebut dengan nada paling tenang, percayalah… itu bukan karena lukaku telah sembuh. Aku hanya sudah terlalu lelah menjelaskan betapa hancurnya seseorang yang pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh.
“SEBAB ORANG YANG PALING DALAM MENYAYANGI,
biasanya adalah orang yang paling lama belajar
membiasakan diri dengan kehilangan.”
Alas sorban, 9 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar