Jujur Kamu Sangat Jahat
Karya : Pena_Lingga
Terlalu jujur kalau aku bilang kamu itu jahat. Tapi mungkin memang itu kata yang paling dekat dengan rasa yang sedang kupeluk sendirian. Kamu pergi tanpa pamit, tepat saat aku sedang serius-seriusnya menjaga hati, saat aku mulai percaya bahwa kali ini semuanya akan berbeda dari luka-luka sebelumnya.
Aku tidak sedang main-main waktu itu. Aku benar-benar menata niat, menurunkan ego, dan belajar sabar agar kita bisa berjalan lebih lama. Aku menyimpan banyak rencana kecil dalam diam, berharap suatu hari bisa kita ceritakan sambil tertawa. Namun kamu memilih pergi, seolah apa yang kita bangun hanyalah persinggahan yang tidak pernah benar-benar kamu anggap tujuan.
Apa kamu pernah tahu bagaimana kecewaku tumbuh? Ia tidak langsung besar dan meledak. Ia kecil, hampir tak terasa, lalu perlahan membesar setiap kali aku sadar kamu benar-benar tak akan kembali, setiap kali pesanmu tak lagi masuk, dan namamu tak lagi muncul di layar yang biasanya begitu akrab.
Bagian yang paling sakit bukan saat kamu berkata ingin pergi. Tapi saat aku sadar, aku tidak diberi kesempatan untuk bertanya kenapa. Semua selesai tanpa penjelasan yang utuh, tanpa percakapan terakhir yang layak, hanya tanda tanya yang menggantung dan terus berputar di kepalaku hingga membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku marah, tapi lebih banyak memilih diam. Aku ingin menyalahkanmu atas semua rasa yang berantakan ini, namun yang sering kusalahkan justru diriku sendiri. Mungkin aku terlalu percaya, mungkin aku terlalu dalam, atau mungkin aku terlalu yakin bahwa kamu akan tinggal, tanpa pernah memikirkan kemungkinan kamu memilih pergi.
Padahal aku hanya ingin sesuatu yang sederhana. Menjaga apa yang sudah ada, merawat apa yang sudah tumbuh dengan perlahan, tanpa terburu-buru. Tapi rupanya, yang kuanggap rumah hanyalah tempat singgah bagimu, tempat berteduh sebentar sebelum kamu melanjutkan perjalanan ke arah yang bahkan tak pernah kamu ceritakan padaku.
Setiap malam, aku mencoba menguatkan diri dengan kalimat-kalimat yang kurangkai sendiri. Meyakinkan bahwa kehilangan adalah bagian dari belajar, bahwa patah hati adalah cara Tuhan mengajarkan kedewasaan. Namun tetap saja, ada bagian kecil di dada yang menolak tunduk, yang masih memanggil namamu dalam diam dan berharap kamu tiba-tiba kembali.
Kamu mungkin baik-baik saja sekarang. Mungkin sudah menemukan bahagiamu yang baru, dengan tawa yang lebih lepas dan cerita yang lebih ringan. Sementara aku masih membereskan serpihan yang kamu tinggalkan, mengumpulkan satu per satu rasa yang tercecer agar aku bisa kembali berdiri tanpa terlihat rapuh.
Jika suatu hari kamu bertanya bagian mana yang paling sakit, jawabannya sederhana namun berat untuk kuakui. Yang paling sakit adalah merasa tidak cukup, padahal aku sudah memberikan yang terbaik yang kupunya, sudah menjaga dengan hati-hati agar tidak melukai, tapi tetap saja ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.
Dan jika kamu bertanya apakah aku masih menyimpan marah, jawabannya juga sederhana. Tidak. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa tidak semua yang kita jaga memilih untuk tinggal, dan tidak semua yang kita cintai memiliki keberanian untuk bertahan saat keadaan mulai terasa serius.
Raja Ampat, 1 Maret 2026