Sabtu, 28 Februari 2026

Jujur Kamu Sangat Jahat

 Jujur Kamu Sangat Jahat

Karya : Pena_Lingga



Terlalu jujur kalau aku bilang kamu itu jahat. Tapi mungkin memang itu kata yang paling dekat dengan rasa yang sedang kupeluk sendirian. Kamu pergi tanpa pamit, tepat saat aku sedang serius-seriusnya menjaga hati, saat aku mulai percaya bahwa kali ini semuanya akan berbeda dari luka-luka sebelumnya.


Aku tidak sedang main-main waktu itu. Aku benar-benar menata niat, menurunkan ego, dan belajar sabar agar kita bisa berjalan lebih lama. Aku menyimpan banyak rencana kecil dalam diam, berharap suatu hari bisa kita ceritakan sambil tertawa. Namun kamu memilih pergi, seolah apa yang kita bangun hanyalah persinggahan yang tidak pernah benar-benar kamu anggap tujuan.


Apa kamu pernah tahu bagaimana kecewaku tumbuh? Ia tidak langsung besar dan meledak. Ia kecil, hampir tak terasa, lalu perlahan membesar setiap kali aku sadar kamu benar-benar tak akan kembali, setiap kali pesanmu tak lagi masuk, dan namamu tak lagi muncul di layar yang biasanya begitu akrab.


Bagian yang paling sakit bukan saat kamu berkata ingin pergi. Tapi saat aku sadar, aku tidak diberi kesempatan untuk bertanya kenapa. Semua selesai tanpa penjelasan yang utuh, tanpa percakapan terakhir yang layak, hanya tanda tanya yang menggantung dan terus berputar di kepalaku hingga membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya.


Aku marah, tapi lebih banyak memilih diam. Aku ingin menyalahkanmu atas semua rasa yang berantakan ini, namun yang sering kusalahkan justru diriku sendiri. Mungkin aku terlalu percaya, mungkin aku terlalu dalam, atau mungkin aku terlalu yakin bahwa kamu akan tinggal, tanpa pernah memikirkan kemungkinan kamu memilih pergi.


Padahal aku hanya ingin sesuatu yang sederhana. Menjaga apa yang sudah ada, merawat apa yang sudah tumbuh dengan perlahan, tanpa terburu-buru. Tapi rupanya, yang kuanggap rumah hanyalah tempat singgah bagimu, tempat berteduh sebentar sebelum kamu melanjutkan perjalanan ke arah yang bahkan tak pernah kamu ceritakan padaku.


Setiap malam, aku mencoba menguatkan diri dengan kalimat-kalimat yang kurangkai sendiri. Meyakinkan bahwa kehilangan adalah bagian dari belajar, bahwa patah hati adalah cara Tuhan mengajarkan kedewasaan. Namun tetap saja, ada bagian kecil di dada yang menolak tunduk, yang masih memanggil namamu dalam diam dan berharap kamu tiba-tiba kembali.


Kamu mungkin baik-baik saja sekarang. Mungkin sudah menemukan bahagiamu yang baru, dengan tawa yang lebih lepas dan cerita yang lebih ringan. Sementara aku masih membereskan serpihan yang kamu tinggalkan, mengumpulkan satu per satu rasa yang tercecer agar aku bisa kembali berdiri tanpa terlihat rapuh.


Jika suatu hari kamu bertanya bagian mana yang paling sakit, jawabannya sederhana namun berat untuk kuakui. Yang paling sakit adalah merasa tidak cukup, padahal aku sudah memberikan yang terbaik yang kupunya, sudah menjaga dengan hati-hati agar tidak melukai, tapi tetap saja ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.


Dan jika kamu bertanya apakah aku masih menyimpan marah, jawabannya juga sederhana. Tidak. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa tidak semua yang kita jaga memilih untuk tinggal, dan tidak semua yang kita cintai memiliki keberanian untuk bertahan saat keadaan mulai terasa serius.



Raja Ampat, 1 Maret 2026

Jumat, 06 Februari 2026

Aku Menanti Kabar Baikmu

Aku Menanti Kabar Baikmu

Oleh : Pena_Lingga



Aku percaya kamu akan bahagia, meski kalimat itu sering terdengar seperti penghiburan kosong di tengah hidup yang terus menekan. Aku mengatakannya bukan karena aku yakin dunia akan berubah, tapi karena aku tahu kamu sudah terlalu sering terluka dan masih memilih bertahan. Bahagia mungkin belum datang, bahkan mungkin terasa jauh, tapi keyakinan ini kuberikan agar kamu punya satu alasan kecil untuk tidak menyerah hari ini.


Aku yakin kamu orang yang bisa menepati janji, meski berkali-kali janji itu hampir kamu ingkari sendiri. Aku tahu betapa sering kamu berkata ingin kuat, lalu runtuh di malam hari tanpa siapa pun yang tahu. Tapi justru karena itu, aku percaya. Kamu selalu kembali bangun, meski dengan tubuh lelah dan hati yang sudah tidak utuh.


Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti hukuman yang tidak pernah kamu minta. Bangun pagi bukan lagi soal harapan, tapi kewajiban yang berat. Kamu berjalan menjalani hari dengan wajah biasa saja, padahal di dalam dada ada kekacauan yang tidak bisa kamu jelaskan kepada siapa pun.


Kadang kamu merasa tidak ada tempat untuk pulang, bahkan pada dirimu sendiri. Semua terasa asing, termasuk perasaanmu sendiri. Kamu ingin dimengerti, tapi juga lelah menjelaskan. Akhirnya kamu memilih diam, menyimpan semuanya sendirian.


Sekarang tolong berjanji. Aku tahu ini terdengar egois, meminta sesuatu dari orang yang sudah kehabisan tenaga. Tapi berjanjilah, meski suaramu gemetar, meski hatimu ragu. Janji ini bukan tentang bahagia besar, hanya tentang tidak pergi.


Berjanjilah untuk tetap hidup, meski setiap hari terasa sama beratnya. Meski kamu sering bertanya untuk apa bertahan, sementara luka tidak juga reda. Tetaplah hidup, walau hanya untuk melihat apakah esok sedikit lebih ringan dari hari ini.


Berjanjilah untuk bahagia setiap harinya, meski bahagia itu hanya sekilas. Mungkin hanya karena kamu berhasil melewati satu hari tanpa menyerah. Mungkin hanya karena kamu masih bisa menangis, karena itu tanda kamu masih merasa.


Tidak apa-apa jika kamu merasa kalah. Tidak apa-apa jika kamu lelah menjadi kuat. Dunia terlalu sering menuntut tanpa peduli apakah kamu sanggup atau tidak. Kamu boleh berhenti sejenak, asal jangan benar-benar pergi.


Aku tahu kamu sering merasa tidak dibutuhkan, seolah keberadaanmu tidak mengubah apa pun. Tapi percayalah, hidupmu lebih berarti daripada yang kamu kira, bahkan ketika kamu sendiri tidak bisa melihat nilainya.


Aku menanti kabar baikmu. Bukan kabar tentang keberhasilan besar atau hidup yang sempurna, tapi kabar sederhana bahwa kamu masih bertahan hari ini. Itu sudah cukup. Itu sudah sangat cukup.


Bilik sunyi, 6 Februari 2026

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...