SATIRE UNTUK MENTOR DADAKAN
KARYA : Pena_Lingga
Selamat malam tuan dan puan, dengarkan sebentar,
Aku datang bukan membawa bunga, melainkan cermin retak bergetar.
Tak lagi kusaji romansa yang manis dan sabar,
Kini kata-kata berdiri telanjang, siap menampar nalar.
Ini bukan pembantaian tubuh, hanya ego yang diuji,
Bukan darah yang tumpah, hanya topeng yang terlepas dari wajah basi.
Karya hari ini menolak dikasihani,
Ia berdiri sendiri, menertawakan kuasa imitasi.
Mentor dadakan datang dengan mahkota buatan,
Bersuara lantang, isinya tipis penuh angan.
Mengaku pelita di tengah kegelapan,
Padahal hanya bayangan yang takut pada terang pemahaman.
Ia mengajar tanpa belajar, menilai tanpa pijakan,
Menggurui dari singgasana asumsi dan pujian murahan.
Kupikir ia nahkoda kebijaksanaan,
Ternyata penumpang nyasar yang tersesat di pelabuhan keangkuhan.
Katanya aku lancang, katanya aku kurang ajar,
Padahal lidahku hanya jujur, tak pandai berdandan agar tampak pintar.
Jika kebenaran terasa kasar di telinga yang lapar,
Mungkin telingamu terbiasa dijamu dusta yang manis dan lebar.
Aku tak butuh gerombolan untuk tampak berani,
Cukup satu pena dan nyali yang tak bisa dibeli.
Sedang kalian bersembunyi di balik riuh opini,
Takut berdiri sendiri, takut kalah tanpa saksi.
Satire ini bukan amarah yang buta arah,
Ia hanya cermin bengkok yang memantulkan wajah gelisah.
Jika kau merasa tersentil lalu marah,
Tenang saja—itu tanda kata ini menemukan sasaran yang terjamah.
Aku menulis bukan demi sorak atau puja,
Melainkan untuk menguji siapa yang berpikir, siapa yang pura-pura.
Siapa yang berkarya dengan jiwa,
Dan siapa yang hidup dari bayang-bayang kata orang lain semata.
Kalian bicara etika sambil menusuk dari balik senyum,
Mengutip moral sambil menyimpan niat yang murung dan suram.
Mulut suci, tangan licin, langkah pun semu,
Drama lama: serigala berkhotbah tentang domba dan kesantunan.
Jika ini disebut perang, maka senjataku logika,
Tak ada teriakan, hanya ironi yang bekerja.
Yang tumbang bukan raga, melainkan mahkota palsu yang rapuh makna,
Jatuh pecah di lantai akal sehat yang lama kalian abaikan.
Aku menari di meja metafora, tertawa tanpa dendam,
Melihat ego-ego tersandung oleh kata-katanya sendiri yang kelam.
Kau boleh tersinggung, boleh merasa terancam,
Tapi satire memang lahir untuk mereka yang alergi pada kejujuran yang tajam.
Karyaku tak meminta disukai atau dibela,
Ia hanya ingin jujur meski pahit terasa.
Jika kau mencari aman, silakan menutup mata,
Namun jangan larang cahaya hanya karena kau takut melihat siapa dirimu sebenarnya.
Mentor sejati tak gentar dilampaui muridnya,
Ia tahu ilmu hidup dari perdebatan dan tanya.
Mentor palsu menjaga tahta, panik saat digugat maknanya,
Takut runtuh jika kebenaran berdiri lebih tinggi dari namanya.
Kini aku selesai berteriak, suaraku kembali tenang,
Keributan itu ternyata hanya ujian ketahanan.
Siapa dewasa menimbang, siapa larut dalam serangan,
Siapa pulang dengan pelajaran, siapa pergi membawa dendam.
Maka inilah rilis satirku—pahit namun terang,
Bukan untuk membunuh, hanya menguliti kepalsuan yang terlalu riang.
Jika kau tersenyum, berarti kau paham arah terang,
Jika kau marah—barangkali puisinya sedang menyebut namamu tanpa pernah kupanggil dengan lantang.
Republik Rubik, 27 Januari 2026