Selasa, 27 Januari 2026

SATIRE UNTUK MENTOR DADAKAN

SATIRE UNTUK MENTOR DADAKAN

KARYA : Pena_Lingga


Selamat malam tuan dan puan, dengarkan sebentar,

Aku datang bukan membawa bunga, melainkan cermin retak bergetar.

Tak lagi kusaji romansa yang manis dan sabar,

Kini kata-kata berdiri telanjang, siap menampar nalar.


Ini bukan pembantaian tubuh, hanya ego yang diuji,

Bukan darah yang tumpah, hanya topeng yang terlepas dari wajah basi.

Karya hari ini menolak dikasihani,

Ia berdiri sendiri, menertawakan kuasa imitasi.


Mentor dadakan datang dengan mahkota buatan,

Bersuara lantang, isinya tipis penuh angan.

Mengaku pelita di tengah kegelapan,

Padahal hanya bayangan yang takut pada terang pemahaman.


Ia mengajar tanpa belajar, menilai tanpa pijakan,

Menggurui dari singgasana asumsi dan pujian murahan.

Kupikir ia nahkoda kebijaksanaan,

Ternyata penumpang nyasar yang tersesat di pelabuhan keangkuhan.


Katanya aku lancang, katanya aku kurang ajar,

Padahal lidahku hanya jujur, tak pandai berdandan agar tampak pintar.

Jika kebenaran terasa kasar di telinga yang lapar,

Mungkin telingamu terbiasa dijamu dusta yang manis dan lebar.


Aku tak butuh gerombolan untuk tampak berani,

Cukup satu pena dan nyali yang tak bisa dibeli.

Sedang kalian bersembunyi di balik riuh opini,

Takut berdiri sendiri, takut kalah tanpa saksi.


Satire ini bukan amarah yang buta arah,

Ia hanya cermin bengkok yang memantulkan wajah gelisah.

Jika kau merasa tersentil lalu marah,

Tenang saja—itu tanda kata ini menemukan sasaran yang terjamah.


Aku menulis bukan demi sorak atau puja,

Melainkan untuk menguji siapa yang berpikir, siapa yang pura-pura.

Siapa yang berkarya dengan jiwa,

Dan siapa yang hidup dari bayang-bayang kata orang lain semata.


Kalian bicara etika sambil menusuk dari balik senyum,

Mengutip moral sambil menyimpan niat yang murung dan suram.

Mulut suci, tangan licin, langkah pun semu,

Drama lama: serigala berkhotbah tentang domba dan kesantunan.


Jika ini disebut perang, maka senjataku logika,

Tak ada teriakan, hanya ironi yang bekerja.

Yang tumbang bukan raga, melainkan mahkota palsu yang rapuh makna,

Jatuh pecah di lantai akal sehat yang lama kalian abaikan.


Aku menari di meja metafora, tertawa tanpa dendam,

Melihat ego-ego tersandung oleh kata-katanya sendiri yang kelam.

Kau boleh tersinggung, boleh merasa terancam,

Tapi satire memang lahir untuk mereka yang alergi pada kejujuran yang tajam.


Karyaku tak meminta disukai atau dibela,

Ia hanya ingin jujur meski pahit terasa.

Jika kau mencari aman, silakan menutup mata,

Namun jangan larang cahaya hanya karena kau takut melihat siapa dirimu sebenarnya.


Mentor sejati tak gentar dilampaui muridnya,

Ia tahu ilmu hidup dari perdebatan dan tanya.

Mentor palsu menjaga tahta, panik saat digugat maknanya,

Takut runtuh jika kebenaran berdiri lebih tinggi dari namanya.


Kini aku selesai berteriak, suaraku kembali tenang,

Keributan itu ternyata hanya ujian ketahanan.

Siapa dewasa menimbang, siapa larut dalam serangan,

Siapa pulang dengan pelajaran, siapa pergi membawa dendam.


Maka inilah rilis satirku—pahit namun terang,

Bukan untuk membunuh, hanya menguliti kepalsuan yang terlalu riang.

Jika kau tersenyum, berarti kau paham arah terang,

Jika kau marah—barangkali puisinya sedang menyebut namamu tanpa pernah kupanggil dengan lantang.



Republik Rubik, 27 Januari 2026

Jumat, 23 Januari 2026

Imitasi Trauma

 IMITASI TRAUMA

Karya : Pena_Lingga



12:02 tepat, malam terasa seperti berhenti bernapas. Udara dingin menyusup perlahan melalui ventilasi kamarku, menempel di kulit, lalu menetap di dada. Lampu redup menggantung tanpa arti, sementara aku duduk diam, terjaga, menatap kegelapan yang tak pernah benar-benar gelap. Mataku terbuka lebar, bukan karena ingin, tetapi karena pikiranku menolak beristirahat, seolah ada perang kecil yang tak kunjung usai di dalam kepala.


Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan malam ini. Tentang lelah yang sudah terlalu lama kupeluk, tentang luka yang tak pernah sempat kusembuhkan. Namun setiap kali aku mencoba memilih satu cerita, semuanya terasa sama beratnya. Aku kebingungan menentukan dari mana harus memulai, karena semuanya berawal dari rasa sakit yang sama.


Lidahku kelu, seakan kehilangan fungsi dasarnya. Kata-kata berdesakan di kepala, namun tidak satu pun berani keluar. Bibirku terkunci rapat, bukan karena tidak ingin berbicara, melainkan karena aku takut—takut jika sekali terbuka, aku akan menangis tanpa bisa berhenti, dan tidak ada siapa pun yang akan mendengarnya.


Aku menatap langit-langit kamar yang kosong, retaknya membentuk pola-pola aneh yang sudah kuhafal di luar kepala. Di sana, masa lalu tiba-tiba hidup kembali. Wajah-wajah lama muncul dengan jelas, suara-suara yang dulu menggores kini kembali menggema. Aku tidak mengundangnya, tapi trauma selalu tahu jalan pulang.


Aku mencoba mengingat hal-hal baik, mencari celah cahaya sekecil apa pun. Tapi ingatan buruk selalu lebih keras. Ia datang membawa rasa bersalah, penyesalan, dan pertanyaan yang tak pernah punya jawaban. Aku kembali menjadi versi diriku yang paling lemah, yang dulu hanya bisa diam dan menerima.


Ada bagian dari diriku yang tertinggal jauh di sana, di waktu yang seharusnya sudah kulewati. Ia masih menangis setiap malam, menunggu diselamatkan. Aku bisa mendengarnya memanggil namaku, tapi aku tidak tahu bagaimana cara kembali untuk menjemputnya.


Aku lelah berpura-pura kuat. Lelah menjelaskan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, padahal setiap hari aku hanya bertahan. Senyum yang kupakai terasa berat, seperti topeng yang menekan wajah hingga aku lupa rasanya menjadi diri sendiri.


Waktu terus berjalan tanpa peduli. Jam di dinding berdetak pelan, menghitung detik yang terasa kejam. Semua orang tampak melaju ke depan, sementara aku masih berdiri di titik yang sama, memeluk luka lama yang belum sempat kutinggalkan.


Kesunyian malam semakin dalam, dan aku ikut tenggelam bersamanya. Tidak ada suara yang menenangkan, tidak ada pelukan yang menunggu. Hanya aku, pikiranku, dan rasa sakit yang semakin nyata. Aku mulai bertanya, apakah aku benar-benar masih ingin sembuh, atau hanya ingin berhenti merasa.


Dan di ujung malam ini, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: aku tidak sedang menunggu pagi. Aku hanya menunggu agar rasa ini habis, entah dengan cara apa. Jika esok aku masih bernapas, itu bukan tanda aku kuat—itu hanya bukti bahwa aku belum sempat menyerah.



Bilik Sunyi, 23 Januari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Maaf, Kalau Aku Menyimpanmu di galeriku


Maaf, Kalau Aku Masih Menyimpanmu di Galeriku
Karya : Pena_Lingga

Maaf ya kalau sampai hari ini aku masih menyimpan fotomu di galeri ponselku, bukan karena aku ingin kembali atau berharap sesuatu yang sudah selesai, tapi karena di dalam foto-foto itu ada versi diriku yang dulu pernah merasa utuh. Setiap kali aku melihatnya, aku seperti diingatkan bahwa aku pernah bahagia dengan cara yang sederhana, tertawa tanpa banyak beban, dan merasa ditemani oleh seseorang yang pernah begitu berarti.

Maaf juga kalau satu pun chat kamu di WhatsApp belum aku hapus, bahkan yang isinya cuma hal-hal sepele seperti menanyakan sudah makan atau belum. Hal-hal kecil itu justru yang paling sulit dilepas, karena di sanalah aku bisa melihat bagaimana kita dulu begitu dekat tanpa harus membuat hal besar untuk merasa saling peduli.

Aku tahu, menyimpan semua itu mungkin terlihat seperti aku belum bisa melangkah maju, seolah aku masih terjebak di masa lalu yang sama. Padahal sebenarnya aku hanya belum siap untuk menghapus bagian hidup yang pernah membentukku, karena kenangan itu ikut membuatku jadi seperti sekarang.

Menghapus fotomu dan chatmu terasa seperti menghapus bukti bahwa kita pernah sungguh-sungguh saling punya. Aku tidak mau berpura-pura kuat dengan cara melupakan, karena buatku, mengingat dengan jujur justru jauh lebih manusiawi daripada pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Sekarang aku sudah mulai benar-benar sadar kalau kita memang sudah tidak lagi searah, tidak lagi berjalan menuju tujuan yang sama seperti dulu. Mungkin kita bertemu hanya untuk saling mengajarkan sesuatu, lalu setelah itu harus melanjutkan hidup masing-masing dengan cara yang berbeda.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah ingin aku sesali, yaitu kenyataan bahwa aku pernah menjadi orang yang kamu pilih di antara begitu banyak pilihan yang kamu punya. Walau sekarang posisiku sudah bukan siapa-siapa, kenangan itu tetap terasa hangat ketika aku mengingatnya.

Aku tidak sedang menunggu kamu kembali, dan aku juga tidak menuntut apa pun dari hidupmu sekarang. Aku hanya ingin menyimpan kenangan itu sebagai pengingat bahwa aku pernah cukup berarti untuk dicintai, meski akhirnya tidak bisa bertahan.

Kadang aku membuka fotomu bukan karena aku ingin mengulang semuanya, tapi karena aku ingin mengingat bahwa hatiku pernah bekerja dengan baik. Bahwa aku pernah mencintai dengan tulus, dan itu bukan sesuatu yang harus aku malu-maluin.

Mungkin suatu hari nanti aku akan punya keberanian untuk menghapus semuanya tanpa merasa sesak di dada. Tapi hari ini, aku masih butuh waktu untuk berdamai dengan kehilangan, dan menyimpan kenangan itu adalah salah satu caraku bertahan.

Karena meski kita sekarang sudah berjalan di arah yang berbeda, aku tetap merasa bahagia pernah menjadi bagian kecil dari hidupmu. Walau hanya sebentar, itu sudah cukup untuk membuatku tahu bahwa cintaku dulu bukan sesuatu yang sia-sia.

Bilik Sunyi, 12 Januari 2026

Sabtu, 10 Januari 2026

Kita Dewasa Sama-sama Ya


KITA DEWASA SAMA-SAMA YA !
Karya : Pena_Lingga


Aku mohon, dewasalah hatiku. Jangan lagi mudah goyah hanya karena satu kalimat atau satu kenangan yang muncul tiba-tiba. Kita sudah terlalu sering terluka oleh hal yang sebenarnya tidak perlu dibesarkan, hanya karena kita takut kehilangan sesuatu yang belum tentu memang milik kita sejak awal.

Dulu aku mengira patah hati itu bagian dari romantika hidup. Seolah tanpa luka, kisah tidak akan terasa berarti. Tapi sekarang aku mulai sadar, terlalu sering hancur hanya membuat lelah dan menguras tenaga, sementara hidup terus berjalan tanpa peduli apakah kita siap atau tidak.

Ada masa ketika aku menikmati sedih, seolah itu membuatku lebih dalam dan lebih manusiawi. Namun semakin ke sini, kesedihan justru terasa seperti beban yang sulit dipikul sendirian, apalagi jika datang dari orang yang seharusnya memberi rasa aman, bukan menambah luka.

Hatiku harus belajar membedakan mana yang memang pantas diperjuangkan dan mana yang hanya menghabiskan tenaga. Tidak semua orang yang datang membawa niat untuk tinggal, dan tidak semua janji dibuat untuk benar-benar ditepati.

Aku tidak ingin lagi memaksa diri bertahan di tempat yang sudah jelas tidak ramah. Jika sebuah hubungan hanya membuat sesak, dipenuhi ragu dan kecewa, mungkin memang sudah waktunya dilepas meski rasanya tidak mudah.

Menjadi dewasa bukan berarti tidak merasa sakit atau pura-pura kuat setiap saat. Tapi dewasa adalah tahu kapan harus berhenti menyakiti diri sendiri demi sesuatu yang tidak pasti dan tidak memberi kepastian tentang masa depan.

Sekarang aku ingin lebih jujur pada perasaanku sendiri, tanpa merasa bersalah. Jika lelah, aku akan mengakuinya. Jika kecewa, aku tidak akan lagi menutupinya dengan senyum palsu hanya untuk terlihat baik-baik saja.

Aku tidak lagi ingin membungkus luka dengan kata-kata indah atau alasan yang dibuat-buat. Karena nyatanya, sakit tetap sakit, dan ia perlu diakui agar bisa perlahan sembuh, bukan disimpan sampai akhirnya meledak di dalam diri.

Hatiku harus belajar berdiri tanpa bergantung pada siapa pun untuk merasa utuh. Bahagia tidak boleh selalu dititipkan pada kehadiran orang lain, karena ketika mereka pergi, kita tidak seharusnya ikut runtuh bersama mereka.

Maka sekali lagi aku mohon, dewasalah, hatiku. Mari kita jalani hidup ini dengan lebih tenang, menerima kehilangan tanpa harus terus menerus hancur, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk merasa cukup meski tidak lagi bersama orang yang dulu kita anggap segalanya.

Bilik Sunyi, 11 Januari 2026

(Puisi ) Kukangkang

Kukangkang

Kary : Pena_Lingga



Kuping kang kangkung kang,

kungaping kangkung kang,

katanya paling terang,

ba-bi-bu-be-bo pun bikin goyang.


Kangkung kuping kungaping kang,

kang kang kang sok cemerlang,

babi bubebo ba bi bo,

mulutnya terpeleset di lorong terang.


Kungaping kang kuping kang,

kangkung kang tetap membentang,

ia mengklaim paling matang,

tapi ba-bi-bu-be-bo menjegal langkah.


Kuping kang kungaping kang,

kangkung kang berderang,

kata-katanya setajam pedang,

bubebo babi malah bikin goyang.


Kang kang kangkung kang,

kuping kungaping kang,

ia bicara dengan nada menang,

ba-bi-bu-be-bo menyela di tengah terang.


Kungaping kangkung kang,

kuping kang berdentang,

ia menyusun dalil panjang,

babi bubebo merobohkan perang.


Kuping kang kangkung kang,

kungaping kang tetap bimbang,

si paling pintar merasa lapang,

namun ba-bi-bu-be-bo memecah karang.


Kangkung kungaping kang,

kuping kang melayang,

ia menggurui dengan senyum tenang,

bubebo babi mengacaukan siang.


Kungaping kuping kang,

kangkung kang terkarang,

akalnya merasa gemilang,

ba-bi-bu-be-bo mengusik bayang.


Kuping kang kangkung kang,

kungaping kangkung kang,

si paling cerdas akhirnya bimbang,

saat ba-bi-bu-be-bo justru paling jujur di ruang.



Republik Rubik, 11 Januari 2026

Jumat, 09 Januari 2026

Catatan Terakhir Untuk Ceritamu

CATATAN TERAKHIR UNTUK CERITAMU

Karya : Pena_Lingga

Mungkin ini adalah garis terakhir tulisanku yang menceritakan kisahmu. Aku menulis tanpa dorongan emosi yang besar, hanya karena ada bagian yang belum selesai dibereskan. Kata-kata ini tidak lahir dari rindu atau marah, tapi dari keinginan sederhana untuk menutup sesuatu dengan tenang. Aku tidak ingin meninggalkan sisa yang harus terus dibuka kembali.

Dulu aku menyebut namamu dengan mudah, hampir tanpa pikir panjang. Tidak ada rasa takut akan kehilangan, tidak ada keraguan tentang masa depan. Waktu itu aku menganggap kehadiranmu sesuatu yang akan selalu ada, tidak perlu dipertanyakan atau dijaga berlebihan. Sekarang namamu hanya lewat sebentar di kepala, lalu menghilang tanpa bekas yang berarti.

Aku menjalani hari dengan pola yang sama dari pagi sampai malam. Semua terlihat normal di luar, pekerjaan berjalan, percakapan tetap ada, dan aku tetap tersenyum di waktu yang tepat. Tapi di dalam, tidak ada keterlibatan yang utuh, seolah aku hanya menjalankan rutinitas tanpa benar-benar ikut hidup di dalamnya.

Aku sudah lama terbiasa menyimpan apa pun sendiri. Bukan karena aku ingin terlihat kuat atau baik-baik saja, tapi karena menjelaskan perasaan sering kali tidak mengubah apa pun. Setelah berbicara, rasa lelah justru bertambah, dan masalahnya tetap tinggal. Diam menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Kita tidak selesai karena satu kejadian besar yang jelas bentuknya. Kita selesai lewat kebiasaan yang berubah pelan-pelan dan dibiarkan begitu saja. Percakapan yang semakin singkat, perhatian yang tidak lagi dicari, dan kehadiran yang lama-lama terasa tidak diperlukan.

Aku sempat menunggu, meski sebenarnya sudah tahu tidak ada yang akan berubah. Menunggu hanya membuat waktu terasa lebih panjang dari seharusnya. Tidak ada kepastian yang datang, juga tidak ada perpisahan yang benar-benar terjadi.

Ada bagian dari diriku yang tertinggal bersamamu, dan aku menyadarinya sejak awal. Aku tahu bagian itu tidak akan kembali, dan aku tidak merasa perlu mengejarnya. Kehilangan ini dibiarkan tinggal, tanpa usaha untuk disembuhkan atau diperbaiki.

Sekarang menulis tentangmu tidak lagi memunculkan reaksi apa pun. Tidak ada rindu yang ingin dipeluk, tidak juga ada marah yang perlu dilepaskan. Semuanya berada di titik netral, sekadar catatan tentang sesuatu yang pernah ada.

Aku tidak mencari makna atau pelajaran dari berakhirnya kita. Tidak semua hal harus dipahami agar bisa diterima. Ada hal-hal yang memang selesai tanpa alasan yang jelas, dan itu tidak apa-apa.

Jika tulisan ini menjadi yang terakhir tentangmu, itu bukan keputusan yang berat. Ini hanya tanda bahwa tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Kita telah selesai, dan aku memilih membiarkannya tetap seperti itu.

Bilik Sunyi, 10 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

Kita Sebatas Teman Ya ?

 Kita Sebatas Teman Ya ?

Karya : Pena_Lingga


Ternyata begini rasanya mencintai sendirian — tidak ada yang benar-benar dramatis di permukaan, namun di dalam dada ada sesuatu yang terus bergerak pelan, seolah-olah perasaan ini memilih diam tapi tetap hidup. Aku berjalan melewati hari-hari dengan perasaan yang tumbuh tanpa pernah diminta, rasa yang lahir dari perhatian kecil, dari percakapan yang sering muncul tiba-tiba, dari kehadiranmu yang terasa dekat namun sebenarnya jauh. Di satu sisi aku ingin menyangkal bahwa aku jatuh terlalu dalam, tapi di sisi lain aku tahu bahwa rasa ini telah lama menetap, hanya saja aku berusaha pura-pura tidak menyadarinya.


Aku pernah percaya bahwa kedekatan ini menuju sesuatu, bahwa ada jalan yang perlahan sedang kita bangun tanpa ucapan, hanya dari kebersamaan yang sederhana. Kita saling berbagi cerita, saling hadir di saat sepi, saling menjadi tempat pulang untuk hal-hal kecil yang tidak bisa dibagi kepada orang lain. Di situ aku berpikir, mungkin ini bukan sekadar kebetulan. Namun semakin lama, aku menyadari bahwa yang benar-benar berjalan hanyalah langkahku sendiri, sementara kamu berdiri di tempatmu, tidak pernah memberi tanda bahwa aku diinginkan untuk maju lebih jauh.


Ada banyak waktu di mana aku berdialog dengan pikiranku sendiri. Aku bertanya, apakah aku yang terlalu berlebihan, atau justru hatiku hanya terlalu mudah memberi makna pada sesuatu yang sebenarnya sederhana. Aku memberi arti pada tatapan, pada sapaan, pada perhatian yang datang tanpa janji. Aku membangun harapan dari hal-hal kecil yang seharusnya dibiarkan lewat, namun aku memeluknya terlalu erat, berharap rasa itu tumbuh menjadi kenyataan yang utuh.


Ketika akhirnya kau mengatakan bahwa kita hanya sebatas teman, kata-kata itu tidak menghancurkanku dalam satu kali hentakan — ia hanya memperjelas sesuatu yang sebenarnya sudah lama kusimpan sebagai dugaan. Aku terdiam lama, bukan karena terkejut, melainkan karena aku akhirnya harus menerima bahwa semua yang kubayangkan selama ini hanya tinggal di dalam kepalaku sendiri. Ada bagian dari diriku yang ingin tetap bertahan, namun ada bagian lain yang memaksaku belajar melepaskan dengan perlahan.


Di dalam diriku, ada rasa yang tidak langsung pergi. Ia tetap tinggal, duduk diam di sudut hati, mengingat semua momen yang dulu terasa berarti. Ia tidak menangis keras, tidak memohon untuk dipertahankan. Ia hanya menunggu sampai aku siap benar-benar melepaskannya. Dan di masa penantian itu, aku mulai mengerti bahwa rasa yang berjalan sendirian tidak seharusnya terus memaksa dirinya hidup.


Aku tidak membencimu. Aku tidak merasa dikhianati. Yang ada hanya kesadaran bahwa tidak semua kedekatan ditakdirkan berubah menjadi cinta, dan tidak semua perasaan bisa dipaksakan memiliki arah yang sama. Mungkin sejak awal, kita memang berada di dua ruang yang berbeda — aku yang berharap lebih, dan kamu yang sejak awal hanya ingin tetap berada di batas pertemanan.


Sejak saat itu, jarak di antara kita tidak lagi terasa samar. Ia berubah menjadi garis yang jelas, yang harus kuterima tanpa perlawanan. Aku tidak lagi mencari tanda-tanda kecil, tidak lagi mencoba menerka perasaanmu, tidak lagi membentuk harapan baru dari hal-hal yang tidak pernah kau maksudkan. Aku belajar berdiri di posisiku sendiri, tanpa menyentuh batas yang sudah kau tetapkan.


Meski begitu, ada sesuatu yang tetap ingin kusimpan dari semua ini — keberanian untuk mengakui bahwa aku pernah mencintai seseorang tanpa meminta apa-apa sebagai balasan. Bahwa aku pernah jatuh dengan tulus, walau harus menahan rasa kehilangan yang tidak pernah benar-benar terlihat. Dari situ, aku belajar bahwa mencintai bukan selalu tentang memiliki, tapi tentang keberanian menerima kenyataan yang tidak berpihak.


Jika suatu hari kita masih dipertemukan dalam keadaan yang baru, aku ingin menyapamu tanpa beban, tanpa rasa asing, tanpa luka yang masih tertinggal. Aku ingin hadir sebagai seseorang yang telah selesai berdamai dengan masa lalunya, bukan sebagai seseorang yang masih berharap cerita ini berbalik arah. Karena pada akhirnya, aku ingin melanjutkan hidup tanpa menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan.


Malam ini, aku meletakkan perasaan itu pelan-pelan, tanpa drama, tanpa amarah, hanya dengan hati yang perlahan belajar ikhlas. Bukan karena aku menyerah, tetapi karena aku tahu batas di mana aku harus berhenti. Ada cinta yang cukup dikenang dalam diam, cukup disimpan sebagai bagian dari perjalanan, tanpa harus dipaksa bertahan sampai akhir.


Bilik Sunyi, 1 Januari 2025

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...