Jumat, 09 Januari 2026

Catatan Terakhir Untuk Ceritamu

CATATAN TERAKHIR UNTUK CERITAMU

Karya : Pena_Lingga

Mungkin ini adalah garis terakhir tulisanku yang menceritakan kisahmu. Aku menulis tanpa dorongan emosi yang besar, hanya karena ada bagian yang belum selesai dibereskan. Kata-kata ini tidak lahir dari rindu atau marah, tapi dari keinginan sederhana untuk menutup sesuatu dengan tenang. Aku tidak ingin meninggalkan sisa yang harus terus dibuka kembali.

Dulu aku menyebut namamu dengan mudah, hampir tanpa pikir panjang. Tidak ada rasa takut akan kehilangan, tidak ada keraguan tentang masa depan. Waktu itu aku menganggap kehadiranmu sesuatu yang akan selalu ada, tidak perlu dipertanyakan atau dijaga berlebihan. Sekarang namamu hanya lewat sebentar di kepala, lalu menghilang tanpa bekas yang berarti.

Aku menjalani hari dengan pola yang sama dari pagi sampai malam. Semua terlihat normal di luar, pekerjaan berjalan, percakapan tetap ada, dan aku tetap tersenyum di waktu yang tepat. Tapi di dalam, tidak ada keterlibatan yang utuh, seolah aku hanya menjalankan rutinitas tanpa benar-benar ikut hidup di dalamnya.

Aku sudah lama terbiasa menyimpan apa pun sendiri. Bukan karena aku ingin terlihat kuat atau baik-baik saja, tapi karena menjelaskan perasaan sering kali tidak mengubah apa pun. Setelah berbicara, rasa lelah justru bertambah, dan masalahnya tetap tinggal. Diam menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Kita tidak selesai karena satu kejadian besar yang jelas bentuknya. Kita selesai lewat kebiasaan yang berubah pelan-pelan dan dibiarkan begitu saja. Percakapan yang semakin singkat, perhatian yang tidak lagi dicari, dan kehadiran yang lama-lama terasa tidak diperlukan.

Aku sempat menunggu, meski sebenarnya sudah tahu tidak ada yang akan berubah. Menunggu hanya membuat waktu terasa lebih panjang dari seharusnya. Tidak ada kepastian yang datang, juga tidak ada perpisahan yang benar-benar terjadi.

Ada bagian dari diriku yang tertinggal bersamamu, dan aku menyadarinya sejak awal. Aku tahu bagian itu tidak akan kembali, dan aku tidak merasa perlu mengejarnya. Kehilangan ini dibiarkan tinggal, tanpa usaha untuk disembuhkan atau diperbaiki.

Sekarang menulis tentangmu tidak lagi memunculkan reaksi apa pun. Tidak ada rindu yang ingin dipeluk, tidak juga ada marah yang perlu dilepaskan. Semuanya berada di titik netral, sekadar catatan tentang sesuatu yang pernah ada.

Aku tidak mencari makna atau pelajaran dari berakhirnya kita. Tidak semua hal harus dipahami agar bisa diterima. Ada hal-hal yang memang selesai tanpa alasan yang jelas, dan itu tidak apa-apa.

Jika tulisan ini menjadi yang terakhir tentangmu, itu bukan keputusan yang berat. Ini hanya tanda bahwa tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Kita telah selesai, dan aku memilih membiarkannya tetap seperti itu.

Bilik Sunyi, 10 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...