Senin, 27 April 2026

Mencintaimu dengan waras

 

Mencintaimu Dengan Waras
Karya : Pena_Lingga

Mencintaimu, adalah kewarasanku yang paling gila.
Aku tahu dari awal, langkah ini tak akan menuju bahagia.
Namun entah mengapa, aku tetap memilih tinggal,
di tempat yang sejak awal sudah mengajarkan cara terluka.

Aku tidak tersesat, aku sadar ke mana arah perasaan ini pergi.
Hanya saja, aku terlalu keras kepala untuk berhenti.
Seolah luka yang kau beri terasa lebih jujur
daripada kebahagiaan yang datang dari yang lain.

Aku mencintaimu dengan mata terbuka,
melihat jelas bagaimana akhirnya nanti.
Tidak ada kejutan, tidak ada harapan berlebihan,
hanya penerimaan bahwa aku akan jatuh dan hancur perlahan.

Banyak yang bilang cinta seharusnya menyembuhkan,
tapi bersamamu aku belajar arti bertahan dalam sakit.
Aku tidak pergi, bukan karena tidak mampu,
aku hanya belum siap kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar kumiliki.

Aku tahu, aku hanya persinggahan dalam ceritamu.
Tempat singkat sebelum kau melanjutkan perjalanan.
Namun bagiku, kau adalah tujuan yang kupaksakan,
meski aku sadar aku bukan rumah yang kau inginkan.

Lucunya, aku masih bisa tersenyum di hadapanmu,
seolah tidak ada yang retak di dalam dada ini.
Padahal setiap kata yang kau ucapkan tanpa perasaan
diam-diam meruntuhkan sesuatu yang aku jaga mati-matian.

Aku tidak menuntut untuk dicintai kembali,
aku hanya ingin kau tahu aku pernah sungguh-sungguh.
Bahwa di antara semua pilihan yang lebih masuk akal,
aku tetap memilih sesuatu yang pasti menyakitkan.

Jika suatu saat aku pergi, mungkin bukan karena aku ingin,
tapi karena keadaan memaksaku menyerah tanpa benar-benar rela.
Sebab ada batas yang bahkan cinta pun tidak mampu lawan,
meski hatiku terus memohon untuk tetap tinggal.

Dan bila nanti kau mengingatku,
ingatlah aku sebagai seseorang yang perlahan menghilang.
Bukan karena aku berhenti merasa,
tapi karena aku habis… tanpa pernah benar-benar selesai.

Mencintaimu tetap menjadi bagian paling jujur dalam hidupku,
dan juga luka yang tak pernah menemukan sembuhnya.
Aku tidak pergi dengan utuh, aku tertinggal di dalam dirimu,
AKU MENCINTAIMU DENGAN WARAS HINGGA DI SANGKA GILA.

Atap tangis, Langit batin, 27 April 2026

Jumat, 24 April 2026

Sakit yang kupeluk

 Sakit Yang Kupeluk

Karya : Pena_Lingga



Aku mencoba terlihat utuh, meski sebenarnya retak di banyak sisi. Senyumku masih ada, tetap kupaksakan hadir di waktu yang tepat, tapi rasanya hampa dan tidak lagi jujur. Aku berdiri, menjalani hari sebagaimana mestinya, namun di dalamnya kosong—tak ada lagi yang benar-benar menetap atau ingin tinggal lebih lama.


Semua berubah tanpa aba-aba. Yang dulu terasa dekat, kini menjelma jarak yang tak terjangkau meski hanya dengan satu langkah. Aku memilih diam; tenaga untuk mengejar sudah habis, dan harapan pelan-pelan ikut luruh, jatuh satu per satu tanpa sempat aku selamatkan.


Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala, datang dan pergi tanpa henti. Namun setiap kali hampir terucap, semuanya runtuh lebih dulu. Perasaanku seolah paham, tak ada ruang yang benar-benar terbuka untuk mendengarkan semua ini.


Aku iri pada mereka yang mampu melupakan tanpa tersiksa. Yang bisa pergi tanpa membawa sisa, tanpa harus menoleh lagi ke belakang. Sedangkan aku, masih menggenggam semuanya terlalu erat, bahkan yang seharusnya telah lama kulepas dan kubiarkan pergi dengan tenang.


Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Yang membuatku sesak adalah caraku menyimpanmu—terlalu dalam, terlalu rapi, sampai aku sendiri kesulitan mengeluarkanmu. Hingga saat kehilangan datang, aku ikut tenggelam bersama semua yang pernah aku jaga sepenuh hati.


Mungkin sekarang kamu sudah bahagia. Tertawa tanpa beban, menjalani hari tanpa bayanganku yang dulu sempat menetap. Dan aku masih di sini, pelan-pelan belajar menerima hal yang tak pernah aku inginkan, sambil mencoba berdamai dengan kenyataan yang terus terasa asing.


Aku sudah berhenti menunggu. Aku juga sudah mencoba mengikhlaskan, walau tidak pernah benar-benar selesai. Namun perasaan ini belum pergi sepenuhnya. Ia menetap, tumbuh diam-diam, menjadi luka yang enggan sembuh meski waktu terus berjalan dan memaksaku untuk tetap melangkah.


Malam selalu jadi tempatku jujur. Di saat semuanya tenang, justru aku paling rapuh dan tak lagi punya alasan untuk berpura-pura. Ada rindu yang tak menemukan pulang, berputar-putar tanpa arah, dan aku hanya bisa membiarkannya tinggal tanpa tahu harus mengusirnya ke mana.


Aku tidak membencimu. Bahkan untuk menyalahkan pun aku tak mampu menemukan alasan yang cukup kuat. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi bagian yang paling aku jaga, yang pernah aku percayai sepenuh hati tanpa ragu sedikit pun.


Dan pada akhirnya, aku hanya bisa menerima satu hal dengan perlahan, meski tidak pernah benar-benar siap—

DIA ADALAH SAKIT YANG TAK PERNAH AKU BENCI

DAN DIA ADALAH LUKA YANG INGIN AKU PELUK BERKALI KALI.



Bilik Sunyiku, 24 April 2026

Kamis, 23 April 2026

Aku tidak bisu, aku hanya memilih diam

 

Aku tidak bisu, hanya memilih diam
Karya : Pena_Lingga

Tuhan, aku izin menangis sebentar. Bukan karena aku ingin terlihat lemah, tapi karena aku sudah terlalu lama berpura-pura kuat sampai aku sendiri lupa rasanya baik-baik saja. Dadaku terasa sesak, seperti ada yang terus menekan dari dalam tanpa jeda. Aku menahannya berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, berharap rasa ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata, semakin kutahan, semakin dalam ia menyakiti.

Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin keluar, tapi aku tak tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Kata-kata terasa terlalu sempit untuk menjelaskan semuanya, sementara air mata pun tak pernah benar-benar cukup. Jadi aku memilih diam, membiarkan semuanya menumpuk tanpa arah. Dan di titik ini, aku bahkan tak yakin… apakah aku sedang menahan luka, atau justru sedang perlahan tenggelam di dalamnya.

Malam terasa begitu sunyi, tapi pikiranku justru tak pernah benar-benar tenang. Kenangan datang satu per satu tanpa diminta, membawa kembali rasa yang sudah susah payah kulupakan. Hal-hal kecil yang dulu terasa indah, kini berubah jadi luka yang diam-diam menyiksa. Dan yang paling menyakitkan… aku masih mengingat semuanya dengan begitu jelas, seolah itu baru saja terjadi.

Aku sudah mencoba kuat, Tuhan… sungguh. Aku mencoba menerima, mencoba mengikhlaskan, mencoba berdamai dengan keadaan yang tak pernah kupilih. Tapi setiap kali aku merasa mulai baik-baik saja, luka itu datang lagi, menghancurkan semuanya dari awal. Seolah semua usahaku selama ini tidak pernah cukup untuk membuat hatiku benar-benar sembuh.

Aku ingin bercerita, ingin sekali didengar tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Tapi setiap kali aku mencoba membuka suara, rasanya seperti ada yang mencekik di tenggorokan. Kata-kata itu hilang sebelum sempat keluar. Dan akhirnya, aku hanya bisa diam… lagi dan lagi, sampai aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Bukan karena aku tidak punya siapa-siapa, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan rasa yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Lelah mengulang cerita yang sama, lelah berharap ada yang benar-benar paham. Pada akhirnya, aku sadar… tidak semua luka bisa dibagi, dan tidak semua rasa bisa dimengerti orang lain.

Orang-orang melihatku tertawa, melihatku tersenyum, dan mengira aku baik-baik saja. Mereka tidak tahu betapa seringnya aku menahan air mata di balik semua itu. Aku belajar menyembunyikan luka dengan rapi, sampai tak ada yang curiga. Tapi di dalam, aku seperti sesuatu yang perlahan hancur… tanpa suara, tanpa perhatian.

Aku kecewa, Tuhan… pada keadaan yang tidak pernah berpihak, pada harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Aku bertahan terlalu lama di tempat yang salah, berharap sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa dipertahankan. Dan yang paling menyakitkan… aku tahu semua itu sejak awal, tapi tetap memilih tinggal.

Kadang aku bertanya, salahku di mana? Mengapa yang aku jaga sepenuh hati justru yang paling melukaiku. Mengapa yang aku perjuangkan mati-matian justru pergi tanpa penjelasan. Dan aku… tetap di sini, memunguti sisa-sisa perasaan, mencoba berdiri dari sesuatu yang bahkan sudah tidak utuh lagi.

Aku tidak marah, Tuhan… aku hanya sangat lelah. Lelah berpura-pura tidak apa-apa, lelah menahan semuanya sendirian tanpa tahu kapan ini akan berakhir. Aku kembali pada-Mu bukan dalam keadaan utuh, tapi dalam keadaan hancur. Jadi biarkan aku menangis lebih lama… karena sejujurnya, aku pun tidak tahu apakah setelah ini aku masih punya cukup kekuatan untuk kembali baik-baik saja.

Bilik Sunyiku, 11 Februari -23 April 2026

Pada buku : Aku tidak bisu, aku hanya memilih diam. Hal 1.

Aku yang ragu, Kamu yang menjauh

 

Aku Yang Ragu, Kamu Yang Menjauh
Karya : Pena_Lingga

Aku mulai mengerti, bahwa dunia ini tak pernah pelit menghadirkan keindahan.
Ia menaruh warna di langit, menumbuhkan harap di setiap langkah, dan menyelipkan bahagia di hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian.

Namun anehnya, di tengah semua itu, aku justru merasa kehilangan sesuatu yang dulu begitu dekat.
Seolah bahagia yang pernah singgah, kini perlahan menjauh tanpa pamit.

Aku tidak tahu pasti kapan semuanya berubah.
Apakah saat aku mulai terlalu berharap, atau ketika kita berhenti saling menjaga?

Kadang aku bertanya pada diri sendiri,
apa aku yang berjalan terlalu jauh hingga tak lagi menemukan jalan pulang?

Atau justru kamu yang diam-diam menciptakan jarak,
membiarkan ruang di antara kita tumbuh tanpa pernah berusaha mempersempitnya?

Hubungan ini dulu terasa hangat, seperti rumah yang selalu ingin aku tuju.
Kini, ia lebih mirip tempat asing yang bahkan aku ragu untuk sekadar mengetuk pintunya.

Aku mencoba mengingat, di mana letak kesalahan kita.
Tapi semakin aku mencari, semakin aku sadar bahwa tidak semua hal punya jawaban yang jelas.

Mungkin kita hanya dua orang yang pernah saling menemukan,
lalu perlahan tersesat di jalan yang sama tanpa benar-benar saling menggenggam.

Dan jika memang benar bahagia itu telah menjauh,
aku hanya ingin tahu… siapa yang pertama kali melepaskannya?

Aku, atau kamu… yang diam-diam sudah tak lagi menginginkannya.

Bilik Sunyiku, 26 April 2026

Senin, 20 April 2026

Mengheningkan Cinta

 Mengheningkan Cinta

Karya : Pena_Lingga



kita pernah duduk diam, menghafal cara paling sunyi untuk mengenang—mengheningkan cipta.

suara hening itu seperti doa yang tidak butuh kata, hanya rasa yang dipaksa tunduk pada kehilangan.

tapi kali ini, aku tidak sedang mengenang pahlawan yang gugur di medan perang.

aku sedang belajar menguburkan sesuatu yang dulu aku rawat dengan sepenuh hati.

aku menyebutnya: mengheningkan cinta—sebuah perpisahan yang bahkan tidak sempat diberi upacara.


aku mencintaimu dengan cara yang tidak ribut, tidak juga setengah-setengah.

aku jatuh tanpa rem, tanpa ragu, seperti seseorang yang percaya bahwa pelukanmu adalah akhir dari segala lelah.

aku menaruh harap terlalu jauh, tanpa sadar bahwa di dalamnya ada retakan kecil yang tak pernah aku perhatikan.

dan dari retakan itulah, luka-luka itu perlahan tumbuh—diam, tapi pasti menghancurkan.


yang pergi itu kamu, dengan langkah yang mungkin sudah lama kau siapkan.

yang tertinggal itu aku—bersama semua percakapan yang belum selesai, semua rencana yang tak sempat kita wujudkan.

anehnya, yang lebih hancur justru yang tidak ke mana-mana.

aku berdiri di tempat yang sama, melihat semuanya runtuh tanpa bisa memungut apa pun selain sisa-sisa kenangan.


aku pernah berpikir, mungkin aku terlalu dalam mencintaimu.

atau mungkin aku hanya salah memilih tempat untuk pulang, salah menaruh percaya pada seseorang yang tidak benar-benar ingin tinggal.

sebab tidak semua pelukan benar-benar berniat menenangkan,

dan tidak semua “jangan pergi” benar-benar ingin mempertahankan.


aku mencoba lupa. sungguh.

aku mencoba menata ulang hidup tanpa menyebut namamu di setiap jeda.

tapi kenangan itu licik—ia datang tanpa izin, tanpa aba-aba.

ia bersembunyi di lagu yang tiba-tiba terdengar familiar, di jalan yang pernah kita lalui,

bahkan di diam yang tiba-tiba terasa punya nama: kamu.


aku kalah, iya.

tapi bukan karena aku tidak cukup berjuang, bukan karena aku menyerah terlalu cepat.

aku hanya sedang sendirian di medan yang kita sebut “kita”.

dan sekuat apa pun seseorang bertahan, ia tetap akan runtuh

jika hanya satu hati yang terus berusaha menjaga.


kamu pernah jadi alasan aku bertahan, menjadi satu-satunya hal yang membuat semua terasa layak diperjuangkan.

dan hari ini, kamu juga yang memaksaku belajar melepaskan, meski aku belum benar-benar siap.

lucu ya, satu orang bisa jadi rumah

sekaligus alasan seseorang kehilangan arah pulang.


aku tidak marah, setidaknya tidak lagi seperti dulu.

tidak juga sepenuhnya memaafkan, karena beberapa luka memang tidak pernah benar-benar hilang.

aku hanya lelah menyimpan sesuatu yang tidak lagi ingin tinggal.

lelah berharap pada seseorang yang sudah lebih dulu mengikhlaskan kepergiannya.


jadi, hari ini aku memilih diam.

bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena kata-kata sudah tidak lagi mampu menjelaskan apa yang tersisa.

ada perasaan yang memang lebih pantas dihormati tanpa suara,

seperti doa yang dipanjatkan dalam hati,

atau tangis yang tidak lagi butuh disaksikan siapa pun.


aku berdiri di sini—di antara sisa-sisa yang dulu pernah utuh dan penuh arti.

namamu masih ada, tapi tidak lagi kupanggil sebagai tujuan, tidak lagi aku tunggu dalam setiap harap yang dulu begitu keras kepala.

ia hanya tinggal sebagai luka yang perlahan kupelajari cara sembuhkan, meski kadang masih terasa perih di waktu-waktu tertentu.

dan tanpa aba-aba apa pun, tanpa perpisahan yang layak, tanpa kata terakhir yang bisa dijadikan pegangan,

aku akhirnya benar-benar mengheningkan cinta—membiarkannya pergi dalam diam, seperti ia datang dulu: tanpa pernah benar-benar meminta izin.



Ruang Sunyiku, 20 April 2026

Sabtu, 18 April 2026

Satire Ramuan Kekuasaan

 Ramuan Kekuasaan

Karya : Pena_Lingga



Mari meramu rima—remuk, meriak, meriang

Majas menjalar, menjelma menjengat—menyilang

Diksi dikunyah, digilas, digiring gamang

Dalam dengung dada, deru derita digendang


Belati berbalut belukar bahasa berbiak

Melati melilit makna—mengerat, mengoyak, meriak

Aku arus angkara—arusmu akan ambruk teriak

Kau karam, terkoyak, terkunci, tak lagi teriak


Politik pelik—pelintir peluh penuh pelacur palsu

Kursi keropos—kroni kerumun, kerakus kalbu

Janji jadi jaring—jerat jelata, jemu yang membatu

Rakyat retak—ragu, remuk, runtuh dalam rindu semu


Bibir berbuih—berisik, berulang, berlapis bual

Dasi berdalih—dendam dipelintir jadi dalil dangkal

Suara disuap—sunyi disayat, sengaja disangkal

Sistem sekarat—sembunyi sakit, seolah sakral


Data didramatisir—diterjang dusta dalam detak

Dadu dilempar—derajat dibeli, derapnya retak

Dalih dipahat—dalam dada dingin yang pekak

Demokrasi? deru-dendam—dilumat, dirampas, digetak


Simulakra sumpah—serapah seolah suci serasi

Serdadu suara—sandiwara sengaja disugesti

Sirkus senyap—senyum sinis, sandiwara basi

Sementara sengsara sibuk sembunyi di sisi


Kata-kata keras—kerangkeng nurani, kusut kuasa

Kuota kuasa—kunci keadilan, koyak rasa

Kering kerongkongan kejujuran—kandas binasa

Karena kursi—kuil kotor, keramatnya rekayasa


Retorika retak—runtun rasa runtuh berderak

Rencana rusak—rapi rapi namun rapuh teracak

Rakyat diracik—ragu dirantai, riuh meriak

Realita remang—redup, redup, lalu lenyap terinjak


Teriak teredam—tertindih tepuk tangan terkutuk

Tangan-tangan tamak—tajam, terlatih, terus merenggut

Tumpukan tanya—terkunci, tertanam, tak sempat terbentuk

Terjebak tirani—takhta timpang, terus mengutuk


Aksara akhirnya amuk—arus amarah menganga

Angkuh akan ambruk—arus balik menelan kuasa

Agar abai tersadar—atau habis dihantam masa

Dan rakyat—raksasa riil—runtuhkan reka-reka rasa



Republik Rubik, 18 April 2026

Jumat, 17 April 2026

Satire Penipu Ulung

 Penipu Ulung

Karya: Pena_Lingga


Kau tahu!

Betapa mirisnya aku melihat orang tertipu,

Diberi wejangan palsu,

Yang membuat hati mereka menjadi ambigu.


Jangan salahkan aku!

Aku begini karena rasa iba,

Bukan untuk mencari muka,

Atau sekadar ingin dipuji dan dipuja.


Aku ini manusia, berjiwa dan punya rasa,

Mana mungkin diam saat dusta merajalela,

Melihat mereka tertawa di atas luka,

Sementara kalian tertindas dan merana.


Ini fakta, bukan sekadar cerita,

Bukan pula karangan tanpa makna,

Apa yang kulihat nyata adanya,

Meski pahit untuk diterima.


Tolong, cerna dengan bijak,

Jangan asal berasumsi lalu beranjak,

Apakah kalian senang terus diinjak,

Dan hidup hanya jadi budak?


Mereka pandai merangkai kata,

Membungkus dusta jadi terasa nyata,

Seakan benar tanpa cela,

Padahal hanya tipu daya semata.


Janji manis jadi senjata,

Membius hati tanpa terasa,

Hingga kalian lupa arah dan asa,

Terjebak dalam jerat yang sama.


Sadarlah sebelum terlambat,

Jangan biarkan diri terikat,

Karena sekali kalian tersesat,

Bangkit pun terasa berat.


Gunakan akal, tajamkan rasa,

Bedakan mana tulus, mana rekayasa,

Jangan mudah percaya begitu saja,

Meski kata mereka terdengar sempurna.


Aku hanya ingin membuka mata,

Bukan menjatuhkan siapa-siapa,

Jika kalian masih memilih percaya,

Setidaknya aku sudah bersuara.



Republik Rubik, 17 April 2026

Selasa, 14 April 2026

( Dialog ) Pada Rahim Ini

 Pada Rahim Ini, Kusimpan Cintamu Yang Pergi

Oleh : Pena_Lingga


Chandra:

Dinda… sudilah kiranya engkau duduk barang sejenak di hadapanku. Ada perkara yang sejak lama kupendam dalam dada, yang kian hari kian memberatkan langkah dan menyesakkan napas. Bukan karena aku tiada lagi menyayangimu, melainkan justru karena kasih itulah aku gentar untuk berkata. Namun kiranya, hari ini tak dapat lagi kutunda.


Dinda:

Chandra, tutur katamu hari ini terasa asing di telingaku. Seakan-akan angin yang membawa kabar duka tengah berhembus perlahan. Katakanlah, apakah gerangan yang tengah menggelisahkan hatimu? Janganlah engkau menyimpan sendiri hingga hatimu menjadi luka.


Chandra:

Dinda… telah ditetapkan oleh keluargaku suatu jalan bagiku untuk menuntut ilmu ke negeri seberang. Segala sesuatunya telah mereka persiapkan dengan rapi, seolah hidupku telah digariskan tanpa ruang untuk membantah. Dan kepergian itu… bukanlah sekejap mata, melainkan waktu yang panjang, yang barangkali akan memisahkan kita tanpa kepastian.


Dinda:

Jika demikian adanya, bukankah sepatutnya aku turut berbahagia? Bukankah cita-cita seorang lelaki terletak pada ilmu dan masa depan? Namun mengapa, di balik tutur halusmu itu, kurasakan bayang perpisahan yang lebih dalam dari sekadar jarak?


Chandra:

Dinda… ada perkara yang lebih berat daripada sekadar jarak. Keluargaku tiada pernah merestui kasih kita. Mereka memandang engkau bukan dari hatimu, melainkan dari asal-usulmu yang dahulu. Dan dalam dunia mereka, itu telah cukup untuk menutup segala pintu.


Dinda:

Telah kusadari sejak mula, bahwa aku tiada sepadan denganmu, Chandra. Aku hanyalah perempuan yang dahulu hidup dalam gelap, yang bahkan untuk mengenang masa lalu pun terasa pilu. Namun bukankah telah kucoba meninggalkan semuanya demi engkau? Demi kasih yang kupandang suci?


Chandra:

Dan itulah yang kian membuatku merasa bersalah, Dinda. Engkau telah berkorban begitu banyak, sedangkan aku… tiada mampu menjanjikan masa depan yang terang bagimu. Di negeri seberang nanti, aku akan terikat pada kehendak keluargaku. Bahkan mungkin… aku akan dipersatukan dengan perempuan lain yang mereka anggap pantas.


Dinda:

Maka apakah arti segala yang telah kita jalani, Chandra? Apakah kasih ini sekadar persinggahan di hatimu? Jika benar demikian, katakanlah dengan jujur, agar aku tiada terus berharap pada sesuatu yang tiada akan kau perjuangkan.


Chandra:

Janganlah engkau berkata demikian, Dinda. Kasihku padamu tiada pernah dusta. Namun terkadang, hidup memaksa kita untuk memilih jalan yang melukai hati sendiri. Dan aku… telah sampai pada persimpangan itu.


Dinda:

Sungguh pilu rasanya mendengar tuturmu, Chandra. Engkau yang dahulu berjanji akan setia, kini berdiri di hadapanku dengan kata perpisahan. Tahukah engkau, betapa aku menggantungkan harapanku padamu, sebagai satu-satunya tempatku berpulang?


Chandra:

Aku tiada ingin engkau terus bergantung pada seseorang yang bahkan tiada mampu melawan takdirnya sendiri. Engkau patut mendapatkan hidup yang lebih baik, tanpa bayang-bayang ketidakpastian dariku.


Dinda:

Namun aku telah menyerahkan seluruh hidupku padamu, Chandra. Aku meninggalkan masa laluku, menanggalkan segala yang dahulu melekat padaku, hanya demi menjadi seseorang yang pantas di sisimu. Kini, ke manakah harus kubawa sisa diriku ini?


Chandra:

Engkau lebih kuat dari yang engkau kira, Dinda. Luka ini mungkin akan menghancurkanmu sementara, namun aku percaya engkau akan bangkit kembali, dengan atau tanpa diriku.


Dinda:

Betapa mudah engkau berkata tentang bangkit dan melupakan. Sedangkan aku… bahkan untuk membayangkan hari esok tanpa dirimu pun terasa seperti kehilangan arah. Hatiku telah terlanjur menetap padamu, Chandra.


Chandra:

Percayalah, Dinda… tiada satu kata pun yang keluar dari bibirku saat ini yang tidak menyayat hatiku sendiri. Namun kiranya, perpisahan ini adalah jalan yang harus kita tempuh, meski pahit adanya.


Dinda:

Tidak, Chandra… ini bukan sekadar jalan yang harus ditempuh. Ini adalah pilihan yang engkau ambil. Engkau memilih dunia dan keluargamu… dan meninggalkan aku yang telah menjadikanmu sebagai segalanya.


Chandra:

Jika dengan membenciku engkau dapat menemukan kekuatan untuk melangkah, maka bencilah aku, Dinda. Aku rela menanggung itu, selama engkau tidak lagi terbelenggu oleh harapan padaku.


Dinda:

Benci? Bagaimana mungkin aku membencimu, Chandra… sementara di dalam diriku kini tersimpan bagian dari dirimu? Tahukah engkau… bahwa aku tengah mengandung anakmu?


Chandra:

…Dinda… apa gerangan yang engkau ucapkan itu? Benarkah adanya? Mengapa engkau menyimpan kabar sebesar ini dariku? Aku… aku seakan kehilangan kata untuk menjawab semua ini.


Dinda:

Aku menyimpannya karena aku ingin menyampaikannya dalam kebahagiaan, bukan dalam perpisahan. Namun kini, segalanya telah berbeda. Engkau hendak pergi, dan aku… akan tinggal bersama anak ini, yang kelak akan bertanya tentang ayahnya. Dan saat itu tiba, mungkin yang mampu kujawab hanyalah… bahwa ayahnya pergi sebelum sempat mengenalnya.



_Bilik Sunyi, 14 April 2026

Senin, 13 April 2026

Janji Selamanya, Tapi Tidak Menetap

 

Janji Selamanya, Tapi Tidak Menetap
Karya : Pena_Lingga

Hei, masih ingat denganku? Masih ingat kata, “aku janji akan terus sama kamu”—itu adalah ucapan yang dulu kau genggam erat, seolah waktu pun tak berani membantahnya. Kita pernah percaya, bahwa janji itu akan tumbuh seperti akar, menguat dalam diam, dan bertahan meski badai datang silih berganti.

Tapi lihat sekarang. Kata-kata itu tinggal gema yang berulang di kepalaku, tanpa arah pulang. Kau yang dulu meyakinkanku untuk tidak takut kehilangan, justru menjadi alasan mengapa aku belajar menelan kehilangan itu sendiri, pelan-pelan, tanpa suara.

Aku masih ingat caramu menatap, seakan aku adalah rumah. Tempatmu pulang setelah lelah menjadi dunia bagi orang lain. Namun mungkin aku salah mengartikan—mungkin aku hanya persinggahan, tempatmu beristirahat sebelum benar-benar menemukan tujuan.

Kau berubah. Atau mungkin, sejak awal aku tak pernah benar-benar mengenalmu. Ada bagian dari dirimu yang tak pernah kau beri padaku, bagian yang kini kau berikan dengan mudah pada dia—yang sekarang kau pilih.

Dan aku? Kau tinggalkan di ruang yang tak punya nama. Ruang yang sunyi, tapi bising oleh kenangan. Di sini, aku berteman dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya terbiasa untuk tidak lagi mengeluh.

Lucu ya, dulu aku takut kehilanganmu. Sekarang aku lebih takut mengingatmu. Karena setiap ingatan adalah luka yang membuka diri lagi, tanpa permisi, tanpa belas kasihan.

Aku pernah menjadi seseorang yang penuh. Penuh harap, penuh tawa, penuh cerita tentang kita yang tak ada habisnya. Tapi setelah kau pergi, aku seperti halaman yang dirobek dari buku yang tak pernah selesai ditulis.

Kadang aku bertanya, apakah kau pernah benar-benar mencintaiku? Atau aku hanya kebetulan yang datang di waktu yang tepat, lalu kau tinggalkan saat waktu itu habis masa berlakunya.

Aku tidak membencimu. Tidak juga sepenuhnya merelakanmu. Aku hanya sedang belajar—bagaimana cara berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang dijanjikan akan ditepati, dan tidak semua yang datang akan tinggal.

Jadi kalau suatu hari kau kembali mengingatku, ingatlah ini: aku pernah menjadi seseorang yang memilihmu tanpa ragu. Seseorang yang tetap tinggal saat kau ingin pergi. Tapi sayangnya, kesetiaan pun punya batas—dan aku sudah terlalu lama berdiri sendiri di tempat yang dulu kita sebut “selamanya.”

Bilik sunyi, 14 April 2026

Anak Kecil Yang Kehilangan Pundaknya

  Anak Kecil Yang Kehilangan pundaknya Oleh : Pena_Lingga Untuk anak sepertiku yang kehilangan pundaknya sejak masih kecil, sore selalu te...