Janji Selamanya, Tapi Tidak Menetap
Karya : Pena_Lingga
Hei, masih ingat denganku? Masih ingat kata, “aku janji akan terus sama kamu”—itu adalah ucapan yang dulu kau genggam erat, seolah waktu pun tak berani membantahnya. Kita pernah percaya, bahwa janji itu akan tumbuh seperti akar, menguat dalam diam, dan bertahan meski badai datang silih berganti.
Tapi lihat sekarang. Kata-kata itu tinggal gema yang berulang di kepalaku, tanpa arah pulang. Kau yang dulu meyakinkanku untuk tidak takut kehilangan, justru menjadi alasan mengapa aku belajar menelan kehilangan itu sendiri, pelan-pelan, tanpa suara.
Aku masih ingat caramu menatap, seakan aku adalah rumah. Tempatmu pulang setelah lelah menjadi dunia bagi orang lain. Namun mungkin aku salah mengartikan—mungkin aku hanya persinggahan, tempatmu beristirahat sebelum benar-benar menemukan tujuan.
Kau berubah. Atau mungkin, sejak awal aku tak pernah benar-benar mengenalmu. Ada bagian dari dirimu yang tak pernah kau beri padaku, bagian yang kini kau berikan dengan mudah pada dia—yang sekarang kau pilih.
Dan aku? Kau tinggalkan di ruang yang tak punya nama. Ruang yang sunyi, tapi bising oleh kenangan. Di sini, aku berteman dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya terbiasa untuk tidak lagi mengeluh.
Lucu ya, dulu aku takut kehilanganmu. Sekarang aku lebih takut mengingatmu. Karena setiap ingatan adalah luka yang membuka diri lagi, tanpa permisi, tanpa belas kasihan.
Aku pernah menjadi seseorang yang penuh. Penuh harap, penuh tawa, penuh cerita tentang kita yang tak ada habisnya. Tapi setelah kau pergi, aku seperti halaman yang dirobek dari buku yang tak pernah selesai ditulis.
Kadang aku bertanya, apakah kau pernah benar-benar mencintaiku? Atau aku hanya kebetulan yang datang di waktu yang tepat, lalu kau tinggalkan saat waktu itu habis masa berlakunya.
Aku tidak membencimu. Tidak juga sepenuhnya merelakanmu. Aku hanya sedang belajar—bagaimana cara berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang dijanjikan akan ditepati, dan tidak semua yang datang akan tinggal.
Jadi kalau suatu hari kau kembali mengingatku, ingatlah ini: aku pernah menjadi seseorang yang memilihmu tanpa ragu. Seseorang yang tetap tinggal saat kau ingin pergi. Tapi sayangnya, kesetiaan pun punya batas—dan aku sudah terlalu lama berdiri sendiri di tempat yang dulu kita sebut “selamanya.”
Bilik sunyi, 14 April 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar