Selasa, 14 April 2026

( Dialog ) Pada Rahim Ini

 Pada Rahim Ini, Kusimpan Cintamu Yang Pergi

Oleh : Pena_Lingga


Chandra:

Dinda… sudilah kiranya engkau duduk barang sejenak di hadapanku. Ada perkara yang sejak lama kupendam dalam dada, yang kian hari kian memberatkan langkah dan menyesakkan napas. Bukan karena aku tiada lagi menyayangimu, melainkan justru karena kasih itulah aku gentar untuk berkata. Namun kiranya, hari ini tak dapat lagi kutunda.


Dinda:

Chandra, tutur katamu hari ini terasa asing di telingaku. Seakan-akan angin yang membawa kabar duka tengah berhembus perlahan. Katakanlah, apakah gerangan yang tengah menggelisahkan hatimu? Janganlah engkau menyimpan sendiri hingga hatimu menjadi luka.


Chandra:

Dinda… telah ditetapkan oleh keluargaku suatu jalan bagiku untuk menuntut ilmu ke negeri seberang. Segala sesuatunya telah mereka persiapkan dengan rapi, seolah hidupku telah digariskan tanpa ruang untuk membantah. Dan kepergian itu… bukanlah sekejap mata, melainkan waktu yang panjang, yang barangkali akan memisahkan kita tanpa kepastian.


Dinda:

Jika demikian adanya, bukankah sepatutnya aku turut berbahagia? Bukankah cita-cita seorang lelaki terletak pada ilmu dan masa depan? Namun mengapa, di balik tutur halusmu itu, kurasakan bayang perpisahan yang lebih dalam dari sekadar jarak?


Chandra:

Dinda… ada perkara yang lebih berat daripada sekadar jarak. Keluargaku tiada pernah merestui kasih kita. Mereka memandang engkau bukan dari hatimu, melainkan dari asal-usulmu yang dahulu. Dan dalam dunia mereka, itu telah cukup untuk menutup segala pintu.


Dinda:

Telah kusadari sejak mula, bahwa aku tiada sepadan denganmu, Chandra. Aku hanyalah perempuan yang dahulu hidup dalam gelap, yang bahkan untuk mengenang masa lalu pun terasa pilu. Namun bukankah telah kucoba meninggalkan semuanya demi engkau? Demi kasih yang kupandang suci?


Chandra:

Dan itulah yang kian membuatku merasa bersalah, Dinda. Engkau telah berkorban begitu banyak, sedangkan aku… tiada mampu menjanjikan masa depan yang terang bagimu. Di negeri seberang nanti, aku akan terikat pada kehendak keluargaku. Bahkan mungkin… aku akan dipersatukan dengan perempuan lain yang mereka anggap pantas.


Dinda:

Maka apakah arti segala yang telah kita jalani, Chandra? Apakah kasih ini sekadar persinggahan di hatimu? Jika benar demikian, katakanlah dengan jujur, agar aku tiada terus berharap pada sesuatu yang tiada akan kau perjuangkan.


Chandra:

Janganlah engkau berkata demikian, Dinda. Kasihku padamu tiada pernah dusta. Namun terkadang, hidup memaksa kita untuk memilih jalan yang melukai hati sendiri. Dan aku… telah sampai pada persimpangan itu.


Dinda:

Sungguh pilu rasanya mendengar tuturmu, Chandra. Engkau yang dahulu berjanji akan setia, kini berdiri di hadapanku dengan kata perpisahan. Tahukah engkau, betapa aku menggantungkan harapanku padamu, sebagai satu-satunya tempatku berpulang?


Chandra:

Aku tiada ingin engkau terus bergantung pada seseorang yang bahkan tiada mampu melawan takdirnya sendiri. Engkau patut mendapatkan hidup yang lebih baik, tanpa bayang-bayang ketidakpastian dariku.


Dinda:

Namun aku telah menyerahkan seluruh hidupku padamu, Chandra. Aku meninggalkan masa laluku, menanggalkan segala yang dahulu melekat padaku, hanya demi menjadi seseorang yang pantas di sisimu. Kini, ke manakah harus kubawa sisa diriku ini?


Chandra:

Engkau lebih kuat dari yang engkau kira, Dinda. Luka ini mungkin akan menghancurkanmu sementara, namun aku percaya engkau akan bangkit kembali, dengan atau tanpa diriku.


Dinda:

Betapa mudah engkau berkata tentang bangkit dan melupakan. Sedangkan aku… bahkan untuk membayangkan hari esok tanpa dirimu pun terasa seperti kehilangan arah. Hatiku telah terlanjur menetap padamu, Chandra.


Chandra:

Percayalah, Dinda… tiada satu kata pun yang keluar dari bibirku saat ini yang tidak menyayat hatiku sendiri. Namun kiranya, perpisahan ini adalah jalan yang harus kita tempuh, meski pahit adanya.


Dinda:

Tidak, Chandra… ini bukan sekadar jalan yang harus ditempuh. Ini adalah pilihan yang engkau ambil. Engkau memilih dunia dan keluargamu… dan meninggalkan aku yang telah menjadikanmu sebagai segalanya.


Chandra:

Jika dengan membenciku engkau dapat menemukan kekuatan untuk melangkah, maka bencilah aku, Dinda. Aku rela menanggung itu, selama engkau tidak lagi terbelenggu oleh harapan padaku.


Dinda:

Benci? Bagaimana mungkin aku membencimu, Chandra… sementara di dalam diriku kini tersimpan bagian dari dirimu? Tahukah engkau… bahwa aku tengah mengandung anakmu?


Chandra:

…Dinda… apa gerangan yang engkau ucapkan itu? Benarkah adanya? Mengapa engkau menyimpan kabar sebesar ini dariku? Aku… aku seakan kehilangan kata untuk menjawab semua ini.


Dinda:

Aku menyimpannya karena aku ingin menyampaikannya dalam kebahagiaan, bukan dalam perpisahan. Namun kini, segalanya telah berbeda. Engkau hendak pergi, dan aku… akan tinggal bersama anak ini, yang kelak akan bertanya tentang ayahnya. Dan saat itu tiba, mungkin yang mampu kujawab hanyalah… bahwa ayahnya pergi sebelum sempat mengenalnya.



_Bilik Sunyi, 14 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...