Sakit Yang Kupeluk
Karya : Pena_Lingga
Aku mencoba terlihat utuh, meski sebenarnya retak di banyak sisi. Senyumku masih ada, tetap kupaksakan hadir di waktu yang tepat, tapi rasanya hampa dan tidak lagi jujur. Aku berdiri, menjalani hari sebagaimana mestinya, namun di dalamnya kosong—tak ada lagi yang benar-benar menetap atau ingin tinggal lebih lama.
Semua berubah tanpa aba-aba. Yang dulu terasa dekat, kini menjelma jarak yang tak terjangkau meski hanya dengan satu langkah. Aku memilih diam; tenaga untuk mengejar sudah habis, dan harapan pelan-pelan ikut luruh, jatuh satu per satu tanpa sempat aku selamatkan.
Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala, datang dan pergi tanpa henti. Namun setiap kali hampir terucap, semuanya runtuh lebih dulu. Perasaanku seolah paham, tak ada ruang yang benar-benar terbuka untuk mendengarkan semua ini.
Aku iri pada mereka yang mampu melupakan tanpa tersiksa. Yang bisa pergi tanpa membawa sisa, tanpa harus menoleh lagi ke belakang. Sedangkan aku, masih menggenggam semuanya terlalu erat, bahkan yang seharusnya telah lama kulepas dan kubiarkan pergi dengan tenang.
Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Yang membuatku sesak adalah caraku menyimpanmu—terlalu dalam, terlalu rapi, sampai aku sendiri kesulitan mengeluarkanmu. Hingga saat kehilangan datang, aku ikut tenggelam bersama semua yang pernah aku jaga sepenuh hati.
Mungkin sekarang kamu sudah bahagia. Tertawa tanpa beban, menjalani hari tanpa bayanganku yang dulu sempat menetap. Dan aku masih di sini, pelan-pelan belajar menerima hal yang tak pernah aku inginkan, sambil mencoba berdamai dengan kenyataan yang terus terasa asing.
Aku sudah berhenti menunggu. Aku juga sudah mencoba mengikhlaskan, walau tidak pernah benar-benar selesai. Namun perasaan ini belum pergi sepenuhnya. Ia menetap, tumbuh diam-diam, menjadi luka yang enggan sembuh meski waktu terus berjalan dan memaksaku untuk tetap melangkah.
Malam selalu jadi tempatku jujur. Di saat semuanya tenang, justru aku paling rapuh dan tak lagi punya alasan untuk berpura-pura. Ada rindu yang tak menemukan pulang, berputar-putar tanpa arah, dan aku hanya bisa membiarkannya tinggal tanpa tahu harus mengusirnya ke mana.
Aku tidak membencimu. Bahkan untuk menyalahkan pun aku tak mampu menemukan alasan yang cukup kuat. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi bagian yang paling aku jaga, yang pernah aku percayai sepenuh hati tanpa ragu sedikit pun.
Dan pada akhirnya, aku hanya bisa menerima satu hal dengan perlahan, meski tidak pernah benar-benar siap—
DIA ADALAH SAKIT YANG TAK PERNAH AKU BENCI
DAN DIA ADALAH LUKA YANG INGIN AKU PELUK BERKALI KALI.
Bilik Sunyiku, 24 April 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar