Kamis, 23 April 2026

Aku tidak bisu, aku hanya memilih diam

 

Aku tidak bisu, hanya memilih diam
Karya : Pena_Lingga

Tuhan, aku izin menangis sebentar. Bukan karena aku ingin terlihat lemah, tapi karena aku sudah terlalu lama berpura-pura kuat sampai aku sendiri lupa rasanya baik-baik saja. Dadaku terasa sesak, seperti ada yang terus menekan dari dalam tanpa jeda. Aku menahannya berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, berharap rasa ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata, semakin kutahan, semakin dalam ia menyakiti.

Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin keluar, tapi aku tak tahu bagaimana cara mengeluarkannya. Kata-kata terasa terlalu sempit untuk menjelaskan semuanya, sementara air mata pun tak pernah benar-benar cukup. Jadi aku memilih diam, membiarkan semuanya menumpuk tanpa arah. Dan di titik ini, aku bahkan tak yakin… apakah aku sedang menahan luka, atau justru sedang perlahan tenggelam di dalamnya.

Malam terasa begitu sunyi, tapi pikiranku justru tak pernah benar-benar tenang. Kenangan datang satu per satu tanpa diminta, membawa kembali rasa yang sudah susah payah kulupakan. Hal-hal kecil yang dulu terasa indah, kini berubah jadi luka yang diam-diam menyiksa. Dan yang paling menyakitkan… aku masih mengingat semuanya dengan begitu jelas, seolah itu baru saja terjadi.

Aku sudah mencoba kuat, Tuhan… sungguh. Aku mencoba menerima, mencoba mengikhlaskan, mencoba berdamai dengan keadaan yang tak pernah kupilih. Tapi setiap kali aku merasa mulai baik-baik saja, luka itu datang lagi, menghancurkan semuanya dari awal. Seolah semua usahaku selama ini tidak pernah cukup untuk membuat hatiku benar-benar sembuh.

Aku ingin bercerita, ingin sekali didengar tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Tapi setiap kali aku mencoba membuka suara, rasanya seperti ada yang mencekik di tenggorokan. Kata-kata itu hilang sebelum sempat keluar. Dan akhirnya, aku hanya bisa diam… lagi dan lagi, sampai aku terbiasa menyimpan semuanya sendirian.

Bukan karena aku tidak punya siapa-siapa, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan rasa yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Lelah mengulang cerita yang sama, lelah berharap ada yang benar-benar paham. Pada akhirnya, aku sadar… tidak semua luka bisa dibagi, dan tidak semua rasa bisa dimengerti orang lain.

Orang-orang melihatku tertawa, melihatku tersenyum, dan mengira aku baik-baik saja. Mereka tidak tahu betapa seringnya aku menahan air mata di balik semua itu. Aku belajar menyembunyikan luka dengan rapi, sampai tak ada yang curiga. Tapi di dalam, aku seperti sesuatu yang perlahan hancur… tanpa suara, tanpa perhatian.

Aku kecewa, Tuhan… pada keadaan yang tidak pernah berpihak, pada harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Aku bertahan terlalu lama di tempat yang salah, berharap sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa dipertahankan. Dan yang paling menyakitkan… aku tahu semua itu sejak awal, tapi tetap memilih tinggal.

Kadang aku bertanya, salahku di mana? Mengapa yang aku jaga sepenuh hati justru yang paling melukaiku. Mengapa yang aku perjuangkan mati-matian justru pergi tanpa penjelasan. Dan aku… tetap di sini, memunguti sisa-sisa perasaan, mencoba berdiri dari sesuatu yang bahkan sudah tidak utuh lagi.

Aku tidak marah, Tuhan… aku hanya sangat lelah. Lelah berpura-pura tidak apa-apa, lelah menahan semuanya sendirian tanpa tahu kapan ini akan berakhir. Aku kembali pada-Mu bukan dalam keadaan utuh, tapi dalam keadaan hancur. Jadi biarkan aku menangis lebih lama… karena sejujurnya, aku pun tidak tahu apakah setelah ini aku masih punya cukup kekuatan untuk kembali baik-baik saja.

Bilik Sunyiku, 11 Februari -23 April 2026

Pada buku : Aku tidak bisu, aku hanya memilih diam. Hal 1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...