Senin, 20 April 2026

Mengheningkan Cinta

 Mengheningkan Cinta

Karya : Pena_Lingga



kita pernah duduk diam, menghafal cara paling sunyi untuk mengenang—mengheningkan cipta.

suara hening itu seperti doa yang tidak butuh kata, hanya rasa yang dipaksa tunduk pada kehilangan.

tapi kali ini, aku tidak sedang mengenang pahlawan yang gugur di medan perang.

aku sedang belajar menguburkan sesuatu yang dulu aku rawat dengan sepenuh hati.

aku menyebutnya: mengheningkan cinta—sebuah perpisahan yang bahkan tidak sempat diberi upacara.


aku mencintaimu dengan cara yang tidak ribut, tidak juga setengah-setengah.

aku jatuh tanpa rem, tanpa ragu, seperti seseorang yang percaya bahwa pelukanmu adalah akhir dari segala lelah.

aku menaruh harap terlalu jauh, tanpa sadar bahwa di dalamnya ada retakan kecil yang tak pernah aku perhatikan.

dan dari retakan itulah, luka-luka itu perlahan tumbuh—diam, tapi pasti menghancurkan.


yang pergi itu kamu, dengan langkah yang mungkin sudah lama kau siapkan.

yang tertinggal itu aku—bersama semua percakapan yang belum selesai, semua rencana yang tak sempat kita wujudkan.

anehnya, yang lebih hancur justru yang tidak ke mana-mana.

aku berdiri di tempat yang sama, melihat semuanya runtuh tanpa bisa memungut apa pun selain sisa-sisa kenangan.


aku pernah berpikir, mungkin aku terlalu dalam mencintaimu.

atau mungkin aku hanya salah memilih tempat untuk pulang, salah menaruh percaya pada seseorang yang tidak benar-benar ingin tinggal.

sebab tidak semua pelukan benar-benar berniat menenangkan,

dan tidak semua “jangan pergi” benar-benar ingin mempertahankan.


aku mencoba lupa. sungguh.

aku mencoba menata ulang hidup tanpa menyebut namamu di setiap jeda.

tapi kenangan itu licik—ia datang tanpa izin, tanpa aba-aba.

ia bersembunyi di lagu yang tiba-tiba terdengar familiar, di jalan yang pernah kita lalui,

bahkan di diam yang tiba-tiba terasa punya nama: kamu.


aku kalah, iya.

tapi bukan karena aku tidak cukup berjuang, bukan karena aku menyerah terlalu cepat.

aku hanya sedang sendirian di medan yang kita sebut “kita”.

dan sekuat apa pun seseorang bertahan, ia tetap akan runtuh

jika hanya satu hati yang terus berusaha menjaga.


kamu pernah jadi alasan aku bertahan, menjadi satu-satunya hal yang membuat semua terasa layak diperjuangkan.

dan hari ini, kamu juga yang memaksaku belajar melepaskan, meski aku belum benar-benar siap.

lucu ya, satu orang bisa jadi rumah

sekaligus alasan seseorang kehilangan arah pulang.


aku tidak marah, setidaknya tidak lagi seperti dulu.

tidak juga sepenuhnya memaafkan, karena beberapa luka memang tidak pernah benar-benar hilang.

aku hanya lelah menyimpan sesuatu yang tidak lagi ingin tinggal.

lelah berharap pada seseorang yang sudah lebih dulu mengikhlaskan kepergiannya.


jadi, hari ini aku memilih diam.

bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena kata-kata sudah tidak lagi mampu menjelaskan apa yang tersisa.

ada perasaan yang memang lebih pantas dihormati tanpa suara,

seperti doa yang dipanjatkan dalam hati,

atau tangis yang tidak lagi butuh disaksikan siapa pun.


aku berdiri di sini—di antara sisa-sisa yang dulu pernah utuh dan penuh arti.

namamu masih ada, tapi tidak lagi kupanggil sebagai tujuan, tidak lagi aku tunggu dalam setiap harap yang dulu begitu keras kepala.

ia hanya tinggal sebagai luka yang perlahan kupelajari cara sembuhkan, meski kadang masih terasa perih di waktu-waktu tertentu.

dan tanpa aba-aba apa pun, tanpa perpisahan yang layak, tanpa kata terakhir yang bisa dijadikan pegangan,

aku akhirnya benar-benar mengheningkan cinta—membiarkannya pergi dalam diam, seperti ia datang dulu: tanpa pernah benar-benar meminta izin.



Ruang Sunyiku, 20 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...