Sabtu, 18 April 2026

Satire Ramuan Kekuasaan

 Ramuan Kekuasaan

Karya : Pena_Lingga



Mari meramu rima—remuk, meriak, meriang

Majas menjalar, menjelma menjengat—menyilang

Diksi dikunyah, digilas, digiring gamang

Dalam dengung dada, deru derita digendang


Belati berbalut belukar bahasa berbiak

Melati melilit makna—mengerat, mengoyak, meriak

Aku arus angkara—arusmu akan ambruk teriak

Kau karam, terkoyak, terkunci, tak lagi teriak


Politik pelik—pelintir peluh penuh pelacur palsu

Kursi keropos—kroni kerumun, kerakus kalbu

Janji jadi jaring—jerat jelata, jemu yang membatu

Rakyat retak—ragu, remuk, runtuh dalam rindu semu


Bibir berbuih—berisik, berulang, berlapis bual

Dasi berdalih—dendam dipelintir jadi dalil dangkal

Suara disuap—sunyi disayat, sengaja disangkal

Sistem sekarat—sembunyi sakit, seolah sakral


Data didramatisir—diterjang dusta dalam detak

Dadu dilempar—derajat dibeli, derapnya retak

Dalih dipahat—dalam dada dingin yang pekak

Demokrasi? deru-dendam—dilumat, dirampas, digetak


Simulakra sumpah—serapah seolah suci serasi

Serdadu suara—sandiwara sengaja disugesti

Sirkus senyap—senyum sinis, sandiwara basi

Sementara sengsara sibuk sembunyi di sisi


Kata-kata keras—kerangkeng nurani, kusut kuasa

Kuota kuasa—kunci keadilan, koyak rasa

Kering kerongkongan kejujuran—kandas binasa

Karena kursi—kuil kotor, keramatnya rekayasa


Retorika retak—runtun rasa runtuh berderak

Rencana rusak—rapi rapi namun rapuh teracak

Rakyat diracik—ragu dirantai, riuh meriak

Realita remang—redup, redup, lalu lenyap terinjak


Teriak teredam—tertindih tepuk tangan terkutuk

Tangan-tangan tamak—tajam, terlatih, terus merenggut

Tumpukan tanya—terkunci, tertanam, tak sempat terbentuk

Terjebak tirani—takhta timpang, terus mengutuk


Aksara akhirnya amuk—arus amarah menganga

Angkuh akan ambruk—arus balik menelan kuasa

Agar abai tersadar—atau habis dihantam masa

Dan rakyat—raksasa riil—runtuhkan reka-reka rasa



Republik Rubik, 18 April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...