IMITASI TRAUMA
Karya : Pena_Lingga
12:02 tepat, malam terasa seperti berhenti bernapas. Udara dingin menyusup perlahan melalui ventilasi kamarku, menempel di kulit, lalu menetap di dada. Lampu redup menggantung tanpa arti, sementara aku duduk diam, terjaga, menatap kegelapan yang tak pernah benar-benar gelap. Mataku terbuka lebar, bukan karena ingin, tetapi karena pikiranku menolak beristirahat, seolah ada perang kecil yang tak kunjung usai di dalam kepala.
Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan malam ini. Tentang lelah yang sudah terlalu lama kupeluk, tentang luka yang tak pernah sempat kusembuhkan. Namun setiap kali aku mencoba memilih satu cerita, semuanya terasa sama beratnya. Aku kebingungan menentukan dari mana harus memulai, karena semuanya berawal dari rasa sakit yang sama.
Lidahku kelu, seakan kehilangan fungsi dasarnya. Kata-kata berdesakan di kepala, namun tidak satu pun berani keluar. Bibirku terkunci rapat, bukan karena tidak ingin berbicara, melainkan karena aku takut—takut jika sekali terbuka, aku akan menangis tanpa bisa berhenti, dan tidak ada siapa pun yang akan mendengarnya.
Aku menatap langit-langit kamar yang kosong, retaknya membentuk pola-pola aneh yang sudah kuhafal di luar kepala. Di sana, masa lalu tiba-tiba hidup kembali. Wajah-wajah lama muncul dengan jelas, suara-suara yang dulu menggores kini kembali menggema. Aku tidak mengundangnya, tapi trauma selalu tahu jalan pulang.
Aku mencoba mengingat hal-hal baik, mencari celah cahaya sekecil apa pun. Tapi ingatan buruk selalu lebih keras. Ia datang membawa rasa bersalah, penyesalan, dan pertanyaan yang tak pernah punya jawaban. Aku kembali menjadi versi diriku yang paling lemah, yang dulu hanya bisa diam dan menerima.
Ada bagian dari diriku yang tertinggal jauh di sana, di waktu yang seharusnya sudah kulewati. Ia masih menangis setiap malam, menunggu diselamatkan. Aku bisa mendengarnya memanggil namaku, tapi aku tidak tahu bagaimana cara kembali untuk menjemputnya.
Aku lelah berpura-pura kuat. Lelah menjelaskan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, padahal setiap hari aku hanya bertahan. Senyum yang kupakai terasa berat, seperti topeng yang menekan wajah hingga aku lupa rasanya menjadi diri sendiri.
Waktu terus berjalan tanpa peduli. Jam di dinding berdetak pelan, menghitung detik yang terasa kejam. Semua orang tampak melaju ke depan, sementara aku masih berdiri di titik yang sama, memeluk luka lama yang belum sempat kutinggalkan.
Kesunyian malam semakin dalam, dan aku ikut tenggelam bersamanya. Tidak ada suara yang menenangkan, tidak ada pelukan yang menunggu. Hanya aku, pikiranku, dan rasa sakit yang semakin nyata. Aku mulai bertanya, apakah aku benar-benar masih ingin sembuh, atau hanya ingin berhenti merasa.
Dan di ujung malam ini, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: aku tidak sedang menunggu pagi. Aku hanya menunggu agar rasa ini habis, entah dengan cara apa. Jika esok aku masih bernapas, itu bukan tanda aku kuat—itu hanya bukti bahwa aku belum sempat menyerah.
Bilik Sunyi, 23 Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar