PRODOGLAMASI
Karya : Pena_Lingga
Kami, bangsa yang terlalu gemar menggonggong di kolom komentar, dengan ini menyatakan kemerdekaan dari rasa malu.
Hal-hal mengenai menjilat, menghasut, memelintir fakta, dan memburu pujian akan diselenggarakan dengan cara seramai-ramainya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Konon negeri ini telah merdeka. Bendera berkibar di setiap tiang. Lagu kebangsaan berkumandang di setiap peringatan. Pidato disampaikan dengan suara yang penuh keyakinan. Sementara itu, nurani masih mengantre di ruang tunggu yang tak kunjung dipanggil. Mungkin ia lupa membawa surat rekomendasi.
Hutan pun tampaknya sedang mengikuti program diet nasional. Pohon-pohon dipersilakan menghilang satu per satu. Gunung mulai kehilangan pakaian hijaunya. Sungai menerima kiriman lumpur sebagai tanda kasih dari daratan. Burung-burung dipaksa menjadi pengembara, sebab rumah mereka telah berubah menjadi angka dalam laporan investasi.
Korupsi telah naik kelas. Ia tidak lagi berjalan dengan wajah tertutup. Ia datang memakai jas yang disetrika rapi, sepatu yang mengilap, dan senyum yang penuh wibawa. Semua orang mengenalnya. Semua orang membicarakannya. Anehnya, ia masih sering mendapat kursi paling nyaman di ruang yang berpendingin udara.
Hukum berdiri tegak membawa timbangan. Banyak rakyat memandangnya dengan harapan. Banyak pula yang pulang membawa pertanyaan. Timbangan itu tampak sibuk mencari keseimbangan, sementara angin kepentingan terus bertiup dari segala arah. Barangkali besinya mulai lelah menopang beban yang tak pernah sama.
Kemiskinan menjadi warga paling setia. Ia tidak pernah pindah alamat. Ia selalu hadir menyapa gang sempit, rumah reyot, sawah yang gagal panen, dan pasar yang semakin sepi. Ia datang tanpa undangan, bertahan tanpa batas waktu, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai pusaka yang tak pernah diminta.
Pendidikan terus dipuji sebagai cahaya masa depan. Buku-buku dibagikan. Spanduk motivasi dipasang. Seminar diselenggarakan. Di sudut lain, masih ada anak yang menghitung jarak menuju sekolah sambil menghitung sisa uang di saku orang tuanya. Mimpi tetap berangkat pagi, walau bekalnya sering tertinggal.
Setiap musim, janji tumbuh lebih cepat daripada padi. Kata-kata dipanen sebelum sempat berbuah. Mikrofon menjadi alat pertanian paling subur. Tepuk tangan dipanen dalam jumlah melimpah. Seusai musim berlalu, sawah harapan kembali ditumbuhi rumput kecewa.
Media sosial menjelma alun-alun baru. Semua orang ingin menjadi hakim. Semua orang ingin menjadi pahlawan. Semua orang ingin menjadi ahli. Kebenaran sering kalah cepat oleh sensasi. Kebijaksanaan kalah ramai oleh kebisingan. Yang paling sering muncul di layar dianggap paling pantas dipercaya.
Rakyat terus bekerja. Petani menanam. Nelayan berlayar. Buruh mengangkat beban. Guru mengajar. Tenaga kesehatan merawat. Negeri ini tetap bergerak karena jutaan tangan yang berkeringat setiap hari. Ironinya, suara mereka sering kalah nyaring dibandingkan suara orang yang pandai mengatur pencitraan.
Barangkali PRO'DOG'LAMASI belum selesai dibacakan. Barangkali naskahnya masih ditulis di atas batang pohon yang tumbang, di tepian sungai yang keruh, di ruang sidang yang dipenuhi harapan, di meja makan yang hanya berisi nasi dan garam. Hari ketika kejujuran menjadi kebiasaan, keadilan menemukan jalannya, hutan kembali bernapas, dan kemiskinan berhenti diwariskan, saat itulah satire ini kehilangan alasan untuk ada. Hingga waktu itu datang, menggonggong memang lebih mudah daripada menjaga negeri.
Negeri Suram, 6 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar