Selasa, 14 Oktober 2025

Rumah Yang Tak Pernah Jadi Tempat Pulang

 Rumah yang Tak Pernah Jadi Tempat Pulang


Oleh : Pena_Lingga


Gak tahu lagi harus aku mulai cerita ini dari halaman berapa. Mungkin dari awal lagi, mungkin dari tengah, atau dari titik di mana aku sudah tidak sanggup menulis apa pun. Ini sudah entah yang keberapa kalinya aku menulis dengan tangan bergetar dan mata yang basah. Setiap kalimat terasa seperti luka yang dibuka kembali, setiap kata seperti air mata yang jatuh tanpa izin. Aku hanya tahu satu hal—aku sedang kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.


Dulu aku percaya, setiap pertemuan adalah takdir yang indah. Aku pikir, ketika seseorang datang membawa senyum, ia datang untuk menetap. Tapi aku salah. Tidak semua rumah yang terlihat hangat benar-benar bisa kita tinggali. Ada beberapa yang hanya membuka pintu sementara, sekadar untuk beristirahat, sebelum akhirnya meninggalkan kita sendirian di depan ambang pintu, dengan segenggam kenangan yang terlalu berat untuk digenggam lama-lama.


Aku pernah yakin bahwa cinta saja cukup. Tapi kenyataannya, cinta tidak pernah cukup. Cinta bisa tumbuh di tempat yang salah, bisa hidup di dada yang tak siap menampungnya. Kadang kita memaksa menetap di hati yang belum sembuh dari masa lalunya, berharap waktu akan memperbaiki segalanya. Padahal, yang rusak bukan waktu—kitalah yang memaksakan diri tinggal di tempat yang sudah retak sejak awal.


Ada hari-hari ketika aku menatap bayangan sendiri di cermin dan bertanya, “Salahku di mana?” Setiap kali aku berpikir bahwa ini akan jadi kisah terakhir, justru di sanalah aku kembali jatuh paling dalam. Entah ini kutukan, atau sekadar takdir yang tidak berpihak. Aku hanya tahu, aku terlalu sering mencintai orang yang datang bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajarkan cara kehilangan.


Aku masih ingat malam itu—malam ketika aku menunggu seseorang yang berjanji akan datang, tapi tak pernah tiba. Aku duduk di depan pintu, membawa segelas kopi yang kini dingin, menatap hujan yang jatuh tanpa henti. Rasanya seperti menunggu keajaiban dari langit yang sudah lama berhenti mendengar doaku. Aku ingin marah, tapi yang keluar hanya sesak. Aku ingin melupakan, tapi setiap kali aku mencoba, justru wajahnya yang paling jelas muncul di kepalaku.


Kadang aku iri pada mereka yang bisa pergi tanpa menoleh. Aku iri pada mereka yang bisa berkata “sudah cukup” tanpa harus menulis berlembar-lembar alasan untuk tetap bertahan. Aku selalu ingin seperti itu—tegas, tenang, tidak mudah rapuh. Tapi ternyata aku terlalu manusia untuk pura-pura kuat. Aku masih menangis di tengah malam, masih menulis nama yang sama di catatan yang berbeda, masih berdoa untuk seseorang yang mungkin sudah lama berhenti menyebut namaku dalam doanya.


Mungkin ini salahku—terlalu ingin menetap di hati yang sibuk membuka pintu untuk orang lain. Terlalu lama memperbaiki rumah yang bahkan bukan milikku. Aku terus menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar ingin tinggal. Aku terus meyakinkan diri bahwa cinta bisa mengubah segalanya, padahal cinta tidak selalu bisa menyelamatkan apa pun. Kadang, cinta justru yang membuat kita kehilangan diri sendiri.


Kini aku hanya ingin diam. Tidak ingin menyalahkan siapa pun, tidak ingin menyebut nama siapa pun. Aku hanya ingin jujur bahwa aku lelah—lelah berharap, lelah menunggu, lelah memperbaiki sesuatu yang tak ingin diperbaiki. Aku ingin berhenti mencari rumah di dada orang lain. Aku ingin membangun rumahku sendiri, meski kecil, meski sepi—asal tidak lagi membuatku menangis setiap malam.


Lucunya, di balik semua ini, aku masih percaya bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan seseorang yang benar-benar menetap. Bukan karena aku takut sendirian, tapi karena aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa harus kehilangan diriku sendiri. Tapi untuk saat ini, biarlah aku istirahat dulu. Biarlah aku sembuh dari reruntuhan rumah yang pernah aku bangun dengan seluruh cinta yang kupunya.


Dan jika suatu hari nanti seseorang membaca tulisan ini, semoga mereka tahu betapa keras perjuangan seseorang yang pernah mencintai dengan cara paling dalam, tapi tak pernah benar-benar dimengerti. Aku tidak ingin dikasihani. Aku hanya ingin diingat sebagai seseorang yang pernah mencoba—meski gagal, meski hancur, tapi tetap percaya bahwa cinta, sekacau apa pun bentuknya, pernah membuatku hidup lebih dari sekadar bernapas.


Bilik Sunyi, 14 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...