Jumat, 17 Oktober 2025

Langit Senja yang Tak Lagi Sama

Langit Senja yang Tak Lagi Sama

Karya: Pena_Lingga

Senja sore ini terasa berat. Langitnya seperti tidak tahu mau jadi apa—antara jingga dan kelabu, antara hangat dan dingin. Aku menatap lama, tapi rasanya kosong saja. Biasanya warna langit bisa menenangkan, tapi entah kenapa kali ini justru menambah sesak. Aku duduk di tempat yang sama seperti kemarin, hanya saja hatiku tidak sama lagi. Ada yang berubah, tapi aku tidak tahu apa. Mungkin karena terlalu banyak hal yang menumpuk di kepala, dan aku sudah kehabisan tenaga untuk pura-pura baik-baik saja.

Aku benci ketika semua terasa abu-abu seperti ini. Tidak ada yang benar-benar salah, tapi juga tidak ada yang membuatku benar-benar tenang. Semua terasa samar, seperti hidup yang berjalan tanpa arah. Kadang aku berpikir, apa mungkin aku terlalu sering pura-pura kuat sampai lupa bagaimana rasanya jujur pada diri sendiri. Aku capek, tapi tidak tahu cara berhenti. Aku ingin istirahat, tapi bahkan tidur pun tidak benar-benar membuat tenang.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin kuceritakan, tapi rasanya percuma. Tidak semua orang mau mendengarkan tanpa menilai. Kadang aku hanya butuh didengarkan, bukan diberi nasihat. Tapi orang-orang selalu ingin jadi pahlawan, seolah mereka tahu semua jawabannya. Padahal tidak ada jawaban untuk hal-hal seperti ini. Hati yang berantakan tidak bisa dibereskan hanya dengan kata “sabar”.

Langit mulai berubah warna. Cahaya jingga yang tersisa seperti enggan pergi, tapi akhirnya hilang juga. Aku menatap sisa cahaya itu sambil berpikir, mungkin begitulah hidup: tidak ada yang bisa benar-benar bertahan. Semuanya akan berubah, entah pelan atau cepat. Mungkin itu sebabnya aku sering merasa kehilangan, bahkan untuk hal-hal yang masih ada. Karena di dalam diriku, selalu ada rasa takut bahwa semua ini bisa hilang kapan saja.

Sore selalu punya cara aneh untuk membuatku jujur pada diri sendiri. Kadang aku menertawakan hal-hal kecil, lalu tiba-tiba saja ingin menangis tanpa alasan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku cari. Cuma tahu bahwa ada ruang kosong di dalam diri yang tidak bisa kuisi dengan apa pun. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi kenapa sampai sekarang masih terasa sakit ya?

Aku ingat seseorang pernah bilang, “Kalau capek, berhenti dulu.” Tapi tidak semudah itu. Ada hal-hal yang tetap harus dijalani walau badan dan hati sama-sama lelah. Hidup tidak berhenti hanya karena aku ingin istirahat. Dan mungkin itu yang paling menyakitkan — ketika kau tahu kau harus tetap berjalan meski dalam dirimu sudah tidak kuat lagi.

Sekarang langit sudah gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Orang-orang pulang, membawa lelahnya masing-masing. Aku masih di sini, memandangi langit yang kosong. Tidak ada yang spesial, tapi entah kenapa aku tetap ingin menatapnya. Mungkin karena di langit itu, aku bisa jujur bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.

Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi orang yang sering diam. Dulu aku suka bicara, suka bercanda, suka tertawa keras-keras tanpa peduli siapa yang mendengar. Sekarang, semua terasa berat. Bahkan untuk sekadar tertawa pun rasanya canggung. Aku hanya ingin hari-hari ini cepat berlalu, tapi setiap kali matahari terbenam, aku sadar bahwa besok pun belum tentu lebih baik.

Ada hal yang aneh tentang kesedihan: semakin kau mencoba menyingkirkannya, semakin kuat ia bertahan. Aku sudah mencoba menulis, berjalan, bahkan tertawa, tapi perasaan ini tetap di sini. Menempel seperti bayangan. Kadang aku berpura-pura sudah lupa, tapi malam datang dan semuanya kembali lagi. Tidak bisa kabur dari pikiran sendiri memang menyebalkan.

Dan aku tahu, tidak semua orang akan mengerti perasaan ini. Mereka akan bilang aku terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir, terlalu larut. Tapi mereka tidak tahu rasanya hidup dengan kepala yang terus berisik dan hati yang sulit dijelaskan. Jadi malam ini aku biarkan saja semua mengendap. Tidak perlu diselesaikan, tidak perlu dihapus. Cukup diakui: bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak apa-apa.

Bilik Sunyi, 17 Oktober 2025

1 komentar:

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...