Kita Ini Sebenarnya Sedang Terluka
Karya : Pena_Lingga
Kita ini sebenarnya sedang terluka, bukan?
Tapi entah mengapa setiap pagi aku masih berusaha tersenyum di depan cermin, memaksa bibir ini melengkung seolah semua baik-baik saja. Padahal mataku sudah lama kehilangan cahaya. Ada gurat lelah yang tak bisa disembunyikan, meski sudah berkali-kali kubasuh dengan air dingin. Aku tahu, di balik pantulan itu, aku sedang memandang seseorang yang tidak lagi utuh—seseorang yang belajar menelan kecewa, tapi gagal menyembuhkan diri. Mungkin yang perlahan hilang itu bukan sekadar bahagiaku, tapi jiwaku sendiri yang tak lagi tahu bagaimana caranya merasa hidup.
Kadang aku berpura-pura tidak apa-apa. Pura-pura kuat. Pura-pura tidak peduli. Aku melatih diriku untuk tertawa di tengah sesak, menutup luka dengan canda yang kering dan tawa yang dipaksakan. Tapi begitu malam tiba, semua topeng itu jatuh satu per satu. Tak ada lagi ruang untuk berpura-pura ketika kesunyian datang dan memelukku erat. Malam seolah tahu segalanya—tentang tangis yang kutahan, tentang kata-kata yang tak pernah sempat kusampaikan, tentang cinta yang kupendam hingga membusuk di dada. Di situlah aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya: rapuh, sepi, dan kehilangan arah.
Lucu, ya. Betapa mudahnya aku menenangkan orang lain dengan kalimat-kalimat bijak, tapi begitu sulit untuk menenangkan diriku sendiri. Aku sering berbohong kepada hati sendiri dengan berkata, “semua akan baik-baik saja.” Padahal jauh di dalam dada, aku tahu segalanya tidak akan pernah sama lagi. Kata-kata itu hanya menjadi obat bius yang menunda rasa sakit, bukan menyembuhkannya. Aku seperti perawat yang menambal luka pasien lain, sementara lukaku sendiri dibiarkan terbuka—menganga, bernanah, dan menolak kering.
Cinta mengajariku banyak hal, termasuk bagaimana cara kehilangan tanpa harus membenci. Tapi keluarga mengajariku hal yang lebih menyakitkan: bahwa cinta kadang tak selalu berarti diterima. Aku pernah berpikir rumah adalah tempat pulang, tapi ternyata rumah juga bisa jadi tempat paling dingin untuk berteduh. Kata-kata yang seharusnya menenangkan berubah jadi pisau yang perlahan menorehkan luka. Aku tak tahu bagaimana bisa tetap tersenyum di meja makan ketika hati terasa dipenjara. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa menelan perih dalam diam.
Aku lelah menjadi kuat setiap waktu. Lelah membuktikan pada semua orang bahwa aku baik-baik saja padahal tidak. Lelah menahan air mata agar tidak dianggap lemah. Mereka bilang aku tangguh, tapi sebenarnya aku hanya pandai menyembunyikan luka. Mereka melihatku berdiri tegak, tanpa tahu berapa kali aku nyaris roboh setiap malam. Tidak ada yang tahu betapa berat rasanya bertahan di dunia yang menuntutku selalu terlihat bahagia, padahal di dalam diriku, badai tidak pernah reda.
Ada hari-hari di mana aku ingin menyerah. Ingin berhenti berlari dari semuanya—dari cinta yang tak berpihak, dari rumah yang kehilangan kehangatannya, dari hidup yang terasa seperti beban yang terlalu berat dipikul sendiri. Aku pernah berdiri di tepi kesabaran, nyaris melompat, nyaris membiarkan segalanya berakhir. Tapi entah kenapa, selalu ada suara kecil di dalam kepalaku yang berkata, “Bertahanlah, hanya sedikit lagi.” Suara yang membuatku tetap bernapas, meski terkadang aku sendiri tidak tahu untuk apa aku masih bertahan.
Aku tidak tahu sampai kapan harus berpura-pura bahagia di depan mereka—orang-orang yang selalu tertawa keras tanpa tahu ada yang sedang menahan tangis di tengah mereka. Aku belajar menertawakan diriku sendiri agar tak terlihat menyedihkan. Belajar menatap mata orang lain tanpa menampakkan luka di mataku. Tapi setiap kali mereka berbalik, aku hancur lagi, perlahan-lahan, dalam diam. Aku menumpuk semua perih seperti reruntuhan yang menunggu waktu untuk roboh sepenuhnya.
Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa menangis tanpa alasan. Mereka yang bisa membiarkan air matanya jatuh begitu saja, tanpa peduli apa kata dunia. Sementara aku, selalu menahan semuanya sampai kepalaku berdenyut, sampai dada terasa sesak. Aku takut kalau aku mulai menangis, aku tak akan berhenti lagi. Tapi malam ini aku biarkan saja air mata itu jatuh. Tidak untuk siapa-siapa, hanya untuk diriku sendiri—untuk seseorang yang sudah terlalu lama menanggung semua rasa sakit tanpa pernah benar-benar sembuh.
Aku tahu, besok pagi aku akan kembali tersenyum di depan mereka. Kembali mengenakan topeng bahagia yang sudah lusuh. Kembali berperan sebagai seseorang yang kuat. Tapi di dalam diriku, aku hanya ingin dipeluk—sekali saja—oleh seseorang yang tidak menuntut penjelasan, tidak bertanya kenapa aku menangis, cukup diam dan biarkan aku hancur di pelukannya. Tapi dunia ini terlalu bising untuk itu. Tak ada pelukan yang benar-benar hangat, hanya tatapan kosong dan tanya yang tak perlu dijawab.
Dan malam ini, aku akhirnya mengerti: yang paling menyakitkan bukan cinta yang pergi, bukan keluarga yang tak mengerti, tapi diriku sendiri—yang perlahan mati dalam topeng yang kubuat. Aku kehilangan segalanya tanpa sempat berpamitan. Aku kehilangan diriku sendiri dalam proses berpura-pura kuat. Kini yang tersisa hanyalah tubuh yang masih bernapas tanpa arah, hati yang kosong, dan harapan yang sudah lama dikubur di bawah tumpukan kecewa. Mungkin besok aku masih hidup… tapi bukan lagi dengan hati yang sama. Yang tersisa hanyalah aku—yang patah, yang gagal sembuh, dan yang tak tahu apakah masih pantas berharap akan bahagia lagi.
Bilik Sunyi, 30 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar