Aku dan Ayah
Karya : Pena_Lingga
"Aku dan ayah meninggal di hari yang sama, tapi hanya ayahku yang dimakamkan."
Apa kamu tahu apa yang ingin kusampaikan pada sebait puisiku itu? Aku dan ayahku memang meninggal di hari yang sama. Tapi hanya ayahku yang dimakamkan, sedangkan aku masih hidup—meski tidak dengan hatiku. Sejak hari itu, aku berjalan tanpa arah, membawa tubuh yang masih bernapas tapi tanpa jiwa, menanggung rindu yang bahkan tak tahu harus kemana pulang. Kini aku menjalani hidup sendiri, tanpa pundak ayah untuk bersandar, tanpa suara yang dulu menenangkan setiap gundah.
Aku sering memandangi langit sore, berharap menemukan siluetmu di antara cahaya yang perlahan menua. Tapi tak ada apa pun di sana selain kosong yang menggantung di udara. Hari itu masih jelas dalam ingatanku; semua orang menangis di atas makammu, sementara aku berdiri kaku. Tidak ada yang tahu bahwa di detik yang sama, separuh jiwaku ikut terkubur bersama tanah yang memelukmu. Aku tersenyum kecil waktu itu—bukan karena kuat, tapi karena kehilangan terlalu dalam hingga air mataku berhenti di ujung lelah.
Sejak saat itu, hidup terasa seperti napas yang dipaksakan. Aku berjalan, makan, tertawa, tapi semuanya hanya kebiasaan tanpa rasa. Tak ada lagi suara beratmu memanggil namaku, tak ada tangan kasar tapi hangat yang menepuk bahuku. Aku hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Mungkin beginilah rasanya mati perlahan—tubuh masih ada, tapi jiwanya sudah lama pergi bersamamu.
Kadang aku ingin menulis surat untukmu, Ayah. Surat yang tahu diri bahwa ia tak akan pernah sampai. Kutulis tentang makan malam yang kini sepi, tentang kursi kosong di ruang tamu yang dulu menjadi singgasana candamu. Aku tahu waktu tak akan pernah memutarkan hari itu kembali. Tapi setiap kali aku menutup mata, aku masih bisa merasakan genggaman tanganmu yang terakhir—dingin, tapi penuh kasih yang tak sempat berpamitan.
Mereka bilang aku kuat karena masih bisa berdiri, tapi mereka tak tahu kalau kekuatan ini hanyalah bentuk dari ketidakberdayaan. Aku tak punya tempat lagi untuk runtuh. Dunia menuntutku melangkah, sementara hatiku ingin rebah di sampingmu. Andai mereka tahu, setiap malam aku berbicara dengan langit, memohon agar Tuhan memberiku sedikit waktu—sekadar untuk memelukmu, walau hanya dalam mimpi.
Hari-hari yang terlalu tenang selalu membuatku takut. Dalam diam, langkahmu masih terasa di lorong rumah. Dalam sepi, suaramu masih memanggil pelan. Aku takut tidur, sebab dalam mimpi, engkau selalu datang. Dan setiap kali aku terbangun, rasanya seperti kehilangan untuk kedua kalinya.
Kini aku paham, mengapa ada orang yang begitu ingin menyusul mereka yang pergi. Bukan karena ingin mati, tapi karena hidup tanpa mereka terasa seperti hukuman yang panjang. Aku tak ingin mati, tapi aku juga tak tahu bagaimana cara hidup tanpamu. Aku hanya berjalan, menua bersama rinduku yang tak pernah selesai.
Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan sengaja membiarkanku tetap hidup agar aku tahu rasanya kehilangan dari jarak paling menyakitkan—bukan antara dua dunia, tapi antara satu tubuh dan satu hati yang tak lagi sejiwa. Aku hidup di sini, tapi perasaanku tertinggal di liang tempat mereka menidurkanmu.
Ayah, dunia setelah kepergianmu begitu asing. Tak ada tempat yang terasa seperti rumah. Bahkan cermin pun kini memantulkan wajah yang tak kukenali. Karena sebagian besar diriku sudah ikut bersamamu, tertidur dalam tanah yang kau jaga dengan tenang.
Aku sering bertanya pada malam: apakah engkau bahagia di sana? Apakah kau juga mencariku di antara doa orang-orang yang masih hidup? Jika iya, mungkin suatu hari nanti aku akan sampai—bukan untuk dimakamkan, tapi untuk benar-benar pulang.
Karena kebenarannya, Ayah—aku dan engkau memang meninggal di hari yang sama. Bedanya, kau dimakamkan di bumi, sedangkan aku dikubur di dalam tubuhku sendiri. Dan tak seorang pun datang menabur bunga di hati yang sudah lama berhenti hidup.
Bilik Sunyi, 31 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar