Sabtu, 01 November 2025

Rahasia di Balik Lengkung Cahaya

Rahasia di Balik Lengkung Cahaya

Karya: Pena_Lingga

Mungkin pelangi bukan tentang warna. Ia cuma cara langit bilang, “Aku sudah mencoba sembuh.” Karena setelah hujan yang panjang, tak semua luka kering, dan tak semua air mata berhenti di pipi. Ada yang terus mengalir di dalam dada, diam-diam, tanpa suara, tanpa jeda. Kadang aku berpikir, mungkin pelangi adalah cara Tuhan tersenyum getir — indah, tapi sebentar.

Aku pernah menunggu pelangi. Di antara gerimis dan dingin yang terlalu jujur untuk disebut tenang. Aku berdiri lama, berharap langit menepati janjinya. Tapi yang turun bukan warna, melainkan kesunyian yang jatuh satu per satu, seperti daun yang lelah menggantung. Dan dari sana aku belajar, tidak semua penantian diberi hadiah. Kadang yang kita dapat cuma rasa sabar yang belum selesai tumbuh.

Orang-orang bilang, pelangi itu tanda bahagia. Tapi bahagia yang mana? Bahagia versi siapa? Karena di mataku, warna itu tak lebih dari luka yang dipoles cahaya. Ia indah, tapi rapuh. Seperti seseorang yang tersenyum agar tak ketahuan sedang menahan sesak. Mungkin, bahagia memang tak pernah benar-benar utuh. Ia datang bersama sisa sedih yang menempel di ujung napas.

Aku ingin tahu, bagaimana rasanya dicintai tanpa harus takut kehilangan. Dicintai tanpa harus menahan diri agar tidak terlalu jatuh. Tapi setiap kali seseorang datang, aku justru ingin pergi. Aku takut cinta hanya singgah untuk mengingatkan, bahwa aku masih bisa terluka. Bahwa setiap pelukan, bisa saja menjadi perpisahan yang sedang menyamar manis.

Ada hari-hari di mana aku tidak mencari pelangi. Aku hanya ingin duduk diam, menatap langit yang abu-abu, dan membiarkan waktu lewat tanpa perlawanan. Aku mulai menyukai warna itu — abu-abu. Ia jujur, tidak berjanji apa-apa. Tidak seperti biru yang menjanjikan tenang, tapi sering berakhir dengan hujan. Di warna itulah aku menemukan diriku: tak terang, tapi belum gelap sepenuhnya.

Pelangi, mungkin, adalah doa langit yang disampaikan dengan cara lembut. Ia muncul setelah tangis, lalu pergi sebelum sempat kita miliki. Seperti seseorang yang datang untuk mengajarkan arti kehilangan. Aku tidak ingin lagi menuntut kebahagiaan sempurna. Aku hanya ingin sedikit tenang, cukup untuk tidak gemetar saat mengingat hal-hal yang pernah patah.

Aku belajar, bahwa ada keindahan di dalam luka yang tidak disembunyikan. Seperti pelangi, yang tidak malu lahir dari air mata langit. Mungkin aku juga begitu — sedang belajar menjadi warna dari diriku sendiri. Meski belum lengkap, meski masih pudar, aku tahu, suatu hari aku akan memantulkan cahaya juga, entah dengan cara apa.

Jika hujan turun lagi, aku tidak akan meminta pelangi. Aku hanya akan membuka tangan, membiarkan setiap tetesnya jatuh di kulitku. Karena kini aku tahu, hujan pun bisa jadi doa yang jatuh pelan-pelan. Tak semua yang membuat kita basah harus kita hindari. Kadang, basah itu adalah tanda kita masih hidup.

Dan kalau pelangi benar-benar datang suatu hari nanti, aku tidak akan menatapnya terlalu lama. Aku takut jatuh cinta pada sesuatu yang tidak bisa kugenggam. Aku hanya akan tersenyum, lalu menunduk perlahan. Karena mungkin, pelangi bukan untuk dimiliki — ia hanya untuk diingat, bahwa bahkan langit pun bisa sembuh setelah menangis.

Sebab kini aku mengerti, sembuh tak selalu berwarna. Kadang, ia hanya sesederhana menerima langit apa adanya — dengan hujan yang jatuh tanpa alasan, dan cahaya yang datang tanpa janji. Dan mungkin, di sanalah keindahan sebenarnya: bukan di pelanginya, tapi di hati yang akhirnya berani berhenti menunggu.

Bilik Sunyi, 2 November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...