Tenang Saja, Aku Tidak Marah
Karya : Pena_Lingga
Tenang saja, aku tidak marah. Aku hanya sedang menenangkan riuh di dalam dada—suara yang dulu memanggil namamu kini perlahan hilang, tenggelam bersama waktu yang enggan berhenti. Aku belajar berdamai dengan kehilangan yang tidak meminta izin, dengan kenyataan bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan berakhir di pelukan yang sama. Dulu aku mengira, pertemuan kita adalah rumah bagi dua hati yang tersesat. Nyatanya, itu hanya persimpangan yang kupaksa tampak seperti tempat pulang. Kamu datang membawa hangat, lalu pergi meninggalkan dingin yang tak bisa kuterjemahkan. Dan di antara senyap itu, aku mengerti: tidak semua yang membuat kita bahagia pantas kita perjuangkan selamanya.
Aku pernah berpikir, mungkinkah cinta bisa rusak hanya karena waktu? Dulu segalanya sederhana—kita hanya dua manusia yang saling ingin tanpa alasan besar. Tapi perlahan, segalanya berubah menjadi sunyi yang panjang. Genggaman tanganmu tidak lagi menenangkan, pelukanmu kehilangan makna, dan tawa kita hanyalah gema samar yang berputar di lorong kenangan. Aku berdiri di sana, menatapmu, sambil menahan napas agar tidak terdengar betapa hancurnya aku melihatmu memudar tanpa pamit.
Setiap kali kamu menatap ponselmu lebih lama dari mataku, ada bagian kecil dari diriku yang ikut mati. Aku menunggumu menatapku—sekadar satu pandang untuk memastikan bahwa aku masih berarti. Tapi kamu tidak melakukannya. Aku tahu, hatimu sudah berpindah arah. Mungkin pada seseorang, mungkin pada sesuatu, mungkin pada ketenangan yang tidak kutemukan dalam diriku.
Lucunya, aku tidak marah. Aku hanya diam. Karena aku tahu, marah pun tidak akan membuatmu kembali menjadi orang yang dulu. Aku membaca ulang semua yang pernah kita lalui, mencoba mencari di mana letak salahnya, tapi yang kutemukan hanyalah diriku sendiri—terlalu berharap, terlalu berusaha, terlalu percaya pada janji yang tidak pernah benar-benar kamu ucapkan.
Kamu tahu, diamku bukan tentang kuat. Aku hanya lelah menjelaskan hal-hal yang seharusnya kamu mengerti. Aku sudah terlalu sering menjadi rumah bagi badai yang tidak pernah kamu peringatkan. Aku sudah terlalu sering menenangkan hati yang kamu lukai, terlalu sering berpura-pura paham padahal aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Tapi semua ketenangan itu palsu; ia tumbuh dari luka yang kian dalam.
Aku tidak lagi butuh alasan kenapa kita berubah. Aku hanya ingin tahu, apakah aku pernah benar-benar kamu sayangi, atau aku hanyalah pelarian sementara dari sepi yang menjemukan. Jika memang begitu, biarlah aku berhenti di sini—di titik di mana aku masih bisa mengingatmu tanpa dendam. Aku tidak ingin memaksa sesuatu yang sudah mati untuk tetap bernapas. Cinta tanpa jiwa hanya akan menjadi sisa nyeri yang lambat membunuh.
Aku iri pada diriku yang dulu, yang masih percaya bahwa cinta adalah alasan untuk bertahan. Sekarang aku tahu, cinta kadang datang untuk mengajarkan cara melepaskan tanpa menyalahkan siapa pun. Bahwa kehilangan pun punya caranya sendiri untuk menyembuhkan kita—pelan, tapi pasti. Aku belajar mencintai diriku kembali, dengan luka-luka yang kamu tinggalkan sebagai pengingat bahwa aku pernah berjuang terlalu keras untuk sesuatu yang memang ditakdirkan pergi.
Kini aku mengerti, yang salah bukan kamu, bukan aku, tapi cara kita mencintai yang terlalu ingin mengikat, padahal cinta seharusnya membebaskan. Kita berdua hanya manusia yang sama-sama takut kehilangan, hingga lupa bahwa rasa yang dipaksakan hanyalah penjara. Jadi biarlah kita berhenti di sini, sebelum kenangan berubah menjadi racun yang tak lagi manis untuk dikenang.
Aku tidak dendam. Aku hanya belajar menerima. Bahwa beberapa orang memang hanya ditulis untuk menjadi singgah, bukan rumah. Kamu bagian dari ceritaku yang tidak akan kucoret, meski halaman akhirnya terasa getir. Karena dari kehilanganmu, aku belajar menemukan diriku yang sempat hilang saat mencintaimu terlalu dalam.
Jadi, tenang saja, aku tidak marah. Aku hanya sedang belajar melepaskanmu dengan cara yang paling lembut. Sebab mungkin, satu-satunya bentuk cinta yang tersisa adalah doa yang tidak lagi berharap. Biarlah kamu pergi, biarlah aku sembuh. Sebab beberapa perpisahan tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan dua hati yang sudah terlalu lelah memaksa tetap bersama.
Bilik Sunyi, 6 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar