Jumat, 03 Oktober 2025

Anak Yang Tak Pernah di Peluk

 Anak Yang Tak Pernah di Peluk


Karya : Pena_Lingga



Aku tumbuh di dunia yang tidak pernah kupilih. Dunia yang kupijak ini dingin, berisik, penuh tawa palsu yang tak pernah menghangatkan. Sejak kecil aku belajar bahwa kehilangan adalah bahasa pertama yang harus kupahami. Aku kehilangan ibu sebelum aku sempat menghafal aroma tubuhnya, kehilangan ayah sebelum sempat belajar cara menggenggam tangan laki-laki dewasa dengan penuh rasa aman. Aku belajar berjalan di atas tanah tanpa ada yang menuntun. Aku belajar diam tanpa ada yang mendengar.


Orang-orang bilang aku harus tabah, mereka memuji aku karena kuat. Padahal aku ini hanya sebuah rumah kosong yang terus dipaksa berdiri di tengah badai. Aku ini hanya reruntuhan yang diberi nama manusia. Mereka tak pernah tahu berapa kali aku memukul dada sendiri agar sakitnya berhenti. Mereka tak pernah tahu aku belajar tersenyum hanya untuk menipu mataku sendiri di cermin.


Aku sering duduk di pojok malam, menatap langit yang tidak menjawab apa-apa. Aku memanggil Tuhan dengan suara paling lirih, takut kalau-kalau suaraku hanya akan memantul di dinding dadaku sendiri. Aku bertanya: mengapa aku yang harus menanggung ini semua? Mengapa aku harus jadi contoh dari keadilan yang tak pernah hadir? Dunia ini terlalu ramai untuk mendengar rengekanku, tapi terlalu sepi untuk merangkulku.


Setiap kali kulihat anak-anak lain digandeng ayahnya, dicium keningnya oleh ibunya, aku merasakan tubuhku seperti pecahan kaca yang diinjak. Aku sudah terbiasa dengan rasa itu: sakit yang tidak punya nama, luka yang tidak punya warna. Dunia ini bagiku seperti teater tua; lampunya padam, kursinya kosong, dan aku berdiri di panggung sendirian tanpa naskah, tanpa tepuk tangan.


Aku mencoba berdamai dengan semua ini, tapi damai itu cuma kata-kata di buku yang dibaca orang-orang yang punya rumah. Aku hanya punya jalan pulang yang panjang dan gelap. Aku hanya punya bayangan sendiri yang menemaniku berjalan. Aku hanya punya diriku yang bahkan sering kutinggalkan. Dunia ini tak pernah memberiku jeda untuk bernapas, ia hanya tahu cara mengingatkanku bahwa aku ini sendiri.


Aku sering merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Orang-orang menyebutku kuat, tabah, tangguh. Aku ingin tertawa mendengarnya, tapi yang keluar hanya suara patah. Kekuatan yang mereka puji itu hanyalah sisa-sisa keharusan, bukan pilihan. Aku hanya hidup karena aku tidak punya cara lain untuk mati.


Mungkin hidupku memang diciptakan untuk jadi cermin ketidakadilan dunia. Aku bukan tokoh utama yang akan menang di akhir cerita. Aku hanyalah figuran yang harus terluka agar orang lain belajar tentang luka. Dan jika benar begitu, aku sudah melakukannya, aku sudah menyaksikan semua ini sampai perihnya tak lagi punya ujung.


Aku hanya ingin sekali saja dunia ini memelukku tanpa syarat. Aku hanya ingin sekali saja merasa bahwa aku berharga bukan karena aku bertahan, tapi karena aku ada. Tapi sampai saat ini, yang kupunya hanya ruang kosong di dada dan suara kecil yang terus berbisik: "Aku lelah… aku sungguh lelah…"



Bilik Sunyi, 4 Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...