Rabu, 01 Oktober 2025

Salah Paham Yang Paling Memalukan

Salah Paham yang Paling Memalukan

Karya : Pena_Lingga


Salah satu hal paling memalukan dalam hidup ini bukan terjatuh di hadapan banyak orang, bukan pula ketika lidah keliru menyebut nama. Yang benar-benar melukai adalah salah paham dalam dada: mengira diri dicintai, padahal kita hanyalah persinggahan singkat yang tidak pernah diingat setelahnya. Luka itu sunyi, tapi meninggalkan malu yang tak terampuni.


Ada tatapan yang kita sangka rindu, padahal hanyalah kebetulan mata bertemu. Ada senyum yang kita kira tanda kasih, padahal hanya sekadar basa-basi. Ada sapa yang kita rawat dalam ingatan, padahal bagi mereka itu hanyalah rutinitas. Betapa rapuh hati yang sedang mencari cinta, mudah sekali tertipu oleh hal-hal kecil yang tidak pernah dimaksudkan.


Kita menulis doa dengan nama yang tidak pernah menuliskan kita di dalam doanya. Kita menunggu pesan yang bagi mereka tidak lebih dari percakapan hampa. Kita berdebar menanti balasan, padahal bagi mereka, hadir atau tidaknya tidak membawa arti. Dan ketika kesadaran itu datang, malu menghantam lebih keras daripada kecewa.


Salah paham itu tumbuh dalam dada yang terlalu subur. Kita yang menyiram dengan perhatian, kita yang menanam harapan, lalu kita pula yang merasakan layu. Yang mekar hanyalah kekecewaan, baunya getir, warnanya kelam. Tidak ada yang benar-benar menipu kita, kecuali diri sendiri yang terlalu rajin merawat ilusi.


Cinta yang kita kira nyata hanyalah gema dari keinginan yang terlalu nyaring. Kita membacakan puisi pada bayangan, mengartikan senyum yang tidak pernah berarti, merasa dibutuhkan padahal hanya numpang lewat. Dan akhirnya, kita tersungkur di tanah harapan yang gersang, menyesali rasa yang tumbuh tanpa persetujuan siapa pun.


Rasa tertipu itu menusuk lebih dalam ketika kita sadar tidak ada janji yang pernah terucap. Tidak ada kata cinta yang pernah dijanjikan, tidak ada rumah yang pernah ditawarkan. Semua yang tumbuh hanyalah ciptaan pikiran, mimpi yang kita yakini sendiri hingga pecah menjadi malu.


Mengapa hati ini begitu mudah terjerat hanya oleh sedikit kebaikan? Mengapa kita cepat percaya bahwa cahaya kecil adalah rumah yang menunggu untuk disinggahi? Tidak semua cahaya memberi jalan, sebagian hanya kilatan yang padam dalam sekejap, meninggalkan kita dalam gelap lebih pekat.


Betapa memalukan menaruh harapan di pintu yang tidak pernah terbuka. Kita mengetuk berkali-kali, menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Kita berdiri terlalu lama di depan rumah kosong, hingga akhirnya sadar bahwa sejak awal memang tidak ada siapa pun di dalam. Malu itu menusuk, menelanjangi kelemahan hati yang terlalu berharap.


Pelajaran yang tertinggal adalah jangan pernah memberi arti pada tanda-tanda kecil. Jangan anggap tatapan, senyum, atau kata sederhana sebagai cinta. Ada orang yang hanya lewat, memberi sedikit hangat, lalu menghilang tanpa niat tinggal. Kita harus belajar melepaskan, sebab tidak semua yang datang layak dipertahankan.


Dan pada akhirnya, yang paling memalukan bukan sekadar karena merasa dicintai. Yang paling memalukan adalah karena kita percaya pada kebohongan yang kita ciptakan sendiri. Kita mendirikan panggung, menyalakan cahaya, menulis naskah penuh harapan, lalu menangis ketika semua berakhir tanpa penonton. Hanya kita, berdiri sendirian, menatap reruntuhan cerita yang tak pernah benar-benar dimulai.


Bukit Raja Ampat, 3726 MDPL, 2 Oktober 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...