Berlomba untuk Apa?
Karya : Pena_Lingga
Kita ini sebenarnya tidak sedang berlomba menjadi manusia paling beruntung. Hidup tidak pernah meminta kita untuk menjadi yang paling sempurna, atau terlihat paling kuat. Hidup hanya menuntut kita bertahan, meski kadang tertatih. Tapi entah kenapa, banyak yang lupa akan hal itu. Mereka sibuk bersaing, saling menjatuhkan, seolah-olah dunia ini hanya akan memberi tempat bagi mereka yang berhasil menutupi semua kekurangannya.
Ada banyak orang yang tersenyum di depanmu, tapi diam-diam merasa puas jika melihatmu jatuh. Ada yang tampak peduli, tapi sebenarnya menunggu celah untuk membuatmu terlihat buruk. Rasanya melelahkan hidup di tengah orang-orang yang sibuk memakai topeng. Bukan karena mereka benar-benar baik, tapi karena mereka takut terlihat lemah.
Padahal, kita semua tahu hidup ini sudah cukup berat. Setiap orang punya beban yang tidak ringan. Ada yang berjuang melawan sepi, ada yang bergulat dengan kehilangan, ada yang menahan kecewa yang tak pernah selesai. Lalu, mengapa kita masih tega menambah luka satu sama lain? Untuk apa menjatuhkan orang lain, jika sebenarnya kita pun tidak lebih kuat?
Kadang aku bertanya dalam hati, apa gunanya terlihat sempurna? Apa gunanya tampil lebih baik dari orang lain, kalau ternyata di dalam hati kita tetap merasa kosong? Apa gunanya menutupi rapuh, kalau setiap malam kita tetap berhadapan dengan rasa hancur yang sama? Kesempurnaan itu semu, dan yang mengejarnya tidak pernah benar-benar merasa cukup.
Kita ini sama-sama manusia. Sama-sama pernah lelah, sama-sama pernah gagal, sama-sama pernah merasa tidak berharga. Mengapa kita tidak bisa lebih saling mengerti? Mengapa kita lebih sering saling meremehkan? Padahal, kita semua sedang berjuang dengan cara masing-masing. Kita semua sedang bertahan agar tidak runtuh, meski kadang hampir menyerah.
Aku sering merasa dunia ini semakin kehilangan pelukannya. Orang lebih suka membuat orang lain kalah daripada saling menopang. Mereka lebih senang terlihat menang meski harus melukai. Mereka lebih bangga terlihat bahagia, meski di dalam hatinya penuh retakan. Hidup jadi seperti panggung di mana semua orang berusaha menampilkan wajah terbaik, walau di baliknya penuh tangis yang disembunyikan.
Padahal tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sempurna. Setiap kita punya kekurangan, punya rahasia yang tidak ingin orang lain tahu. Setiap kita punya luka yang kita sembunyikan. Jadi, untuk apa saling menjatuhkan, kalau pada akhirnya kita sama-sama rapuh? Untuk apa menertawakan kelemahan orang lain, jika kelemahan kita sendiri hanya belum terlihat?
Aku ingin sekali dunia ini berbeda. Dunia di mana kita tidak lagi saling membandingkan, tapi justru saling menguatkan. Dunia di mana luka bukan alasan untuk menjauh, melainkan alasan untuk lebih dekat. Dunia di mana tidak ada yang takut terlihat lemah, karena semua orang tahu bahwa lemah itu wajar. Dunia yang membuat kita tidak perlu bersembunyi hanya untuk diterima.
Bukankah akan lebih indah jika kita bisa berjalan bersama tanpa saling mendorong? Bukankah lebih menenangkan jika kita bisa saling percaya, bahwa kita tidak akan ditinggalkan saat sedang jatuh? Hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan dengan iri hati dan kebencian. Kita terlalu rapuh untuk saling melukai. Yang kita butuhkan hanyalah sedikit pengertian, sedikit kesabaran, dan keberanian untuk melihat manusia lain sebagai teman seperjalanan, bukan musuh.
Mungkin pada akhirnya, yang membuat hidup terasa benar-benar berarti bukanlah kesempurnaan yang kita tunjukkan, melainkan kebaikan kecil yang kita bagikan. Bukan tentang siapa yang paling beruntung, tapi siapa yang tidak kehilangan hatinya meski dunia sering kali membuatnya hancur. Karena bertahan dengan hati yang masih tulus jauh lebih berharga daripada terlihat sempurna namun penuh kepalsuan.
Bilik Sunyi, 1 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar