Prolog dan Epilog Dalam Cerita Kita
Oleh : Pena_Lingga
Kita pernah memulai segalanya dengan cara yang manis. Seperti dua penulis yang begitu yakin bahwa setiap kalimat akan berujung bahagia. Kita menulis prolog dengan tinta yang lembut, seolah dunia pun ikut tersenyum menyaksikan betapa mudahnya kita jatuh cinta. Kala itu, aku benar-benar percaya bahwa selamanya adalah kata yang bisa kita perjuangkan bersama.
Namun semakin jauh kita menulis, semakin banyak tanda baca yang melukai. Setiap jeda menjadi ruang bagi prasangka, setiap koma menjadi tempat untuk menunda kejujuran. Kita mulai ragu pada diksi yang dulu kita anggap suci. Kau berubah menjadi kata yang sulit kupahami, dan aku perlahan kehilangan arah dalam paragraf yang seharusnya kutulis dengan penuh cinta.
Aku masih ingat, bagaimana dulu kita menertawakan segala hal kecil. Bahkan hujan pun terasa seperti musik. Tapi entah sejak kapan, tawa kita berubah menjadi debat kecil yang melelahkan. Kau sibuk menebak isi hatiku, sementara aku sibuk menenangkan egoku sendiri. Kita sama-sama lupa bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih mengerti, melainkan siapa yang lebih mau memahami.
Di antara kalimat-kalimat yang retak, aku belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki. Ada kalanya kita harus membiarkan cerita berhenti agar tak semakin menyakiti. Mungkin memang begitulah takdirnya: beberapa kisah tak ditakdirkan untuk berakhir dengan bahagia, tapi untuk mengajarkan bahwa kebahagiaan pun bisa lahir dari kehilangan.
Kita menulis dengan begitu banyak “rasa.” Rasa curiga, rasa takut, rasa kecewa, dan rasa yang tak sempat kita namai. Semuanya bercampur menjadi tinta yang kelam di atas kertas hubungan kita. Aku ingin menghapusnya, tapi jejaknya terlalu dalam. Mungkin karena aku menulis dengan hati, bukan sekadar tangan.
Ada saat-saat di mana aku ingin kembali ke halaman awal. Mengulang bagian di mana kau masih memanggilku dengan nada lembut, di mana senyumku masih menjadi alasanmu bertahan. Tapi aku tahu, waktu tak bisa diputar, dan cerita yang sudah ditulis tak bisa dihapus tanpa meninggalkan bekas luka.
Malam ini aku membuka kembali kisah kita, bukan untuk mengenang, tapi untuk berdamai. Aku membaca setiap kata dengan hati yang lebih tenang. Tidak lagi marah, tidak lagi berharap. Aku hanya ingin tahu di mana sebenarnya kita mulai kehilangan arah, dan mengapa cinta sebesar itu bisa perlahan pudar begitu saja.
Mungkin kesalahan kita adalah terlalu sibuk memperbaiki kalimat yang rusak, tapi lupa memperbaiki makna di dalamnya. Kita menambal kata, tapi membiarkan perasaan hancur di antara jeda. Kita takut kehilangan cerita, padahal yang seharusnya kita perjuangkan adalah rasa yang membuat cerita itu hidup.
Kini epilog kita sudah tertulis. Tidak megah, tidak juga dramatis. Hanya sebaris kalimat sederhana: “Kita berpisah karena sudah sama-sama letih.” Tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan ratusan halaman kenangan yang tak akan pernah kusesali. Sebab aku tahu, pernah ada kamu yang kutulis dengan sungguh-sungguh.
Dan bila suatu hari kau membaca kembali kisah ini, aku ingin kau tahu — aku tak menyesal pernah menulis tentang kita. Meski akhirnya berpisah, aku bersyukur pernah mencintai sedalam itu. Karena dari semua bab yang kita lalui, aku belajar satu hal penting: beberapa kisah memang tidak untuk selamanya, tapi cukup untuk diingat dengan hati yang tenang.
Bilik sunyiku, 6 Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar