Kepada diri sendiri " Kita akan sembuh "
Karya : Pena_Lingga
Kita akan sembuh, begitu bisikanku yang lirih pada dada yang retak. Aku mengulanginya berkali-kali, meski kadang suaranya hanya bergema di dalam kepala, meski seringkali terasa hampa, namun aku tetap mengatakannya. Sebab tanpa kalimat itu, aku mungkin sudah runtuh, sudah menyerah, sudah hilang arah. Kata sederhana itu memang tak bisa langsung menyembuhkan, tak bisa langsung menghapus rasa sakit, tapi setidaknya ia mampu menjadi pegangan tipis di saat dunia di sekelilingku terasa runtuh. Aku tidak ingin berhenti, aku tidak ingin patah, aku hanya ingin percaya bahwa akan ada hari di mana luka ini berhenti berdarah.
Aku terbiasa menanggung kecewa sendirian, menelannya pelan-pelan sampai rasanya memenuhi rongga dadaku. Aku menyimpannya rapat-rapat, tak seorang pun tahu, bahkan ketika senyum terpaksa kuangkat di wajahku. Segala hal pahit, pengkhianatan, ucapan kasar, tatapan merendahkan, semuanya kusembunyikan, kubiarkan tinggal dalam tubuhku yang lelah. Kadang aku ingin sekali berteriak, ingin menceritakan semuanya, ingin membiarkan orang lain melihat betapa sakitnya hatiku, tapi aku tahu tidak semua orang mau mendengar. Maka aku memilih diam, memilih melawan sepi dengan caraku, memilih berbincang dengan diriku sendiri, meski seringkali membuatku semakin pilu.
Namun meskipun semua ini melelahkan, meskipun ada hari-hari di mana aku hampir menyerah, aku masih mencoba bertahan. Ada saat-saat ketika tubuhku terasa tak sanggup lagi, ada detik-detik di mana pikiranku membisikkan bahwa tidak ada gunanya melanjutkan langkah, bahwa semuanya sia-sia. Tapi aku menutup telingaku dari bisikan itu. Aku menatap jauh ke depan, ke arah sebuah cahaya kecil yang samar, sebuah impian yang masih memanggilku. Mungkin jaraknya terlalu jauh, mungkin langkahku terlalu pelan, namun aku percaya selagi aku terus melangkah, aku masih punya kesempatan untuk sampai.
Aku ingin suatu hari mereka bisa berkata bangga, dengan mata yang berbinar, dengan suara yang hangat, “Itu anakku, lihatlah bagaimana ia bertahan, lihatlah bagaimana ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, lihatlah betapa ia berguna untuk dirinya dan untuk orang lain.” Kalimat sederhana itu, meski singkat, adalah doa yang paling aku rindukan. Aku ingin menjadi alasan kebanggaan, bukan hanya sekadar anak yang ada lalu hilang tanpa arti. Dan aku percaya, tidak ada satu pun anak di dunia ini yang tidak menginginkan hal itu. Kita semua, di balik luka yang berbeda, tetap memiliki kerinduan yang sama: ingin diakui, ingin dianggap ada.
Namun aku tahu tidak semua anak mendapatkan itu. Ada yang sejak kecil sudah mengenal dinginnya kehilangan, ada yang tumbuh dengan caci maki, ada yang terbiasa diabaikan. Aku pun salah satunya. Tapi justru karena itu aku masih bertahan, masih berusaha melangkah, meski seringkali terhuyung. Aku ingin membuktikan bahwa luka bukan akhir, bahwa meski sejak awal aku dipaksa hidup dengan rasa sakit, aku masih bisa tumbuh, masih bisa menatap dunia, masih bisa berharap. Dan harapan itulah yang membuatku terus bernapas.
Aku tidak peduli jika orang lain menganggapku aneh, tidak peduli jika mereka berkata aku gila hanya karena aku berbincang dengan diriku sendiri. Biarlah mereka berkata apa, sebab mereka tidak tahu rasanya memeluk kesepian setiap malam, mereka tidak tahu bagaimana perihnya menahan tangis di dalam dada yang sesak. Bukankah setiap orang punya caranya masing-masing untuk bertahan? Ada yang menuliskannya, ada yang berdoa, ada yang berteriak, ada yang menyanyikannya, dan aku—aku memilih berbisik pada diriku sendiri. Dan itu sudah cukup bagiku untuk tetap bertahan.
Aku akan terus menguatkan diriku, meskipun caranya sederhana. Aku merawat luka dengan doa-doa kecil, menyulam robekan dengan kata-kata lembut, menutupinya dengan keyakinan bahwa semua ini akan berakhir. Aku menyalakan pelita kecil dalam kegelapan agar mataku masih bisa melihat jalan meski samar. Aku percaya, setiap usaha sekecil apapun untuk menghibur diri adalah tanda bahwa aku belum kalah. Mungkin aku belum pulih sepenuhnya, tapi aku tahu aku sedang bergerak menuju pulih.
Kita akan sembuh, aku percaya itu. Bukan hanya aku, tapi juga kalian yang membaca ini, kalian yang diam-diam terluka, kalian yang berusaha keras tersenyum meski hati kalian runtuh. Aku tahu bagaimana rasanya, sebab aku pun salah satunya. Jadi jangan takut jika hari ini masih terasa sakit, jangan menyerah hanya karena air mata terus jatuh, sebab suatu saat nanti luka itu akan berubah menjadi cerita. Dan ketika itu tiba, kita akan mengucapkan kalimat yang sama: kita berhasil melewatinya.
Jangan pernah takut berbicara dengan jiwa sendiri. Peluklah kesepian, biarkan ia duduk di sampingmu, biarkan ia mengajarkanmu arti bertahan. Kadang yang kita butuhkan bukanlah keramaian, bukan juga pelarian, melainkan keberanian untuk menatap luka kita sendiri. Dan keberanian itu, meski kecil, akan tumbuh menjadi kekuatan untuk terus berjalan. Maka jangan takut pada kesepian, karena di dalamnya ada keteguhan yang tak semua orang mampu miliki.
Aku tahu jalan ini panjang, penuh duri, penuh kabut yang menutupi pandangan. Ada saat-saat aku mungkin kembali terjatuh, ada hari-hari aku mungkin kembali menangis. Namun aku percaya akan ada hari di mana aku bisa menoleh ke belakang dan berkata lirih pada diriku sendiri: “Aku berhasil melewatinya.” Saat itu tiba, aku tidak hanya akan tersenyum untuk diriku, tapi juga untuk semua orang yang pernah meragukan. Kita akan sembuh, meski perlahan, meski tak sempurna, sebab setiap luka yang dijahit dengan kesabaran pada akhirnya akan berubah menjadi kisah yang pantas kita ceritakan dengan bangga.
Makassar, 18 Agustus 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar