Minggu, 10 Agustus 2025

Teruntukmu, yang menyimpan luka

 Teruntukmu, yang menyimpan luka

Karya : Pena_Lingga


Teruntukmu yang pernah kucinta, terima kasih atas luka yang kau tinggalkan. Luka itu terlalu dalam, terlalu pekat, hingga setiap kali aku mencoba menutupnya, justru makin terasa perihnya. Aku tidak pernah menyangka, perpisahan denganmu akan menjadi beban yang seberat ini. Hingga hari ini, rasanya aku masih tersesat di dalam labirin kenangan yang kita buat bersama.


Aku tidak tahu kapan aku akan benar-benar pulih. Hari-hari terasa begitu panjang, malam-malam terlalu sunyi, dan setiap detik yang berlalu hanyalah pengingat bahwa aku pernah kehilangan sesuatu yang begitu berarti. Pulih bukan lagi tentang waktu, melainkan tentang hatiku yang tidak tahu cara berhenti mencintaimu, meski kau telah pergi.


Melupakanmu bukan perkara mudah. Aku pernah mencoba membohongi diri sendiri, berpura-pura tidak peduli, dan menutup mataku rapat-rapat agar bayanganmu menghilang. Tapi semua itu percuma. Namamu masih berbisik di sela-sela pikiranku, dan suaramu masih memanggilku di dalam mimpi.


Setiap kali aku mencoba menghapus kenangan itu, aku harus membayar harganya dengan air mata. Kadang aku merasa bodoh, karena membiarkan diriku tersiksa oleh sesuatu yang tak akan pernah kembali. Namun, entah mengapa, aku tetap merindukan semua yang pernah kita jalani, meski aku tahu itu salah.


Ada malam-malam di mana aku terbangun dengan dada sesak. Aku memeluk diriku sendiri, berharap rasa sakit itu berkurang. Tapi justru semakin dalam aku mengingat, semakin perih pula hatiku menjerit. Seakan semua janji yang pernah kau ucapkan berubah menjadi belati yang menusuk tanpa ampun.


Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah kau merasakan hal yang sama? Ataukah aku hanya satu-satunya yang masih terjebak di antara masa lalu dan kenyataan? Jika jawabannya adalah aku seorang diri, maka aku harus mengakui bahwa aku kalah dalam segala hal—termasuk dalam melupakan.


Rasanya seperti aku sedang berjalan di tepi jurang, setiap langkah rapuh dan mudah runtuh. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku mencoba terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain. Senyumku palsu, tawaku kosong, dan hatiku hancur berkeping-keping di baliknya.


Aku ingin marah padamu, tapi bagaimana bisa? Aku pernah begitu mencintaimu, dan rasa itu terlalu besar untuk berubah menjadi benci. Yang tersisa hanyalah rindu yang membusuk, yang tidak lagi manis, hanya pahit dan menyakitkan.


Kadang aku berharap, andai saja aku tidak pernah mengenalmu. Namun di sisi lain, aku juga tahu bahwa aku tidak akan pernah menjadi diriku yang sekarang tanpa semua luka ini. Dan itu justru membuatku semakin bingung, karena aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih padamu atau membencimu.


Hingga saat ini, aku masih di sini. Masih berusaha, meski jalannya penuh air mata. Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu bertahan. Yang aku tahu, aku masih memanggil namamu dalam doa, meski kau tak lagi mendengar. Dan mungkin, itulah bentuk cinta terakhir yang bisa aku berikan untukmu—cinta yang diam-diam tetap hidup, meski aku sendiri ingin membunuhnya.


Makassar, 10 Agustus 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...