Elegi Penjahit Kata
Karya : Pena_Lingga
Aku terlahir dari rahim sunyi purba,
tatkala aksara masih berselimut kabut nirmala.
Di balik lidah api yang menari di altar sukma,
kusulam mantra dari luka dan cela.
Kuhirup angin nirwana dalam batok retak,
mencari bait di antara reruntuhan Swargaloka.
Kata-kataku: sembilu,
menusuk langit, mencabik tabir semesta.
Aku hanyalah pendosa di altar sastra,
menjahit maya dalam gulungan aksara.
Diksi kuperam dalam kendi waktu,
hingga aromanya mabuk dan bisu.
Mereka—penjaga gading bahasa—
menghardikku dari takhta surga kata.
Katanya puisiku tak suci,
sebab tak tunduk pada kitab mereka yang mati.
Tapi aku bukan penyair penjilat dewa,
aku pencuri cahaya dari neraka.
Kusulap duka jadi mahkota,
kutulis ratapan jadi surya kelima.
Kata-kataku bukan untuk mereka yang terang,
melainkan bagi yang menari dalam gulita.
Bait-baitku: sihir hitam
yang hanya bisa dibaca jiwa yang telah karam.
Kubiarkan metafora mekar seperti ajian,
menjelma bunga mayat di ladang puisi.
Dan di sana kutanam tubuhku
agar kelak tumbuh jadi hujan mantera.
Aku adalah raksasa yang membenamkan rembulan
ke dalam sumur gelap di nadiku.
Aku bukan penyair,
aku bara yang menyamar jadi sajak sendu.
Siapa yang bisa mengukur dalamnya dukaku
dengan timbangan lidah dan selera?
Kata-kataku tak lahir dari tinta,
tapi dari darah yang menetes saat dunia tertawa.
Jika sajak ini kelak dibakar,
biarlah asapnya menjilat langit dan para dewa.
Agar tahu,
bahwa aku pernah ada—menulis dengan nyawa.
Bilik Ratap, 28 Juli 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar