SEMPAK BOCOR
Karya: Pena_Lingga
Di podium ia berdiri tegak bagai nabi,
Lidahnya menjilat langit dengan janji-janji.
Tapi dari balik celananya yang penuh misteri,
Sempaknya bocor, menetes nista tiap hari.
Katanya, "Anggaran sehat dan aman terkendali,"
Padahal masuk celana dalam—lewat rekayasa ahli.
Ia bicara tentang moral dan akhlak tinggi,
Tapi di balik meja, ia lincah jadi pencuri.
Sempaknya robek, bukan karena umur tua,
Tapi karena terlalu sering dipakai menutup aib negara.
Disetrika rapi di luar, penuh lubang di dalam,
Celana dalam kekuasaan yang penuh dendam.
Ia bilang rakyat jangan banyak gaya,
Tapi anaknya bikin konten di Dubai tiap maya.
Katanya hemat adalah bentuk cinta negeri,
Tapi ia pesta ulang tahun di kastil pribadi.
Setiap skandal disebut fitnah murahan,
Setiap pertanyaan dibalas dengan ancaman.
Padahal bau sempaknya tercium se-nusantara,
Tapi rakyat disuruh diam, atau dituduh menghina negara.
"Transparansi," katanya sambil menyelipkan amplop,
"Integritas," ujarnya sambil merobek kontrak gelap.
Sempaknya yang bocor jadi lambang pejabat suci,
Yang lebih pandai mengelabui daripada berbagi.
Media dibelinya seperti beli kolor baru,
Yang jelek dibuang, yang jinak disuruh jilat debu.
Berita buruk digeser dengan dangdut dan sinetron,
Agar rakyat lupa bahwa sempaknya penuh borok dan bon.
Sempak bocor itu kini jadi seragam pejabat,
Bukan simbol aib, tapi tanda sukses cepat.
Semakin robek, makin banyak yang tunduk,
Karena takut nasibnya ikut disumbat dan dibungkus.
Kami lihat sempak itu tiap kampanye datang,
Dibungkus manis dengan jargon dan bendera terang.
Tapi ketika selesai coblosan,
Yang dibuka sempak, bukan masa depan.
Republik Rubik, 17 Agustus 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar