Balada Cinta Di Atas Bukit Senja
Karya: Pena_Lingga
Di bukit senja tempat angin bernyanyi,
Tama bertemu Lara di bawah pohon jati.
Langit menguning, mata mereka berseri,
Tak tahu cinta akan dibalut tragedi,
Kala dendam lama mengintai sunyi.
Lara, gadis lembah berhati tenang,
Tama, pemuda dari tanah seberang.
Dua dunia yang pernah berperang,
Tersentuh cinta dalam diam yang panjang,
Meski bayang luka terus menghadang.
Ayah Lara, tua dan menyimpan luka,
Putranya dulu gugur dalam perang desa.
Ia tak tahu putrinya jatuh cinta,
Pada darah musuh yang jadi durjana,
Padahal kini Tama tak lagi sama.
Tama mencabut lambang klan dari dada,
"Untukmu, Lara, kutinggalkan semua."
Namun kabar sampai ke telinga yang murka,
Ayah Lara naik dengan wajah lara,
Dan malam pun jadi merah warnanya.
Di tengah hujan, di bawah cahaya petir,
Tama berdiri tanpa niat untuk mengelak.
“Aku datang bukan untuk menantang takdir,
Tapi mencintai putrimu tanpa cela,”
Namun pedang bicara tanpa jeda.
Lara menjerit, menahan sang ayah,
Namun kebencian lebih tajam dari doa.
Tama jatuh dengan luka di dada,
Tangannya menggenggam bunga yang basah,
Bunga yang tadi ia petik untuk Lara.
"Ayah, kau bunuh separuh jiwaku,"
Teriak Lara dengan mata berair.
"Jika cinta dosa dalam dunia yang kelabu,
Biarlah aku pun ikut menjemput takdir,"
Dan Lara pun menusuk dirinya sendiri.
Malam terdiam dalam luka yang dalam,
Petir menjauh, langit pun muram.
Dua tubuh terkapar dalam diam,
Cinta mereka hilang dalam dendam,
Yang diwariskan oleh perang yang kelam.
Kini di bukit itu tumbuh dua nisan,
Tertulis nama mereka beriringan.
Dedaunan gugur seperti kenangan,
Dan angin menyanyikan balada kesedihan,
Tentang cinta yang tak pernah diberi kesempatan.
Bila kau datang ke bukit senja,
Dengarlah bisik daun dan desir angin tua.
Itulah nyanyian dua jiwa luka,
Yang mencinta di dunia yang tak rela,
Tapi abadi di kisah balada.
Kamarku, 23 Juli 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar