“Tubuhmu adalah Kitab yang Kubaca dengan Lidah”
Karya : Pena_Lingga
Tubuhmu terbuka malam ini,
Seperti lembar kitab yang menunggu dijilat api.
Di matamu ada gelombang yang belum reda,
Mengajakku karam tanpa perahu, tanpa doa.
Kau duduk dalam lengkung cahaya remang,
Payudaramu bangkit seperti dua mata air rawan.
Aku mengulum waktu dari ujung bahumu,
Mengurai desir di antara tulang dan gemuruh.
Kita tak lagi menyebut nama,
Sebab nama bisa memecah keheningan nikmat.
Yang ada hanya desah, geram, dan patah,
Di setiap ciuman yang menjalari rusuk ke bawah.
Aku mendengar tubuhmu berbisik,
Bukan dengan mulut tapi dengan kulit yang berkeringat.
Gemericik rasa mengalir dari pangkal leher,
Hingga ke pusaran rahasia yang merekah diam-diam.
Vaginamu bukan sekadar lubang gelap,
Tapi kuil penuh harum dan gelegak kehidupan.
Ketika aku menyembahnya dengan lidah dan jemari,
Kau pun bergetar, seolah seluruh langit runtuh ke atas ranjang.
Peluh kita menjelma tinta basah,
Mencoretkan puisi di perut dan paha.
Kupelajari setiap gerakmu seperti mantra,
Dan kau menari, melilitkan kaki serupa doa.
Kau panggil namaku dalam gigitan ringan,
Menghimpitkan napas di sela bisikan dan desakan.
Tubuh kita tak lagi dua,
Tapi seikat cahaya yang saling menyala lalu padam.
Dua gunung itu menegang dalam pelukanku,
Bergoyang lembut seperti ayat-ayat gairah.
Sementara di celahmu, waktu tak lagi lurus,
Ia meliuk, mencumbu, dan akhirnya meledak bersama nafas terakhir.
Aku tenggelam dalam rahim malam yang basah,
Di antara jari-jarimu yang mencakar langit.
Kita rebah seperti dua orang berdosa,
Yang tersesat dan enggan diselamatkan.
Dan dalam diam selepas itu,
Kulitmu masih berbicara, meski tanpa suara.
Aku menyentuhmu sekali lagi, bukan dengan tangan,
Tapi dengan puisi ini, yang kutulis dari dalam tubuhmu.
Kasur basah, 11 Agustus 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar