"Sastra di Kandang Babi"
Karya : Pena_Lingga
Lihatlah, wahai dunia kata,
Raja babi naik singgasana tinta.
Mengaku dewan puisi paling suci,
Padahal mulutnya penuh tai janji.
Katanya ia penjaga estetika,
Padahal tiap kalimatnya muntah logika.
Ia koreksi puisi dengan kuku kaki,
Sambil kentut, bilang: "Inilah literasi sejati!"
Anjing pun tahu kapan harus diam,
Tapi raja ini menggonggong di setiap diam.
Mengaku dewa, padahal cuma babi berdasi,
Sajak jadi ladang gila hormat dan amplop basi.
Ia bacakan puisi seperti mengunyah bangkai,
Lalu menyembur isi kepala yang busuk dan usang.
“Puisi ini tak layak!” katanya pongah,
Sambil meludah ke cermin, dan memuji bayangannya.
Bibirnya berbusa mengucap "nilai seni",
Padahal jempol kaki lebih tahu rasa dari hatinya.
Ia lebih sibuk mencium tai sendiri,
Daripada memahami luka dalam bait puisi.
Setiap lomba jadi ladang kekuasaan,
Yang menang: anjingnya, atau babi kecil piaraannya.
Yang jujur dan tulus dilempar ke kandang hina,
"Kurang rapi!" katanya, padahal ia tak bisa baca koma.
Babi ini pintar menulis aturan,
Tapi tak bisa bedakan sajak dan sabun.
Ia gosok puisi sampai hilang makna,
Lalu teriak: “Lihat! Bersih kan, seperti aku adanya!”
Rakyat pena tertawa, lalu diam dalam ngeri,
Karena tahu, suara hati tak akan menang di sini.
Kecuali kau bersedia mencium ekor babi,
Dan menyebut tai sebagai mutiara puisi.
Ia tak butuh kritik, hanya ingin sanjungan,
Tak terima bila tai dikata tai, bukan wangi ladang.
Kalau ada puisi menyindirnya diam-diam,
Ia keluarkan stempel dan ancaman diam.
Maka biarlah kami jadi pujangga liar,
Menulis di dinding, di jalan, di celah pagar.
Daripada kami jadi babi berpakaian bahasa,
Yang menuhankan sampah dan menyembah dusta.
Republik Rubik, 22 Juli 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar