Rabu, 16 Juli 2025

Tidak ada yang benar-benar peduli

 Tidak ada yang benar-benar peduli 

Karya : Pena_Lingga


Tidak ada yang benar-benar peduli. Bahkan ketika kau jatuh dan tersungkur, dunia tetap berputar, orang-orang tetap sibuk dengan hidup mereka sendiri, dan kau hanya jadi latar yang kabur dalam frame kehidupan mereka. Kau mungkin menangis, mungkin patah, tapi siapa yang benar-benar diam dan duduk di sampingmu hanya untuk memastikan kau baik-baik saja tanpa harus kau minta?


Kita hidup dalam zaman yang penuh suara, tapi tidak benar-benar mendengarkan. Semua orang bicara tentang peduli, cinta, dan perhatian, tapi hanya sedikit yang mau bertahan dalam diam saat kau tidak bisa berkata apa-apa. Mereka hanya ada saat kau tertawa, bukan saat kau terisak pelan dalam gelap yang tak ingin kau bagi pada siapa pun.


Aku sudah lelah mencoba menjelaskan rasa sakit yang bahkan tidak bisa aku pahami sepenuhnya. Mereka hanya mengangguk, lalu pulang ke hidupnya masing-masing. Tidak ada yang tinggal cukup lama untuk benar-benar mengerti. Bahkan sering kali, aku merasa lebih dimengerti oleh hujan, daripada manusia.


Lucunya, orang-orang hanya peduli saat kau pergi terlalu jauh. Saat kau memilih diam terlalu lama. Saat kau mulai terlihat hancur, mereka baru bertanya. Tapi pada saat itu, hatimu sudah tidak punya ruang untuk percaya lagi. Kau sudah terbiasa berjalan sendiri, tanpa harus berharap siapa pun menoleh.


Ada banyak hari di mana aku duduk berjam-jam hanya untuk menenangkan diriku sendiri. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tahu, tidak ada yang bisa kulari untuk berlindung. Semua orang punya luka, dan mereka lebih sibuk mengurus luka sendiri, ketimbang sekadar bertanya: "Apa kamu masih sanggup hari ini?"


Mereka bilang aku terlalu sensitif. Tapi bukankah yang sensitif justru lebih mudah hancur saat diabaikan? Aku hanya butuh dipeluk, bukan dihakimi. Tapi setiap aku mencoba membuka diri, dunia memaksaku menutupnya kembali dengan kata-kata yang lebih tajam dari sepi.


Aku tidak berharap diselamatkan. Aku hanya berharap, ada satu orang saja yang cukup gila untuk bertahan di sisiku tanpa alasan, tanpa pamrih, tanpa harus aku terus menerus menunjukkan senyum palsu hanya agar mereka tidak pergi.


Pernah suatu malam aku bicara dengan bayangan di dinding. Mungkin aku sudah terlalu kesepian, atau mungkin itu satu-satunya yang tidak akan pergi meskipun aku menangis. Setidaknya dia tidak memintaku kuat saat aku lemah, atau bahagia saat aku patah.


Setiap kali aku berkata "aku baik-baik saja", sebenarnya aku sedang menunggu seseorang berkata: "Kau tak perlu pura-pura." Tapi tidak ada yang benar-benar menangkap maksudku. Mereka terlalu cepat percaya pada senyum, dan terlalu malas membaca luka yang diam.


Aku tahu, dunia tidak berutang apa-apa padaku. Tapi apakah terlalu egois jika aku ingin sesekali merasa diinginkan? Bukan karena aku berguna, bukan karena aku lucu, bukan karena aku pintar—tapi karena aku adalah aku. Dan aku ingin percaya bahwa keberadaanku cukup untuk membuat seseorang memilih tinggal.


Kamarku,16 Juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...