Minggu, 21 Desember 2025

Untuk Seseorang

Untuk Seseorang

Karya : Pena_Lingga

Untuk seseorang yang pernah aku pilih menjadi pelabuhan hati, aku tidak benar-benar siap ketika kau memilih pergi. Tidak ada tanda, tidak ada peringatan, hanya jarak yang tiba-tiba menjadi terlalu nyata untuk kuterima. Kamu meninggalkan aku dalam keadaan masih percaya, masih berharap, masih mengira kebersamaan adalah sesuatu yang sedang kita rawat bersama. Kepergianmu terasa seperti kapal yang sengaja dilepaskan saat aku masih berdiri di dermaga, menggenggam keyakinan bahwa kau akan tinggal. Sejak saat itu, aku belajar bahwa ditinggalkan bukan hanya soal kepergian seseorang, tapi tentang bagaimana seseorang merobohkan masa depan yang diam-diam sudah kita bangun dalam kepala.

Kau pernah duduk di sampingku dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Kalimat itu masih hidup di kepalaku, berjalan mondar-mandir tanpa arah, mencari tempat untuk berlabuh. Aku menyimpannya bersama janji-janji lain yang kau ucapkan dengan nada tenang dan tatapan meyakinkan, namun tak pernah benar-benar kau jaga. Kini aku mengerti, tidak semua kata yang terdengar hangat lahir dari niat untuk menetap.

Aku mencoba mengingat kembali di bagian mana aku kurang, di kata mana aku terlalu berlebihan, di sikap apa aku seharusnya menahan diri. Aku mengulang kenangan seperti memeriksa luka lama, berharap menemukan kesalahan yang bisa kuperbaiki. Namun semakin kupikirkan, semakin aku lelah menyalahkan diriku sendiri. Sebab aku hadir sepenuh mungkin, mencintai dengan cara yang aku bisa, dan bertahan bahkan saat hatiku mulai retak. Jika itu masih belum cukup, mungkin memang aku tak pernah dimaksudkan untuk kau perjuangkan.

Kepergianmu mengubah banyak hal yang sebelumnya terasa biasa. Waktu berjalan lebih lambat, hari-hari terasa kosong, dan malam menjadi tempat berkumpulnya pikiran-pikiran yang tak kunjung tenang. Aku menjadi asing dengan diriku sendiri—tertawa seperlunya, berbicara sekadarnya, hidup sekadar menggugurkan hari. Tidak ada yang benar-benar salah, hanya ada sesuatu yang hilang dan tak pernah kembali ke tempatnya semula.

Aku sering bertanya, apakah kau pernah ragu saat melangkah pergi. Apakah namaku sempat singgah di kepalamu walau sebentar saja. Atau aku hanyalah persinggahan yang kau anggap selesai begitu tujuan lain terlihat lebih menjanjikan. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, sebab orang yang seharusnya menjelaskan justru memilih menghilang dan membiarkan aku berdamai sendirian dengan dugaan.

Aku tak membencimu. Aku hanya kecewa pada kenyataan bahwa aku percaya terlalu dalam. Aku menyerahkan rasa dengan harapan ia dijaga, bukan ditinggalkan di tengah jalan. Aku lupa bahwa tidak semua orang yang datang membawa hangat berniat tinggal hingga akhir. Ada yang hanya ingin singgah, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang, seolah kehadiranku tak pernah berarti lebih dari sekadar jeda.

Sekarang aku menata ulang hidupku dengan tangan yang sering gemetar. Mengumpulkan serpihan diriku yang runtuh setelah kau pergi, satu per satu, dengan sabar yang dipaksakan. Aku belajar berdiri tanpa sandaran, belajar diam tanpa pelukan, belajar kuat tanpa ditemani. Proses ini tidak indah, tapi jujur—dan mungkin itu yang membuatnya terasa begitu menyakitkan.

Sering kali aku tampak utuh di hadapan dunia, seolah kepergianmu tak meninggalkan bekas apa pun. Aku menjalani hari dengan wajah yang kupaksa tenang, menunaikan peran sebagai seseorang yang terlihat baik-baik saja. Namun di dalam diriku, ada ruang yang terus runtuh perlahan—tempat kenangan berputar tanpa henti, tempat namamu masih disebut dalam diam, dan tempat rindu tidak lagi menemukan arah pulang. Aku belajar menahan segalanya sendiri, sebab tidak semua luka perlu diketahui orang lain, cukup aku dan sunyi yang memahaminya.

Jika suatu hari kau mengingatku, ingatlah sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan sungguh. Seseorang yang memilih bertahan saat mudah untuk pergi, yang percaya pada kata-katamu tanpa menyiapkan perlindungan untuk dirinya sendiri. Aku tak meminta untuk dikenang, hanya ingin dipahami—meski mungkin pemahaman itu datang ketika segalanya sudah terlambat.

Kini aku berjalan sendiri, membawa luka sebagai pelajaran, bukan sebagai dendam. Aku tak lagi menunggumu kembali, sebab aku tahu, yang pergi dengan mudah jarang benar-benar ingin pulang. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, aku bisa mencintai lagi tanpa rasa takut ditinggalkan. Dan jika itu terjadi, semoga lukaku hari ini telah cukup mengajarkanku cara menjaga diri.

Bukit Kebar, 21 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...