Bu, Mengapa Dunia Sering Bercanda
Karya : Pena_Lingga
Bu, saya sering bertanya dalam hati, kenapa dunia sering mengajak saya bercanda di saat saya sedang serius, dan ketika saya bercanda dunia malah serius memberikan ujian yang begitu beratnya. Rasanya seperti hidup ini punya caranya sendiri untuk menertawakan setiap niat baik yang ingin saya perjuangkan. Seolah setiap langkah yang saya ambil selalu salah di mata waktu, dan saya hanya bisa diam, menanggung semua yang tak pernah saya mengerti.
Kadang, Bu, saya merasa seperti sedang berjalan sendirian di lorong panjang yang sunyi. Ada suara-suara dari masa lalu yang masih menggema di kepala, tentang harapan yang dulu pernah tumbuh namun kini layu perlahan. Saya mencoba kuat, saya mencoba tegar, tetapi di dalam diri saya ada bagian yang rapuh dan tak lagi punya tempat untuk bersandar.
Saya sering memandang langit malam hanya untuk mencari alasan agar tetap bertahan. Saya berharap ada jawaban terselip di antara bintang-bintang, namun yang saya temukan hanya keheningan yang menusuk dada. Di sana, saya menyadari bahwa tidak semua luka bisa diceritakan, dan tidak semua kesedihan punya tempat untuk pulang.
Bu, hidup ini seringkali terasa seperti panggung, di mana saya dipaksa tersenyum meski hati saya retak di dalam. Orang-orang melihat tawa saya, tetapi mereka tidak tahu berapa kali saya harus berpura-pura baik-baik saja. Mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi kuat ketika bahkan diri sendiri tidak lagi yakin mampu bertahan.
Ada hari-hari di mana saya merasa tidak lagi dikenal oleh diri saya sendiri. Saya berubah menjadi seseorang yang asing, yang hanya bisa berjalan mengikuti arah hidup tanpa berani bertanya ke mana tujuan sebenarnya. Hati saya lelah, Bu — bukan karena perjalanan yang panjang, tapi karena terlalu sering menahan rasa sakit sendirian.
Saya ingin sekali menangis tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Rasanya ingin mengakui bahwa saya lemah, saya rapuh, saya tidak sekuat yang mereka kira. Namun, dunia selalu meminta saya untuk berdiri tegak, bahkan ketika lutut saya sudah bergetar menahan segala beban.
Di dalam hati saya, ada rindu yang tidak pernah menemukan tempat kembali. Rindu pada diri saya yang dulu, yang masih percaya bahwa hidup selalu punya alasan untuk membuat seseorang bahagia. Sekarang, semua terasa jauh, seolah bahagia hanya lewat di depan mata, tanpa pernah singgah barang sebentar.
Bu, terkadang saya iri pada mereka yang bisa tertawa tanpa memikirkan apa-apa. Saya iri pada mereka yang hidupnya terasa ringan, tanpa harus bergumul dengan pertanyaan tentang makna kehilangan, kesunyian, dan ketidakpastian. Saya ingin seperti mereka, tetapi hidup tidak memberi saya kesempatan yang sama.
Namun, meski hati ini sering terasa hancur, saya tetap berjalan. Bukan karena saya kuat, tapi karena saya tidak punya pilihan lain selain melanjutkan langkah. Saya percaya, suatu hari nanti, semua luka ini akan menemukan tempatnya sendiri — entah menjadi doa yang tenang, atau kenangan yang akhirnya bisa saya lepaskan.
Dan jika suatu hari saya kembali bertanya pada dunia, saya hanya berharap dunia tidak lagi bercanda di atas kesedihan saya. Saya hanya ingin hidup yang sederhana, Bu — hidup di mana saya bisa bernapas tanpa merasa berat, dan bisa tersenyum tanpa harus menyembunyikan duka di baliknya.
Bilik Sepiku, 25 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar