Minggu, 14 Desember 2025

Bertahan Tanpa Tempat Pulang

Bertahan Tanpa Tempat Pulang

Karya : Pena_Lingga

Aku tidak pernah benar-benar memilih menjadi dewasa. Hiduplah yang menarik kerah bajuku, menyeretku keluar dari masa tenang, lalu menaruhku di tengah kerasnya dunia tanpa aba-aba. Setiap pagi aku bangun dengan mata berat dan dada kosong, bukan karena kurang tidur, tapi karena terlalu banyak hal yang harus kupikul sendirian. Dunia tak peduli apakah aku siap atau tidak, ia hanya menuntutku terus berjalan.

Kesunyian adalah teman paling setia dalam hidupku. Tidak ada orang tua tempatku mengadu, tidak ada keluarga yang bisa kupanggil saat semuanya terasa terlalu berat. Aku belajar menyimpan luka rapi-rapi di balik wajah yang tampak biasa saja. Aku tertawa seperlunya, berbicara seperlunya, lalu kembali diam karena aku tahu, tidak semua orang sanggup menampung ceritaku yang terlalu lelah.

Aku bekerja bukan dengan penuh semangat, melainkan dengan sisa tenaga. Tanganku bergerak karena harus, bukan karena ingin. Ada saat-saat ketika tubuhku berjalan ke tempat kerja, sementara jiwaku tertinggal di kamar sempit, duduk menatap dinding, bertanya mengapa hidup terasa begitu panjang dan melelahkan. Namun aku tetap berangkat, sebab tidak bekerja berarti tidak makan, dan tidak makan berarti menyerah.

Aku sering merasa hidup seperti medan perang yang sunyi. Tidak ada sorak, tidak ada kemenangan, hanya kelelahan yang terus berulang. Aku jatuh berkali-kali dalam diam, bangkit tanpa pernah benar-benar sembuh. Dunia tidak memberi waktu untuk merawat luka, ia hanya berkata, kuatlah, tanpa pernah peduli seberapa hancur aku di dalam.

Tabah adalah kata yang sering dipaksakan kepadaku. Seolah menjadi laki-laki berarti tidak boleh rapuh. Seolah menangis adalah aib, dan mengeluh adalah kelemahan. Maka aku belajar menelan segalanya sendiri, menumpuk kecewa di dada, sampai aku sendiri lupa bagaimana rasanya didengarkan tanpa dihakimi.

Rindu adalah luka yang tak pernah sembuh. Rindu pada pelukan orang tua yang hanya bisa kuingat, rindu pada rumah yang tak pernah benar-benar kumiliki. Setiap melihat orang lain pulang dengan wajah lega, hatiku seperti ditarik paksa ke masa yang tak pernah kumiliki. Aku pulang hanya membawa lelah dan harapan yang semakin menipis.

Di malam hari, ketika dunia akhirnya diam, aku duduk lama dalam gelap. Tidak melakukan apa-apa, hanya bernapas dan mencoba bertahan. Air mata sering jatuh tanpa suara, bukan karena aku ingin dikasihani, tapi karena aku sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri. Aku menangis sebentar, lalu menghapusnya, sebab esok aku harus kembali terlihat kuat.

Aku tidak mengejar mimpi besar, aku hanya berusaha bertahan hidup. Mimpiku sesederhana bisa tenang, bisa bernapas tanpa rasa takut, bisa tidur tanpa dihantui cemas. Namun bahkan mimpi sesederhana itu terasa mahal bagi laki-laki yang harus menghidupi dirinya sendiri tanpa sandaran.

Tidak semua perjuangan akan dihargai. Banyak yang melihatku biasa saja, tanpa tahu betapa sering aku hampir menyerah. Aku belajar bahwa menjadi dewasa berarti tidak diingat ketika lelah, tidak dicari ketika hilang, dan tidak dipeluk ketika hancur. Namun aku tetap bertahan, sebab menyerah bukan pilihan yang bisa kupilih.

Dan jika suatu hari aku terlihat dingin dan jauh, itu bukan karena aku tidak punya hati. Itu karena hatiku sudah terlalu sering patah dan kupaksa berdiri lagi. Aku adalah laki-laki dewasa yang hidup dari sisa harapan, berjalan dengan luka yang tak pernah sembuh, dan tetap bertahan meski dunia tidak pernah benar-benar ramah padaku.

Kebar, 14 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...