Senin, 08 Desember 2025

AKU YANG KALAH

AKU YANG KALAH

Karya : Pena_Lingga

Ternyata hati ini memang serapuh itu, seperti gelas tipis yang kusimpan di sudut meja, lalu jatuh bukan karena seseorang mendorongnya, tapi karena aku sendiri lengah menjaganya. Ada bunyi retak yang hanya bisa kudengar dari dalam dada, suara yang tak pernah bisa kudabik-dabik agar berhenti, karena retaknya bukan pada gelas itu, melainkan pada diriku sendiri yang terlalu sering mengabaikan luka kecil yang lama-lama menjadi jurang.

Dulu aku punya sayap yang tumbuh dari harapan. Aku tak tahu kapan tepatnya sayap-sayap itu melemah, mungkin sejak malam-malam ketika aku memaksakan diri untuk tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Padahal dalam diam, aku tahu arah pulang sudah tidak lagi sama; dunia kita perlahan kabur, rumah yang dulu kita janjikan berubah menjadi titik samar yang tak bisa kujangkau lagi.

Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun. Tidak diriku yang bodoh, tidak kamu yang pergi, dan tidak luka yang datang tanpa permisi. Semua yang terjadi rasanya tidak butuh nama ataupun alasan; ada hal-hal yang hanya bisa diterima tanpa harus dituntaskan. Aku hanya belajar bahwa rasa sakit kadang hadir bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk dirasakan sampai sembuhnya datang dengan sendirinya.

Aku sempat berpikir bahwa dunia terlalu kejam, bahwa semesta terlalu sering bercanda dengan hidupku, tapi pemahaman itu lambat laun berubah. Aku akhirnya tahu bahwa patahku bukan karena dunia menghancurkanku, melainkan karena aku mencintaimu dengan cara yang tidak menyisakan ruang untukku bernapas. Aku jatuh bukan karena kamu mendorongku, tapi karena aku sendiri menaruh seluruh berat hidupku padamu.

Aku mencintaimu terlalu dalam, terlalu polos, terlalu berharap, seolah cinta bisa memaksa seseorang untuk menetap hanya karena kita mencintainya sepenuh hati. Aku lupa bahwa cinta juga butuh keseimbangan, butuh jeda, butuh dua orang yang sama-sama ingin pulang ke tempat yang sama. Aku lupa bahwa aku bukan satu-satunya yang menentukan arah hubungan ini.

Lalu tibalah hari ketika kamu memilih pergi. Bukan dengan pertengkaran besar, bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan keputusan yang tajam dan dingin: kamu berpindah hati, berpindah pelukan, berpindah masa depan. Aku melihatmu menjauh bersama seseorang yang bukan aku, dan dunia pada saat itu tidak runtuh… hanya mengecil, sampai aku merasa tidak punya tempat di dalamnya.

Aku tetap berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, tidak mengejar, hanya mematung seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan separuh dirinya tanpa diberi waktu untuk bersiap. Ada perih yang tidak meledak, tetapi diam-diam menumpuk, seperti embun yang tidak jatuh tapi terus membasahi kaca sampai pandanganku berkabut oleh hal-hal yang tidak ingin kulihat.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semua ini hanya fase, bahwa aku hanya perlu menunggu hari ketika semuanya akan terasa ringan. Namun kenyataannya, semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin aku sadar bahwa yang hilang bukan hanya dirimu, tetapi juga keyakinanku pada masa depan yang pernah kita rangkai bersama. Kita yang dulu begitu yakin tentang “selamanya”, kini bahkan tidak mampu menuntaskan “hari ini”.

Pada akhirnya, aku harus menerima kenyataan yang paling sulit kutelan: aku kalah. Bukan karena kamu memilih orang lain, bukan karena aku tidak cukup baik, tapi karena aku mempertahankan hubungan yang sudah lebih dulu runtuh tanpa kusadari. Aku kalah karena terlalu percaya, terlalu berharap, dan terlalu lama bertahan di tempat yang sudah tidak lagi menjadi rumah.

Dan aku menuliskan semua ini di Kebar, pada tanggal delapan Desember, sambil mengumpulkan sisa-sisa diriku yang jatuh di sepanjang perjalanan. Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali berdiri tanpa gemetar, tanpa memikirkan siapa yang tinggal atau siapa yang pergi. Tapi hari ini, biarkan aku jujur pada diriku sendiri: aku yang kalah, dalam cinta yang pernah kukira akan berakhir dengan kata yang indah—kita untuk selamanya.

Kebar, 08 Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mak, Masihkah Pelukanmu Menungguku ?

 MAK, MASIHKAH PELUKANMU MENUNGGUKU? Karya : Pena_Lingga Mak, andai kelak hujan jatuh tanpa langit, dan malam menanak sunyi di periuk yang t...