Untuk Perempuan Teduhku
Karya : Pena_Lingga
Untuk perempuan sederhana yang suaranya bisa menenangkan aku — aku selalu merasa dunia berhenti berisik ketika kamu bicara pelan. Seolah seluruh hujan yang lama menggantung di dadaku tiba-tiba menemukan jalan pulang ke tanah. Tidak ada kata-kata besar darimu, tidak ada nasihat yang dipaksakan. Hanya jeda, hanya diam yang hangat, hanya keberadaanmu yang terasa seperti rumah yang akhirnya berani kupijak kembali.
Aku tidak pernah tahu bagaimana cara kerja ketenanganmu. Kamu tidak memaksaku kuat, tidak pula menuntutku tegar. Kamu hanya mendengarkan, membiarkan luka bercerita tanpa takut disalahkan. Di hadapanmu, aku tidak perlu menjadi versi paling baik dari diriku. Aku boleh lelah, boleh hancur, boleh runtuh — dan kamu tetap menyebutku “baik-baik saja”.
Ada hari-hari di mana dunia terasa berat seperti malam yang tidak kunjung selesai. Di saat itu, suaramu hadir seperti lampu kecil di sudut lorong. Tidak terang, tidak gemilang, tapi cukup untuk membuatku terus melangkah. Kamu tidak pernah berjanji akan menyembuhkan semuanya. Namun entah bagaimana, kehadiranmu membuat luka tidak lagi menakutkan.
Aku mengingat setiap percakapan kita seperti doa yang berbisik di ruang dada. Kamu berbicara tanpa meninggikan nada, tapi justru di situlah aku menemukan keberanian yang lama hilang. Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang pelukan, tidak selalu tentang kepemilikan — kadang hanya tentang seseorang yang bertahan di sebelahmu ketika dunia mengguncang.
Perempuan sederhana, aku belajar banyak darimu: tentang menerima rasa sakit tanpa memaki takdir, tentang menunggu tanpa mengeluh, tentang mencintai tanpa harus memiliki. Kamu tidak tampil megah, tidak berdiri di panggung sorotan. Namun justru kesederhanaanmu membuatmu terasa begitu besar di dalam diriku.
Ada kalimat-kalimat kecil yang kamu ucapkan, seringkali tanpa kamu sadari, namun tinggal lama di kepalaku. Kalimat yang tidak dibuat untuk menghibur, tapi lahir dari ketulusan yang tidak pernah kamu pamerkan. Dari situ aku tahu — kamu tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa, kamu hanya menjadi dirimu sendiri, dan dari sanalah ketenangan itu berasal.
Aku pernah merasa dunia terlalu keras kepadaku, terlalu cepat, terlalu bising. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku teringat pada caramu tersenyum — sederhana, tidak berlebihan — seolah hidup tidak selalu harus dimenangkan, cukup dijalani dengan hati yang pelan-pelan belajar pulih.
Dan jika suatu hari jarak memisahkan kita, aku ingin kamu tahu: suara yang pernah kamu berikan padaku tidak akan pernah benar-benar pergi. Ia akan tinggal sebagai gema di dalam dadaku, sebagai pengingat bahwa pernah ada seseorang yang tidak datang untuk menyelamatkan, tetapi hadir untuk menemani.
Terima kasih — bukan karena kamu menyembuhkan seluruh lukaku, tapi karena kamu tidak pernah memaksanya sembuh lebih cepat dari waktunya. Terima kasih karena kamu tidak menanyakan kenapa aku rapuh. Kamu hanya duduk di sana, membiarkanku jadi manusia.
Untuk perempuan sederhana yang suaranya menenangkan: semoga kebahagiaan selalu menemukanmu, dengan cara yang tenang seperti caramu menemukan aku. Jika suatu saat kita bukan lagi siapa-siapa, izinkan aku tetap menyebutmu sebagai salah satu hal terbaik yang pernah singgah dalam hidupku.
Bilik nyamanku, 28 Desember 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar